ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 53


__ADS_3

Cantika bersenandung kecil di meja makan sambil mendengarkan musik melalui ipod nya. Beberapa kali kepalanya mengangguk-angguk mengikuti alunan music yang dia dengar lewat sepasang earphone nya. Kadang ikut bernyanyi lantang setelah selesai mengunyah nasi goreng buatan Mbak Ira. Sesekali tersedak karena mulutnya tengah sibuk mengunyah berbarengan dengan bernyanyi.


Ferdian yang juga tengah menikmati sarapannya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik tersayangnya itu.


Dimatanya, adik satu-satunya itu memang tidak pernah dewasa, selalu ada saja kelakuannya yang menjengkelkan dan sangat kekanak-kanakkan. Mungkin juga karena kasih sayang dan perhatian yang terlalu berlebihan darinya untuk adik semata wayangnya itu.


Sejak kedua orangtua mereka meninggal dunia memang Ferdian lah yang berperan sebagai ayah dan sekaligus ibu bagi Cantika. Namun cara Ferdian memperlakukan adiknya justru terkesan over protektif, karena itulah Cantika tumbuh menjadi sosok gadis yang manja dan selalu menuntut perhatian lebih dari kakak satu-satunya itu.


“Mbak Ira,“ panggil Ferdian pada Mbak Ira yang melintas di depan ruang makan.


“Ya Boss.”


“Tolong panggil Lusi, suruh sarapan disini temenin saya,” perintah Ferdian.


“Siap Boss.” Tanpa menunggu perintah dua kali seperti biasanya, Mbak Ira langsung ngacir menapaki anak tangga menuju lantai dua.


Tok...Tok...Tok.... Pintu kamar di ketuk Mba Ira. Tak lama wajah polos Lusi muncul dari balik pintu.


“Non manis, ditunggu Boss di ruang makan. Yuk kemon," ajak Mba Ira sambil nyengir kuda.


“Nanti aja Mbak, aku malas turun,” jawab Lusi dengan lemah.


“Yaaa, Non. Ntar Mbak Ira yang diomelin Boss. Kalo Boss udah marah mbak ngeri di telan, Non. Kasian dong sama Mbak.“


Lusi menyungging senyum sekilas.


“Yuk, cepetan. Susu coklat untuk Non udah Mbak siapin juga.”


“Iya Mba, terima kasih banyak. Sebentar lagi aku turun," ucap Lusi lembut. Mbak Ira mengangguk dengan wajah sumringah. Lalu kembali turun menuju ke ruang makan memberitahukan Bossnya bahwa perintah sudah dilaksanakan.


Tak lama tampak Lusi dengan rambut di gelung ke atas dan masih mengenakan piyama tidurnya menghampiri meja makan.  Dari tempat duduknya Ferdian memperhatikan wajah Lusi lekat-lekat.


Lusi mengambil posisi duduknya persis di sebelah Cantika yang berhadapan dengan Ferdian. Cantika yang masih asyik mendengarkan musiknya hanya menoleh sekilas pada Lusi di sebelah kanannya.


“Ayo sarapan. Kamu belum makan apa-apa dari kemarin sore," suruh Ferdian dengan suara datar tanpa melepaskan arah bola matanya menatap wajah gadis itu.


Lusi tak menyahut dia hanya mengangguk lemah. Diambilnya sedikit nasi goreng dan telur dadar lalu menyuapnya pelan. Dia tahu di seberang meja Ferdian tengah memperhatikan dirinya. Tapi dia bersikap acuh saja. Dikeluarkan ponselnya lalu men-scrool portal berita online untuk menghindari percakapan dengan Ferdian.


Ferdian tampak mulai kesal melihat Lusi yang tak bicara sepatah katapun padanya sejak pertengkaran kemarin. Di ambil nya ponselnya di atas meja. Lalu mengetikkan sesuatu.


Tiing.... Ponsel Lusi berbunyi. Di buka nya kotak pesan watsapp yang masuk.


“Masih marah?” Pesan masuk dari Ferdian. Diliriknya Ferdian sejenak di depannya. Pria itu masih menatap lekat ke arahnya.


Tiiing.... Giliran ponsel Ferdian berbunyi, segera dia membuka kotak pesannya.


“Masih.” Jawaban dari Lusi.


Tiiing.... “Aku harus gimana supaya kamu gak marah lagi.” Pesan masuk dari Ferdian.


Tiiing.... “Gak tau,” balasan dari Lusi


Tiiing.... “Aku minta maaf. Tapi bukan soal cowok kemarin. Aku minta maaf karena bikin kamu marah dan cemburu.” Pesan masuk dari Ferdian.

__ADS_1


Tiiing.... “Cemburu? gak tuh. Kalo Mas mau balikan sama mantan silahkan.” Jawaban dari Lusi.


Tiiing.... “Gak akan. Aku udah punya istri.”  Pesan masuk lagi dari Ferdian.


Cantika yang duduk di sebelah Lusi merasa sedikit terganggu dengan bunyi ponsel milik keduanya. Dia memperhatikan sepasang suami istri itu dengan tatapan heran. Bola matanya bolak balik sebentar ke arah Ferdian, sebentar ke arah Lusi. Tampak keduanya menunduk dengan memegang ponselnya masing-masing.


“Baru tahu aku cara komunikasi suami istri jaman sekarang, ternyata tak perlu bicara lagi, cukup pake watsapp,” ucap nya menengok keduanya dengan heran seraya berdiri dari kursinya dan berlalu meninggalkan mereka.


Lusi dan Ferdian saling menatap. Ferdian tersenyum manis pada Lusi. Namun gadis itu hanya menarik ujung bibirnya sedikit.


“Aku minta maaf,” ucap Ferdian seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Lusi.


Sejenak Lusi terdiam, lalu mengulurkan tangannya juga menjabat tangan Ferdian di atas meja.


Mbak Ira yang kebetulan datang membawakan susu coklat hangat untuk Lusi melihat penuh heran pada pasangan itu. Dia menggeleng-geleng kepala karena bingung, lalu bergegas meninggalkan meja makan menuju dapur.


“Aku ijin mau ke supermarket, Mas. Mau beli kebutuhan pribadiku.”


“Aku antar, kamu ga boleh pergi sendiri lagi.”


“Cuma sebentar, Mas. Gak perlu di antar.”


“Pokoknya aku antar. Tolong jangan membantah, Lusi.”


Dan Lusi pun akhirnya mengangguk pasrah.


“Oke. Kalo gitu aku mandi dulu, Mas,” pamit Lusi seraya bangkit dari duduknya dan berlalu dari hadapan Ferdian.


***Di supermarket


Ferdian membuka kacamata hitamnya dan diselipkan gagangnya di kerah T-shirt hitamnya. Wajahnya tampak segar dengan bekas cukuran di rahang dan dagunya.


Dengan mengenakan celana jeans dan T-shirt hitam casual membuat kulit putih Ferdian makin tampak lebih segar. Beberapa wanita melirik kagum padanya tapi dia mengacuhkan mereka. Dengan santai dia menggamitkan jemarinya pada jemari Lusi, membuat para wanita itu menatap iri pada Lusi yang melangkah anggun disamping Ferdian walaupun gadis itu hanya mengenakan celana jeans dan T-shirt hitam.


Lusi mulai mencari-cari barang yang dia butuhkan di setiap rak yang khusus memajang berbagai perlengkapan pribadi. Ferdian dengan setia mengikuti nya dari belakang dengan mendorong sebuah troli.


Sekilas dia menyungging senyum, dia baru sadar bahwa sudah lama sekali dia tidak melakukan ini. Terakhir kalinya adalah sewaktu adiknya, Cantika akan berangkat ke Australia dua tahun yang lalu. Dia mengantar Cantika belanja dan menyiapkan berbagai kebutuhan pribadi adiknya untuk di bawa ke sana. Sementara kebutuhan pribadinya sendiri biasanya rutin dia beli pada sebuah online shop ternama khusus barang-barang bermerk yang di import langsung dari luar negeri.


Triiiing...Triiing...Triiiing. Ponsel di saku celana Ferdian bergetar dan berbunyi. Dilihatnya di layar handphone. Vika. Sekertarisnya menelepon.


“Ngapain hari Libur gini dia telepon. Ganggu aja," gumam Ferdian sebal.


“Halo, Vika? Ada apa?  Ha..? Apa? gak kedengaran, sebentar saya keluar dulu.”


“Lusi, aku terima telepon dulu di luar. Kamu tunggu sini. Jangan kemana-mana, oke.” pamit Ferdian.


Lusi mengangguk cepat. Lalu kembali melanjutkan pencariannya. Dia menurut pada Ferdian untuk tak melangkah jauh-jauh dari tempatnya.


Tiba-tiba seseorang mencengkram bahunya dengan sangat kasar. Lusi terkejut dan spontan menoleh. Bu Merry dengan mata melotot dan senyum menyeringai berdiri rapat di sampingnya.


“Mau lari kemana kau, Anak nakal.” Bu Merry merengkuh bahu Lusi dengan kasar seraya menempelkan ujung sebuah benda tajam serupa gunting kecil pada sisi pinggang Lusi.


“Ahhh...Ibu, sakit.” Teriak Lusi kesakitan ketika tangan Bu Merry mencengkram pergelangan tangannya dengan sangat kencang

__ADS_1


“Kau bikin susah aku, Lusi. Gara-gara kau kabur, sekarang aku berhutang pada Bramanto dan harus mencicilnya sampai lunas,“ hardik Bu Merry dengan gemas pada Lusi. Cengkramannya semakin kuat.


“Kau harus kembali pada tua bangka itu. Ayo ikut.”


“Aku gak mau, Bu. Tolong...!” Teriak Lusi, namun orang-orang disekitarnya tak mendengar karena saking gaduhnya suara musik bercampur dengan keriuhan pengunjung hypermarket itu.


Bu Merry menyeretnya cepat menuju parkiran belakang. Langkah nya setengah berlari menarik lengan Lusi dengan sangat kasar.


“Kau akan hidup enak bersama Bramanto, Anak nakal. Walaupun sudah tua bangka tapi uangnya banyak. Dasar Bod*h, Kau!” hardik Bu Merry lagi.


“Ibu, aku mohon Bu, aku gak mau. Aku bisa mati di tangan orang itu,” mohon Lusi. Air matanya mulai merebak menahan sakit di tangannya dan ketakutan mendengar nama Bramanto.


“Baguslah kalau kau mati, kau bisa cepat ketemu kedua orang tua mu," jawab Bu Merry menyakitkan.


“Tolooong...!” Kembali Lusi berteriak kencang.


Plaaakkkk....! Tamparan yang sangat keras dari tangan Bu Merry mendarat di pipi Lusi. Gadis itu merasakan panas di pipinya dan perih di atas pelipisnya .


Ferdian kembali ke tempat Lusi menunggu nya. Tak ada Lusi di sana, hanya troli nya yang masih berada di posisi semula. Ferdian celingak-celinguk mencari ke setiap lorong, tapi tak tampak juga sosok Lusi. Wajahnya mulai menegang panik. Di hampirinya security wanita yang berdiri di pintu keluar.


“Permisi, Ibu lihat gadis yang tadi berdiri di situ? Tinggi, putih, pake baju hitam," tanya Ferdian cepat.


“Maaf Pak, tidak lihat. Atau bapak bisa ke meja informasi untuk memanggil orang yang dicari."


Ferdian makin panik dan mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat yang sangat luas dan ramai itu. Benar-benar tak tampak Lusi dari pandangannya.


Dia berlari keluar menuju mobilnya di pelataran parkir. Dipikirnya mungkin Lusi sudah menunggunya di mobil. Ternyata tak tampak juga Lusi di sana. Dia terus berlari menyusuri pelataran parkir yang sangat luas itu hingga menyusuri jalur parkir yang terkoneksi ke pelataran parkir belakang.


“Tolooooong... !!!” Ferdian menangkap suara Lusi. langkah nya makin kencang menuju asal suara.


Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia melihat Bu Merry mendorong-dorong tubuh Lusi untuk masuk ke dalam sebuah taksi berwarna biru. Namun Lusi sekuat tenaga menahan tubuhnya dari tekanan Bu Merry di punggungnya.


Ferdian berlari kencang menuju taksi itu.


“Jangan jalan, Pak! Ini penculikan!” ancam Ferdian pada supir taksi yang tampak kebingungan melihat calon penumpangnya berteriak-teriak minta tolong.


“HEH....! Lepasin!” Perintah Ferdian tegas pada Bu Merry yang masih mencengkram lengan Lusi dengan sangat kencang. Bu Merry tampak ketakutan melihat Ferdian yang berdiri tepat dihadapannya.


“Ini anak saya, anda jangan ikut campur. Ini urusan keluarga,” kilah Bu Merry berdusta. Suaranya terbata-bata karena panik.


“Mas...Tolong...!” Pinta Lusi disela tangis ketakutannya.


“Ini Istri saya. Lepasin! Ibu mau saya hajar?!“ ancam Ferdian siap dengan kepalan tangannya.


“Hah? Suami nya Lusi?” ucap Bu Merry yang tampak makin bingung dan ketakutan.


“Saya tau kamu ini ibu tirinya Lusi, kan? Saya sudah tau perbuatan kamu. Saya akan laporkan kamu ke polisi karena sudah menjual istri saya pada seseorang.“


Bu Merry semakin panik mendengar ancaman itu. Seketika dia melepaskan cengkramannya dari lengan Lusi dan menghadiahi goresan benda tajam ke pergelangan tangan gadis itu lalu spontan berlari sekencang-kencangnya menuju jalan raya takut Ferdian mengejarnya.


“Mas....” Lusi jatuh terkulai lemas. Untung Ferdian segera menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah. Air matanya merebak di pipi pucatnya.


“Lusi... Ayo kita ke rumah sakit.” Ferdian sangat panik melihat wajah Lusi yang memerah bekas tamparan Bu Merry dan lengannya yang tergores mengeluarkan darah. Cepat dia membopong tubuh lemah Lusi menuju mobilnya.

__ADS_1


Ferdian menyeka air mata Lusi dan memasangkan sabuk pengaman untuknya. Kemudian segera membawa mobilnya keluar dari pelataran parkir hypermarket itu menuju rumah sakit terdekat.


TRIMA KASIH ATAS KRITIK DAN SARANNYA. TERIMA KASIH JUGA UNTUK LIKE, LOVE , RATE DAN VOTE NYA. SEMOGA KITA SEMUA DALAM KEADAAN SEHAT DAN DILINDUNGI TUHAN YANG MAHA ESA. AAMIINN


__ADS_2