ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 31


__ADS_3

Ferdian membuka layar ponselnya lalu mencari nama Lusi di sana. Diseretnya tombol dialling, tak lama terdengar bunyi nada sambung beberapa kali.


“Halo, Mas?” sapa Lusi dari seberang sambungan.


“Lusi, hari ini kamu pulang pake taksi online bisa? Siang ini aku ada meeting dadakan yang harus aku hadiri," ucap Ferdian dengan nada suara terpaksa.


“Iya Mas, bisa.“


“Okelah, hati-hati ya.” Ferdian menutup sambungan teleponnya.


Vika yang sibuk membereskan beberapa berkas untuk persiapan meeting sempat melirik pada Bossnya itu. Ferdian melamun menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya.


Ada rasa gundah dihatinya, karena baru kali ini dia tidak bisa menjemput Lusi. Ada rasa khawatir, terlebih lagi mengingat perkataan Reynard tempo hari, bahwa orang-orang Bramanto tengah mencari keberadaan Lusi.


“Supir kantor tak ada satupun yang stand by, Vik?" tanya Ferdian kemudian.


“Keluar semua, Pak. Belum ada yang kembali,” jawab Vika.


Kembali Ferdian terdiam, benaknya masih memikirkan Lusi yang pulang tanpa dirinya.


Tok...Tok...Tok...


Pintu ruangan Ferdian diketuk. Dewi si Resepsionis nyelonong masuk tanpa di suruh terlebih dulu. Vika dan Ferdian kompak menoleh ke arahnya.


“Direksi PT Asri sudah datang, Pak. Sudah di ruang meeting.” beritahu Dewi dengan sopan.


“Oke, Ayo Vika. Segera panggil manajer kita yang lain. Jangan sampe mereka lama menunggu,” perintah Ferdian.


Vika menurut dan langsung keluar dari ruangan dengan menenteng beberapa berkas di tangannya.


Ferdian meraih jas hitam yang tergantung dikapstok belakang kursinya. Dia kenakan dengan cepat. Sebentar dia betulkan letak dasinya sebelum keluar dari ruangannya.


Di kampus.


“Lusiiiii....ikut kita yuk, kita ngopi-ngopi sebentar,“ ajak Ashanti seraya melingkarkan lengannya pada bahu Lusi yang berdiri di depan lobi kampus.


“Aku mau pulang, Shan. Ini aku mau pesan taksi online,” jawab Lusi menolak halus.


“Alaaahhh masih siang udah mau pulang aja. Sebentar aja yuk, aku traktir deh. Deket kok, itu tuh di kafe seberang kampus ini.” Ashanti mendesak.


“Iiihh Lusi. Kamu tuh anak rumahan banget sih. Sekali-sekali gaul dong supaya gak kuper,” ledek Nikita menimpali. Lusi pun tersenyum menanggapi.


“Baiklah, tapi sebentar aja ya." Akhirnya Lusi menyetujui ajakan mereka.


“Kalo ada gebetan ganteng aku gak janji bisa sebentar yah,” ucap Ashanti diiringi gelak tawa Nikita. Lusi pun ikut tertawa.


“Haiii Dio, ikut kita yuk." Tiba-tiba Nikita menarik tangan Dio yang kebetulan melangkah hendak menghampiri tempat mereka.


“Mau kemana?” tanya Dio bingung menoleh pada Nikita dan juga pada Lusi.


“Kita nongkrong aja di kafe seberang itu,“ jawab Nikita, tangannya masih bergelayutan manja pada lengan Dio.


“Lusi ikut?” tanya Dio menunjuk Lusi dengan bola matanya.


“Ikut dong, kita culik dulu si putri salju ini,” jawab Ashanti diselingi tawa.


“Ayo deh, Kalian duluan aja. Ntar aku nyusul,” sahut Dio bersemangat mendengar Lusi juga ikut.


Mereka pun menuju pelataran parkir. Lusi dan Ashanti ikut mobil Nikita, sementara Dio sendiri dengan mobilnya mengikuti dari belakang.


Tak makan waktu lama, mereka tiba di kafe yang dituju lalu menempati meja paling pojok di dekat taman.


Suasananya terlihat sangat ramai pengunjung. Karena kafe itu terletak dikawasan yang sangat strategis. Berada dekat dengan kampus dan beberapa gedung perkantoran.


Pelayan datang dan menyodorkan buku menu kehadapan mereka. Dan mereka pun memesan minuman dan makanan yang di suka.


Nikita menempatkan diri persis di samping Dio. Saat itu juga hatinya berbunga-bunga karena bisa berdampingan dengan cowok yang dia suka.


Harum tubuh Dio menari-nari menggelitik indera penciumannya, membuat Nikita semakin bernafsu mendekati. Sesekali dia mencari kesempatan menempelkan bahunya ke bahu pria itu.


Lusi dan Ashanti memperhatikan bahasa tubuh Nikita yang cukup agresif pada Dio. Keduanya saling melirik dan tertawa kecil.

__ADS_1


Namun tidak untuk Dio. Pria tampan itu malah kurang nyaman di tempel terus menerus oleh Nikita namun dia tetap menjaga sikap dengan sopan dan ramah. Sifatnya benar-benar jantan, dia tidak mau membuat perempuan tersinggung karena sikapnya.


Tak lama hidangan yang mereka pesan pun datang dan tanpa aba-aba mereka langsung menyerbu menikmati.


“Jadi kamu sama Lusi sudah bersahabat sejak SMA?” tanya Nikita membuka obrolan pada Dio.


Dio mengangguk mantap kemudian menyeruput es capuccino-nya.


“Sahabatku yang terbaik,” jawab Dio singkat melirik Lusi.


“Kamu punya pacar?” tanya Nikita lagi. Dio yang ditanya begitu, langsung tersedak dan terbatuk-batuk.


“Nikita, Manner, please!” sahut Ashanti melotot gemas pada Nikita. Lusi hanya tertawa kecil melihat kelakuan teman centilnya itu.


“Kenapa? Mau jadi pacar aku?“ tanya Dio menggoda Nikita.


Nikita membelalakan matanya lucu. Terperangah dengan serangan pertanyaan yang spontan begitu.


“Ah, yang bener, nih? Economic meet civil engineering. Cocok deh kita. Nanti kamu yang bangun rumah tangga dan aku yang ngatur keuangannya,” sahut Nikita girang. Disambut tawa ketiganya.


Berempat mereka menikmati suasana kafe yang mulai temaram memasuki senja. Canda tawa tak henti-hentinya terlontar dari mulut mereka. Dio tampak senang meladeni tiga mahasiswi cantik yang beda fakultas dengannya.


Begitupun Lusi yang hampir tiga bulan ini tak pernah tertawa bebas selepas-lepasnya seperti sore hari ini. Dia seperti menemukan gairah masa mudanya kembali.


Tak terasa hari mulai gelap. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Mereka pun bersama keluar dari kafe itu setelah puas bersenda gurau berjam-jam lamanya.


“Oke, trima kasih untuk undangannya hari ini, Ladies,” ucap Dio pada ketiga gadis cantik di depannya.


“Aku yang ngundang tapi kamu yang traktir, jadi malu deh aku,” sahut Ashanti sambil memanyunkan bibirnya.


“Gak apa. Masa cowok di traktir cewek, justru aku yang malu,” sambut Dio sambil tersenyum lebar.


“Terima kasih, Dio,” ucap ketiga gadis itu berbarengan.


“Iya sama-sama. Oiya, Lusi aku antar pulang ya,“ ajak Dio pada Lusi lekas. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berdua dengan Lusi.


“Aku bisa naik taksi online aja, Dio.“ Lusi menolak dengan halus.


“Iya Lusi, lagian kan rumah kamu searah dengan rumah Dio. Ngapain sih naik taksi online segala,” timpal Ashanti.


Dan akhirnya Lusi pun mengangguk menurut karena dipikirnya pendapat mereka ada benarnya juga, terlebih belakangan ini dia tak berani keluar di malam hari.


”Nah gitu dong. Yuk, kami duluan yah. Bye Lusi, bye Dio.” Nikita dan Ashanti melambai, pamit lebih dulu menuju mobil.


“Ayo Lusi, aku antar pulang. Kamu tunjukin arahnya ya,” ucap Dio seraya membukakan pintu mobilnya untuk Lusi. Tak lama mobil sedan putih itu pun merayap di jalan raya yang sudah mulai lengang.


Dirumah.


Ferdian melangkah mondar-mandir sambil berkacak pinggang di teras depan rumahnya. Diliriknya jam di tangan dengan rasa hati yang gusar. Sudah hampir pukul sembilan.


Pandangannya terlempar jauh ke depan. Raut wajahnya tampak tak tenang. Sesekali dia berdecak kesal. Pak Dirman juga ikut gelisah berdiri bolak-balik di depan pintu gerbang.


Tak lama, sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depan rumah mewah itu. Orang yang ditunggu pun turun dari sana bersama seorang pria muda.


Dio mengantar Lusi sampai di depan pintu gerbang. Tampak berbincang-bincang sebentar, lalu Dio kembali masuk ke dalam mobilnya, kemudian pergi setelah melambaikan tangan.


Tampak Pak Dirman membuka pintu gerbang untuk Lusi. Dan gadis itu pun masuk dengan melangkah ringan seolah tak ada beban.


“Bagus yah, istri orang pulang malam, diantar cowok pula.” Tiba-tiba Ferdian berdiri dihadapan Lusi dengan berkacak pinggang dan sorotan mata yang tajam.


Sontak Lusi bergidik takut. Langkahnya mundur beberapa meter.


“Ma ... maaf, Mas. Tadi di ... di ajak makan sama teman,” jawab Lusi terbata-bata.


“Apa? Diajak makan? Gak ijin dulu sama aku? Hebat!”


“Masuk!” bentak Ferdian.


Lusi makin ketakutan. Wajahnya pucat seketika. Tiba-tiba Ferdian menariknya masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya di lantai dua. Dia menyeretnya kasar tanpa mempedulikan buku-buku yang dipegang Lusi berjatuhan di lantai.


Mbak Ira dan Pak Dirman yang menyaksikan saling berpegangan tangan saking ketakutan.

__ADS_1


Bertahun-tahun mereka berdua bekerja di rumah itu tak pernah sekalipun melihat Ferdian sebegitu marahnya seperti saat ini.


Ferdian membanting kasar tubuh Lusi ke atas ranjang. Tak peduli gadis itu sudah berurai air mata ketakutan melihat kemarahan yang dia tunjukkan.


"Kenapa handphone kamu gak aktif? Sengaja dimatikan?" tanya Ferdian curiga menatap wajah Lusi dengan sorot mata penuh emosi.


"Oh, Maaf, handphoneku lowbat...." jawab Lusi gugup. Suaranya tercekat karena rasa takut melihat Ferdian yang menatap nyalang padanya.


“Siapa cowok tadi?!”


Lusi berusaha bangkit dari ranjang itu dengan tubuh gemetar.


“Teman kampus aku, Mas," jawab Lusi disela isak tangisnya yang kian merebak.


“Didalam mobil cuma berdua aja?” selidik Ferdian seraya mendekati tubuh Lusi yang terduduk di atas ranjang. Gadis itu mengangguk lemah dengan rasa takut yang luar biasa.


“Tadi kami makan berempat, Mas. Dengan dua orang teman perempuanku juga....” jawab Lusi dengan suara bergetar.


“Tapi pulangnya berduaan sama cowok! Ngapain aja kalian di dalam mobil?" hardik Ferdian memotong ucapan Lusi.


Lusi tak menjawab. Dia sibuk menahan isak tangisnya.


“Mulai besok kamu gak usah kuliah lagi. Kamu jadi seenaknya begini," tegas Ferdian.


“Mas?” Lusi terperangah ditengah sesengukannya.


“Apa? Mau melawan?“ tantang Ferdian makin mendekatkan wajahnya ke wajah Lusi yang sudah basah dengan air mata.


“Mas jahaaaattt....Jahaaaatttt...!” Teriak Lusi histeris. Dia berontak dengan memukul-mukul dada Ferdian dan berusaha menendangnya.


Tapi Ferdian sigap mencengkram tangan Lusi lalu menekan tubuh gadis itu dengan


tubuhnya. Gadis itu makin meronta-ronta.


Tiba-tiba saja, bayangan menyakitkan dua tahun lalu terpampang di layar benaknya. Saat dia mendapati wanita yang nyaris menjadi istrinya berada dalam kungkungan tubuh laki-laki lain. Hatinya begitu hancur karena pengkhianatan di detik-detik akhir menuju sebuah fase masa depan.


Ferdian kian emosi bercampur dengan nafsu yang makin menyerang. Dibukanya kemeja Lusi dengan paksa hingga kancing-kancingnya bertebaran. Di buangnya kasar kemeja hitam tak bersalah itu ke lantai. Hingga menampilkan dada Lusi yang hanya berbalut bra putih.


Melihat pemandangan itu, Ferdian makin beringas. Dia menghujani leher dan dada Lusi dengan ciumann penuh nafsu. Tak peduli lagi pada Lusi yang meraung-raung menangis dibawah tubuhnya.


“Kamu itu istriku, Lusi. Tolong hormati aku. Jangan pernah main-main sama aku. Aku benci perempuan yang gak bisa menghargai aku. Harusnya kamu tau diri! Kamu ... istri ... aku!" ketus Ferdian geram di telinga Lusi dengan menekan kalimat akhirnya.


Kemudian tanpa ampun, ia terus melampiaskan nafsunya dengan mengecup dan melumatt bibir Lusi yang terasa bergetar.


Seketika Lusi merasakan hatinya perih bagai teriris saat mendengar ucapan pria yang kini berada di atas tubuhnya. Dia tak menyangka semua kebaikan Ferdian yang dia terima selama ini ternyata harus dia bayar dengan cara seperti ini.


Dia berhenti berontak. Berhenti mendorong dan memukuli dada Ferdian. Isak tangisnya masih bersisa namun dia hanya diam dan pasrah saat Ferdian mencumbunya.


“Kamu nyakitin aku. Tapi kalo dengan cara ini kamu merasa di hargai, silakan saja. Lakukan apa yang kamu mau. Paling nggak ini caraku berterima kasih atas semua kebaikan yang sudah kamu kasih untuk aku."


Suara Lusi bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Bola matanya yang basah tertuju lurus ke langit-langit kamar.


Ferdian yang mendengarnya, spontan menghentikan perbuatannya. Wajahnya terangkat dan menatap Lusi yang tampak memucat bersama air mata yang terus berderai.


"Lakukan saja, kamu berkuasa atas tubuh ini, sampai perjanjian kita ... berakhir." lanjut Lusi menatap tajam wajah Ferdian yang terdiam dengan nafasnya yang masih terdengar menderu.


Perlahan Ferdian bangkit dari atas tubuh Lusi lalu duduk bersimpuh di sampingnya seraya meremas rambutnya, gemas.


Ya Tuhan, setan apa yang merasuki aku sampai tega berbuat begini pada Lusi, sesal Ferdian dalam hati.


Pria itu duduk di tepi ranjang. Meraih kemeja Lusi yang tergeletak di lantai kemudian menyerahkannya pada Lusi yang masih terlentang pasrah di sampingnya.


“Maafkan aku," ucap Ferdian berdesis tanpa menoleh pada gadisnya. Lalu ia bangkit dan melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan Lusi yang masih terisak sendiri.


Lusi meraih kemeja hitamnya dengan tangan bergetar. Lalu mengenakannya sekedar saja, karena kancingnya sudah terlempar semua.


Dia sandarkan kepalanya lemah. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir. Hatinya pilu meratapi nasibnya yang malang ini.


Terbayang kembali di benaknya wajah orang-orang yang memperlakukannya dengan kejam, yang tega menorehkan duka untuknya. Mulai dari Ibu tirinya, adik tirinya, Bramanto dan kini ... Ferdian.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, 5 BINTANG, KOMENT, KRITIK DAN SARAN YAH GAESSS.

__ADS_1


HAPPY READING...


__ADS_2