
Mobil Ferdian melaju sangat kencang menuju rumah sakit yang tinggal beberapa ratus meter lagi di depannya.
Sekilas Ferdian menengok Lusi yang masih terpejam sambil meringis menahan sakit.
Wajahnya sangat pucat. Tangan kirinya menekan pergelangan tangannya yang berasa sangat perih karena goresan benda tajam yang tampak mengeluarkan darah.
Kepalanya terasa sangat pusing dan berat akibat tamparan yang sangat keras dari tangan Bu Merry.
Tiba lah mereka memasuki pelataran parkir IGD sebuah rumah sakit. Di parkirkannya cepat mobilnya di sebuah lokasi yang terdekat dari pintu masuknya. Lalu dengan sigap Ferdian membopong tubuh Lusi yang sudah lemah serasa tak bertulang lagi.
“Dokter, tolong istri saya.“ Pinta Ferdian setelah memasuki ruangan IGD yang tampak tenang.
Dua orang perawat wanita langsung menyorongkan sebuah brankar ke hadapannya.
“Baringkan disini, Pak.” suruh salah satunya.
Ferdian merebahkan tubuh Lusi ke atas brankar tersebut lalu ikut mendorongnya bersama kedua perawat tadi menuju sebuah ruang periksa yang bersekat-sekat biru.
“Bapak tunggu sini ya, jangan masuk, biar dokter menangani pasien dulu.“ Cegah seorang perawat itu menahan Ferdian masuk. Ferdian menurut. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang periksa. Raut wajahnya tampak panik dan takut melihat keadaan Lusi yang sangat lemah.
Dia mengambil ponselnya dari saku celananya lalu menekan nama kontak Reynard di layarnya. Terdengar nada dering tersambung ke seberang saluran.
“Halo, Bro?” Suara Reynard terdengar tersengal-sengal dari ujung telepon.
“Kau cepat datang ke sini, ke rumah sakit Vitamedika, nanti aku share loc.” Jawab Ferdian cepat masih dengan nada suara yang sangat panik.
“Ada apa, Bro? Kok kayaknya panik bener?”
“Lusi, Rey. Makanya cepat kau kesini. Aku tunggu di depan Ruang IGD ya.“
“Oke aku segera ke sana.“
Ferdian mengakhiri sambungan teleponnya. Sebentar–sebentar dia melongok ke dalam ruang periksa yang tertutup kaca air.
Dokter Lama sekali memeriksa Lusi, pikirnya gusar dan tak tenang.
Selang beberapa menit, perawat tadi membuka pintu dan memanggil Ferdian.
“Silahkan masuk, Pak,” ucapnya sopan.
Ferdian langsung melangkah cepat masuk ke ruang periksa. Dihampirinya Lusi yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajahnya sangat pucat dengan luka lebam di samping mata kanannya.
Tampak olehnya lilitan perban putih membungkus pergelangan tangan kanan Lusi dan sebuah plester coklat menempel di atas pelipis kanannya.
“Anda keluarga pasien?” Seorang dokter pria menghampiri Ferdian dan berdiri di sisi sebelahnya.
“Saya suaminya. Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Ferdian masih menyisakan ketakutan.
“Tadi dia sangat syok, sekarang sudah stabil dan tenang kembali.”
“Luka-lukanya gimana, Dok?”
__ADS_1
“Luka gores di pergelangan tangannya itu cukup dalam walaupun tak sampai kena urat nadi nya, syukurnya cepat dibawa ke sini. Dan luka cakaran terdapat di atas pelipisnya juga lumayan panjang, untung tak sampai kena mata. Nanti di rumah tolong di perhatikan ya, rutin di bersihkan supaya tidak infeksi. Sebentar saya resepkan dulu obatnya.”
“Baik Dokter, terima kasih.”
“Sama-sama Pak. Permisi saya tinggal dulu.”
Pintu kamar periksa di buka perlahan. Tampak Reynard dengan setelan celana training hitam dan kaos putih ketat yang mencetak otot-otot kedua lengannya, rambutnya tampak basah menjuntai di kedua sisi keningnya.
Dia tergesa-gesa masuk menghampiri Ferdian yang berdiri di samping tempat tidur Lusi.
“Lusi kenapa, Bro?” Reynard berdiri di samping Ferdian melihat keadaan Lusi yang masih lemah dan terpejam.
“Dia hampir diculik ibu tirinya.”
“Hah? Dimana?” Reynard kaget menatap Ferdian.
“Tadi aku antar Lusi ke hypermarket, tiba-tiba Vika telepon, aku keluar sebentar. Pas kembali lagi Lusi udah menghilang, Aku keliling mencari, ketemu di parkiran belakang dia sedang di seret-seret oleh Ibu tirinya untuk masuk ke dalam taksi,“ tutur Ferdian setengah berbisik takut membangunkan Lusi.
“Kenapa kau gak tahan itu orang, kita seret langsung ke penjara.” ucap Reynard gemas.
“Pas aku bilang aku suaminya Lusi dan aku tau bahwa dia sudah menjual Lusi, dia kaget dan langsung lari ketakutan. Aku gak sempat menahan dia, Rey. Lusi pingsan.“
“Kurang ajar itu orang. Ternyata seperti itu dia memperlakukan Lusi selama bertahun-tahun.”
“Setelah antar Lusi pulang, aku akan buat laporan ke polisi, Rey.”
“Bagus Bro, nanti aku temani kau.” ujar Reynard mantap. Ferdian hanya mengangguk.
“Mas....” Panggil Lusi lirih.
Ferdian meraih jemari Lusi lalu meremasnya pelan.
“Masih pusing?” tanya Ferdian lembut menatap wajah Lusi yang masih pucat.
Lusi mengangguk lemah. Matanya yang sayu menatap wajah Ferdian yang dekat sekali dihadapannya.
“Aku mau pulang, Mas.”
“Iya, tunggu ijin dokter dulu yah.”
Lusi mengangguk lagi. Tak lama kemudian dokter datang lagi.
“Sebentar saya periksa dulu ya. Maaf.” Dokter menempelkan stetoskop nya ke dada Lusi dan mengecek pergelangan tangan Lusi dengan sangat teliti.
“Ya, bagus. Luka nya sudah tak berdarah lagi.“ ucap dokter itu sambil tersenyum pada Lusi.
“Sudah boleh pulang, Dok?” tanya Ferdian.
“Boleh, Pak. Dan ini resep nya segera di tebus. Dan jangan lupa setiap hari rutin di bersihkan luka-luka nya ya,” jawab dokter itu seraya menyerahkan selembar resep kepada Ferdian.
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak.”
__ADS_1
Dokter itu mengangguk hormat kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Dengan hati-hati Ferdian menopang bahu Lusi untuk bangun dari tidurnya.
“Mau pake kursi roda? Atau mau aku gendong?” tanya Ferdian lembut.
Lusi menggeleng, “Gak usah mas, biar aku jalan aja.“
Perlahan Lusi menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur dibantu Ferdian dan duduk disisi brangkarnya.
“Bro, kau tunggu Lusi disini, biar aku yang tebus resepnya sekalian kunci mobil kau, aku parkirkan di depan pintu supaya Lusi gak jauh berjalan,” ujar Reynard lekas.
Ferdian mengangguk lalu menyerahkan lembaran resep dokter dan kunci mobilnya pada Reynard. Dengan langkah cepat Reynard keluar dari ruangan itu.
Ferdian menarik bahu Lusi pelan. Dan membiarkan Lusi menyandarkan kepala di dadanya.
“Terima kasih Mas udah nolongin aku lagi,” ucap Lusi lirih.
“Gak usah berterima kasih, itu kewajiban aku, Lusi,” balas Ferdian seraya mengelus kepala Lusi dengan penuh kasih.
“Kalo gak ada Mas tadi mungkin aku sudah dibawa ke rumah orang jahat itu. Hiiiks... Hiiks... Hiiiks...” Lusi mulai menangis.
Dia sangat takut membayangkan hal yang terburuk terjadi padanya jika tak ada Ferdian yang menyelamatkannya tadi.
“Udah, Cup...cup...cup... Aku gak akan membiarkan itu terjadi, Lusi.”
Lusi memeluk pinggang Ferdian dan menangis sesengukan menumpahkan air matanya. Ferdian mengelus-ngelus lembut kepala Lusi. Wajahnya menegang mengingat sosok Bu Merry.
Tekadnya kuat akan segera menjebloskan wanita itu ke penjara dan membayar semua perlakuan buruknya terhadap Lusi.
Hatinya miris membayangkan betapa jahatnya ibu tirinya Lusi itu. Sekian lama Lusi berbagi atap dengannya di rumah milik Lusi sendiri, tapi begitu sadisnya perlakuan yang diterima Lusi dari orang yang dipungutnya dari jalanan itu.
Bertahun-tahun menyiksa fisik dan mental gadis yatim piatu itu hingga tega menjualnya ke laki-laki bejad lalu ingin menguasai seluruh hartanya pula. Benar-benar tak punya hati manusia satu itu.
Ya Tuhan, berat sekali beban hidupmu, Lusi Sayang, ucap Ferdian di dalam hatinya. Dia tak tega membayangkan nasib gadis cantik dipelukannya itu yang begitu penuh penderitaan lahir dan bathin.
“Bro, mobil sudah siap di depan.” Reynard menghampiri Ferdian dan menyerahkan kunci mobil.
Ferdian membantu Lusi berdiri dan memapahnya hati-hati menuju mobilnya yang sudah terparkir persis di depan pintu masuk.
“Oke Rey, thank you. Aku duluan ya. Aku tunggu kau di rumah,” ucap Ferdian menepuk bahu Reynard.
“Oke, Bro. Hati-hati,” balas Reynard juga menepuk bahu sahabatnya itu.
Ferdian lekas masuk mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan sedang menuju arah pulang ke rumahnya.
BAGI JEMPOL NYA DONG SHAAAYYY UNTUK
LIKE, VOTE, 5 RATE, KOMENT KRITIK DAN SARAN NYA YAH... HAPPY READING...
THANK YOU
__ADS_1