
Makan malam kali ini dirasa tak menyenangkan sama sekali bagi Lusi. Di seberang meja duduk Amanda dan Cantika yang sesekali menatap sinis dan angkuh padanya.
Ferdian yang duduk di sebelahnya seakan tak peduli perasaannya. Pria itu menyantap makan malamnya dengan tenang seolah tak keberatan dengan keberadaan mantan tunangannya itu, yang hampir setiap hari datang ke rumah ini dengan alasan menemani Cantika yang tengah liburan di Indonesia.
Bahkan wanita itu kerap kali menginap dengan alasan kemalaman, takut pulang seorang diri atau segala macam alasan yang dibuat-buat.
Padahal Amanda sendiri adalah pencinta dunia gemerlap malam. Mana mungkin dia takut pulang kemalaman.
“Kak Amanda, nginap ya. Aku mau curhat,” pinta Cantika manja pada Amanda yang duduk di sampingnya.
Ferdian menoleh pada Cantika dengan tatapan geram. Kode untuk adiknya supaya jangan meminta Amanda untuk menginap. Namun Cantika tak peduli dengan tatapan Ferdian yang sangat tajam padanya.
“Kalau kakakmu gak keberatan, aku sih oke aja, Sayang,” jawab Amanda melirik sekilas pada Ferdian.
“Keberatan!” Sahut Ferdian lekas.
“Kak, Please. Aku gak punya teman disini. Masa tega biarin aku kesepian.” Cantika merajuk memohon pada Ferdian dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.
“Ada Lusi. Kamu bisa ngobrol sama dia," bantah Ferdian menunjuk Lusi yang tertunduk di sampingnya. Gadis itu hanya mendengarkan sambil memainkan alat makannya.
“Lusi, kan sibuk ngurusin Kakak,” sindir Cantika melirik Lusi yang masih bergeming.
“Cantika, sepertinya kakakmu keberatan aku nginap. Gimana kalau kamu aja yang nginap di apartement aku?" usul Amanda menengahi perdebatan kedua adik kakak itu.
“Asiikk! Oke, Kak," sorak Cantika girang.
“Tidak boleh!” cegah Ferdian menatap Cantika tajam.
“Kakak! Apa-apa gak boleh, mau ngapa-ngapain gak boleh. Serba salah!” Cantika kembali merajuk dengan menekuk raut wajahnya dengan sangat kesal.
“Pokoknya aku bilang gak boleh ya gak boleh. Paham!” omel Ferdian melotot pada Cantika.
Dengan hati jengkel Ferdian bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menuju ruang kerja. Tinggallah tiga wanita di meja makan yang saling melirik satu sama lain.
Cantika berbisik-bisik di telinga Amanda. Entah apa yang dia bicarakan. Tampak Amanda mengangguk-angguk dengan senyum yang dikulum.
Lusi yang merasa tak nyaman melihat kedua wanita di hadapannya itu berbisik-bisik, segera beranjak dari duduknya dan menyusul Ferdian di ruang kerjanya.
Lusi membuka pintu ruangan itu perlahan. Didapati suaminya itu duduk di kursi tengah menunduk lesu dengan
jemari menopang kening.
“Mas?“ panggil Lusi pelan. Ferdian bergeming. Dia hanya menghela napasnya berat.
“Mas sakit?” tanya Lusi mendekati Ferdian. Lusi memberanikan diri menyentuh pipi dan lengan Ferdian.
'Tidak Demam,' gumamnya dalam hati.
“Mas baik-baik aja?” tanya Lusi sekali lagi. Ferdian mendongak menatap Lusi yang berdiri dekat di sampingnya.
Tiba-tiba Ferdian melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Lusi dan menyandarkan kepalanya perlahan ke dada gadisnya itu.
Sedikit tersentak, namun Lusi membiarkan Ferdian melakukannya.
Diusapnya kepala Ferdian dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Dan Ferdian pun menikmatinya. Matanya terpejam sesaat merasakan sentuhan lembut jemari Lusi di kepalanya.
“Aku gak papa, cuma agak capek aja,” ucap Ferdian lemah.
“Mau aku bikinkan teh hangat?”
Ferdian menggeleng. “Dipeluk begini juga udah hangat,” jawab Ferdian membuat Lusi tersenyum sekilas.
Ferdian makin mempererat pelukannya di pinggang Lusi. Ada kenyamanan yang dia rasakan di sana.
“Mas capek karena ngurus masalah aku ya?” tanya Lusi lagi pelan.
“Kok nanya begitu? Nggaklah. Kerjaanku lagi menumpuk sekarang ini. Ditambah lagi Cantika yang makin hari makin susah di atur. Sudah dewasa tapi kelakuannya kayak anak-anak. Pusing aku.”
“Mas harus sabar, sama siapa lagi dia minta perhatian kalo bukan dari kakak satu-satunya. Beruntung Mas masih punya Cantika, masih punya saudara untuk berbagi rasa. Coba liat aku yang sebatang kara ini, Mas. Mau berkeluh kesah sama siapa?“ tutur Lusi lembut. Jemarinya masih membelai sayang puncak kepala Ferdian.
Ferdian mendongak menatap wajah Lusi. Tampak awan mendung di bola matanya yang bening.
“Kamu, kan ada aku, jangan merasa sebatang kara, Lusi. Sedih aku dengernya," ujar Ferdian, lalu kembali menyandarkan kepala di dada Lusi.
Pandangan Lusi menangkap sebuah bingkai keemasan di dalam lemari kaca di belakang kursi Ferdian. Di dalamnya terdapat gambar seorang wanita yang sangat cantik dan anggun menggunakan kebaya merah.
“Itu mama ya, Mas?” tanya Lusi seraya menunjuk bingkai itu.
__ADS_1
Ferdian mengikuti arah pandangan Lusi ke lemari kaca yang berada di belakangnya. Lalu berdiri meraih bingkai keemasan itu dan memberikannya pada Lusi.
“Iya, cantik ya. Kayak kamu,” jawab Ferdian menggoda Lusi. Gadis itu hanya tersenyum sekilas.
“Cantik sekali. Anggun kayak Puteri Keraton,” puji Lusi menatap gambar Almarhumah mamanya Ferdian yang berkulit putih bersih dengan senyuman yang sangat sedap dipandang.
“Dan ini Papa.” Ferdian meraih foto Almarhum papanya yang tampak memakai batik berwarna biru. Wajahnya teduh. Menggambarkan seseorang yang bijaksana dan baik hati.
“Ganteng,” puji Lusi lagi dengan kilau mata yang berbinar-binar.
“Kayak aku ya, ganteng.” Ferdian memuji diri sendiri, membuat Lusi tertawa. Ferdian pun ikut tertawa renyah.
Lusi meletakkan kedua bingkai itu di meja kerja Ferdian dan merapikannya tepat berdampingan.
“Ke kamar yuk, Mas," ajak Lusi tiba-tiba. Spontan Ferdian terbelalak senang.
“Terus ngapain kita dikamar?” tanya Ferdian dengan ekspresi polosnya.
“Ya tidur. Aku ngantuk berat.” Lusi menutup mulutnya kala menguap lebar.
“Yaaaa. Ngajak ke kamar kirain mau ngapain," ujar Ferdian dengan nada kecewa.
Lusi tertawa kecil mendengarnya. Kantuk mulai menggelayuti kelopak matanya yang sudah terasa berat.
“Kamu duluan deh, ntar aku nyusul ya. Aku selesaikan kerjaan dulu.”
Lusi hanya mengangguk sesaat sambil mengusap-ngusap pipinya sendiri. Lalu melangkah keluar ruangan kerja Ferdian dan menapaki anak tangga perlahan menuju kamarnya.
Malam sudah sangat larut menuju dini hari. Sekilas Ferdian melirik jam digital di mejanya. Pukul 01.00 pagi. Tapi kantuk belum juga terasa .
Ferdian masih berkutat serius pada pekerjaannya. Deretan Angka-angka nominal yang terpampang di layar laptopnya membuat ia harus berkonsentrasi penuh agar tidak terjadi kesalahan perhitungan.
“Hai, Bebi. Belum tidur?”
Tiba-tiba Amanda muncul di hadapannya dengan mengenakan piyama tidur berwarna putih, berukuran super mini.
Ferdian tersentak kaget melihatnya berdiri dihadapannya dengan posisi yang sangat menantang.
“Kok kamu gak pulang? Aku kan udah bilang aku keberatan kamu nginap disini!” sengit Ferdian dengan suara tertahan takut terdengar dengan yang lain.
Amanda bukannya tersinggung dengan ucapan Ferdian, justru makin mendekat padanya. Ia menyandarkan dirinya pada meja kerja di hadapan Ferdian. Lalu membuka tali pengikat piyamanya perlahan.
“Aku tau kamu masih menginginkan aku, kan? Ayolah, jangan pura-pura gak butuh, Ferdian.” Amanda menyentuh lengan Ferdian dan mengusapnya dengan lembut.
“Apa-apaan sih? Cepat keluar, Amanda!” Ferdian menepis tangan Amanda dengan kasar lalu bangkit untuk menghindar.
“Selama kalian menikah kalian tidur terpisah, kan? Jangan bohong. Aku tau kok," ucap Amanda dengan nada suara sensualnya.
“Apa urusannya sama kamu?“
“Kalo istri kamu gak sanggup melakukannya, aku sanggup kok ... melayani kamu.” Amanda beringsut makin mendekati Ferdian.
Dia melepas outer piyamanya dan dibiarkan jatuh ke lantai. Hanya tinggal babydoll mini satin yang membalut tubuh indahnya.
“Keluar!” bentak Ferdian tertahan. Kali ini suaranya lebih meninggi.
Namun tak digubris sama sekali oleh Amanda. Melihat Ferdian berdiri terpojok dekat lemari kaca, dia tak menyia-nyiakan kesempatannya.
Disergapnya tubuh Ferdian yang kini dengan posisi tersudut, lalu menghujani leher dan wajah Ferdian dengan ciumannya yang bertubi-tubi.
Ferdian menolak dan berontak. Dengan susah payah dia melepaskan tangan Amanda yang melingkar erat di lehernya.
Namun Amanda makin beringas dengan nafsu membara. Dia menempelkan dadanya pada tubuh Ferdian, membuat pria itu kesulitan melepaskan diri dalam keadaannya yang terpojok di sudut ruang.
Praaaankkk ....
Tiba- tiba, gelas di tangan Lusi terjatuh, pecah berantakan dilantai.
Ferdian dan Amanda spontan menoleh pada Lusi yang berdiri terpaku di depan pintu.
Bola mata Lusi berkaca-kaca menyaksikan tubuh Amanda yang terbuka menempel rapat pada tubuh suaminya.
Perasaannya berkecamuk hebat. Antara syok, marah, kecewa, dan rasa tak percaya berbaur menjadi satu.
Gadis itu tak tahan lagi untuk membendung air mata yang nyaris tumpah. Dan bergegas berlari menuju kamarnya.
“Lusi....” panggil Ferdian cepat.
Seketika ada celah, dia dorong kasar bahu Amanda menjauh darinya. Lalu berlari cepat mengejar Lusi.
__ADS_1
“Sukurin!" umpat Amanda dengan tersenyum senang. Lalu memungut piyamanya dilantai dan memakainya kembali menutup tubuhnya.
Dikamar, Lusi tertelungkup di ranjang dan membenamkan kepalanya pada bantal. Di sana dia menumpahkan air matanya yang mengalir deras.
Ferdian berdiri gugup di samping ranjang menyaksikan Lusi terisak hebat.
“Lusi, dengerin aku dulu.”
Ferdian menyentuh lembut bahu Lusi namun Lusi menepis tangannya dengan kasar.
“Ma ... maafkan aku, Lusi. Itu gak seperti yang kamu pikirkan. Aku mau jelasin.” Ferdian duduk ditepi ranjang dengan raut wajah memelas dan sangat gugup.
Lusi hanya bergeming. Dia tetap larut dalam isak tangisnya yang tertahan dengan bantal.
Ferdian meremas rambutnya sendiri dengan gemas membayangkan kejadian memalukan tadi.
“Lusi, Please dengar aku dulu dong." Kembali Ferdian memelas mengusap punggung Lusi lembut. Lagi-lagi Lusi menepisnya.
Gadis itu bangkit lalu berdiri di seberang ranjang menjauhi Ferdian. Matanya sembab dan wajahnya memerah karena menahan amarah.
“Dasar gak punya perasaan! Silahkan berbuat apapun semau kalian. Aku gak peduli!” bentak Lusi dengan suara serak menahan isaknya. Ferdian menghampirinya cepat.
“Aku gak tau tiba-tiba dia muncul ke ruanganku dan menggoda aku, Lusi,“ jelas Ferdian seraya menyentuh pipi Lusi yang basah karena air mata. Lusi menepis tangannya dengan kasar.
“Iya dan Mas meladeni!" timpal Lusi dengan sangat ketus.
“Enggak kok, beneran. Aku berusaha lepasin diri tapi dia terus mendesak aku.”
“Aaaahh, udahlah Mas. Mana ada maling ngaku. Mungkin kalo tadi aku gak muncul kalian pasti udah begituan," omel Lusi penuh emosi.
“Begituan apa?” tanya Ferdian dengan mimik polosnya, menaikkan sebelah alisnya.
“Aku mau kita pisah sekarang juga!” ucap Lusi tiba-tiba, menantang bola mata Ferdian.
“Hah? Pisah? Jangan dong.” Ferdian kaget setengah mati mendengar permintaan Lusi.
Lusi mendorong dada Ferdian menjauh darinya. Lalu menuju lemari dan mengeluarkan semua baju-bajunya.
Ferdian bergegas menghampiri dan berdiri menghadang Lusi di depan pintu lemari.
“Lusi, Please....” mohon Ferdian seraya menarik tangan Lusi ke dadanya.
“Minggir, Mas. Aku gak mau disini lagi. Aku mau pergi. Bodo amat dengan semua urusan kita. Gak Peduli!“
“Gak bisa, kamu gak boleh pergi,” cegah Ferdian dengan tatapan tajamnya pada Lusi.
“Aku mau pergi!” bantah Lusi balas menantang mata Ferdian.
“Gak boleh!” bentak Ferdian dengan emosi yang sudah tak tertahankan.
Ferdian mencengkram pergelangan tangan kanan Lusi dengan kencang. Gadis itu meringis kesakitan.
“Aaaakhhhh!” Lusi berontak dengan memukul-mukul dada Fedian dengan tangan satunya yang masih bebas.
Ferdian makin beringas. Direngkuhnya pinggang Lusi lalu menyeretnya ke tempat tidur. Dihempaskannya tubuh itu ke atas ranjang. Lalu dengan sigap Ferdian menindih tubuh Lusi.
Gadis itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi tubuh kokoh Ferdian tak kuasa dia lawan.
Ferdian menghujani leher dan bibir Lusi dengan ciumann memaksa. Nafsunya seketika memuncak merasakan dada Lusi yang tertekan oleh dadanya.
Disibaknya baju tidur Lusi lalu tangannya mulai menggerayangi dada Lusi dengan sangat liar.
Bibirnya terus menghujani ciuman ke leher mulus Lusi tanpa mempedulikan air mata Lusi yang deras merebak kembali.
“Stop, Mas! Aku mohon___” pinta Lusi disela tangisnya. Namun Ferdian tak peduli.
“Kalo Mas melanjutkan juga aku akan pastikan Mas akan menyesali ini seumur hidup!" ancam Lusi di telinga Ferdian.
Spontan Ferdian menghentikan aksinya. Lalu menatap mata Lusi dengan tajam. Pandangan mereka beradu. Hembusan nafas Ferdian yang masih menderu menyapu hangat wajah Lusi.
Disibaknya dengan lembut beberapa helaian rambut yang menempel di pipi Lusi. Mengecup kening Lusi sekilas, lalu merebahkan tubuhnya di samping Lusi.
Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali pelan. Bola matanya berkaca-kaca meredam emosinya dan nanar menatap langit-langit kamar.
Perlahan Lusi membetulkan baju tidurnya yang nyaris terbuka lalu memutar tubuhnya memunggungi Ferdian yang telentang dengan meletakkan lengannya ke keningnya.
Keduanya tak bisa memejamkan mata. Hanya sibuk meredakan gejolak emosi yang masih mendera.
Babang Ferdian lagi pucing
__ADS_1