ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 64


__ADS_3

Mercedes hitam legam milik Ferdian melaju anggun memasuki pelataran parkir kampus yang tampak sudah mulai padat dan ramai oleh para mahasiswa.


Mobil itu melaju pelan mencari lokasi pemberhentian yang terdekat dari lobi utama.


Tak butuh waktu lama, di bawah naungan pohon akasia yang rindang sebelum pintu lobi Ferdian menghentikan mobilnya.


Dari balik kacamata hitam ia memperhatikan raut wajah Lusi yang tampak semringah mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


Gadis itu tampak ceria sekali pagi ini. Dengan rambut dikuncir kuda membuat wajah jelitanya makin mempesona.


“Oke, nanti aku jemput seperti biasa,“ ucap Ferdian.


“Iya, Mas,“ jawab Lusi santai bersiap-siap hendak turun dari mobil.


Seketika Ferdian meraih jemari Lusi lembut dan mengamati cincin pernikahan yang melingkar di jari manis gadis itu.


“Jangan dilepas, ya,“ pintanya dengan suara pelan seraya menatap cincin itu.


“Sampai perjanjian kita berakhir?“


Ferdian menatap lekat wajah Lusi. Ia tak suka ketika Lusi mengucapkan kata-kata itu. Seperti ada benda tajam yang menusuk di dalam dada.


“Sampai kapanpun," ucapnya tajam memaku tatapan pada bola mata Lusi yang berkilauan.


“Hmmm, kalo kepepet boleh dijual gak?” tanya Lusi dengan ekspresi wajah lugu menggodanya.


“Gak boleh! Bikin malu aja!” omel Ferdian lalu menarik gemas telinga Lusi. Gadis itu tertawa cekikikan menahan geli. Ia pun tergelak ringan.


“Hayoooo! Pacaran ni yeeee!" Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka.


Lusi dan Ferdian spontan menoleh ke asal suara. Wajah Nikita dan Ashanti tampak di samping pintu kiri mobil, menampakan senyum lebar mereka.


Lusi pun menurunkan kaca. Senyumnya semakin semringah mendapati kedua temannya yang centil itu dengan posisi setengah membungkuk melambai-lambai pada Ferdian.


“Hai, Babang Tamvan!” sapa Ashanti dengan mata melirik genit pada Ferdian yang kini melemparkan senyum manis pada keduanya.


“Iiishhh, gak sopan! Ada bininya nih! Dasar Pelakor!” umpat Nikita mencubit bahu Ashanti, membuatnya terpekik karena merasakan perih.


“Hai juga." Ferdian membalas dengan tersenyum ramah.


“Ya sudah. Aku kuliah dulu ya, Mas,“ pamit Lusi mencium punggung tangan Ferdian takzim. Lalu dibalas Ferdian dengan mengusap kepala Lusi lembut. Kemudian dengan sabar ia menunggu Lusi keluar sebelum melajukan mobilnya.


Ferdian pun melambai pada Nikita dan Ashanti. Mereka membalasnya dengan lambaian dan senyuman nakal.


“Ooh so sweet! Jadi pengen buruan kawin,” seru Nikita merengkuh bahu Lusi sambil memandangi Mercedes Benz hitam itu menjauh.


Lusi hanya tersenyum malu-malu menanggapinya.


“Lusi, aku sebel deh ama kamu. Cowok yang aku taksir ternyata suami kamu. Sebel, sebel, sebel!” seru Ashanti merajuk.


“Maaf yah, Shan," ucap Lusi lembut disertai kikikan, seraya mencubit  dagu Ashanti dengan gemas.


“Yang sabar, Ya Shan. Orang sabar di sayang Tuhan," timpal Nikita menepuk bahu Ashanti seolah menenangkan perasaan.


Bertiga menyusuri lobi utama kampus hendak menuju lift. Namun tiba-tiba seseorang menarik tangan Lusi. Gadis itu spontan menoleh.

__ADS_1


Dio. Dengan senyuman teduhnya menatap wajah Lusi yang masih tampak terperangah.


“Hai Dio. Kamu kemana aja sih? Jarang keliatan.” Nikita antusias melihat Dio berdiri di samping Lusi.


“Hai Nikita, aku ada sedikit kesibukan. Jadi jarang ke kampus," balas Dio ramah.


“Kapan nih kita ngafe bareng lagi? Seru deh nongkrong sama kamu.“ Nada suara Nikita terdengar manja.


“Atur aja, kalo sempat pasti aku ikut.”


“Oiya, maaf aku pinjam Lusi dulu sebentar yah.” Tanpa menunggu jawaban Nikita dan Ashanti, Dio langsung menarik tangan Lusi dan berlalu dari hadapan mereka. Lusi pun hanya melongo bingung mengikutinya.


“Lusiiiii! Sebel aku! Semua cowok kamu embat. Jahara kamu Lusi!" Nikita meraung-raung pelan sambil menghentak-hentakan kaki dengan rasa kesal. Mengundang orang-orang disekelilinganya yang tengah menunggu lift menoleh heran padanya.


“Yang sabar ya, Nik. Orang sabar di sayang Tuhan.” Gantian Ashanti menepuk-nepuk bahu Nikita dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat.


“Hai, Duo Maya! Pagi ini kalian pasti minum jus apel yah?” Tiba-tiba Reno menghampiri mereka dengan tersenyum lebar.


“Jus cabe!!!” semprot Nikita kesal. Nyali Reno jadi ciut dibuatnya. Rayuan mautnya yang sudah dipersiapkan sejak tadi langsung buyar dari ingatan.


“Waduh, pantesan pedes banget pagi ini," gumamnya ngeri dengan bibir bergerak pelan tanpa berani menoleh pada Nikita. Lalu berdiri tegak ikut menanti pintu lift terbuka.


***


Dio menatap wajah Lusi dalam dan lekat. Rasa rindunya begitu membuncah setelah sekian lama tak melihat gadis pujaannya itu. Seketika alisnya bertautan saat melihat goresan tipis di samping pelipis Lusi.


“Muka kamu kenapa? Kok ada bekas cakaran gitu?” tunjuk Dio pada pelipis Lusi.


Sejenak Lusi tertunduk dan pilu saat mengingat siapa yang menyebabkan luka di pelipisnya itu.


“Pasti dipukul suami kamu, ya? Kurang ajar! Beraninya sama perempuan!” Tanpa diduga Dio menghardik penuh emosi. Tangannya mengepal kencang dengan bola mata berkilat kemarahan.


“Terus, itu kenapa? Jujur aja, Lusi. Jangan kamu tutup-tutupi!”


Bola mata Lusi bergerak-gerak menatap wajah Dio yang sudah menegang. Sebenarnya ingin dia sembunyikan apa yang terjadi pada dirinya. Namun sepertinya ia tak bisa. Dio harus tahu.


“Hmmm, ini karena ibu tiriku, Dio,” jawab Lusi pelan.


“Ibu tiri kamu? Kamu ketemu dia?” Dio tersentak kaget.


Lusi mengangguk. “Di hypermarket, minggu lalu. Dia mau culik aku, mau bawa aku kembali ke orang yang dulu hampir perkosa aku. Tapi untung aku selamat," ungkap Lusi jujur.


“Memang dari dulu ibu tiri kamu itu sangat kejam, Lusi. Laporkan aja ke polisi, biar kapok!” hardik Dio merasa tidak terima Lusi diperlakukan tak berperikemanusiaan seperti itu.


“Sudah, Dio. Suami aku yang laporkan dan sekarang dia di penjara.”


Mendengar itu, Dio menghela napasnya lega. “Syukurlah, semoga ibu tiri kamu itu kena batunya.”


“Oiya, kamu kenapa blokir nomor aku, Lusi?” tanya Dio pelan. Terdengar nada kecewa dalam suaranya.


Lusi terdiam, bingung harus menjawab apa. Karena suaminya sendiri yang meminta dia untuk menutup akses komunikasinya dengan Dio, sahabatnya itu.


Sepertinya Dio bisa membaca pikiran Lusi, ia menggeleng pelan. “Udah gak usah di jawab. Aku tau kok, pasti kamu di suruh suami kamu, kan?”


Lusi mengangguk lemah, menatap wajah Dio penuh penyesalan. “Maaf ya, Dio. Aku juga minta maaf soal kejadian di taman tempo hari.“

__ADS_1


“Jangan dipikirin. Dua laki-laki saling cakar-cakaran rebutan perempuan itu soal biasa,” ujar Dio seraya menyentuh jemari Lusi sekilas.


Lusi menghela napas lega karena Dio tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.


“Lusi, aku kangen banget sama kamu,“ ucap Dio pelan sambil menatap mata Lusi yang membulat indah.


“Dio, kamu nih....” Lusi berusaha menampik.


“Beneran, Lusi. Aku gak sabaran nunggu kamu lepas dari suami kamu.”


Lusi terbelalak dengan bibir membulat ketika mendengar ucapan itu.


Sinar matanya perlahan meredup menatap bola mata Dio yang kini menyorot kilau penuh harap.


Aku sayang kamu Dio, kamu sahabat terbaik yang pernah aku miliki, selama ini aku sudah mencoba menghadirkan rasa cinta untukmu tapi ternyata tak bisa. Aku benar-benar berharap suatu saat nanti ada gadis yang mencintai kamu dengan tulus dan bisa membuat kamu bahagia. Karena kamu pantas mendapatkan itu. Lusi berkata tulus dalam hati.


Karena sesungguhnya perasaan itu tidak bisa dipaksakan.


Tiiiing.....Tiiiing....Tiiiiing....


Ponsel Dio memanggil. Segera ia meraihnya dari dalam saku celana.


Foto Cantika bersama nomor kontaknya terpampang jelas dilayar. Lalu pria muda itu menepuk bahu Lusi pelan meminta waktu padanya.


“Sebentar ya, Lusi. Aku terima telepon dulu. Dari klien aku," ijin Dio tanpa ditanya. Lusi pun hanya mengangguk dan tersenyum.


“Ya Halo?"


“Halo, Dio. Nanti malam kita ketemu ya. Jangan lupa kamu bawa beberapa contoh gambar design interior kamu, oke?“ Suara Cantika menyambutnya ceria di ujung telepon.


“Iya, baik. Nanti akan aku bawa semua, biar kamu yang pilih. Ketemuan dimana?”


“Hmm, di kafe langganan aku, nanti aku share loctionnya ke WA kamu. Jam 7 ya, Dio.”


“Oke, baik."


“Sampe ketemu nanti malam.” Cantika menutup teleponnya.


Dio kembali menghadapi Lusi.


“Dio, maaf. Aku masuk dulu ya, sudah telat," pamit Lusi segera seraya melirik jam tangannya.


Dio mengangguk. “Oke Lusi. Love you,“ ucap Dio lembut. Lusi hanya tersenyum sekilas menanggapi. Kemudian lekas berlalu dari hadapannya dengan berlari kecil menuju lift.


Dio hanya terpaku di tempatnya menatap punggung Lusi yang kian menjauh.


'Penantianku selama ini harus ada ujungnya, Lusi,' ucapnya lirih dalam hati.


Ia menghela napasnya yang kian berat. Terlebih mengingat dirinya harus bersaing ketat dengan Ferdian untuk mendapatkan cinta Lusi.


*Visual Cast Dio.  Author jadi melting deh...e***hmm...ehmm**...



**Trima kasih Like, Vote, Favorite, Kritik dan saran nya. **

__ADS_1


**Bikin Author jadi makin semangat  untuk terus UP **


Love You Reader...


__ADS_2