
Lusi berdiri terpekur menatap tubuh besar Bramanto di atas tempat tidur. Suara dengkurannya terdengar kencang dan sangat memekakkan telinga.
Kemudian dengan hati-hati dan tetap waspada Lusi melangkah mendekat untuk memastikan keadaan laki-laki bejad dihadapannya itu.
‘Ceklek....’
Pintu kamar tiba-tiba terbuka walaupun nyaris tanpa suara namun membuat Lusi spontan meleparkan pandangannya ke arah pintu itu.
Kepala Bu Tantri muncul dari balik pintu, celingak-celinguk mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan dua penghuni di dalamnya, Bramanto dan Lusi.
Perlahan tanpa suara Bu Tantri meniti lantai memasuki kamar itu. Dan dia dapati seonggok tubuh besar suaminya kini terbaring dengan mata terpejam rapat di atas ranjang dengan hanya mengenakan celana dalam dan piyama tidurnya.
Bu Tantri mendekati lagi, mengamati wajah Bramanto yang terlelap sangat dalam. Suara dengkurannya pun terdengar sangat kencang namun beraturan.
Pandangannya beralih pada Lusi yang juga berdiri di sebelahnya ikut menghadapi tubuh Bramanto. Gadis itu tampak menggigil ketakutan. Kedua lututnya bergetar hebat dan sekujur tubuhnya pun basah karena keringat.
Bu Tantri memberikan kode pada Lusi untuk mengikuti geraknya. Lusi pun mengangguk. Lalu dengan langkah hati-hati dan perlahan mereka meninggalkan kamar ‘penyiksaan’ itu.
Bu Tantri memapah tubuh Lusi yang sudah tak bertenaga menuju kamarnya. Dan mendudukan gadis itu di bibir ranjangnya.
“Sini aku obati dulu lukamu supaya tidak infeksi,” Bu Tantri geleng-geleng kepala miris melihat keadaan Lusi. Luka cakar dan memar tampak jelas wajah, lengan dan lehernya.
Lusi menurut. Bibirnya masih bergetar. Gadis itu mengatur nafasnya yang masih terasa berat di dalam dada karena rasa takut yang sedemikian hebat yang baru saja di alaminya.
Bu Tantri mengambil kotak P3K dan membawanya ke hadapan Lusi. Dia duduk di samping gadis itu, lalu dengan cekatan mengoleskan cairan Alkohol ke beberapa bagian yang terkena cakaran di lengan dan leher gadis itu. Lusi meringis menahan perih yang menyengat, tapi tak lama.
“Kamu harus keluar dari sini sekarang juga,” ucap Bu Tantri merendahkan suaranya.
Lusi mendongak menatap wajah Bu Tantri.
“Kalo tidak, kamu bisa mati di sini” imbuh bu Tantri lagi. Membuat Lusi jadi bergidik ngeri.
“Bagaimana caranya, Bu? Pengawal disini banyak sekali,” tanya Lusi disela suaranya yang masih bergetar lemah.
Kening Bu Tantri berkerut, bibirnya terkatup rapat, benaknya berputar mencoba mencari cara agar dia dapat mengeluarkan Lusi secepatnya dari rumah ini.
“Ayo, ganti baju kamu cepat, itu ada di kursi. Tadi saya ambil baju kamu yang kamu pakai tadi sore,” suruh Bu Tantri lekas seraya menunjuk baju dan celana jeans yang teronggok di kursi riasnya. Bergegas Lusi meraih bajunya dan segera memakainya.
“Tadi aku tukar obat suamiku dengan obat tidur dosis tinggi. Jadi diperkirakan dia akan terbangun besok pagi. Biasanya para pengawal akan bergantian shift jaga pada jam 12 tengah malam, disaat itu mereka sering lengah,” papar Bu Tantri tanpa jeda mengingat kondisi genting yang kini tengah mereka hadapi.
Lusi mengangguk penuh harap. Dalam hati dia berdoa semoga Bu Tantri berhasil mengeluarkan dirinya dari rumah ini dengan nyawa yang masih melekat pada raganya.
“Nanti kamu keluar lewat pintu belakang, ya. Tadi sudah saya putus kabel alarmnya. Tapi tetap hati-hati, biasanya penjaga mondar-mandir bikin kopi di dapur belakang,” tambah Bu Tantri lagi. Lusi mengangguk mengerti.
Jam dinding menunjukan pukul 11.50. Sepuluh menit lagi menuju pukul 12 tepat tengah malam. Waktu yang sudah di rencanakan Bu Tantri untuk membantu mengeluarkan Lusi dari rumah ini.
Berulang kali Bu Tantri mengintip keluar pintu, mengedarkan bola matanya pada sekitar kamarnya. Aman. Tak ada satupun penjaga yang tampak di sana.
“Ayo, Nak. Siap-siap.” ucap Bu Tantri berbisik.
“Oiya, nanti setelah berhasil keluar, kamu lari sekencang-kencangnya ke arah jalan raya. Itu jauh dari rumah ini tapi kamu akan aman kalo sudah tiba di sana,” himbau Bu Tantri masih berbisik.
Lusi mengangguk-angguk mengerti. Ketakutan tergambar jelas di wajahnya kini. Sekujur tubuhnya kembali bergetar, karena inilah waktunya dia harus menyelamatkan diri. Jika tidak sekarang, lebih baik dirinya mati, daripada harus merelakan tubuhnya menjadi mangsa kebuasan para laki-laki hidung belang.
Bu Tantri melangkah keluar kamarnya terlebih dulu. Dia edarkan pandangannya mengawasi situasi di sekelilingnya.
Aman.
Dia melambai pada Lusi memberi kode untuk mengikuti langkahnya.
Lusi bergerak perlahan, dengan tangan yang gemetar dia menggandeng erat lengan Bu Tantri.
Kedua wanita itu mengendap-endap menyusuri pinggir dinding, berupaya menghindari kamera pengintai yang terpasang di beberapa sudut ruangan itu.
Ruangan itu sangat luas, menuju dapur belakang terasa jauh sekali, apalagi dalam keadaan mencekam seperti yang dirasakan kedua wanita ini, satu meter saja serasa satu kilometer jauhnya.
__ADS_1
Yes, aman! Bathin Bu Tantri.
Pandangannya tetap beredar memantau ke sekeliling ruangan. Kembali wanita itu mengendap-ngendap menyusuri dapur menuju pintu belakang di ikuti oleh Lusi di balik punggungnya.
Tampak oleh Bu Tantri tiga orang pengawal Bramanto sedang berbincang-bincang diselingi tawa di pos samping taman. Artinya sudah mulai masuk waktu pergantian shift jaga.
Perlahan dan hati-hati, tanpa menimbulkan suara, Bu Tantri membuka gerbang kecil yang terletak di bagian
belakang bangunan rumahnya. Lusi pun ikut mengawasi ke sekitarnya.
Gerbang kecil itu dibuka menganga. Walaupun sempit namun dirasa cukup untuk di lewati oleh tubuh Lusi.
“Ayo, Nak. Cepat keluar,” perintah Bu Tantri berbisik pada Lusi.
Gadis itu pun lekas menuruti. Dia keluar melewati gerbang kecil itu pelan-pelan. Sebentar berbalik menatap Bu Tantri yang masih menahan pintu besi itu untuk dirinya. Melalui binar matanya, Lusi mengucapkan terima kasihnya yang sangat mendalam untuk wanita itu. Bu Tantri pun mengerti, lalu mengangguk samar pada Lusi.
“HEEEYY! Siapa itu?!“
Tiba-tiba suara menggelegar terdengar dari kejauhan, berasal dari teras samping rumah. Sekian detik kemudian terdengar derap langkah kaki yang menuju ke arah Bu Tantri dan Lusi.
“Ayo, cepat lari. Lari!” Bu Tantri panik. Begitupun Lusi.
Tak buang waktu lagi, Lusi melesat mengambil langkah seribu, berlari sekencang yang dia mampu.
“Hey, berhenti! Sialan!” Terdengar kembali teriakan para pengawal Bramanto dari arah belakangnya.
Lusi terus berlari kencang, tak di gubrisnya lagi jalan yang terjal dan gelap gulita yang sedang disusurinya.
Beberapa kali kakinya tersandung akar pohon, dan nyaris tersungkur.
Terdengar derap langkah cepat dan memburu dari para pengawal Bramanto di belakangnya. Tiga orang pria bertubuh kekar itu susah payah mengejar Lusi yang sudah beberapa puluh meter meninggalkan mereka.
Seketika harapan Lusi membuncah saat tampak di depan matanya jalan beraspal yang cukup terang benderang Dan itu seolah jalan kebebasan untuk dirinya.
Akhirnya Lusi sudah tiba di jalan beraspal itu. Tampak sepi sekali bahkan tak ada satupun kendaraan yang melintasi.
Langkah Lusi terus terpacu. Tujuannya hanya satu. Mencari tempat keramaian atau kantor polisi.
**Pov Ferdian**
Sekilas Ferdian melirik jam Hublot yang melingkari pergelangan tangannya. Jam 12.15.
Hmm... Sudah larut sekali.
Dikendarainya Mercedes hitamnya dengan kecepatan sedang karena kantuk yang mulai menyerang. Kelopak matanya terasa berat dan bola matanya pun terasa sepat.
Sesaat dia menguap lebar dengan satu punggung tangan untuk menutup mulutnya. Dan untuk mengusir rasa kantuk yang mulai melanda dia nyalakan music player digital di dashboard mobilnya lalu terdengarlah alunan musik western kesukaannya. Sesekali dia ikut melantunkan liriknya, ikut bernyanyi agar konsentrasinya tetap terjaga.
Tiba-tiba kelopak matanya terbelalak lebar, ketika netranya menangkap seseorang tengah berdiri beberapa belas meter di hadapannya, dengan dua tangan yang terbentang menghadang kendaraannya tepat di tengah-tengah jalan raya.
Ferdian memasang lampu jauhnya untuk menyoroti penampakan sosok tersebut dan memastikan penglihatannya.
“Who the hell....?” gumamnya bingung.
Penasaran, dia memicingkan kedua matanya. Dan tampak jelas olehnya, satu sosok wanita muda mengenakan kemeja putih dan celana jeans tengah merentangkan tangannya tepat di hadapan mobilnya.
Seketika, Ferdian menghentikan laju mobilnya. Namun, belum hilang kebingungan yang melingkupi benaknya, tiba-tiba gadis itu bergegas menuju arah samping kiri mobilnya lalu mengetuk-ngetuk pintunya dan memintanya untuk segera membukanya.
“Tolong saya.... Tolong, Pak...Tolong! Biarkan saya masuk!” mohon gadis itu padanya sambil terus-menerus mengetuk kaca pintu mobilnya.
Sementara itu samar-samar rungunya mendengar suara teriakan laki-laki dan derap langkah cepat yang mendekat ke arah. Sontak dia menoleh ke asal suara. Dan tampak olehnya tiga orang pria berbadan besar berlari cepat menuju tempatnya.
Gadis diluar mobilnya itu terus mengetuk-ngetuk kaca mobilnya dengan raut wajah yang begitu panik dan takut.
Dia kesampingkan kebingungannya terlebih dulu, lalu tanpa banyak pikir lagi dia menekan tombol otomatis untuk membuka pintu bagian kiri mobilnya. Dan menyuruh gadis itu untuk segera masuk.
__ADS_1
Sejurus kemudian, setelah gadis itu menempatkan dirinya persis di sebelah kirinya, Ferdian langsung menekan pedal gasnya dan membawa kendaraannya melesat cepat meninggalkan tiga orang pria bertubuh kekar yang masih berusaha mengejarnya, tentu saja tak berhasil.
Ferdian menoleh sekilas ke samping kirinya dan mendapati gadis itu duduk gelisah dengan dadanya yang bergerak naik turun begitu cepat seiring deru nafasnya yang terpacu hebat.
Demi melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajah pucat gadis itu, Ferdian menyodorkan sebotol air mineral yang dia raih dari samping kursinya.
“Minumlah,” Ferdian buka suara seraya menyodorkan botol air mineral itu pada gadis disampingnya.
Gadis itupun menurut dan tanpa ragu dia meneguk air mineral itu pelan sampai bersisa setengahnya saja.
Ferdian sekali lagi menoleh, kali ini agak lama. Alis tebalnya bertautan ketika melihat raut gadis itu. Sepertinya wajah itu cukup familiar untuknya. Tapi siapa?
Dan tiba-tiba saja dia teringat sesuatu.
“Hey, kamu ini penjaga kios bunga di Jalan Mega itu, bukan?” serunya kemudian.
Gadis itu menoleh pada Ferdian, kelopak matanya pun mengembang untuk memastikan penglihatannya. Dengan bola matanya yang masih basah karena sisa air mata, dia tatap intens wajah Ferdian.
Dan, serupa dengan Ferdian, memory gadis itu sepertinya juga berfungsi dengan sempurna.
“Om.... Om ini yang sering ke kios ‘kan?” balas gadis itu untuk meyakini ingatannya pada sosok Ferdian.
“Iya, betul. Kamu ngapain tengah malam gini keluyuran di jalan? Dan orang-orang tadi? Apa mereka itu lagi kejar kamu?” cecar Ferdian kian penasaran.
Gadis itu menarik nafasnya yang terasa berat. Rasanya tak sanggup lagi mengingat kejadian buruk yang dialaminya hari ini. Dia menggeleng kepalanya, tak kuasa untuk menjawab rentetan pertanyaan itu.
“Oiya, aku Ferdian. Nama kamu siapa?” ucap Ferdian menoleh kembali pada gadis itu.
“Aku Lusi, Om.“
“Baik, Lusi. Kalo gitu aku antar kamu pulang ya. Rumah kamu dimana? Orang tua kamu pasti panik nyariin kamu,” ujar Ferdian cepat seraya membelah konsentrasinya pada kemudinya lalu beralih pada gadis di sampingnya yang tampak sudah duduk dengan tenang.
Lusi spontan menggeleng cepat sambil menatap tepi wajah Ferdian dengan kilau bola mata yang memancarkan rasa takut yang mendalam.
Di benaknya kini menari-nari bayangan derita yang akan dia terima jika dia kembali ke rumah. Dia yakin ibu tirinya akan menyeretnya lagi ke rumah laknat itu. Dan dapat dia pastikan perlakuan yang dia dapatkan nanti akan jauh lebih tragis lagi dari hari ini.
“Jangan, Om. Aku takut.” Lemah suara Lusi memohon.
Ferdian menoleh ke arahnya lagi, bingung dan tentu saja tak mengerti. Sejenak pria itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghelanya perlahan.
“Kenapa? Nanti orang tua kamu cari kamu gimana?”
Kembali Lusi menggeleng, kali ini lebih mantap dan dengan sorot mata yang penuh pengharapan. Ferdian bisa menangkap kilau takut di bola mata bening itu.
Walaupun dia tak mengerti apa alasan gadis itu tak mau dia antar pulang, namun pada akhirnya dia harus memutuskan tujuannya.
“Ya sudah, kamu aku bawa ke rumahku dulu ya, nanti kita bicarakan selanjutnya bagaimana,”
Tanpa mengeluarkan suara Lusi menjawab dengan anggukan kepala. Entah mengapa dia merasa dirinya jauh lebih aman jika kini dia ikut bersama Ferdian di bandingkan pulang ke rumahnya.
Demi melihat anggukan itu, Ferdian memacu kendaraannya sedikit lebih cepat agar segera sampai ke tempat tujuannya. Rumah.
PLEASE LIKE, VOTE, RATE 5, KRITIK DAN SARAN DI KOLOM KOMENTAR YAH.
TERIMA KASIH... HAPPY READING.
__ADS_1