
Penutup matanya di buka. Tapi tidak dengan ikatan tangannya dan lilitan lakban hitam di mulutnya. Priska menatap dengan penuh ketakutan ke sekeliling ruangan yang minim penerangan dan sangat pengap. Membuat dadanya terasa sangat sesak.
Di tatapnya ke sisi kiri kanannya, tampak beberapa wanita yang rata-rata seusia dengan dirinya terduduk diam di ranjang masing-masing. Pandangan mata mereka kosong. Seperti boneka tapi bernyawa.
Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam seketika datang menghampiri Priska yang terduduk bersimpuh di lantai dengan kebingungan dan ketakutan yang masih menggelayut dirinya.
“Ayo bangun!” Salah seorang dari laki-laki tersebut menarik tali yang membebat kedua tangannya dengan sangat kasar.
Terhuyung-huyung Priska terpaksa berdiri. Mereka menyeret tubuh Priska menuju satu lantai diatas tempatnya tadi di sekap.
Pintu sebuah ruangan dibuka, lalu laki-laki tadi menarik tangan Priska memaksanya masuk ke dalamnya. Tampak di hadapannya. Beberapa laki-laki berpakaian setelan jas hitam berdiri mengelilinginya.
“Ini putri kandungnya Bu Merry, Pak,” ucap Berlan memberitahu.
Bramanto mendekat perlahan. Bola matanya memicing memperhatikan wajah cantik Priska. Dengan jemarinya yang kasar dan besar Bramanto mendongakkan wajah Priska lebih mendekat ke wajahnya. Di tatapnya tubuh Priska dari ujung kaki hingga kepala. Lalu tersenyum menyeringai.
Tubuh Priska gemetaran, keringat dingin mengucur deras membasahi kening dan lehernya. Ketakutan yang luar biasa menghinggapi dirinya.
“Cantik juga. Tapi sepertinya binal sama seperti ibunya," cetus Bramanto menoleh pada Berlan.
Berlan menyungging senyum sinisnya menanggapi ucapan Bramanto.
“Coba cek, dia masih perawan atau tidak,” suruh Bramanto pada Berlan lagi.
“Kenapa bukan anda saja yang cek, Pak? Sekalian di cicipi dulu, seperti biasanya prosedur barang yang baru datang," jawab Berlan datar.
Bramanto tertawa keras. Lalu mengalihkan posisinya tepat berhadapan dengan Berlan.
“Ini kuhadiahkan untuk kau saja, Berlan. Kalo pun masih perawan yah anggap saja bonus untuk kau," ucap Bramanto dan menepuk bahu Berlan seraya tertawa lagi, kali ini terbahak-bahak.
Berlan hanya tersenyum kecut mendengarnya.
Walaupun aku bajing4n begini, Tuan. Tapi aku paling pantang menggauli wanita yang tak jelas. Aku sudah cukup puas melakukannya dengan pacarku saja di rumah. Ucap Berlan dalam hati saja.
“Maaf, Pak. Badan saya lagi kurang fit,“ jawab Berlan singkat.
Bramanto mengangkat bahunya pasrah menerima jawaban Berlan yang menolak menerima ‘hadiah’ darinya.
“Kalo begitu biar aku saja.” Bramanto bergedik sesaat lalu beralih menatap Priska dengan sorot mata liarnya.
“Sam, persiapkan semua. Mandikan dia bersih-bersih. Dan siapkan obat ku. Menghadapi wanita liar seperti ini butuh tenaga ekstra.” Perintah Bramanto pada salah satu pengawalnya.
Yang bernama Sam itu mengangguk patuh. Lalu bersama salah seorang rekannya dia kembali menyeret tubuh Priska. Gadis itu menangis kian ketakutan.
Bramanto yang menyaksikan ‘calon mangsa’nya itu hanya berdecak sekali. Lalu kembali duduk di kursi kerjanya.
“Berlan, bagaimana dengan Ferdian dan istrinya. Apa sudah ada kabar mereka masih hidup atau sudah mati?”
“Belum ada kabar, Pak. Yang pasti anak buah saya sudah cek ke beberapa rumah sakit terdekat lokasi kejadian, tak ada satupun pasien yang bernama Ferdian ataupun Lusiana yang di rawat di sana,” jawab Berlan datar dan lugas.
“Kau harus cari mereka terus. Baik dalam keadaan hidup ataupun mati."
Pengacara sekaligus orang kepercayaan Bramanto itu mengangguk patuh.
Di balik dinding samping pintu yang terbuka, Bu Tantri berdiri terpaku seraya memasang telinga mendengar semua percakapan kedua orang tersebut.
Dia menggeleng-geleng kepala. Bola matanya mulai berkaca-kaca. Bukan karena sedih tapi karena gemas dan marah menyaksikan kebiadaban suaminya yang tak ada henti -hentinya.
__ADS_1
Bu Tantri menoleh ke lantai atas, dimana Priska di bawa oleh pengawal Bramanto untuk dipersiapkan melayani nafsu bejad laki-laki itu.
Di tengoknya sisi kiri dan kanannya, aman tanpa ada pengawal Bramanto yang berkeliaran. Langkahnya hati-hati menapaki anak tangga menuju kamar tempat Bramanto meng’eksekusi’ korbannya.
Ditekannya pelan-pelan gagang pintu kamar itu. Dan terbuka. Dikuaknya lebih lebar lagi. Tapi tak tampak satu orang pun di sana.
“Nak...Nak?” panggilnya berbisik. Dia masuk lebih ke dalam lagi.
Tampak Priska terduduk di balik kaki meja kerja. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat pias. Rambutnya basah karena baru dimandikan paksa oleh pengawal Bramanto. Dengan hanya berbalut piyama mandi berwarna hitam Priska menunduk takut.
“Nak...?” panggil Bu Tantri lagi.
Priska perlahan mendongakkan kepalanya menoleh pada Bu Tantri yang ikut berjongkok di sampingnya.
“Aku akan mengeluarkanmu dari sini," ucap Bu Tantri masih dengan suara berbisik.
“Aku takut, Bu.” Pilu suara Priska ditengah rasa takutnya.
“Iya aku tau, sebentar aku liat situasi di luar dulu.”
Bu Tantri hendak beranjak. Namun tangan Priska menariknya.
“Bu, kalo aku tak selamat dari sini. Aku minta tolong sama Ibu sekali saja.” Pinta Priska dengan sorot mata memelas.
“Jangan bilang begitu, kau harus keluar dari sini. Aku akan bantu," sergah Bu Tantri cepat.
“Mamaku punya bukti-bukti kejahatan Bramanto, disimpan di dalam laptopnya. Ibu lekas bawa laptop itu ke polisi, Bu. Ada di belakang lemari kamar utama rumahku. Alamat rumahku di jalan Angkasa Raya, no 19. Jakarta selatan. Jangan lupa, Bu.”
Tiba-tiba, pintu kamar ditendang kasar. Bu Tantri dan Priska terperanjat kaget setengah mati. Bramanto dan kedua pengawalnya menghampiri mereka. Wajahnya geram dengan tulang rahang yang menegang.
Di tariknya kerah baju Bu Tantri dengan sangat kasar. Membuat tubuh wanita kurus itu terjungkal. Bu Tantri mencoba bangkit dari duduknya. Namun kaki besar Bramanto menahan bahunya hingga dirinya terjengkang kembali ke lantai.
Diraupnya wajah Bu Tantri yang menggambarkan ketakutan mendalam. Lalu ...
Plaaakkk....!
Tamparan keras mendarat di pipi tirus itu. Bu Tantri meringis kesakitan memegang pipinya yang memanas.
“Kau ini manusia atau setan, Bramanto? Kau sudah sangat keterlaluan. Dzolim!” Bu Tantri balas menghardik.
Plaaakkk....!
Sekali lagi tamparan keras mendarat di pipi Bu Tantri.
“Sam. Bawa perempuan ini keluar,” perintah Bramanto pada pengawalnya itu.
Tanpa belas kasihan, Sam menarik lengan Bu Tantri dengan kasar lalu menyeretnya keluar kamar. Meninggalkan Bramanto dan Priska yang masih dicengkeram kuat oleh satu pengawalnya yang lain.
“Lepaskan dia dan kau lekas keluar.” Perintah Bramanto pada pengawalnya itu.
Kini tinggallah Priska di kamar itu berhadapan dengan Bramanto yang menyeringai seram siap seakan siap mencabik-cabik tubuhnya.
Bramanto menanggalkan pakaiannya. Dan menyisakan celana panjang hitam yang sudah dia lepas ikat pinggangnya.
Tatapannya tajam pada wajah Priska yang tertunduk takut.
Di luar pintu besar itu, Bu Tantri memberontak dengan sekuat tenaga. Berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kekar pengawal Bramanto yang tanpa belas kasihan menyeretnya.
__ADS_1
Plaaakk....!
Dengan tangan sebelahnya yang masih bebas, Bu Tantri melayangkan tamparan kerasnya ke wajah laki-laki bertubuh kekar itu.
Namun sekuat apapun tenaga Bu Tantri untuk melawan, tampaknya tiada berarti.
Pria itu mendorong tubuh kurus Bu Tantri hingga menghantam vas bunga berbentuk guci yang teronggok di sisi pintu kamar Bramanto. Vas bunga itu pun menggelinding dan pecah terantuk dinding sebelahnya. Beruntung pecahannya tidak melukai badan Bu Tantri.
Kembali Bu Tantri terhuyung mencoba bangkit seraya memegang sisi kepalanya yang terasa sakit akibat benturan itu. Di bawa nya tubuh lunglai nya bersandar di pintu besar itu.
Masih dengan pusing yang hebat menyerang kepalanya, sayup-sayup terdengar olehnya suara jeritan Priska yang sedang berjuang melepaskan diri dari cengkaraman Bramanto.
Air mata Bu Tantri berhamburan membasahi kedua pipi tirusnya karena mendengar jerit ketakutan dari dalam kamar itu. Suara pukulan dan tamparan keras pun kembali terdengar di rungunya.
“Kalian dzolim!” Suara Bu Tantri terdengar lemah walaupun sekuat tenaga dia ingin berteriak. Namun hanya isak tangis dan raungannya yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.
Kembali tangan kekar pengawal Bramanto mencengkeram sebelah lengannya dan menariknya kasar. Dan kembali Bu Tantri menepisnya, matanya yang basah melotot geram pada pria itu.
“Kamu dan bossmu itu pasti akan dapat balasan yang setimpal karena kedzoliman kalian,” sumpah Bu Tantri geram pada pria kekar yang hanya berdiri diam menahan gerak Bu Tantri.
“Naaakkk, ....” Bu Tantri menempelkan telinganya ke pintu besar itu. Memanggil gadis di dalam sana dengan suara lirih dan iba. Kepalan tangannya yang lunglai terus mengetuk-ngetuk pintu besar itu.
Dengan raungan dan isaknya yang mulai melemah Bu Tantri terus memanggil-manggil Priska dengan sebutan ‘Nak’ berulang-ulang.
Dalam hati, dia sangat terpukul karena tak dapat menyelamatkan gadis itu. Dia menyesali ketidakmampuannya mengeluarkan gadis malang itu dalam kungkungan kedzoliman suaminya.
Dia merasa ikut menanggung dosa karena membiarkan kedzoliman dan kebrutalan suaminya itu yang tak henti-hentinya dipertontonkan didepan matanya.
Namun apa daya dirinya yang tak punya kuasa sama sekali untuk melawan keganasan suaminya terhadap para wanita muda.
Sekali lagi dia tempelkan telinga ke daun pintu kamar itu. Masih terdengar sayup-sayup teriakan Priska di dalam sana yang meminta pertolongan walaupun itu tak ada artinya.
Hanya itu, kemudian tak terdengar lagi suara apapun dari balik pintu kamar itu. Lama hening tak terdengar suara apapun di dalam sana.
Bu Tantri menatap geram pada dua pengawal Bramanto yang masih berdiri di hadapannya dengan wajah kaku tanpa belas kasihan padanya.
Dan Tak lama pintu besar itu seketika terbuka dan tubuh Bu Tantri terjungkal ke belakang. Dia berusaha bangkit dan mendongak. Di dapatinya tubuh besar Bramanto yang hanya mengenakan piyama tidur berdiri tegak di
hadapannya.
Laki-laki durjana itu menyeringai seram dan menatap dengan sorot mata sinis pada Bu Tantri. Lalu begitu saja melangkah pergi menapaki anak tangga satu persatu menuju lantai bawah diikuti oleh dua pengawalnya yang menjaga Bu Tantri sejak tadi.
Bergegas Bu Tantri masuk ke dalam kamar itu. Mencari sosok Priska di dalam sana. Tampak olehnya Priska dengan keadaan yang sangat memprihatinkan terlentang lemah di atas ranjang besar itu.
Bu Tantri menghampirinya dan menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut, diangkatnya tubuh lunglai Priska dan direngkuhnya erat. Bersamaan air mata yang berderai karena tak tega melihat keadaan Priska yang tampak sangat terpukul dengan apa yang baru saja dia alami.
“Nak...” panggil Bu Tantri lagi dengan suara lirih. Namun Priska hanya bergeming dengan sorot mata kosong menatap lurus.
Gadis itu menangis namun tanpa suara. Bu Tantri merasakan bahunya yang menghangat dan basah oleh kucuran air mata gadis malang itu.
Dia Menangisi nasibnya yang menyedihkan. Menangisi masa depannya yang dihancurkan manusia biadab di atas tubuhnya itu. Mahkotanya yang dia jaga untuk orang terkasih kini telah direnggut paksa oleh seseorang yang menjijikan.
Kini yang Priska sanggup lakukan hanya menangis dan pasrah pada perjalanan hidupnya dikemudian hari.
Entah apa ini karma yang dia terima karena perbuatan kejam Ibu nya terhadap Lusi atau memang ini takdirnya mendapat musibah yang sangat berat ini.
mohon maaf tak bisa mendeskripsikan kegiatan dewasa secara eksplisit takut kena semprit tim Noveltoon
__ADS_1
please Like,Love, 5Rate, kritik dan saran
Terima kasih, para reader yang baik