ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 84


__ADS_3

Rasanya tak ada puas-puasnya Ferdian memandangi foto mesra dirinya bersama Lusi yang terpasang di layar laptopnya. Karena hanya itulah satu-satunya foto kebersamaan yang mereka miliki selama empat bulan hidup bersama.


Beberapa kali dia ingin mengambil gambar Lusi dengan kamera ponselnya, tapi gadis itu selalu menolak dengan alasan tak percaya diri.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan bergetar kuat di atas meja. Segera dia menoleh ke arah batangan gawai itu lalu menutup layar laptopnya.


Sejenak dia meneliti siapa yang menghubunginya, dan terteralah nama Pak Hermansyah di layarnya.


“Ya, halo?” jawab Ferdian setelah menggeser logo hijau untuk menerima panggilan.


“Selamat pagi, Pak Ferdian? Apa kabar?” sambut Pak Hermansyah dari seberang. Nada suaranya ringan dan terdengar bersemangat.


“Kabar saya baik, Pak.” Ferdian menjawab singkat.


“Syukurlah, saya senang Pak Ferdian sudah sehat kembali.”


“Oiya, Pak. Saya ada kabar baik. Kemarin saya baru terima surat putusan resmi dari Pengadilan Negeri. Gugatan kita perihal hak waris untuk Ilusiana Putri Hamzah telah kita menangkan, Pak,” beritahu Pak Hermansyah dengan terang dan sangat lugas.


Wajah Ferdian seketika berubah cerah. Bola matanya pun tampak berbinar-binar.


“Alhamdulillah. Jadi semua aset-aset itu sudah bisa di balik nama ke nama istri saya, Pak?”


“Tentu bisa, Pak Ferdian. Sekarang Istri anda adalah pemilik yang sah sebuah rumah dan semua aset-aset perusahaan berupa beberapa bidang tanah dan sejumlah property lainnya. Aset Listnya ada sama saya nanti bisa Anda lihat kembali.”


“Syukurlah. Jadi apa langkah kita selanjutnya?” tanya Ferdian dengan wajah sumringah.


“Hari ini saya akan temui Bu Merry dan putrinya supaya mereka lekas mempersiapkan diri untuk keluar dari rumah itu.”


“Saya ikut, Pak. Berikan saya alamatnya. Kita ketemu di sana.”


“Baik Pak Ferdian, segera saya kirim alamatnya. Sampai ketemu.”


Ferdian mengakhiri sambungan teleponnya. Dengan antusias dia lekas mencari kontak Reynard, lalu menghubunginya.


“Halo Rey, kau ikut aku sekarang,” seru Ferdian ketika Reynard menjawab panggilan teleponnya.


“Kemana?“


“Pokoknya ikut aja, nanti aku kirim alamat nya. Aku tunggu kau di lokasi.”


Tanpa menunggu jawaban Reynard, Ferdian mengakhiri sambungan teleponnya. Lalu bergegas menuju mobilnya yang terparkir tepat di depan teras rumahnya.


***


Reynard dan Pak Hermansyah berdiri di depan teras rumah ber-cat putih itu. Halamannya sangat luas dan asri dengan beberapa pohon akasia kuning yang tumbuh rindang di tepi pagar membuat rumah itu semakin tampak sejuk dan teduh.


Ferdian keluar dari mobilnya dan bergegas menghampiri keduanya. Dia edarkan pandangan ke sekeliling halaman rumah itu.


“Ini rumah Lusi, Rey,” ucap Ferdian pada Reynard yang berdiri di sampingnya. Reynard pun mengangguk.

__ADS_1


“Iya. Apa yang menjadi haknya akhirnya kembali lagi padanya,” timpal Reynard dengan penuh haru.


“Selamat pagi.”


Tiba-tiba seorang pria setengah baya mengenakan sarung dan kopiah menyapa mereka. Ketiganya spontan menoleh ke arah pemilik suara.


“Perkenalkan, saya Nurdin, ketua RT di sini. Kalo boleh tau Anda semua ini mencari siapa? Dan ada keperluan apa datang ke rumah ini.”


Ferdian menghampiri dan mendekat pada pria itu. Lalu menyorongkan telapak tangannya. Pria itu membalas dengan sopan.


“Saya Ferdian, suami dari Lusiana, pemilik rumah ini,” sebut Ferdian tegas.


Pak RT Nurdin terbelalak seolah tak percaya apa yang disebutkan Ferdian.


“Ooh, Mas ini suaminya Lusi? Sudah lama gak ketemu ternyata Lusi sudah nikah. Syukurlah, saya senang sekali dengarnya.“


Ferdian hanya tersenyum menanggapi.


“Oiya, rumah ini kenapa sepi sekali? Seperti tak berpenghuni,” tanya Ferdian mengarahkan pandangannya pada bangunan rumah bercat putih di belakangnya.


“Oh, benar, Mas. Rumah ini memang sudah tak ada penghuninya lagi. Bu Merry meninggal dunia sekitar dua minggu lalu akibat kecelakaan. Dan putrinya Priska sampai detik ini tak diketahui keberadaannya.”


Ferdian, Reynard dan Pak Hermansyah tersentak kaget mendengar penuturan Pak RT Nurdin barusan. Mereka kini saling bertukar pandang.


“Saya dengar sih Bu Merry itu meninggal karena tabrak lari. Dan pelakunya lagi dicari Polisi,” lanjut Pak RT Nurdin lagi.


“Ya Tuhan, aku kok merasa ini ada hubungannya dengan Bramanto,” bisik Ferdian pada Reynard di sampingnya.


“Hmm, Pak. Saya ijin mau masuk ke dalam, bisa?” pamit Ferdian sopan pada Pak RT Nurdin.


“Oh, bisa. Kebetulan kuncinya ada sama saya. Saya amankan sementara karena rumah ini kosong. Ini, Silahkan,” ucap Pak RT Nurdin seraya menyerahkan serangkaian anak kunci ke tangan Ferdian.


“Terima kasih,” ucap Ferdian setelah menerimanya.


“Baiklah, kalo begitu saya permisi dulu.” Pak RT Nurdin pun pamit lalu melangkah keluar gerbang meninggalkan ketiganya.


Ferdian membuka pintu rumah berlantai dua itu. Di edarkan pandangannya ke sekelilingnya. Semua perabotannya masih tertata dengan sangat rapi dan apik dengan pencahayaan yang temaram.


Dia masuk lagi lebih dalam. Pandangannya tertuju pada sebuah pintu di samping ruang makan. Di daun pintunya terdapat tulisan ILUSIANA PUTRI HAMZAH.


'Ini pasti kamar Lusi,' pikir Ferdian.


Dibukanya perlahan pintu kamar itu, terhamparlah di hadapannya ruangan berukuran sekitar tiga kali tiga meter, dengan sebuah ranjang kecil, meja belajar dan lemari kaca di dalamnya yang tertata cukup rapi.


Kerongkongannya rasa tercekat membayangkan Lusi, istrinya, dulu tidur di ruangan sempit dan lembab itu.


Ferdian menuju ranjang besi yang dulu sehari-hari ditiduri Lusi, kemudian menempatkan diri di atasnya.


Ketika menghadapi meja kecil di samping ranjang, bola matanya terarah pada sebuah foto bergambar gadis kecil yang menggemaskan dengan rambut di kuncir kuda sedang memeluk seorang wanita cantik dengan rambut terurai indah.

__ADS_1


Ferdian lekas meraih bingkai foto tersebut dan membalikannya. Dia lihat di belakang foto itu bertuliskan ‘Ilusiana putri Hamzah & Bunda Alicia Hamzah.'


“Cantik turunan,” gumam Ferdian sendirian sambil mengulum senyum.


Dia letakkan foto itu kembali ke tempat semula. Lalu bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar itu.


“Bro, ikut aku sini,” panggil Reynard pada Ferdian yang baru saja menutup pintu kamar Lusi.


Ferdian mengikuti langkah Reynard masuk ke sebuah kamar yang ukurannya jauh lebih besar dari kamar Lusi tadi.


“Ini kamar Bu Merry,” beritahu Reynard pada Ferdian dengan tatapan serius.


“Lalu?” tanya Ferdian tak mengerti maksud Reynard membawanya ke dalam kamar itu.


“Bantu aku geser lemari ini,” tunjuk Reynard pada sebuah lemari besar yang terbuat dari kayu jati berukir.


Sekuat tenaga Reynard dan Ferdian mendorong lemari besar itu hingga bergeser sedikit dari kedudukan semula.


“Itu dia.” Reynard melihat sebuah benda tipis di balik lemari itu. Lalu meraihnya dengan memasukkan tangannya melalui celah di belakangnya.


“Laptop?” gumam Ferdian ketika Reynard sudah berhasil mengeluarkan sebuah benda pipih dari balik lemari besar itu.


Reynard membuka laptop itu perlahan dan menyalakannya, Pak Hermansyah dan Ferdian pun mendekat. Ketiganya tampak sangat serius memperhatikan ke arah layarnya.


“Bu Tantri bilang, sebelum anaknya Bu Merry di bawa Bramanto, dia sempat kasih info soal laptop ini pada Bu Tantri. Katanya, Bu Merry menyimpan bukti-bukti bisnis ilegal Bramanto di salah satu file di dalam sini,” tutur Reynard setengah berbisik seraya membuka satu persatu nama file yang berbaris di layar.


“Yes, ini dia!" seru Reynard ketika dia berhasil menemukan apa yang dia cari.


Tampak di layar itu foto-foto para gadis muda dengan penampilan yang sangat seronok berikut data diri mereka.


Di tambah lagi beberapa foto yang menggambarkan kegiatan Bramanto dan pengawal-pengawalnya yang tengah membawa para gadis itu dengan tangan terikat ke sebuah tempat.


Dan juga sebaris penuh keterangan mengenai tempat transaksi mereka dan nama-nama klien yang berhubungan dengan transaksi ilegal tersebut. Dan masih banyak lagi data-data lainnya.


“Ini informasi yang sangat berbahaya untuk Bramanto. Karena inilah Bu Merry menjadi korban tabrak lari dan aku yakin pelakunya suruhan Bramanto,” ujar Ferdian menoleh pada Reynard dan Pak Hermansyah. Keduanya mengangguk setuju.


“Ini akan aku bawa ke polisi, Rey. Aku yakin dengan bukti ini Bramanto tak akan berkutik lagi,” lanjut Ferdian tegas.


“Pak Hermansyah, tolong diatur bagaimana caranya supaya kasus penganiaayan istri saya oleh Bu Merry bisa terhubung ke bukti-bukti ini."


“Baik, Pak Ferdian. Akan saya kondisikan.”


“Good. Ayo, kita keluar dari sini.”


Ketiganya bergegas keluar dari ruangan itu dan menguncinya kembali. Lalu keluar rumah menuju mobil mereka masing-masing dan meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan bagi Lusi.


MULAI TEGANG, GAESS...


YUK AH, AUTHOR TUNGGU LIKE, VOTE, FAVORITE, KRITIK DAN SARANNYA. 

__ADS_1


AUTHOR JADI MAKIN SEMANGAT UP UP UP... 


__ADS_2