ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 89


__ADS_3

Bola mata Dio seolah tak hendak memutuskan pandangan pada wajah cantik Lusi. Menurut kata hatinya, makin lama ditatap makin sejuk saja wajah gadis itu kini. Tapi hanya itu yang Dio mampu. Hanya sanggup memandang tanpa bisa meraih hatinya. Karena dia tahu pasti, hati Lusi sudah dimiliki pria lain. Suaminya.


Satu bulan berlalu sudah, hari-hari Lusi lebih banyak diisi dengan menikmati kesendirian di dalam apartement miliknya. Melihat Lusi yang kini sering termenung memikirkan suaminya, membuat Dio merasa sangat bersalah. Terlebih Dio tahu suami Lusi pun tengah mencari sang istri.


Merahasiakan keberadaan Lusi, benar-benar membuatnya merasa menjadi seorang pecundang. Bahkan menjadi orang yang curang menghadapi pertarungan.


Dalam hati Dio benar -benar sangat menyesal telah mempermainkan Ferdian yang begitu paniknya mencari Lusi bahkan sampai ke rumahnya.


Dio merasa saat ini dirinya adalah seorang yang picik dan licik, hanya karena mengharapkan Lusi untuk bisa mencintainya. Padahal Dio tahu itu tak mungkin.


Dia sadar apa yang kini dia lakukan terhadap Lusi adalah bentuk halus dari pemaksaan. Dan tentu saja Dio tak ingin Lusi mencintainya karena merasa terpaksa.


Hatinya kini bergolak resah karena diselimuti rasa bersalah. Dan untuk menebusnya, Dio bertekad sesegera mungkin akan mengantar Lusi kembali ke rumah suaminya. Apapun risiko yang akan dia hadapi nanti dia akan terima dengan lapang hati.


‘Yaaah, mungkin aku ditakdirkan cuma jadi sahabat kamu, Lusi. Tidak lebih. Menjadi sahabat kamu saja aku juga sudah bahagia.' ucapnya pasrah dalam bathin.


Tiiing....Tiiing....Tiiing....


Bunyi panggilan masuk dari gawainya menyentak lamunannya. Segera dia raih batang pipih itu dan tampaklah gambar Cantika di layarnya. Segera dia menggeser logo hijau untuk menjawab panggilan itu.


“Hallo?" sambutnya tenang.


“Hallo Dio, aku ngundang kamu makan malam di apartementku malam ini. Kamu harus datang, loh. Aku undang kakakku juga, dia mau lihat apartement baruku.” Suara Cantika terdengar begitu bersemangat.


“Hmm, kalo begitu, boleh gak aku ajak teman juga? Biar aku gak canggung ketemu kakak kamu yang kata kamu galak itu,” ijin Dio seraya melirik pada Lusi yang tertunduk di seberang meja.


“Boleh banget, Dio. Aku tunggu ya jam tujuh malam ini. Don’t be late, okay.”


“Baiklah.”


Sambungan telepon diakhiri oleh Cantika dari seberang. Kembali perhatian Dio beralih pada Lusi yang masih tertunduk dalam diam. Rasa iba datang begitu saja di hati Dio kala menatap wajah Lusi yang sama sekali tak ada gairah.


“Lusi....” panggilnya pelan. Yang dipanggil hanya mendongak ke arahnya.


“Nanti ikut aku ya. Temanku ngundang makan malam.”


“Kamu aja, aku malas keluar," sahut Lusi tak bersemangat.


“Jangan begitu, Lusi. Kamu harus refreshing sebentar, cari udara diluar. Ayolah, temenin aku yah. Please." mohon Dio setengah memelas.


Lama terdiam akhirnya Lusi pun mengangguk, meskipun malas dan berat hati.


Benar kata Dio, sekedar cari udara segar tak apalah.


****


Ferdian berkeliling menyusuri setiap ruangan unit apartement baru milik Cantika. Sesekali dia mengangguk kagum mengakui hasil kerja designernya yang menjadikan setiap detil ruangan itu tampak sangat elegant dan indah.


Cantika yang bergelayutan manja pada bahu kakaknya tampak mengulum senyum melihat kekaguman yang tergambarkan di wajah tampan kakaknya.


“Gimana, Kak? Keren, kan?” tanya Cantika meminta penilaian dari sang kakak.


“Yaaaah, not bad.“


“Hah? Not bad? This is amazing, kakak.” protes Cantika merajuk.


Ferdian hanya tersenyum sekilas. Lalu menyandarkan punggungnya pada dinding samping pintu balkon.

__ADS_1


“Siapa interior designernya? Aku mau sewa jasanya untuk kantorku.”


“Nanti orangnya datang. Dia owner gedung apartemen ini juga loh, Kak. Masih muda, pinter, ganteng lagi,” puji Cantika dengan penuh antusias.


Demi melihat binar-binar di bola mata adiknya, Ferdian menatap curiga. “Naksir?”


“Iiihh, Kakak....Boleh?” Cantika tersipu malu karena sang kakak bisa menebak isi hatinya.


“Gak boleh, lulus kuliah dulu baru boleh naksir cowok,” tegas Ferdian seraya melangkah menuju minibar dan menempatkan diri di sebelah Reynard yang tengah sibuk berkutat dengan ponselnya.


Sesaat dia teguk soft drink kalengnya sambil melemparkan pandangan ke luar jendela.


Sejurus kemudian, terdengar bunyi bell dari arah pintu. Cantika yang sibuk mengatur hidangan makan malam bergegas menghampiri.


'Ini pasti Dio.’ tebaknya dalam hati.


Dengan perasaan senang yang membuncah di bukanya pintu unit apartementnya. Dan tampak Dio dalam balutan kemeja biru dan celana jeans berdiri di hadapannya.


“Hai, Dio. Sendirian? Katanya sama teman?” Sambut Cantika semringah.


“Ini temanku.” Dio menarik tangan Lusi yang tengah bersandar di dinding samping pintu.


Degh!


Seketika Cantika terbelalak dengan bibir yang terbuka. Begitupun dengan Lusi tak kalah terperangahnya dengan Cantika. Gadis itu tak menyangka siapa yang kini berdiri di hadapannya.


“Lusi!” Spontan Cantika berhambur memeluk Lusi yang masih mematung bingung.


Begitupun dengan Dio yang menatap kedua gadis itu dengan keheranan yang mendera dan benak dipenuhi tanda tanya.


“Kakak ... Kakak!” Teriakan Cantika menggema.


Cantika lekas menarik tangan Lusi dan masuk menuju tempat Ferdian berada.


“Kak....” panggil Cantika lagi ketika sudah berdiri di belakang punggung dua pria yang duduk di kursi minibar.


Ferdian dan Reynard pun menoleh. Dan seketika, keduanya terkejut melihat sosok gadis manis yang berdiri di samping Cantika.


Lusi tegak terpaku dengan bola mata yang masih terbelalak tak percaya kala menatap pria yang satu bulan ini dia rindukan juga menatap dirinya dengan ekspresi yang sama.


“Lusi?” Ferdian langsung mendekat untuk meyakinkan dirinya bahwa gadis yang berdiri dihadapannya itu benar-benar nyata, bukan hanya khayalannya belaka.


“Mas?” panggil Lusi lirih seraya memandang wajah Ferdian dengan bola matanya yang mulai basah.


Seketika itu juga Ferdian meraih tubuh Lusi ke dalam rengkuhannya. Lusi pun menumpahkan air matanya di bahu pria itu. Rasa rindu yang telah lama dia pendam akhirnya tertumpahkan sudah.


Tak berbeda dengan Ferdian, kerinduan yang nyaris membuatnya gila dia curahkan melalui kecupan bertubi-tubi di wajah dan pucuk kepala Lusi. Lalu kembali memeluknya erat seakan takut terlepas lagi.


Cantika dan Reynard menatap keduanya penuh haru. Bola mata Cantika pun menghangat dan berkilau, tanda air bening sudah menggenang sudut mata.


Tapi tidak dengan Dio. Dia terpaku dengan benak yang masih diliputi kebingungan yang belum terjawab.


“Kamu dimana selama ini, Lusi? Aku cari-cari kamu terus,” tanya Ferdian lembut menangkup wajah Lusi mendekat ke wajahnya.


Lusi menatap wajah Ferdian sejenak lalu menoleh pada Dio yang berdiri di samping Cantika.


Ferdian tersentak begitu menyadari kehadiran Dio di ruangan itu. Spontan air wajahnya berubah. Tatapan geram dan penuh amarah seketika tertuju pada pria muda yang juga tengah menatap dirinya.

__ADS_1


“Kau?! Sengaja kau sembunyikan istriku, kan?” Ferdian menghampiri Dio. Kedua telapak tangannya sudah terkepal siap melayangkan tinjunya pada Dio.


Sigap Reynard menahan lengan Ferdian yang menegang kencang. Cantika pun memegang lengan Dio dengan perasaan cemas dan ketakutan.


“Mas, sudah. Kalo gak ada Dio mungkin aku sudah mati dijalanan, Mas," ujar Lusi ikut melerai.


Mendengar itu, Ferdian menoleh pada Lusi yang sudah berurai air mata. Begitupun Cantika yang menangis menyesali perbuatannya karena telah mengusir Lusi dari rumah.


“Ya Tuhan. Lusi.“ Ferdian kembali menghampiri Lusi dan membenamkan kepala gadis itu ke dadanya.


“Selama ini Lusi tinggal di apartementku. Aku minta maaf. Waktu di rumahku, aku memang sengaja rahasiakan Lusi dari kamu," Dio membuka suara penuh penyesalan. Suaranya bergetar dan terbata-bata.


“Dio?” Giliran Lusi menatap Dio tajam, tak percaya dengan pengakuan Dio barusan.


“Jadi Mas Ferdian cari aku ke rumah kamu?” lanjutnya meminta penjelasan.


“Iya Lusi. Saat itu rasanya aku gak rela kamu kembali sama suami kamu. Aku minta maaf. Aku benar-benar egois.“


“Dio, jadi kamu suka sama Lusi? Istri kakakku?” Giliran Cantika menginterogasi Dio, menatap Dio dengan tanda tanya besar di benaknya.


“Bukan suka lagi, Cantika. Sejak SMA aku jatuh cinta sama Lusi. Tapi Lusi gak pernah mencintai aku. Dia cuma menganggap aku sebagai sahabat, gak lebih. Dan Lusi justru mencintai suaminya, jadi aku sudah gak punya harapan lagi. Tapi sekarang aku senang Lusi sudah bertemu suaminya lagi. Lusi bahagia aku juga bahagia.” Pengakuan Dio cukup menyentak Cantika. Namun gadis itu melihat ada kejujuran dan kepasrahan di raut wajah pria yang dia idamkan itu.


“Dan kamu, bagaimana kamu bisa kenal sama Cantika?” Kini giliran Reynard tak ingin ketinggalan menginterogasi Dio.


“Dio ini pemilik apartement yang aku beli ini, Kak Rey. Dio yang mendesign semua ini untuk aku.” Cantika yang menjawab lugas.


Reynard menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal sama sekali. “Ya Tuhan, rasanya aku butuh obat sakit kepala.”


Ucapan absurb Reynard membuat mereka tersipu dan mengullum senyum.


“Sudahlah, yang terpenting sekarang Lusi sudah kembali, Ferdian sudah sehat, Cantika sudah punya apartement sendiri dan terima kasih untuk Dio yang sudah menyelamatkan Lusi. And everybody happy," tutur Reynard menengahi dengan bijaksana.


Ferdian terdiam sejenak mencerna ucapan Reynard, lalu mengangguk setuju. Dia menoleh pada Dio dan perlahan menghampirinya. Ferdian mengulurkan tangan ke hadapan Dio dan Dio pun membalas menjabat tangannya dengan perasaan yang penuh penyesalan.


Begitu juga dengan Cantika yang menghampiri Lusi dan memeluknya seraya membisikkan kata maaf. Lusi pun balas memeluk Cantika dengan erat, serasa semua beban hidupnya selama ini telah terlepas dari jiwa raganya.


“Oiya, sekalian aku minta ijin, apa boleh aku dekat dengan Cantika?” tanya Dio pada Ferdian setelah Ferdian kembali merangkul bahu Lusi.


Cantika yang berdiri di samping Dio sambil memeluk lengan Dio, memasang wajah memelas pada Ferdian dengan kilau mata penuh pengharapan.


“Teman dekat boleh, pacaran gak boleh. Tunggu sampe Cantika lulus,” jawab Ferdian tegas. Membuat Cantika dan Dio saling melempar pandang kecewa. Lalu keduanya mengangguk patuh dan berlalu dari hadapan Ferdian.


Ferdian tersenyum manis pada Lusi di sebelahnya yang menggenggam tangannya erat.


“Udah gak sabar pengen pulang. Aku kangen," bisik Ferdian menatap Lusi dengan mesra.


“Iya sama, aku juga,” balas Lusi malu-malu.


“Bikin dedek?” tanya Ferdian menggoda.


“Nanti aja bikin dedeknya, makan dulu lah. Udah lapar banget ini dari tadi.” Tiba-tiba Reynard merangkul Ferdian dan Lusi dari belakang. Membuat Ferdian dan Lusi tersipu dan mengulum senyum malu.


Di meja makan mereka berkumpul dengan perasaan hati yang penuh suka cita. Menghadapi aneka hidangan yang menggugah selera hasil memesan dari sebuah rumah makan tradisional favorit Cantika.


Ferdian menatap Lusi penuh cinta. Begitupun Dio dan Cantika yang saling melirik mesra. Sementara Reynard hanya memandang mupeng pada dua pasangan yang tengah berbahagia.


PLEASE LIKE, LOVE, FAVORITE, VOTE, 5RATE, KRITIK & SARAN. 

__ADS_1


TERIMA KASIH YANG SELALU SETIA MENGIKUTI NOVEL INI. 


TUNGGU UPDATE SELANJUTNYA YA.  AUTHOR BOBO CANTIK DULU AAHHH


__ADS_2