
Senja mulai beranjak menuju malam. Lampu-lampu jalan pun menunjukan fungsinya bersinar dengan terang benderang.
Pak Dirman mengetahui kedatangan majikannya saat klakson mobil mewah itu berbunyi dua kali. Bergegas dia membukakan pintu gerbang lebar-lebar mempersilahkan mobil itu meluncur dengan anggun.
Setelah kendaraan itu terparkir sempurna, pegawai rumah itu menghampiri majikannya, Ferdian, yang hendak keluar dari balik pintu. Lalu meraih tas kerja dan beberapa paperbag yang berada di tangan Ferdian.
“Lusi gak keluar kan, Pak?” tanya Ferdian dengan nada suara memastikan.
“Lusi? Siapa ya, Boss?” Pak Dirman justru balik tanya dengan mimik wajah mengandung kebingungan.
“Gadis yang saya bawa kemarin malam, itu namanya Lusi, Pak.“
“Ooo, non yang cantik itu ...Ya, ya, ya....” Pak Dirman manggut-manggut membulatkan mulutnya.
"Ya..Ya, apa? Ditanya malah angguk-angguk gak jelas.” Gantian Ferdian yang bingung melihat tingkah Pak Dirman yang justru cengengesan.
“Maksud saya, Non itu cantik, Boss. Hehehe... cakep, demplon kata orang Betawi mah,” seloroh Pak Dirman sambil terkekeh lebar membuat Ferdian mencebik kesal.
Melihat ekspresi tak menyenangkan di wajah Ferdian, Pak Dirman spontan menghentikan cengiran kudanya.
“Dasar Genit!"
"Pak Dirman harus jagain dia jangan sampe keluar rumah tanpa ijin saya dulu. Lewat gerbang itu pun gak boleh, oke.” perintah Ferdian menunjuk arah gerbang dan ditanggapi Pak Dirman dengan anggukan mantap.
“Siap Boss,” sahut Pak Dirman seraya menempelkan tepi telapak tangan keningnya, memberi hormat pada Ferdian.
“Tapi kenapa si Non demplon itu gak boleh keluar, Boss?” tanya Pak Dirman lagi dengan mimik lucu dan keheranan.
“Kata saya gak boleh keluar ya gak boleh. Protes aja! Mau saya potong gaji pak Dirman?” Ferdian meninggikan suaranya mengancam Pak Dirman.
“Waduuuh, jangan dong, Boss. Iya deh iya, saya jagain jangan sampe si Non keluar rumah.” Akhirnya Pak Dirman mengalah saja pada perintah Ferdian.
Tentu saja karena takut gajinya yang dirasa cukup besar itu dipangkas sang majikan.
Sudah lebih dari 10 tahun Pak Dirman bekerja untuk keluarga itu. Baginya Ferdian adalah majikan yang sangat baik dan memperlakukan semua orang yang bekerja untuknya seperti keluarga, karena itulah dia bertekad melayani majikannya itu sepenuh hati.
Ferdian bergegas melangkah masuk ke dalam rumah setelah yakin Pak Dirman akan mematuhi perintahnya.
Langkahnya seketika terhenti saat melintasi ruang makan dan bola matanya terpaku pada hidangan yang tertata sangat rapi di atas meja.
Rasanya baru kali ini Mbak Ira masak segini banyak dan penataannya rapi pula. Kayak ada jamuan makan malam tamu agung aja, pikirnya sambil mengabsen satu persatu piring besar yang berisi hidangan-hidangan yang mengungah selera makannya.
Tampak Mbak Ira datang dari arah dapur membawa sekeranjang kecil buah dan perlahan dia letakkan di atas meja.
__ADS_1
“Mbak, tumben masaknya heboh gini?“ tanya Ferdian pada Mbak Ira yang berdiri di seberang meja. Yang ditanya hanya mengulum senyum tanpa arti.
“Malah cengengesan!” ketus Ferdian diiringi tanda tanya yang belum terjawab.
“Ehmmm, bukan saya yang masak, Boss... Tapi itu tuh....” jawab Mbak Ira menunjuk-nujuk ke arah lantai dua.
Ferdian justru tak mengerti kelakuan asisten rumah tangganya itu, memberikan jawaban yang sangat tak memuaskan.
“Siapa? Ribet amat sih jawabnya,” tanya Ferdian mulai terbawa emosi.
"Ini semua Non Lusi yang masak, Boss. Katanya dia mau masak yang enak untuk Boss. Saya aja gak boleh bantuin, cuma nontonin doang. Ya udah, jadi enak deh saya,” jawab Mbak Ira dengan polosnya.
“Lusi? Pinter masak juga tuh anak. Kayaknya sih enak. Jadi laper,” ucap Ferdian bergumam, seakan tak percaya cerita Mbak Ira. Seraya melepaskan jasnya lalu menggulung lengan kemejanya sampai batas siku.
“Enak banget kok Boss, saya udah cobain duluan tadi,” jawab Mbak Ira di sertai kekehan lalu bergegas ngeloyor menuju dapur untuk menghindari pelototan geram yang sudah terbentuk di bola mata majikannya.
“Kok Mbak Ira yang nyobain duluan, yang boss disini kan aku.” Gemas nada suara Ferdian pada Mbak Ira yang sudah tak tampak lagi dihadapannya.
Demi perutnya yang seketika meronta-ronta minta diisi, Ferdian menarik salah satu kursi lalu mulai mengisi piringnya dengan beberapa hidangan di hadapannya.
“Mbak Iraaaa...!” Panggilnya setengah berteriak.
“Ya Boss. Ada apa, Boss? Itu semua udah lengkap. Air putih udah ada, buah udah ada, tissue sama tusuk gigi udah ada, apa ada yang kurang, Boss?“ Mbak Ira tergopoh-gopoh dari arah dapur dan merentetkan kalimat tanpa menunggu apa yang di tanyakan Ferdian.
“Panggil Lusi ke sini,“ perintah Ferdian kemudian.
“Kenapa, Boss? Ada perlu ya sama dia?" Mbak Ira malah bertanya bingung.
“Iya, suruh dia kuras kolam renang itu pake gelas air mineral," jawab Ferdian kesal seraya menunjuk arah kolam renang.
“Waaah! Sadis si Boss.” Mbak Ira terperangah mendengar perintah majikannya yang dia pikir sangat absurb itu.
“Cepet, panggil dia, suruh temenin aku makan disini. Pake nanya lagi,” perintah Ferdian dengan suara meninggi.
“Siap Boss!” Tak ingin kena 'semprot' dua kali, Mbak Ira bergegas naik ke lantai dua untuk menjalani perintah tuannya.
Sampai di depan kamar dengan pintu besar bercat putih, Mbak Ira mengetuk pelan tiga kali.
Tak ada jawaban, sekali lagi dia ketuk pintu kamar itu. Tak lama, pintu terbuka dan wajah Lusi muncul dari balik pintu.
“Ada apa, Mbak?” tanya Lusi pelan.
“Non Lusi di panggil Boss, di suruh ke ruang makan sekarang,” jawab Mbak Ira sopan.
__ADS_1
“Baik Mbak, sebentar saya ke sana.”
Mbak Ira mengangguk sambil tersenyum dan berlalu dari hadapan Lusi menuruni anak tangga kembali ke tempat asalnya.
Tak lama, Lusi yang sudah membalut tubuhnya dengan celana jeans dan t-shirt hitam melangkah ringan menuju meja makan.
“Selamat malam, Om,” sapa Lusi pada Ferdian yang duduk di seberang meja.
Ferdian mendongak mendapati sosok Lusi berdiri tepat di hadapannya. Sejenak bola matanya mengamati penampilan gadis itu.
Dengan rambutnya yang di kuncir kuda membuat wajah mungil Lusi tampak lebih segar dan cerah.
“Malam, silahkan ....” Ferdian menujuk kursi di seberangnya mempersilahkan Lusi untuk menempatinya .
Gadis itu menarik kursi yang ditunjuk lalu menghenyakkan diri perlahan.
"Kamu sudah makan malam?” tanya Ferdian kemudian.
“Belum, Om,“ jawab gadis pelan. Sambil memperhatikan Ferdian yang tengah menyantap makanannya.
“Ayo makan sekalian. Ini semua kamu yang masak?”
“Iya, Om,” jawab Lusi seraya membalikkan piring yang tertangkup didepannya lalu menyendokkan sedikit nasi dan lauk ke dalamnya.
“Enak juga masakan kamu,” puji Ferdian tersenyum sekilas pada Lusi.
Lusi bergeming sambil menyantap makanannya dengan tenang. Sesekali matanya tertuju pada Ferdian yang tampak lahap menikmati masakan yang dia masak tadi sore.
Dalam hati gadis itu tersanjung menerima pujian itu.
Dirinya memang bisa memasak walaupun tak juga dikatakan pandai. Sewaktu ibunya masih hidup Lusi selalu memperhatikan cara ibunya memasak dan sesekali dipercaya untuk mengolah beberapa jenis masakan.
Dan kebisaannya itu ternyata berguna saat sang Ibunda di panggil ke pangkuan Illahi. Karena sejak itu Lusilah yang harus mempersiapkan makanan untuk Ayah dan dirinya sendiri.
“Gimana luka-luka kamu itu? Masih sakit?” tanya Ferdian mengarahkan telunjuknya pada wajah dan leher Lusi.
“Sudah gak sakit lagi, Om. Sebenernya yang sakit bukan luka aku, Om. Tapi sakitnya tuh disini," ujar Lusi sambil menunjuk ke dadanya.
Ferdian tersenyum lebar mendengarnya. Kayak lagu dangdut aja, pikirnya kocak.
“Iya aku tau kok. Kamu sabar ya. Nanti kita cari jalan keluarnya. Yang penting kamu jangan keluar rumah dulu sementara ini, sampe situasi benar-benar aman," ucap Ferdian melembutkan suara.
Lusi mengangguk samar. Dia mulai percaya pada Ferdian dan meyakini hatinya bahwa untuk sekarang rumah ini adalah tempat yang paling aman untuk dirinya.
__ADS_1
PLEASE LIKE, VOTE 5 RATE, KRITIK DAN SARAN DI PERSILAKAN DI KOLOM KOMENTAR YAH. TERIMA KASIH. HAPPY READING.