ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 59


__ADS_3

Amanda menghempaskan tubuhnya ke sofa putih di ruang tamu apartemennya.


Tubuhnya terasa sangat penat dan kakinya pegal karena seharian mengantar Cantika mengunjungi pameran property di pusat kota.


Dan berakhir di sebuah shopping mall menemani Cantika hunting pakaian ala-ala korea kegemarannya.


“Macam supir nya aja aku dibuatnya,” gerutu Amanda sambil mengurut-ngurut betisnya.


Tiiing...Tooong.... 


Terdengar bell dari pintu. Dengan malas dia melangkah menuju ke asal suara. Di intipnya sebentar ke arah luar melalui lubang kecil di atas pintunya.


Ivan? Mau ngapain dia kesini? gumam Amanda keheranan.


Tiiiing Tooong....


Sekali lagi bell berbunyi. Amanda ragu, tapi akhirnya dia buka juga pintu itu.


“Hai, Cantik.” Sapa Ivan dengan tersenyum genit di hadapannya.


“Mau ngapain ke sini?” tanya Amanda datar dan dingin.


Dia masih berdiri di depan pintu menghalangi Ivan untuk masuk.


“Kangen, hehehe...” jawab ivan dengan manja.


“Sebaiknya kamu jangan temui aku lagi. Van.“ Pinta Amanda seraya melipat tangannya di depan dada.


“Loh, kenapa? Kita masih berteman, kan?”


“Berteman sih oke, tapi aku gak mau terlalu dekat sama kamu.”


“Alaah, Amanda. Plis deh, aku tau kamu masih butuh aku kok," ucap Ivan menatap genit pada Amanda seraya mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi serbuk kristal putih dari kantong celananya. Dan mengibas ngibaskannya di depan wajah Amanda.


Spontan Amanada menepis tangan Ivan, panik melihat kelakuan Ivan yang sangat sembrono itu.


“Eh, sudah gila kamu, Van. Ntar ada yang lihat berabe, tau.” Hardiknya spontan. Matanya membulat lebar menatap Ivan yang hanya cengengesan.


Kembali Ivan mengibas-ngibaskan bungkusan di tangannya itu didepan wajah Amanda.


“Heh, sinting!“ umpat Amanda makin kesal dibuatnya.


Dia celingak-celinguk kiri kanan mengawasi keadaan sekitarnya. Lalu dengan cepat menarik Ivan masuk ke dalam apartemennya.


Ivan tertawa kecil melangkah memasuki ruangan yang cozy dan temaram itu.


“Apa kabar kamu, cantik?” tanya Ivan kemudian menghempaskan duduk nya di sofa.


“Yaahh seperti yang kamu lihat sekarang,” jawab Amanda ikut duduk di sofa di hadapan Ivan.


Dia menatap dalam-dalam pada sosok Ivan.


Makin seksi aja nih cowok, walaupun ngeselin. Pikir nya dalam hati.


“Kau masih berhutang sama aku loh,” ucap Ivan tiba-tiba.


Amanda mengernyitkan dahinya bingung.


“Hutang apa?”


Ivan tak menjawab, dia tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk pipinya dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


“Apaan, sih? Bikin bingung aja kamu nih.”


Sekali lagi Ivan menepuk pipinya dengan telunjuknya sambil menatap genit pada Amanda.


Amanda tersenyum kecil lalu menghampiri Ivan, mendekatkan bibirnya lalu mengecup pipi Ivan.


Ivan tertawa geli. Membuat Amanda mendelik bingung pada nya.


“Maksud aku bukan minta cium. Hahaha... Inget gak terakhir kita ketemu kamu nampar pipi aku?” seru Ivan disela tawanya.


Muka Amanda memerah semu. Dia memanyunkan bibirnya. Lalu mentoyor kepala Ivan dengan kesal.


“Dasar sinting kamu!” umpatnya lalu kembali ke tempat duduknya.


“Sakitnya sih gak seberapa, Sayang. Malu nya itu loh yang gak ilang-ilang sampe sekarang," sahut Ivan tersenyum lebar.


“Terus, sekarang kamu mau balas nampar aku, gitu?“


“Ya gak dong, masa aku nampar perempuan, gak banget deh.”


“Tapi kalo di tampar pake ini kamu pasti mau deh,” goda Ivan sambil mengibas-ngibaskan bungkusan kecil tadi.


Amanda menatap bungkusan kecil di tangan Ivan. Bibirnya yang tadinya bertekuk rapat berubah mengembang menjadi senyuman penuh harap. Lalu mengangguk.


“Nah gitu dong, sayang. Aku tau kok kamu doyan. Makanya aku bawain untuk kamu.”


Ivan menyodorkan bungkusan kristal putih itu ke hadapan Amanda. Tangan Amanda siap meraih bungkusan tersebut. Namun di tangkap cepat oleh Ivan.


Keduanya saling menatap dalam. Tangan Ivan menarik pelan tangan mulus Amanda. Wanita cantik itu menurut lalu tubuhnya beringsut pindah ke pangkuan Ivan.


Kedua nya saling beradu pandang. Ivan mendekatkan bibirnya pada bibir Amanda yang dekat di depan nya. Lalu mengecupnya hangat.


Amanda membalas ciuman Ivan dengan penuh gairah. Dada nya bergemuruh kencang. Sudah lama dia tak merasakan ciuman sehangat itu.


“Ke kamar, yuk.” Ajak Amanda. Tatapannya penuh nafsu. Dia menarik tangan Ivan menuju kamarnya.


Ivan membuka T-shirt dan celana Jeansnya. Menyisakan boxer hitam yang menutupi ‘sesuatunya’.


Gairah Amanda makin bergelora menatap tubuh Ivan yang bersih dengan sixpack yang rapi di bagian perutnya.


Di bantu Ivan, dia membuka jeansnya dan blouse merahnya, menyisakan bra dan cd thong nya yang membuat dirinya tampak sangat ‘panas dan liar’.


Detak jam di dinding pun mengiringi deru nafas mereka hingga ke titik klimaks permainan mereka.


Tak sampai lima belas menit mereka keluar dari kamar dengan wajah berpeluh dan penuh kepuasan.


Ivan yang hanya mengenakan jeansnya menghenyakan pantatnya di sofa.


Begitu juga Amanda yang keluar dari kamar hanya mengenakan baju tidur tipisnya duduk di samping Ivan.


“Ini buat kamu.“ Ivan menyerahkan bungkusan kecil kristal putih itu ke tangan Amanda.


“Thanx ya, Van.” ucap Amanda senang. Dia mengecup pipi Ivan sekilas.


“Oiya aku denger dari Velly kamu sekarang lagi deket sama adiknya Ferdian?”


Amanda mengangguk malas.


“Demi mendekati kakaknya aja kok. Sebenernya aku malas gaul sama anak manja itu.”


“Kamu masih terobsesi sama Ferdian?”

__ADS_1


“Iya, aku ingin dia kembali lagi sama aku, Van.” ucap Amanda sambil membayangkan wajah tampan Ferdian.


“Dia udah nikah loh, Nda. Istrinya cantik pula.“


“Terus kenapa? Gak masalah buatku."


“Ya terserah kamu sih. Tapi apa iya Ferdian mau balik lagi sama kamu. Dia kan orangnya keras. Kalo udah gak mau ya gak mau.”


“Liat aja nanti. Pasti dia balik lagi sama aku gimanapun caranya.”


“Makanya kamu bantu aku dong, Van. Aku gak rela Ferdian jatuh ke tangan perempuan lain. Apalagi hartanya. Perusahaannya lagi maju pesat sekarang. Uangnya pasti banyak. Aku gak rela itu semua dinikmati orang lain.“


“Dulu dia udah di genggaman kamu malah kamu sia-siakan. Gimana sih?” sahut Ivan.


“Yaaa, itu juga gara-gara kamu. Ngapain malam itu kamu ngajak aku chek in, padahal besok nya aku nikah sama dia.” Balas Amanda sambil mencubit kesal dada Ivan.


“Abis kamu juga mancing-mancing dan bikin aku gemes sih,” sahut Ivan balas mencubit dagu Amanda.


“Pokok nya untuk kali ini aku harus dapetin dia lagi, Van. Aku harus singkirkan perempuan kecil nya itu.“


“Untuk itu kamu harus bermain cantik dan halus, Nda. Jangan grasah grusuh. Ferdian itu bukan orang bodoh, jadi kamu harus hati-hati. Kamu harus cari titik lemahnya. Nanti aku ajarin caranya.”


“Bener ya, Van. Bantu in aku loh. Nanti kalo aku berhasil dapetin dia lagi, aku gak akan lupa deh sama bagian kamu. Tenang aja, oke.” Seru Amanda tersenyum senang.


“Jangan lupa bagian aku dan jatah ku yang satu ini ya,“ ucap Ivan seraya menjamah dada Amanda yang terpampang di hadapannya. Amanda pun tersenyum genit.


“Body kamu bikin aku ketagihan soalnya.” Tambah Ivan mengecup leher Amanda.


“Aku juga ketagihan sama kamu, Van. Kamu bisa melayani aku sampe puas,” timpal Amanda meraba dada bidang Ivan.


“Emangnya dulu Ferdian gak bikin kamu puas?”


Amanda memanyunkan bibirnya.


“Ferdian itu tampang dan bodynya aja yang oke, tapi untuk urusan yang satu itu dia dingin, Van. Gak hangat kayak kamu.”


“Ah, masa? Gak pernah sampe klimaks gitu?” tanya Ivan penuh selidik.


“Boro-boro klimaks. Tiap aku ajakin begituan dia gak mau, ada aja alasannya. Yang malas lah, yang badannya lagi pegel-pegel lah, yang pengen nonton bola lah, aduuhhh aku cape nanjak doang, pas turunnya terpaksa aku self service.”


Ivan tertawa ngakak sejadi-jadinya mendengar pengakuan Amanda.


“Kasian banget kamu, Nda. Kamu untung, kan ada aku,“ seru Ivan membanggakan diri.


“Sukurin deh tuh istrinya. Menderita tiap malam di anggurin Ferdian. Hehehee....


Apalagi istrinya masih kecil banget, anak bau kencur. Mana bisa dia bikin Ferdian terangsang. Aku yang udah lihai begini aja gak sanggup naklukin Ferdian, apalagi dia,“ sahut Amanda sambil tertawa lepas.


“Tapi Ferdian pinter juga cari istri ya, dapet dimana sih istrinya itu? Cantik, imut-imut, lucu. Pertama ketemu aku kirain temen adiknya atau sepupunya.”


“Gak tau, mungkin bapaknya tuh anak berhutang sama Ferdian, terus anaknya itu yang digadaikan sebagai pembayarnya.”


“Hahaha...Macam cerita di novel-novel aja.” Sambar Ivan tergelak ngakak.


Keduanya tertawa geli. Lalu mulai saling menatap dan menyentuh. Ivan sangat lihai memberikan pelayanan untuk Amanda yang tergolong hyper itu.


Sejurus kemudian mereka pun masuk kembali ke dalam kamar memainkan babak kedua pertarungan sengit mereka.


 TERIMA KASIH DUKUNGAN NYA, PARA YANG BAIK. 


PLEASE VOTE, LIKE, 5 RATE NYA. SUPAYA BIKIN AUTHOR MAKIN CEMUNGUD. 

__ADS_1


KRITIK DAN SARAN MONGGO DI KOMENT. DENGAN SENANG HATI AUTHOR TERIMA. 


SALAM SEHAT SELALU. 


__ADS_2