ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 19


__ADS_3

Lusi turun dari mobil Ferdian, sebelumnya mengecup punggung tangan suaminya itu dengan takzim. Ferdian balas dengan mengusap kepalanya dengan lembut.


“Nanti pulang jam berapa?” tanya Ferdian dari dalam mobilnya.


"Jam 2 mas,” jawab Lusi singkat.


“oke, aku jemput ya, kita pulang bareng.” Kata Ferdian kemudian.


Lusi mengangguk mantap sambil mengangkat jempolnya.


“Ehmm, Lusi. Jangan genit-genit ya di kampus, Awas !” peringatan Ferdian dengan wajah serius di balik kacamata hitamnya.


Lusi bengong tak mengerti ucapan Ferdian. Dia hanya tersenyum sekilas.


“Siapa yang mau genit-genitan sih, Mas? Aku Cuma pengen kuliah yang serius kok di sini” sanggah Lusi lembut masih tersenyum manis.


“Inget Loh, kamu udah bersuami. Jaga diri, jangan terlalu akrab sama teman laki-laki” ucap Ferdian memperingatkan sekali lagi.


Ada terselip rasa cemburu di nada suaranya.  Bagaimana tidak? Laki-laki mana yang sanggup menolak pandangannya dari wajah imut lusi yang selalu fesh dan menggemaskan setiap pagi walaupun tanpa make up, hanya memakai sunblok dan lipstik pink sekedarnya.


Ditambah pembawaannya yang ceria dan selalu berpikiran positif pada setiap orang, membuat Lusi tak akan kesulitan mendapat banyak kawan.


“Iya Mas, aku bisa jaga diri kok, tenang aja,” jawab Lusi kemudian.


“Oiya, hampir lupa. Ini buat kamu,” ucap Ferdian seraya menyodorkan lima lembar uang seratus ribu pada Lusi. Gadis itu sedikit bingung di sodori uang sebanyak itu.


“Untuk uang jajan kamu hari ini,” kata Ferdian lagi.


“Uang bulanan yang Mas kasih ke aku masih ada kok, Mas,” tolak Lusi halus.


“Ga papa, ambil aja, makan siang di kampus ini mahal loh, ini ambil,” Ferdian memaksa kembali menyodorkan lembaran uang berwarna merah itu.  Lusi pun menerimanya. Lalu dimasukan kedalam tas nya.


“Terima kasih ya Mas, aku masuk dulu, Assalammualaikum”  ucap Lusi pamit dan meraih punggung tangan Ferdian lagi dan mencium nya hormat.


“Waalaikumsalam,"


Ferdian tersenyum pada gadis itu kemudian berlalu dari hadapan nya keluar dari tempat parkir kampus itu menuju kantor nya.


Dari kejauhan dua orang gadis cantik sebaya Lusi tengah memperhatikan dirinya dan suaminya tadi.


Lusi melangkahkan kaki nya memasuki teras kampus yang sudah tampak ramai oleh para mahasiswa yang lalu lalang. Dia memeriksa dengan seksama jadwal kuliahnya pada dinding pengumuman.


“Haiiii....” tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari belakang.


Lusi menoleh ke asal suara. Didapatinya dua orang gadis yang tadi memperhatikan dirinya di parkiran. Mereka tersenyum ramah padanya.


“Anak baru ya?” tanya salah satu dari mereka.


“Iya, baru masuk hari ini.” Jawab Lusi juga dengan tersenyum ramah.


“Kenalkan, aku Nikita dan ini Ashanti,” gadis yang bernama Nikita menyodorkan tangannya ke arah Lusi..


“Aku Lusi, salam kenal ya” sambut Lusi dan menjabat tangan mereka bergantian.


“Kamu jurusan manajemen? “ tanya Ashanti karena melihat Map biru yang di peluk Lusi dengan tulisan Manajemen.


“Iya, betul.” Jawab Lusi singkat.

__ADS_1


“Waahhh sama dong kita, jadwal hari ini perpajakan, khan? Yuk bareng ke kelas, dosennya Ibu Istia, agak-agak killer. Kalo telat sedikit aja gak boleh masuk,” ajak Nikita lekas seraya menarik tangan Lusi untuk mengikutinya.


Lusi pun menurut. Mereka berjalan bertiga memasuki lift untuk menuju ke ruang kelas.


Bertiga memasuki ruangan kelas yang sudah tampak ramai dan riuh.


“Suittt...Suiitt...Siapa kah itu yang datang?“ tiba-tiba ketiga gadis itu di sambut oleh suitan nakal dari seorang pemuda yang duduk di kursi baris belakang.


Reno namanya. gayanya urakan tapi tetap in style.  Semua yang ada di ruangan itu menoleh pada Lusi, Nikita dan Ashanti yang menempati kursi mereka dengan sejajar.


“Hey, anak baru ya? boleh kenalan dong,?” tiba-tiba Reno sudah menampakan batang hidung nya ke hadapan Lusi dan mengulurkan tangannya. Lusi menoleh pada  kedua teman barunya, Ashanti dan Nikita.


“Lusi, ini Reno, cowok paling jelek, paling buluk, paling nyebelin di lokal kita,” Nikita yang menyahut memperkenalkan Reno pada  Lusi. Cowok itu memanyunkan bibirnya pada Nikita.


“Uuuuhh,sentimen,” seru Reno pada Nikita. Lalu beralih lagi pada Lusi.


“Haii, Lusi. Salam kenal. Jangan dengerin Nikita, oke. Aku gak nyebelin kok, Cuma ngangenin aja,”  kembali Reno menyodorkan tangannya ke hadapan Lusi, gadis itu pun menyambutnya ramah.


“Iya salam kenal juga,” balas Lusi tersenyum ramah.


“Ehmm, kamu pagi ini minum teh ya?” tebak Reno


Lusi mengernyitkan keningnya.


“Iya betul, kok tau ?” jawab Lusi membenarkan.


“Ya tau dong, gulanya berapa sendok sih?” tanya Reno lagi dengan mimik lucu.


“Ehmmm, 2 sendok, kenapa?” Lusi makin bingung dengan pertanyaan Reno yang nyeleneh.


“Ooo pantesan senyum kamu manis banget, hehehehe” rayu Reno ngegombal. Yang lain tertawa mendengar rayuan maut nya pada Lusi.


“Ssshtt...sirik Lo!” hardik Reno pada teman-temannya di belakang yang sedang cekikikan.


“Ehh Lusi, kamu punya obeng, gak?” tanya Reno lagi pada Lusi.


Lusi tersenyum bingung dengan pertanyaan Reno yang aneh.


“Gak punya, emangnya aku montir?” balas Lusi


“Tapi kalo nomor watsapp punya dong, boleh minta?” lagi-lagi suasana dibuat riuh oleh Reno dengan rayuan gombal nya.


Mereka terbahak-bahak seraya melemparkan bola-bola kertas ke arahnya saking sebalnya mendengar celotehan Reno. Lusi pun ikut tertawa kecil, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Reno makin kesengsem melihat senyum manis Lusi, dia menyodorkan gawainya ke hadapan Lusi.


“Serius, minta nomor wa kamu boleh ya?”


Lusi mengangguk, lalu menekan sederetan angka  yang dia hapal ke layar dawai milik Reno kemudian menyodorkannya kembali.


Tiba-tiba seorang dosen wanita setengah baya masuk ruangan, serentak mahasiswa di ruangan itu membenahi posisi masing-masing. Begitu pun dengan Reno yang spontan berdiri.


“Thanx yah,” ucap nya pada Lusi sesaat sebelum ngeloyor pergi menuju kursinya di belakang.


Suasana kelas berubah tenang. Lusi mengikuti kuliahnya dengan baik. Dia termasuk gadis yang cepat menangkap pelajaran.


Terlebih lagi dengan tekad dan semangatnya untuk segera lulus dengan nilai yang terbaik dan segera mempunyai pekerjaan yang bagus.

__ADS_1


Dia ingin membuat Almarhum Ayah dan Almarhumah Ibunya tersenyum bangga dari surga sana. Dan juga tidak ingin mengecewakan Ferdian yang membiayai kuliahnya sampai selesai nanti.


Di ruang kantor Ferdian.


Jam didinding sudah menunjukan pukul satu lewat tigapuluh menit. Ferdian segera berkemas. Mematikan layar di laptopnya dan membereskan tumpukan berkas-berkas di mejanya.


Sebentar dia menggulung lengan kemeja birunya. Lalu meraih kunci mobil dan handphonenya dari atas meja dan melangkah meninggalkan ruangannya


“Vika, aku pulang, materi-materi meeting kemarin sudah aku tanda tangani semua, ada diatas meja. Kamu coba cek lagi ya, kalo ada yang kurang segera hubungi aku,”  ucap Ferdian pada Vika sekertarisnya yang tengah sibuk meneliti angka-angka di layar komputernya.


Vika menoleh dan menangguk hormat.


“Baik Pak, nanti saya periksa kembali. Tumben pulang siang , Pak? “ tanya Vika.


“Iya, mau jemput istri ku pulang kuliah. Sudah ya.” jawab Ferdian singkat lalu langsung ngeloyor pergi meninggalkan Vika yang kembali terbengong-bengong dengan ucapan Ferdian.


“Istri? Kuliah? Aduhhh si boss, bikin pusing pala berbie aja.”  Vika menggerutu sendirian sembari menepuk jidatnya pelan. Lalu kembali berkutat pada pekerjaannya yang belum selesai.


Di teras kampus.


Lusi berdiri melongo sana sini menunggu Ferdian yang sudah janji menjemputnya. Diedarkanya pandangannya pada jajaran mobil-mobil yang terparkir di halaman kampus. Tak tampak mobil mercedes benz milik Ferdian di sana.


Diliriknya jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam dua lewat sepuluh menit.


“Kamu mau pulang bareng kita?” tanya Nikita disamping Lusi.


“Aku di jemput, Nik” jawab Lusi singkat.


“Di jemput siapa?” tanya Nikita lagi.


Belum sempat Lusi menjawab, mercedes benz hitam milik Ferdian berhenti beberapa meter dari tempatnya. Ferdian membuka kaca mobil nya melambai pada Lusi.


“Nah, itu jemputan ku datang, aku duluan ya Nik, Shan,” pamit Lusi pada kedua temannya yang sedari tadi menemani Lusi menunggu jemputannya.


Lusi setengah berlari menghampiri mobil Ferdian dan segera masuk kedalamnya. Tak lama mobil hitam itu melaju meninggalkan area kampus.


“Ehh, Nik, liat gak cowok yang jemput Lusi barusan?” tanya Ashanti pada Nikita.


“Liat. itu cowok yang tadi pagi antar Lusi juga.” Jawab Nikita menoleh pada Ashanti.


“Ganteng banget deh ih. Menurut kamu itu siapa nya Lusi ya itu? Cowok nya apa abangnya?” tanya Ashanti lagi penasaran.


“Kayaknya abangnya deh, soalnya keliatan jauh lebih berumur dari Lusi. “ tebak Nikita sok tahu.


“Mudah-mudahan aja abangnya ya, hihihi...” Ashanti cengengesan sambil mengecutkan hidungnya gemas membayangkan tampang Ferdian yang keren.


“Kenapa? Naksir? Pasti udah ada pacar tuh, Cowok keren dan tajir kayak gitu gak mungkin jomblo, tau.” Sahut Nikita seraya menoyor kening Ashanti.


“Iiihh kamu, Nik. Belum apa-apa udah bikin aku patah hati aja, dasar gak bisa liat temen seneng,” gerutu Ashanti cembetut.


“Yeeee...jangan ngimpi ah, yuk pulang takut terjebak macet nih,”  ajak Nikita kemudian menarik tangan Ashanti yang masih melamun membayangkan wajah tampan Ferdian.


Dalam hatinya Ashanti berharap semoga tebakan Nikita benar bahwa cowok ganteng itu adalah abangnya Lusi.


Kalaupun dia sudah punya pacar, aku siap jadi pelakor deh, gumam Ashanti dalam hati


Jalanan sudah tampak mulai ramai dan terlihat sangat padat. Karena sebentar lagi memasuki jam sibuk pulang kantor para pegawai.

__ADS_1


***PLEASE LIKE. VOTE AND COMMENT YAH READER BAIK. SUPAYA AUTHOR TETEP SEMANGAT **


__ADS_2