ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 33


__ADS_3

Mobil hitam legam itu memasuki pekarangan rumah dengan anggunnya setelah Pak Dirman membukakan pintu gerbang untuknya.


Laki-laki setengah baya itu setengah berlari menghampiri Bossnya yang sudah turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.


Tampak Ferdian turun dengan menenteng sebuah kotak dan seikat bunga mawar merah yang dirangkai dengan sangat cantik.


“Mari saya bawakan, Boss,” ucap Pak Dirman hormat.


“Gak usah, Pak. Biar saya aja,” jawab Ferdian ringan.


“Oiya, apa Lusi keluar hari ini?” tanya Ferdian lagi sebelum masuk ke dalam rumah.


Pak Dirman menggeleng. “Gak, Boss. Setau saya malah gak keluar-keluar dari kamar," jawab Pak Dirman dengan raut wajah yang menampilkan resah.


Ferdian hanya mengangguk. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


“Kemarin ngamuk-ngamuk, sekarang malah nanyain. Dasar anak muda jaman sekarang. Labil. Selesai marahan malah kangen-kangenan,” gumam Pak Dirman memandangi punggung Ferdian yang sudah menjauh dari hadapannya.


Tiba di depan pintu kamar Lusi, Ferdian tidak langsung masuk. Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali pelan untuk mengusir rasa grogi yang menghinggapi dirinya. Dia sudah mempersiapkan mental jika nanti Lusi marah padanya.


Tok...Tok...Tok...


Pintu diketuknya. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Ditekannya gagang pintu itu dan terbuka, tenyata tak dikunci oleh penghuninya.


Ferdian melangkah masuk perlahan dan mengedarkan pandangan ke atas tempat tidur. Tak tampak sosok Lusi di sana.


Dia melangkah lebih dalam lagi. Dan tampaklah Lusi sedang duduk merenung di kursi belajarnya di hadapan jendela balkon. Dengan kakinya terlipat di atas kursi dan lututnya sebagai penopang wajah murungnya.


Ferdian perlahan menghampiri. Di tatapnya wajah Lusi yang tampak digelayuti awan mendung. Sepasang mata gadis itu sembab karena sisa menangis semalam. Bibirnya terkatup rapat. Dan tangannya sibuk mencoret-coret sesuatu yang tak jelas pada kertas diatas meja.


Meskipun tahu keberadaan Ferdian di sampingnya, namun gadis itu tak menoleh sedikitpun pada pria itu.


“Lusi....” panggil Ferdian lembut. Tapi yang dipanggil tetap membungkam.


“Aku minta maaf soal tadi malam,” mohon Ferdian lirih penuh penyesalan.


Gadis itu tetap membisu serasa enggan menanggapi.


Ferdian menarik kursi dari meja rias lalu meletakkannya tepat berhadapan dengan Lusi dan mendudukinya.


“Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal.”


Ferdian meletakkan kotak putih dan rangkaian bunga mawar merah ke atas meja di hadapan Lusi.


Gadis itu melirik sekilas. Sebuah kotak berwarna putih bergambar laptop.


“Aku belikan laptop ini untuk membantu kamu belajar," ucap Ferdian pelan.


Dengan tangan yang sedikit gemetar perlahan diraihnya jemari Lusi lalu di remasnya lembut. Lusi hanya melirik sinis pada Ferdian.


“Buat apa laptop, aku kan udah gak boleh kuliah lagi,” sindir Lusi kesal. Membuat Ferdian tersenyum kecut mendengarnya.


“Maafkan aku ya. Aku tarik lagi deh omonganku semalam. Kamu boleh kuliah lagi.“


Lusi menoleh pada Ferdian, wajahnya masih tampak kesal, namun senyuman sudah tergambar di sudut bibirnya, walaupun samar.


Gadis itu senang sekali mendengarnya. Harapannya yang tadi malam sempat kuncup kini kembali mekar.


Keinginannya yang terbesar adalah bisa melanjutkan kuliah dengan baik dan setelahnya dia bisa gunakan ilmunya untuk mencari penghasilan sebanyak- banyaknya.


“Ini aku belikan tipe yang terbagus, loh," tutur Ferdian bangga. Lusi meraba kotak berisi laptop itu perlahan.


“Terima kasih, Mas,” lirih suara Lusi. Bola matanya yang semula redup tampak kembali berbinar-binar.


Ferdian mengangguk disertai senyuman yang kembali mengembang kala melihat raut wajah Lusi yang sudah tak tampak datar dan dingin lagi padanya.


"Oiya, bunga mawar ini aku beli dari kios Bu Dahlia. Beliau titip salam untuk kamu.” beritahu Ferdian lagi dan kembali wajah Lusi berseri ketika mendengar nama Bu Dahlia disebut.


“Kata Bu Dahlia kamu suka sekali dengan mawar merah, makanya aku beli untuk kamu.”


Lusi mengangguk. Diraihnya rangkaian bunga mawar merah itu lalu dihirupnya lama dan dalam aroma bunga cantik yang memiliki keharuman yang khas itu.

__ADS_1


“Kamu sudah makan?” tanya Ferdian seraya menyibakkan sejumput rambut Lusi yang terurai di wajahnya.


“Belum.” Lusi tersenyum samar.


“Kita makan di luar, yuk. Kamu yang pilih mau makan apa,“ ajak Ferdian kemudian.


Lusi mengangguk, kali ini tampak lebih bersemangat.


“Ya udah, kamu mandi dulu sana. Aku tunggu di bawah ya.”


“Iya Mas.”


Ferdian keluar dari kamar Lusi dengan hati dan perasaan yang lebih tenang karena Lusi sudah tak marah lagi padanya.


Dia putuskan untuk menunggu di ruang tamu sambil men-scrool layar ponselnya dan membaca satu persatu pesan yang masuk disana.


Selang lima belas menit kemudian Lusi turun dengan mengenakan pakaian favoritnya, celana jeans dan kaos casual warna putih. Wajahnya terlihat sangat fresh dengan rambut yang masih lembab tergerai di kedua bahunya.


Ferdian tersenyum melihat kedua pipi Lusi yang tampak merona, tidak pucat lagi seperti di awal tadi.


Tanpa sungkan, Ferdian meraih tangannya lalu menggamitnya keluar menuju mobil. Dan tak lama kemudian mobil hitam itupun meluncur dan membelah jalan raya yang masih tampak padat merayap.


“Kamu mau makan apa?” tanya Ferdian yang duduk di balik kemudi.


“Apa aja deh, yang penting bikin kenyang. Aku lapar banget," jawab Lusi polos. Ferdian tertawa renyah mendengarnya.


“Begitu ya cewek, kalo abis ngambek bawaannya laper,” seloroh Ferdian menggoda Lusi.


Lusi menarik sudut bibir mungilnya lalu ikut terkekeh kecil.


“Kita makan steak, yuk. Kebetulan ada restoran steak yang enak dekat sini.” Usulan Ferdian disambut dengan anggukan Lusi.


Tak lama sedan hitam itu pun tiba di sebuah restoran mewah yang khusus menyediakan aneka steak import.


Tampak area parkirnya penuh dengan mobil-mobil level menengah ke atas yang berjajar dengan sangat teratur. Dan Ferdian lekas memarkirkan mobilnya, kemudian turun seraya menggamitkan jemarinya pada jemari Lusi.


Resepsionis menyambut mereka dengan sapa dan senyum ramah. Lalu mengantarkan keduanya menuju meja yang tersedia.


Tiga puluh menit kemudian hidangan yang mereka pesan pun datang dan terhidang rapi di atas meja.


Ferdian tersenyum menatap Lusi yang tengah menyantap hidangannya dengan semangat. Dia pikir tak sia-sia membawa gadis itu ke tempat ini.


Dan senyumannya pun kian melebar kala melihat seporsi steak sirloin dihadapan Lusi tandas tak bersisa.


“Tambah lagi?” tanya Ferdian menyentuh punggung tangan Lusi.


Gadis itu menggeleng sambil mengelus perutnya. “Udah kenyang, Mas.”


Keduanya saling melemparkan senyum. Tak tahan, Ferdian menyentuh gemas pucuk hidung Lusi sekilas.


Dari meja di sudut restoran, diam-diam ada sepasang mata yang mengamati keduanya. Velly, sahabat Amanda, berinisiatif mengambil beberapa gambar Ferdian dan Lusi dengan kamera ponselnya, lalu lekas mengirimkannya kepada Amanda.


Tak lama, terdengar dering panggilan di ponselnya dan tampaklah gambar wajah Amanda. Segera digesernya logo hijau untuk menjawab panggilan itu.


“Halo, Amanda. Kamu cepet dateng ke resto ini. Ferdian dan istrinya lagi makan disini. Aku share lokasinya ya. Buruan kesini ya,” sambut Velly cepat dengan suara setengah berbisik.


Gadis itu tak putus memperhatikan pasangan Ferdian dan Lusi yang tampak sangat mesra saat keduanya saling bertukar pandang dan saling tersenyum.


“Aduh, lama banget si Amanda," gerutu Velly tak sabar.


Sepuluh menit berlalu, yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Velly melambaikan tangan pada Amanda yang berdiri di depan pintu masuk sambil mengedarkan pandangan untuk mencari posisinya.


“Mana Ferdian?” tanya Amanda dengan emosi level tinggi, begitu sampai di meja Velly.


“Tuh, meja yang di sebelah sana,” tunjuk Velly.


Amanda mengikuti arah telunjuk sahabatnya itu. Tampak olehnya Ferdian dan Lusi sedang asyik bercengkerama dan sesekali mengumbar tawa.


“Sialan! Masa aku kalah dengan bocah ingusan begitu," umpat Amanda gemas.


Tanpa mengurangi kadar emosinya, dia bersiap-siap menghampiri keduanya.

__ADS_1


“Ehh...Ehh, Amanda...Tenang. Kalem ya. Inget jangan barbar,” pinta Velly yang mengikuti Amanda di belakang punggungnya.


Amanda dan Velly tiba di hadapan Ferdian dan Lusi. Namun keduanya tidak menyadari kehadiran dua wanita yang berpenampilan seksi itu.


“Ferdian....” panggil Amanda.


Kompak, Ferdian dan Lusi mendongak dan menoleh ke asal suara.


“Hai. Kamu pasti istrinya Ferdian ya?“ sapa Amanda dengan intonasi yang begitu ramah pada Lusi.


“Kenalin, aku Amanda.“ Wanita itu menjulurkan tangannya ke hadapan Lusi.


Ferdian dan Lusi saling menoleh. Kemudian sedikit ragu Lusi membalas uluran tangannya.


“Oiya, aku mantan tunangan Ferdian,” lanjut Amanda lagi.


Lusi sedikit tersentak mendengarnya. Tapi dia bisa menguasai diri. Gadis itu pun tersenyum manis pada Amanda.


Namun tidak dengan Ferdian, tampak sekali dia tak menyukai kehadiran Amanda dihadapannya kini. Dia bersiap menarik tangan Lusi untuk berjaga-jaga jika Amanda lepas kontrol emosi seperti kebiasaannya.


“Ooh, mantan tunangan Mas Ferdian. Silahkan duduk, Kak. Ayo gabung,” sambut Lusi dengan sangat ramah dan sopan.


Velly dan Amanda menempatkan duduknya tepat di hadapan mereka.


“Walaupun terlambat, aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia,"  kata Amanda melirik Ferdian yang membuang pandangan ke arah lain.


“Terima kasih, Kak. Maaf gak sempat ngundang karena pernikahan kami juga mendadak,” tutur Lusi tenang.


Senyumnya masih melengkung dengan sangat manis di bibirnya. Sekilas diliriknya tangan Ferdian di bawah meja yang menggenggam jemarinya begitu erat.


“Mendadak? Kok bisa, Fer? Setau aku kamu orangnya sangat terencana loh. Seperti dulu saat persiapkan pernikahan kita,” sindir Amanda pada Ferdian bermaksud memanas-manasi hati Lusi.


Namun Ferdian enggan menyahut. Dia tetap setia membuang pandangannya ke sembarang arah.


“Yang dadakan itu justru lebih seru, Kak. Iya kan, Sayang? Daripada pacaran lama-lama tapi gak jadi nikah. Kan malunya bukan main.” Lusi balas menyindir sambil menyentuh dagu Ferdian dengan ujung jarinya.


Amanda tersenyum getir mendengar ucapan Lusi yang sangat menohok hatinya.


“Hmmm, begitu ya? Bukan karena sesuatu, kan? Misalnya keduluan?” tanya Amanda geram.


Hatinya sudah mulai membara melihat Ferdian yang tiba-tiba menatap mesra pada gadis dihadapannya itu.


“Maksudnya, keduluan hamil, gitu?” balas Lusi tenang.


“Ooo, gak kok. Aku cuma keduluan dilamar Mas Ferdian. Kata orang, kalo sudah dilamar gak boleh nolak. Pamali. Apalagi sama cowok ganteng kayak suamiku ini. Rugi dong kalo aku tolak lamarannya.” lanjutnya lagi.


Jawaban Lusi membuat Ferdian hampir tersedak karena menahan tawanya. Amanda melirik sebal pada Ferdian. Dia tahu pria itu sedang menahan mentertawakan dirinya.


“Oh, begitu ya? Harusnya kamu tanya dulu sama Ferdian kenapa tiba-tiba ngelamar kamu. Jangan –jangan karena Frustasi lalu nyari pelampiasan nafsu sesaat. Apalagi kamu masih muda banget ya jadi gampang dirayu,” balas Amanda berusaha menahan emosinya yang sudah nyaris meledak.


Di bawah meja tangannya pun sudah mengepal keras.


“Ayo Sayang, kita pulang. Basa basi ini gak perlu lagi dilanjutkan.” Ferdian menarik tangan Lusi bersiap pergi.


Dia yakin sebentar lagi Amanda akan mempermalukannya di depan orang banyak. Dia sangat tahu sifat Amanda yang satu itu.


“Iiihhh, Sayang. Buru-buru amat sih. Udah gak tahan mau bikin dedek ya?” Lusi menahan tangan Ferdian dengan manja. Membuat Amanda makin muak dibuatnya.


“Kakak, maaf ya. Aku gak peduli siapa yang frustasi. Yang pasti aku suka kok dijadikan pelampiasan nafsunya Mas Ferdian. Permainannya diatas ranjang itu loh, uwuuhh....Luar biasa deh pokok nya. Tiap malam minta terus. Ya kan, Mas?” jawab Lusi genit melirik Ferdian yang sudah gusar ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Amanda.


Emosi Amanda sudah hampir meledak. Matanya mulai nyalang menatap marah pada Lusi. Bibirnya bergetar ingin menumpahkan sumpah serapahnya di depan orang banyak. Velly di sebelahnya berusaha menenangkan dengan mengelus-elus punggungnya.


“Ayo kita pulang, Sayang.” Ferdian langsung menarik bahu Lusi untuk bangkit dari duduknya. Gadis itu pun menurut.


Dengan tersenyum lebar dia melambai pada Amanda. Lalu melangkah sambil bergelayutan manja pada lengan Ferdian.


“Sialan tu bocah! Tunggu kejutan dari aku. Kurang ajar!” hardik Amanda penuh amarah.


Tangannya terkepal tegang memukul meja, menumpahkan emosi jiwa yang sudah memuncak di atas kepala.


BANTU LIKE, VOTE DAN KOMEN YAH PARA READER YANG BAIK, JADI SEMANGAT BESAR UNTUK AUTHOR. 

__ADS_1


__ADS_2