ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 45


__ADS_3

Jam di dinding sudah menunjukan pukul 9.00 pagi. Hari ini Ferdian dan Lusi lebih memilih sarapan di balkon kamar mereka. Sinar matahari yang hangat menemani keduanya. Lusi tampak menikmati bubur ayam buatan Mbak Ira yang super enak.


Beberapa kali ponselnya berbunyi, tanda ada pesan masuk di aplikasi Watsapp nya. Sambil menyuap buburnya dia membaca semua pesan yang masuk itu.


Kamu gak kuliah? Aku nunggu di lobi dari tadi. Pesan dari Dio.


Sudah beberapa hari ini aku gak liat kamu, Lusi. Aku Pengen ketemu. Pesan dari Dio lagi.


Lusi, balas yah supaya aku gak khawatir. Pesan ketiga dari Dio kembali.


Ferdian yang duduk di samping Lusi memperhatikan layar ponsel itu. Dia membaca nama Dio tertera disitu.


“Dari siapa?” tanya Ferdian mendelik curiga.


“Dari teman," jawab Lusi singkat tanpa menoleh pada Ferdian. Gadis itu masih sibuk berkutat dengan ponsel di tangannya.


“Laki atau perempuan?” selidik Ferdian lagi.


Lusi tak menjawab. Hanya menoleh sebentar pada Ferdian lalu melanjutkan sarapannya. Ferdian tampak merengut dengan sikap Lusi yang tak acuh dan enggan menjawab pertanyaannya.


“Jangan cemberut gitu, Mas. Gantengnya jadi kelewatan,” goda Lusi menyentuh dagu Ferdian dengan ujung jarinya. Ferdian hanya tersenyum kecut menanggapinya.


“Terus aku disuruh mundur sedikit gitu?”  timpal Ferdian membuat Lusi tertawa renyah.


Hari ini sengaja Lusi tidak masuk kuliah karena Ferdian sudah buat janji bertemu dengan pengacara dan notaris untuknya.


Begitupun dengan Ferdian yang hari ini tidak berangkat ke kantor untuk mendampingi Lusi.


Tok...Tok...Tok...


Terdengar ketukan dari pintu kamar. Ferdian bergegas menghampiri dan membukanya. Wajah Mbak Ira dengan senyum semringah terpampang ketika pintu terbuka lebar.


“Boss, ada tamu. Katanya layar... layar... layar... apa gitu. Aduuhh layar apa ya?” Dengan mimik yang lucu Mbak Ira berusaha keras mengingat-ingat siapa tamu yang datang.


“Layar tancep?” serobot Ferdian kesal.


“Bukan, Boss. Layar apa ya tadi?” Mbak Ira masih berpikir keras.


“Lawyer, Mbaaakkk... Lawyer. Artinya Pengacara. Gak usah sok English deh!" umpat Ferdian membuat Mbak Ira tertawa lebar.


“Nah, iya itu. Hehehe.... Mereka sudah nunggu di ruang tamu, Boss,” ucap Mbak Ira masih dengan senyum lebarnya.


“Sebentar lagi saya turun.”


“Baik, Boss.” Mbak Ira mengangguk hormat lalu bergegas menapaki anak tangga turun menemui tamu untuk Ferdian.


Ferdian menghampiri Lusi yang masih duduk santai sambil meneguk jus jeruknya.

__ADS_1


“Pengacaraku sudah datang, Lusi. Ayo kita turun," ajak Ferdian kemudian.


Lusi mengangguk dan bangkit dari duduknya. Sebentar dia berdiri menghadap Ferdian, menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya panjang. Ferdian meraih jemari Lusi dan meremasnya lembut.


“Santai aja. Ini hari yang sangat penting buat kamu. Tak lama lagi semua warisan mendiang kedua orangtuamu secara resmi kembali lagi ke tangan kamu.“


“Iya, Mas. Tapi aku gugup.“


“Ada aku yang akan dampingi kamu terus, tenang aja.” Ferdian mengelus punggung tangan Lusi dengan lembut berusaha menghilangkan kegugupan yang tampak jelas di wajah gadis itu.


“Baiklah, ayo kita turun, Mas,” ucap Lusi mantap.


Ferdian tersenyum lalu menggamit jemari Lusi keluar dari kamar untuk menemui para pengacara dan notarisnya yang memang dia panggil untuk datang  kerumah hari ini.


“Selamat pagi, semua,” sapa Ferdian ramah pada tiga orang tamunya. Dua orang adalah Pengacaranya bernama Pak Hermansyah dan Pak Bayu dan seorang lagi adalah Notarisnya bernama Pak Anwar.


“Selamat pagi, Pak Ferdian. Apa kabar?” sapa mereka nyaris bersamaan.


Ferdian menyalami mereka satu persatu, lalu menempati duduknya di hadapan mereka, bersama Lusi yang duduk persis di sampingnya.


“Bapak-bapak, ini istri saya, Lusi.“ Ferdian memperkenalkan Lusi pada mereka. Lusi mengangguk sopan. Ketiga laki-laki itu pun membalas mengangguk dengan hormat.


“Kita tinggal menunggu Reynard sebagai saksi, ya Bapak-Bapak,” sambung Ferdian lagi.


Tak lama, orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Reynard melangkah cepat memasuki ruang tamu. Dia berpakaian lengkap dengan jas coklat muda dan dasi kuning keemasannya.


“Lebih baik kita ke ruangan kerja saya. Biar lebih tenang. Silahkan.” Ferdian berdiri lalu melangkah menuju ruang kerjanya diikuti semuanya.


Mereka duduk di sofa di tengah ruangan kerja itu. Lusi tetap menempel di sisi bahu tegap Ferdian. Tangannya tak lepas menggamit lengan Ferdian.


Perasaan gugup dan takut terus berkecamuk menghadapi tamu-tamu Ferdian ini.


Maklum saja, karena dia belum pernah sekali pun berurusan dengan masalah hukum.


Ferdian berdiri sebentar mengambil berkas-berkas dari dalam laci meja kerja dan meletakkannya di atas meja kaca di hadapan mereka.


“Ini semua bukti kepemilikan aset-aset dan beberapa property milik almarhum mertua saya, bapak Hamzah Suhendra. Silahkan Bapak-Bapak semua cek dulu satu persatu," suruh Ferdian, dipatuhi oleh ketiga orang yang berprofesi berbadan hukum tersebut.


Mereka bergantian membaca satu persatu berkas itu dengan sangat teliti.


Mertua? Mas Ferdian menyebut Almarhum Ayah, Mertuanya. Sejuk sekali kedengarannya. Lusi bergumam didalam hatinya. Senang, karena merasa statusnya sebagai istri begitu dihargai.


“Jadi sekarang rumah dan usaha masih dikendalikan oleh Ibu Merry, istri siri Almarhum?” tanya Pak Hermansyah menoleh pada Lusi dan Ferdian bergantian.


“Iya betul, Pak,” jawab keduanya berbarengan.


Pak Hermansyah mengangguk-angguk mengerti. Lalu sejenak berdiskusi kecil dengan rekannya, Pak Bayu.

__ADS_1


Lusi memperhatikan keduanya dengan serius namun tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia sudah mulai kembali gugup dan takut. Tangannya meremas kencang jemari Ferdian di sampingnya.


Pria itu menoleh sekilas padanya. Lalu membawa genggaman tangan mereka ke pangkuannya.


Reynard memperhatikan tingkah suami istri muda di sampingnya itu. Lalu geleng-geleng kepala sambil memanyunkan bibirnya sekilas.


Dulu saling nolak, sekarang malah lengket. Aseeem emang. Jadi pengen buruan kawin ngeliat mereka mesra begitu. Bathin Reynard menggelitik.


“Karena Almarhum dan Ibu Merry cuma menikah secara siri dan tak memiliki anak dari hasil pernikahan mereka maka bisa dipastikan semua harta warisan Almarhum ini secara otomatis jatuh ke tangan anak kandung Almarhum Pak Hamzah. Yaitu Ilusiana Putri Hamzah,” tutur Pak Hermansyah kemudian secara tegas dan lugas.


“Baiklah, kalo begitu saya minta secepatnya di urus pengambilalihan semua aset dan property untuk dibalik nama semua atas nama Istri saya, Lusi," perintah Ferdian.


“Oke Pak Ferdian, dan kami juga harus melalui jalur hukum untuk mengusir Ibu Merry dan putrinya yang sekarang menempati rumah itu. Untuk itu kami minta surat kuasa resmi dari Mbak Lusi dan Pak Ferdian selaku suami. Dan juga Pak Reynard ikut menandatangani sebagai saksi," ucap Pak Hermansyah lagi.


“Baik, silahkan pake jalur apapun asal kedua orang itu segera angkat kaki dari rumah itu,” ucap Ferdian dengan sangat tegas.


“Oke, Pak Ferdian. Sebentar kami buatkan surat kuasa nya dulu.” Ijin Pak Hrmansyah kemudian bersama Pak Bayu mulai menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.


“ Mas, Mas...” panggil Lusi dengan berbisik sambil menepuk lengan ferdian spontan.


“Hmm, apa?” Ferdian kaget dan menoleh cepat padanya.


“Bu Merry dan Priska gak usah di usir, Mas. Kasian, nanti mereka tinggal dimana?”


Ferdian menatap wajah Lusi yang tampak gusar dan bingung. Dia mengernyitkan keningnya mendengar permintaan Lusi itu.


“Kalo gak diusir, selamanya mereka akan menguasai rumah kamu, Lusi. Kita ikutin aja prosesnya. Yang penting semua hak milik kamu kembali lagi. Ngapain sih kamu masih kasian sama mereka yang udah kejam begitu sama kamu.”


Lusi mengangguk mengerti. Memang dia akui sangat tertekan selama lima tahun hidup satu atap dengan Bu Merry dan Priska, tapi ada rasa kasihan dihatinya membayangkan keduanya akan kembali hidup susah seperti saat sebelum Bu Merry menikah dengan Almarhum Ayahnya.


Ferdian meremas jemari Lusi dengan lembut. Dia tahu Lusi merasa sangat iba pada ibu tiri dan adik tirinya itu. T**erbuat dari apa hatimu, Lusi? sekian lama mereka membuatmu sangat menderita tapi kamu masih memikirkan kebaikan untuk mereka, ucap bathin Ferdian.


“Ini surat kuasanya, Pak Ferdian. Mohon di cek dulu. Kalo sudah oke semua, tanda tangani di bagian masing-masing. Silahkan.” Pak Hermansyah menyerahkan surat kuasa yang baru saja di printnya ke hadapan Ferdian dan Lusi. Bergantian Ferdian, Lusi dan Reynard membacanya dengan teliti lalu membubuhkan tanda tangan mereka masing-masing.


“Baiklah. Akan segera saya proses semua," ucap Pak Hermansyah lagi.


“Pak Anwar, untuk proses balik nama semua sertifikat itu untuk istri saya bagaimana?” Ferdian mengalihkan pembicaraan pada Pak Anwar yang masih sibuk meneliti satu persatu berkas di hadapannya.


“Oooh, itu perkara mudah, Pak Ferdian. Ini Semua berkasnya sangat lengkap kok. Jadi tidak ada kendala untuk segera di balik nama untuk putri tunggal Almarhum," jawab Pak Anwar lugas.


“Okelah kalo begitu saya mohon semua di urus sampe tuntas. Dan saya minta hasilnya secepatnya," ucap Ferdian setengah memerintah.


“Baik, kami usahakan secepat mungkin, Pak Ferdian. Semua berkas sudah beres jadi Kami permisi dulu,” pamit Pak Hermansyah kemudian beranjak dari duduk nya di Ikuti dengan yang lain.


“Oke, terima kasih atas kedatangannya.” Ferdian berdiri dan menyalami mereka satu persatu kemudian mengantarkan keluar ruangan kerjanya. Lusi dan Reynard mengikuti dibelakanganya.


Cantika dan Amanda yang sedang duduk di ruang keluarga spontan berdiri melihat banyaknya orang yang keluar dari ruang kerja Ferdian. Mereka terbelalak dan bingung melihat ketiga tamu Ferdian berpakaian formil tengah melintas di hadapannya bersama Reynard yang mengantarkan sampai keluar rumah. Rasa penasaran yang tak tertahankan muncul di benak keduanya.

__ADS_1


MOHON KRITIK DAN SARANNYA DI KOLOM KOMEN YA READER YANG BAIK HATI. SILAHKAN LIKE & VOTE NYA  DENGAN SENANG HATI AUTHOR TERIMA.


__ADS_2