ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 28


__ADS_3

Dio melirik arloji di tangannya, sudah jam dua siang. Biasanya waktu kuliah sudah selesai. Para mahasiswa sudah ramai keluar dari lokalnya masing-masing. Dio masih celingak-celinguk mencari sosok Lusi di pintu lobi kampus. Tapi tak juga tampak. Lama dio menunggu. Dia sangat ingin jumpa dengan gadis itu.


Menunggu lima menit kemudian. Tampak olehnya Lusi dengan mengenakan kemeja hitam dan celana jeans nya berlari kecil menuju ke arah lobi tempatnya berdiri.


“Lusi!” Panggil Dio. Gadis itu menoleh dan tersenyum menghampirinya.


“Hai Dio. Kamu sudah mulai masuk kuliah ya?“


“Iya, ini hari pertamaku.”


“Semoga lancar yah kuliah kamu disini, Dio.”  ucap Lusi senang.


Dio mengangguk dan tersenyum.


“Kamu ada waktu sebentar? Aku mau ngobrol-ngobrol sama kamu,” tanya Dio penuh harap.


Tiinnn...Tiinnn... Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil beberapa meter di depan mereka.


Ferdian membuka kaca mobilnya dan melambai pada Lusi.


“Ehmm, Maaf Dio. Aku sudah di jemput. Lain kali ya kita ngobrol-ngobrol lagi. Bye dio.” Tanpa menunggu jawaban Dio, Lusi berlari kecil menghampiri mobil Ferdian dan masuk ke dalamnya.


Dio mengamati sosok Ferdian yang duduk dibelakang kemudi sampai mobil itu berlalu menghilang dari hadapanya.


“Siapa ya itu cowok? Suaminya Lusi kah? Tapi kata Priska suaminya udah tua? Apa supir? Tapi kok stylish banget, kayak boss boss. Siapa ya dia?” Dio bergumam sendirian. Dia penasaran.


“Haiii Dio...!” Tiba-tiba Nikita menepuk bahu Dio dari belakang. Pria manis itu menoleh. Didapatinya Nikita dan Ashanti tersenyum lebar padanya.


“Eh, Hai.. Udah mau pulang?” tanya Dio gugup karena kaget.


“Iya, kuliah kita kan cuma sampe jam dua. Kalo kamu apa ada kuliah siang ini?” tanya Nikita.


“Gak kok, hari ini aku cuma kuliah pagi, ini juga udah mau pulang.”


“Kalo gitu kita pulang barengan aja, yuk. Aku antar sampe depan rumah, deh.” Ajak Nikita bersemangat.


“Kebetulan aku juga bawa kendaraan, Nik. Mungkin next time ya,” jawab Dio sopan. Tampak Nikita memanyunkan bibirnya. Harapannya ingin mengakrabkan diri dengan Dio gagal.


“Baiklah, aku pulang duluan yah takut terjebak macet, Bye." Pamit Dio seraya melambai pada Nikita dan Ashanti. Lalu melangkah menuju mobil sedan putihnya yang terparkir tak jauh dari lobi kampus.


“Hei, Nik. Kamu beneran naksir ya sama Dio?” Colek Ashanti di lengan Nikita.


“Ho’oh. Abis ganteng sih. Orangnya sangat lembut pula. Aku suka tuh cowok kayak gitu.“


“Iih, dasar ganjen.” Ledek Ashanti menyentil jidat Nikita kemudian ngeloyor pergi meninggalkan Nikita yang tengah meringis memegangi jidatnya.


Di dalam Mobil Ferdian.


Lusi melongo menatap jalan. Matanya celingak-celinguk ke arah sekitarnya.


“Mau kemana kita, Mas? Kayaknya bukan arah pulang?” tanya Lusi bingung menoleh pada Ferdian.


Pria itu hanya tersenyum padanya tanpa menjawab. Lusi menarik bibirnya sebal karena tak mendapat jawaban. Kembali bola matanya mengamati jalan.

__ADS_1


Tiba-tiba mobil di belokkan Ferdian ke arah sebuah kios bunga. Pandangan Lusi tertumpu pada kios bunga yang sangat dikenalnya itu. Senyum nya mengembang lebar. Ferdian memperhatikan istrinya itu sambil tersenyum.


“Mas?” lirih suara Lusi seraya memegang lengan Ferdian yang masih menempel dikemudi.


“Ayo turun. Kamu pasti udah kangen kan sama kios ini," ucap Ferdian lembut.


Kedua pasang suami istri muda itu turun dari mobilnya. Lusi yang masih berdiri di samping pintu mobil memandangi hamparan bunga-bunga beraneka warna cantik di hadapannya. Ferdian mengelilingi muka mobilnya menghampiri Lusi lalu menggandeng tangannya masuk ke dalam kios yang bernuansa shabby itu.


Tampak oleh Lusi di meja kasir Ibu Dahlia sedang konsentrasi menghitung lembaran-lembaran uang ditangannya.


“Silahkan diliat –liat dulu ya,” sapa Ibu Dahlia ramah tanpa sedikitpun menoleh pada Lusi yang menatap ke arahnya dengan bola mata yang sudah basah.


“Ibu...” Panggil Lusi lirih.


Bu dahlia merasa mengenali suara itu spontan mendongak. Matanya terbelalak melihat Lusi yang berdiri beberapa meter darinya bersama Ferdian.


“Ya Tuhan, Lusiiiii sayang.” Langsung Bu Dahlia melempar lembaran uangnya ke atas meja lalu berhambur menuju Lusi. Tangannya terentang lebar menyambut tubuh Lusi lalu memeluknya dengan perasaan haru yang sangat. Di dekapnya tubuh Lusi erat. Air matanya tumpah berderai. Begitupun Lusi yang sudah tak kuasa menahan tangis harunya begitu melihat wajah lembut Bu Dahlia. Beberapa kali Bu Dahlia mendaratkan kecupan sayangnya pada pipi Lusi dan keningnya.


“Ya Allah Nak, Ibu kangen banget sama kamu," ucap Bu Dahlia menempelkan kedua telapak tangannya mendekap wajah imut Lusi.


“Aku juga kangen sama Ibu,” balas Lusi seraya meraih punggung tangan Bu Dahlia dan mengecupnya dengan takzim.


“Kamu kemana selama ini, Nak? Ibu mencari kamu kemana-mana.”


Lusi melirik Ferdian yang berdiri agak menjauh dari mereka demi memberi ruang untuk kedua wanita beda usia itu melepas kangen. Bu Dahlia mengikuti arah lirikan mata Lusi. Seketika kelopak matanya memicing mengamati sosok Ferdian dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Astaga, Mas Ferdian? Ini benar Mas Ferdian?” Bu Dahlia sontak kaget meyakini sosok yang dia lihat itu adalah Ferdian, pelanggan toko bunganya yang terkenal sangat baik dan ramah.


Ferdian mengangguk ramah sambil tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.


“Ceritanya panjang, Bu," jawab Lusi singkat.


“Ayo duduk dulu. Ibu mau dengar semuanya. Ayo Mas Ferdian, silahkan duduk, maaf tempatnya agak berantakan.” Bu Dahlia mempersilahkan mereka. Keduanya menuruti dan duduk berdampingan di sofa pink dihadapan Bu Dahlia.


“Jadi kemana saja kamu selama ini, Nak? Semua orang mencari kamu. Bahkan ada beberapa orang yang ibu gak kenal datang ke sini juga mencari kamu," tanya Bu Dahlia penasaran.


Lusi dan Ferdian saling menoleh. Dari bahasa tatapannya Lusi seperti hendak meminta ijin untuk mengatakan semuanya. Ferdian mengerti maksud Lusi lalu mengangguk pelan.


“Ehmm, Ibu. Selama ini Lusi bersama Mas Ferdian tinggal dirumahnya,” jawab Lusi kemudian.


“Apa? Kok bisa?“ Bu Dahlia kaget dan menoleh pada Ferdian yang sedang meletakkan lengannya di sandaran belakang kepala Lusi.


“Iya Bu, Aku tinggal bersama Mas Ferdian sudah dua bulan ini. Sejak aku kabur dari orang jahat yang menculik aku, Bu.”


Bu Dahlia makin kaget mendengar penuturan Lusi. Matanya terbelalak mulutnya sedikit terbuka.


“Di culik? Ya Allah, Lusi.”


Lusi mengangguk lemah. Air matanya mulai mengalir kembali.


“Ibu tiriku menjual aku pada seorang kaya yang sudah tua, Bu. Aku sengaja ditinggal dirumah orang itu oleh ibu tiriku. Aku dipaksa melayani orang itu, Bu. Tapi aku gak mau.” Lusi menghapus air matanya yang sudah banjir membasahi pipi mulusnya. Ferdian mengelus-ngelus bahu Lusi untuk menguatkan hatinya.


“Astaga, Lusi. Dzolim sekali ibu tirimu itu. Lalu apa sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, Nak?”

__ADS_1


“Syukurnya tidak, Bu. Aku baik-baik saja. Istri orang jahat itu yang menyelamatkan aku. Malam itu juga aku keluar dari rumah itu ketika orang itu tidur karena sengaja diberi obat tidur oleh istrinya.”


Bu Dahlia menghela nafasnya lega. Karena pikirannya tadi sudah mengarah ke hal yang sangat buruk menimpa Lusi.


“Lalu aku kabur, Bu. Sempat dikejar oleh beberapa pengawalnya. Tapi Alhamdulillah aku ketemu Mas Ferdian yang kebetulan melintas di jalan itu. Aku ikut sama Mas Ferdian dan tinggal dirumahnya sampe sekarang.“


Bu Dahlia memandang lembut pada Ferdian. Tangannya mengulur ke arahnya. Ferdian membalasnya dan menggenggam jemari Bu Dahlia.


“Terima kasih banyak sudah menolong Lusi, Mas Ferdian. Ibu benar-benar lega mendengarnya," ucap Bu Dahlia lirih, air matanya mengalir sebulir.


“Iya Bu, sama-sama. Ibu jangan khawatir lagi. Lusi aman bersama saya," kata Ferdian menenangkan.


Bola mata Bu Dahlia tertambat pada cincin yang dikenakan Ferdian. Lalu gantian pada jemari manis Lusi. Bentuk cincinnya sama. Diraihnya jemari Lusi lalu di rapatkan ke jemari Ferdian. Mulutnya menganga lebar. Matanya terbelalak. Benar-benar sepasang cincin yang sama.


“Apa kalian sudah...?” Kalimat Bu Dahlia menggantung seraya menatap wajah Ferdian dan Lusi bergantian. Keduanya tersenyum manis lalu mengangguk. Mereka mengerti maksud pertanyaan Bu Dahlia.


“Iya Bu, kami sudah menikah,” jawab Ferdian mantap.


Bu Dahlia tersentak kemudian tawanya berderai kegirangan. Dia merentangkan tangannya untuk memeluk Lusi. Lusipun menyambutnya. Mereka berpelukan bahagia.


“Lusi, Ibu senang sekali dengarnya. Ibu turut bahagia ya, Nak," ucap Bu Dahlia terharu seraya membelai rambut Lusi dengan penuh kasih sayang. Lusi mengangguk pelan.


“Ooh iya Lusi, kamu ingat gak perkataan ibu dulu?” tanya Bu Dahlia berusaha mengingatkan sesuatu pada Lusi.


Lusi mengernyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat apa yang pernah Bu Dahlia katakan padanya. Tapi dia tak menemukan ingatannya tentang itu. Dia menggeleng menatap Bu Dahlia.


“Ibu pernah bilang ke kamu dulu, minta sama Tuhan sisakan satu cowok yang seperti Mas Ferdian untuk kamu, kan.” Bu Dahlia membantu mengingatkan Lusi. Senyum gadis itu seketika mengembang mengingat kembali perkataan Bu Dahlia yang menggodanya dulu karena kesengsem pada sosok Ferdian.


“Apa Bu?” Ferdian yang menyahut ikut nimbrung ingin tahu maksud perkataan Bu Dahlia tadi.


“Mas, dari dulu Lusi ini udah kesengsem loh sama Mas Ferdian. Tapi minder. Dia bilang mustahil ada laki-laki seperti Mas Ferdian ini suka sama dia. Eh, ternyata sekarang malah jadi suami. Hehehehe...” Bu Dahlia tergelak sambil melirik Lusi yang pipinya seketika merona pink. Ferdian ikut tertawa ringan mendengarnya. Ada perasaan Ge Er di hatinya mendengar kejujuran Bu Dahlia tentang istrinya.


“Diiihh, Ibu, bikin aku malu aja.“ Lusi melirik Ferdian yang juga meliriknya gemas.


“Makanya kamu jangan minder, kan ibu bilang tiada yang mustahil bagi Tuhan. Yang penting tetap berdoa tiap saat,” ucap Bu Dahlia menepuk punggung tangan Lusi lembut. Lusi mengangguk.


“Oiya, Ibu. Saya mohon Ibu jangan kasih tau siapapun tentang keberadaan Lusi ya, Bu. Kalo ada yang tanya bilang saja tak pernah bertemu,” ucap Ferdian serius.


Bu Dahlia mengangguk mantap dan mengacungkan jempolnya.


“Pasti, Mas. Saya paham. Saya akan tutup mulut demi kebaikan dan keselamatan Lusi.”


“Baiklah terima kasih, Bu. Kalo begitu kami pamit dulu. Ayo Sayang, kita pulang, sudah sore.” Ajak Ferdian melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul enam sore.


“Bu, Lusi pamit ya. Ibu jaga kesehatan. Nanti kalo ada kesempatan Lusi datang lagi,” ucap Lusi. Kemudian memeluk tubuh subur Bu Dahlia erat lalu mengecup punggung tangannya.


Sementara itu Ferdian mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribu dan di letakkan di atas meja kasir tanpa sepengetahuan Bu Dahlia.


Bu Dahlia mengantar mereka berdua keluar menuju mobil mewah Ferdian yang terparkir di samping kiosnya.


Masih dengan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya Bu Dahlia melambaikan tangan pada Lusi yang memandangnya sebentar sebelum masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil sedan itu pun sudah membaur ke jalanan yang sudah tampak padat dan tersendat.


PLEASE LIKE, VOTE, 5 RATE, KRITIK DAN SARAN NYA DI KOLOM KOMENTAR YAH

__ADS_1


HAPPY READING...


__ADS_2