ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 51


__ADS_3

“Ayo duduk sini. Sekalian kita bicara,” ajak Ferdian sekali lagi.


Kali ini setengah memaksa. Namun Lusi masih juga diam tak bersuara.


“Lusi, ini jus kamu. Jus strobery tanpa gula.” Tiba-tiba Dio muncul membawa dua buah gelas bertangkai berisi minuman buah.


Langkahnya terhenti, kaget melihat Lusi bersama Ferdian, suaminya. Begitupun dengan Ferdian yang tersentak melihat seorang pemuda tampan membawakan minuman untuk istrinya.


Dia menoleh pada Lusi dan Dio bergantian. Dio berusaha tetap tenang, diletakkannya gelas jus tersebut di meja kayu lalu berdiri mendekati Lusi.


“Siapa dia, Lusi?” tanya Ferdian beranjak menghadap Lusi dengan wajahnya yang menegang.


“Oh, kenalkan saya Dio, sahabat Lusi.”


Dio mengulurkan tangannya pada Ferdian. Namun Ferdian tak mau membalas. Dia hanya menatap mata Dio dengan sorot maniknya yang tajam.


“Saya suami Lusi,“ ucap Ferdian dingin.


Lusi yang berdiri di antara kedua pria itu hanya tertunduk takut.


“Akhirnya bisa ketemu juga dengan suami Lusi,” jawab Dio datar dengan tatapan dinginnya pada mata Ferdian dihadapannya.


“Berarti kamu sudah tau Lusi bersuami. Ngapain berduaan sama istri orang disini?” tantang Ferdian makin mendekat ke arah Dio.


“Cuma ngobrol-ngobrol aja. Kebetulan aku ketemu dia disini.”


“Kebetulan apa emang janjian?“ tanya Ferdian tajam dan sinis.


“Terserah mau percaya atau gak. Yang pasti kalau Lusi ke sini sendirian dengan bercucuran air mata berarti ada sesuatu yang bikin hatinya gak nyaman.” Dio memicingkan matanya penuh curiga.


“Ooow, kayaknya kau paham sekali soal istriku ya.”


“Ya mungkin cuma aku satu-satunya orang yang paling paham soal Lusi. Aku kenal dia jauh lebih lama dari Anda, Boss. Pastinya Lusi lebih nyaman bicara dari hati ke hati sama aku dibanding dengan suaminya sendiri,” jawab Dio menantang Ferdian.


“Maksud kau apa?” Emosi Ferdian memuncak mendengarnya.


Dia mendorong bahu Dio kasar. Namun Dio tak melawan, justru tersungging sinis padanya.


Lusi memegang lengan Ferdian yang mengeras, takut suaminya itu melayangkan tinjunya pada wajah Dio.


“Kau jangan coba-coba dekatin istriku,” ancam Ferdian seraya menunjuk dada Dio.


“Suami yang baik tak akan membuat Istrinya menangis, Boss.”


Buugh...!


Benar saja, tinju Ferdian mendarat telak di wajah Dio. Dan tubuh Dio pun terjengkang keras ke tanah.


“Maaass!” Lusi menahan tangan Ferdian yang akan meninju Dio sekali lagi.


Emosi Ferdian sudah tak tertahankan lagi.


“Kurang ajar! Ayo berdiri kau!” hardik Ferdian siap dengan kepalan tinjunya.


Dia pikir inilah saatnya menggunakan keahlian bela diri Muaythai-nya setelah sekian lama tak difungsikan.


Dio berdiri dan menyentuh hidungnya yang mengeluarkan darah. Lalu menatap Ferdian dengan wajah yang menegang.


“Aku gak akan merendahkan diri melawan kamu di depan Lusi,” ucap Dio dingin.


“Takut? Ayo, jagoan!“ tantang Ferdian.

__ADS_1


“Aku gak takut sama kamu. Aku cuma gak mau Lusi benci sama aku karena Aku tau Lusi gak suka kekerasan,” bantah Dio dengan wajah memerah dan hidung yang masih mengeluarkan darah.


“Sok tau benar kau yah soal Lusi!”


“Ya memang aku tau, karena Aku mencintai Lusi dari dulu dan sampai detik ini.”


“Hah? Kurang ajar!”


Ferdian siap menerjang tubuh Dio tapi Lusi buru-buru menahannya sekuat tenaga. Gadis itu takut Ferdian akan makin beringas menghajar Dio.


“Mas, aku mohon, stop Mas....“ Lusi menangis memeluk pinggang Ferdian.


“Bilang sekali lagi, mau mati kau, hah!” hardik Ferdian pada Dio yang tetap berdiri ditempatnya menantang tatapan Ferdian.


“Aku mencintai Lusi dan akan tetap menunggu sampai kau ceraikan dia,” ucap Dio lagi dengan suara yang lebih lantang.


“Bangs4t, kau...!”


Ferdian menyorongkan tubuhnya dan bersiap menyerang Dio kembali. Tapi Lusi tetap memeluk pinggangnya lebih kuat lagi dari arah depan .


Orang-orang di sekitarnya sudah ramai berkerumun sambil berbisik-bisik menyaksikan pertengkaran mereka.


Lalu, dua orang berpakaian security tampak berlari menghampiri mereka.


“Sudah...sudah...Pak. Jangan bertengkar disini. Banyak anak-anak,“ seru salah satu security itu menahan bahu Ferdian.


“Mas. Sudah Mas....” Lusi menarik tangan Ferdian menjauh dari Dio.


“Awas kau...!” Ancam Ferdian menunjuk Dio yang berdiri tenang menatap Ferdian dengan tersenyum sinis.


Ferdian menarik tangan Lusi menuju mobilnya. Dia membuka pintu untuk Lusi kemudian dia masuk ke mobilnya dan duduk di belakang kemudi, menyandarkan kepalanya sejenak kebelakang dan mengatur nafasnya yang masih terasa berat karena luapan emosi yang baru saja meledak.


Ditatapnya wajah Lusi yang tertunduk sambil sesengukan. Bahunya berguncang pelan menahan isaknya.


Benar apa yang dikatakan Dio, Lusi memang sangat tidak menyukai kekerasan.


Diraihnya jemari Lusi, namun Lusi menepisnya kasar. Gadis itu sangat ketakutan. Wajahnya makin terbenam dalam tunduknya.


Ferdian menghela nafasnya sesaat lalu melajukan mobilnya dengan cepat berbaur ke jalanan yang sudah mulai tampak padat merayap.


Flashback on, 2 jam yang lalu.


Lusi terpekur menghadapi kolam ikan mini yang tertata sangat cantik di taman itu. Bunyi riak airnya serasa mengiringi perasaannya yang tengah berkecamuk saat ini.


Ingatannya pun kembali pada pertengkarannya dengan Ferdian malam tadi.


Andai saja aku bisa menahan emosi dan tidak terbawa perasaanku mungkin pertengkaran itu tak akan terjadi. Seandainya saat itu aku sadar diri bahwa statusku hanya sebagai istri sementara yang hanya terikat perjanjian mungkin aku dapat menghindari pertengkaran itu. Namun entah kenapa mendapati perempuan lain yang nyaris bugil memeluk Mas Ferdian membuat hatiku sangat perih dan terbakar cemburu.' keluhnya didalam hati.


'Aku suka sama kamu, Mas. Lebih dari suka. Aku mulai jatuh cinta. Kenapa kamu gak peka sih? Atau aku memang gak pantas untuk kamu? Maafkan aku yang tak tau diri ini, Mas.' Pikirnya lagi dalam hati.


Dirinya lelah dengan situasi yang tengah dia hadapi. Ditambah lagi sikap adik iparnya yang selalu menunjukan ketidaksukaan dan kecurigaan pada dirinya, membuat dia merasa sangat terasing di rumah itu.


Apalagi dengan membawa mantan tunangan Ferdian ke rumah itu, seperti sebuah cara menunjukkan bahwa dirinya sangat tak sebanding dengan wanita itu.


Saat ini dia ingin sekali pergi dari rumah Ferdian, tempat dimana selama ini membuatnya merasa terlindungi.


Menunggu semua urusannya selesai rasanya begitu lama sekali.


Sempat terpikir dalam benaknya untuk melarikan diri tapi dia bingung tak tahu harus kemana lagi.


Jika masih berada di kota ini tanpa ada yang mendampingi dia takut bertemu lagi dengan orang-orang Bramanto ataupun dengan si ibu tiri.

__ADS_1


Satu-satunya keluarga terdekat yang dia miliki hanya Om Helmi, adik kandung Almarhum Ayahnya yang kini tinggal di luar negeri.


Tapi untuk bertemu Om Helmi rasanya tidak mungkin, karena pamannya itu sudah lama sekali tak berkabar dan dia tak tahu harus kemana untuk menghubungi.


'Ayah... Bunda... Aku kesepian. Aku ketakutan. Aku sendirian. Aku Kangen. Seandainya bisa, aku ingin ikut kalian ke surga, merasakan pelukan Bunda lagi, merasakan lagi usapan Ayah di kepalaku. Ayah, Bunda, aku mohon hadirlah dalam setiap mimpi-mimpiku supaya aku tau kalian tidak meninggalkan aku sendirian. Bathin Lusi menjerit pilu mengenang mendiang ayah dan bundanya.


Dia pun akhirnya tertunduk membiarkan air matanya mengucur deras membasahi pipi.


Tiba-tiba seseorang menyentuh lembut bahunya dari belakang. Spontan Lusi menoleh.


Dio?


Segera diusapnya air matanya, dia tak ingin Dio melihatnya menangis saat ini.


Namun Dio sudah terlanjur melihat pipinya yang basah dan sudut matanya yang masih mengucurkan air mata.


“Anak cantik gak boleh nangis, ah,” ucap Dio seraya menempati duduknya di sebelah Lusi. Dio memandang wajah Lusi yang tertunduk dan masih menyisakan sesengukan tangisnya.


“Kenapa nangis?“ tanya Dio lembut.


Lusi menggeleng, dia tak mau Dio tahu kegalauan hatinya saat ini. Dia berusaha menarik bibirnya dipaksa utk tersenyum, walaupun masih ada bulir-bulir air mata yang menetes dari sudut matanya.


“Apa kabar, Dio?“ tanya Lusi dengan suara serak karena sisa tangisnya, berusaha mengalihkan pertanyaan Dio.


“Kangen kamu,” jawab Dio singkat.


“Hah? Aku nanya kabar kok jawabnya Kangen?“ Lusi mulai menyungging senyum.


“Suka-suka aku, dong,” jawab Dio ringan membuat Lusi tertawa renyah.


“Gak nyangka bisa ketemu kamu disini. Aku seneng banget, Lusi," ucap Dio tersenyum manis. Lusi hanya mengangguk samar.


“Kamu inget gak di bangku ini juga terakhir kita ketemu sebelum aku pergi ke Amerika.”


“Iya, Dio. Aku inget. Abis itu kamu menghilang gak ada kabar,“ ujar Lusi pelan.


“Aku sengaja gak ngabarin kamu, soalnya aku patah hati ditolak kamu," jawab Dio dengan polosnya.


“Dio? Jangan mulai ngegombal deh. Kamu kalo begini terus nanti gak laku-laku, loh. Padahal banyak perempuan yang ngejar-ngejar kamu.”


“Kan berkali-kali aku bilang, aku maunya sama kamu. Aku pulang ke Indonesia maksudnya mau ngajak kamu nikah, eh malah keduluan orang lain. Nasiiib, Nasiiib," ujar Dio dengan raut polos dan berdecak samar.


Lusi tertawa lagi mendengar kegombalan sahabatnya itu.


“Kamu tuh gak berubah, Dio. Polos banget,” ujar Lusi sambil tertawa.


“Oh iya, tenggorokanku kering nih gara-gara menahan rindu, aku cari minum dulu. Kamu mau minum apa?“ tanya Dio seraya bangkit dari duduknya.


“Apa aja asal jangan yang manis.”


“Oiya kamu kan udah manis ya, nanti diabetes.”


Lusi tertawa lagi. Dio tersenyum lebar melihat Lusi mulai tertawa lepas.


Dia senang karena berhasil membuat Lusi melupakan apapun masalah yang menyebabkan airmatanya tumpah tadi.


Tak lama, Dio kembali ke tempat mereka duduk dengan membawa dua gelas minuman jus buah.


Tapi langkahnya terhenti saat mendapati Lusi sedang bersama seorang pria tampan berkemeja biru tua, suaminya.


Flashback off.

__ADS_1


Cast ILusiana (Lusi)



__ADS_2