ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 94


__ADS_3

Lusi memoles bibir mungilnya dengan sedikit lipgloss berwarna pink dan memupur wajahnya sedikit agar terkesan lebih cerah dan segar.


Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai indah. Sejenak ia mematut diri di cermin, merapikan blus pink dan celana jeansnya.


Hari ini adalah hari baru baginya. Hari Move On menurut kamus hidupnya. Karena mulai hari ini ia akan melepaskan jauh-jauh semua kisah manisnya dengan Ferdian lantaran ia mendengar kabar dari Dio bahwa beberapa hari lagi Ferdian akan menikah dengan Amanda.


Tujuannya hari ini adalah ke kampus untuk mengurus kuliahnya yang sempat tertunda beberapa minggu karena segala permasalahan berat yang dia hadapi belakangan kemarin.


Dikecupnya foto kedua orang tuanya yang ia letakkan di atas meja belajar.


“Doakan aku dari surga ya, Ayah, Bunda,” ucapnya dengan bibir yang tersenyum manis.


Penuh percaya diri, ia langkahkan kaki keluar rumah dan tak lupa mengunci pintu utama, juga pintu gerbangnya. 


Di bawah naungan pohon akasia di muka rumah, Lusi memesan taksi online lewat gawainya yang baru saja dibelikan Dio untuknya kemarin.


Memang Dio sahabat yang terbaik.


Sambil menunggu taksi online yang sudah dipesannya, sekali lagi ia memeriksa berkas-berkas yang ia bawa, berharap jangan sampai ada yang tertinggal.


Tiba-tiba sebuah mobil SUV hitam berhenti beberapa meter di depannya. Pintu tengahnya terbuka, lalu seorang laki-laki berperawakan tinggi keluar dan secepat kilat menyergap tubuh Lusi. Kemudian membopongnya masuk ke dalam mobil itu.


Seketika mobil itu melaju kencang.


“Aakhhh....Tolooong!!!” Lusi berteriak sekeras-kerasnya sambil menggedor-gedorkan kaca jendela mobil. Ia berharap ada orang di luar sana mendengarnya.


“Tolooong! Eh turunin aku!"


"Toolooongg!”


Lusi melawan sekuat tenaga dari cengkraman tangan laki-laki yang mengenakan kaca mata hitam itu.


“Diam!” bentak laki-laki itu dengan wajah kaku.


“Ya Tuhan, tolong aku....” Air mata Lusi mulai merebak. Dia sangat ketakutan.


“Akhhh!”


Plaak...!


Tamparan kerasnya mendarat pada pipi laki-laki itu.


Melihat perlawanan Lusi yang gigih, laki-laki itu menguatkan mencengkram tangannya pada kedua pergelangan tangan Lusi.


Diambilnya tali kain di belakang kursi, kemudian mengikat tangan Lusi sehingga gadis itu tak kuasa melepasnya.


Dengan kakinya yang bebas, Lusi merasa masih bisa melawan. Lalu dengan sekuat tenaga Lusi menendang-nendangkan kakinya ke tubuh pria itu. Hingga bagian sensitif si pria pun kena sasaran tendangan Lusi yang sangat keras.


“Adooowh! Propertiku....”


Pria itu mengerang kesakitan seraya memegang ‘property’ yang dia maksud. Perkakas pria bagian bawah.


“Kuat juga nih cewek,” ucap laki-laki itu ditengah erangan kesakitan.


Dengan tali yang sudah dipersiapkan, ia menyatukan dan mengikat kedua kaki Lusi hingga sama sekali tak dapat bergerak.


Tangisan Lusi pun semakin kencang.


“Tolooooongg...!” Kembali Lusi berteriak menghadap ke jendela. Namun sia-sia. Dengan laju mobil sekencang itu kemungkinan besar tak akan ada yang mendengar.


“Diam!” bentak laki-laki itu lagi, masih meringis menahan sakit di bagian 'propertinya' akibat tendangan maut Lusi.


“Saya mau dibawa kemana, Om?" tanya Lusi di sela isaknya.


“Keluar negeri!" jawab laki-laki itu singkat.


“Tapi saya gak punya pasport, Om. Turunin aja saya, Om,” mohon Lusi memelas dan mengiba.


“Gak perlu pasport! Badan kayak kamu masukin aja ke bagasi. Pasti muat!” ucap si laki-laki itu sambil melotot garang, membuat Lusi bergidik ngeri.


Lusi masih meronta-ronta berusaha melepaskan ikatannya, tapi sia-sia. Kaki dan tangannya benar-benar tak dapat bergerak.


“Ayah, Bunda? Huhuuu....” tangis Lusi terisak pilu. Benaknya dipenuhi bayangan menakutkan yang akan terjadi padanya. Terlebih lagi dengan traumanya saat ia disekap di dalam rumah Bramanto.

__ADS_1


Hah? Bramanto?


Teringat nama menakutkan itu, tangisan Lusi kian menjadi. Dia menduga dalam hati, jangan-jangan mereka ini orang suruhan Bramanto untuk menculiknya kembali.


“Toolooong!!!” teriaknya lebih kencang.


“Heh! Percuma kamu teriak, gak ada yang dengar. Mending kamu tidur, pas bangun sudah sampe di luar negeri,” bentak Laki-laki itu lagi.


“Ya Allah, tolong aku...” doa Lusi sambil terisak.


Gadis itu benar-benar ketakutan. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuh.


Tenaganya mulai terkikis karena perlawanan gigihnya terhadap laki-laki yang duduk disampingnya itu, walaupun tak berhasil.


Kini ia hanya bisa memandang keluar jendela berharap ada mobil lain yang melaju di sisi mobil yang ia tumpangi saat ini, sehingga ia bisa memberi kode pertolongan.


Tapi tak ada. Yang terhampar di kiri kanan hanya jalan raya bebas hambatan. Mobil yang melintas pun semuanya berkecepatan tinggi.


Dia menoleh pada laki-laki di sampingnya yang tertidur dengan mulut menganga lebar.


Mata Lusi mencari-cari benda tajam di sekitarnya atau permukaan yang runcing. Tujuannya untuk membuka tali yang membebat kaki dan tangannya. Tapi tak ia temukan satu pun juga.


Ia terus memutar otaknya mencari cara untuk membuka ikatan di tangannya. Tapi tak ada alat apapun yang bisa ia gunakan untuk melepaskan diri.


Lusi kembali menangis takut dan menyandarkan kepala ke jendela.


Dalam hati ia terus berdoa semoga ada orang yang bisa menolongnya. Seperti dulu Ferdian yang tiba-tiba datang menolongnya di tengah jalan.


‘Maasss.... Kenapa di saat saat darurat begini aku jadi kangen kamu. Aku berharap kamu jadi Superman yang tiba-tiba datang, menghentikan mobil ini dengan kekuatan supermu dan menendang jauh-jauh laki-laki jahat di dalam mobil ini dan membopong tubuhku terbang bersamamu,' ucap bathin Lusi seraya menghadirkan sosok Ferdian dalam khayalnya.


Mobil yang ia tumpangi berbelok ke suatu tempat datar yang sangat Luas. Dari kaca jendela Lusi melihat pesawat-pesawat berbagai logo terparkir di sana.


*Bandara?


Ya Tuhan. Ternyata aku benar-benar akan dibawa keluar negeri*.


Sekujur tubuhnya bergidik kembali saat membayangkan dirinya akan dijual keluar negeri sebagai korban perdagangan wanita.


“Lepasin aku! Lepasiiiinnn!” Lusi kembali meronta-ronta.


“Hahaaay! Sudah sampai. Sebentar lagi kamu keluar negeri. Asiiik! Jalan-jalan.” Laki-laki itu malah meledeknya dengan senyum menyeringai yang tak ada manis-manisnya sama sekali, bahkan menyeramkan di mata Lusi.


Mobil tiba-tiba berhenti di depan sebuah pesawat jet yang berukuran tak terlalu besar. Laki-laki di sampingnya itu mengambil sesuatu dari bawah kursinya.


Sebuah Pisau?


Darah Lusi langsung berdesir kencang. Degub jantungnya kian terpacu membayangkan pisau itu akan di tusukkan ke tubuhnya.


Ternyata tidak.


Laki-laki itu menggunakan pisau itu untuk memutus tali yang menjerat kaki dan tangan Lusi.


“Silahkan turun, Nyonya.“ Si laki-laki berkacamata hitam itu mempersilahkan Lusi turun dari mobil.


Lusi menautkan kedua alisnya keheranan karena mendengar nada suara laki-laki Itu sangat berbeda dengan saat awal pertemuannya tadi. Kali ini sangat sopan dan hormat.


Lusi menurut dan turun perlahan dari mobil itu.


Tampak di hadapannya sebuah pesawat jet pribadi dengan karpet merah yang terhampar menuju tangganya.


Lusi ternganga menatapnya. Karena seumur hidupnya baru kali ini ia melihat pesawat jet pribadi yang sering dipakai para selebritis yang ia lihat di acara televisi.


“Silakan, Nyonya.“ Laki-laki itu dengan sangat sopan mempersilahkan Lusi untuk menaiki tangga pesawat.


Lusi menghentikan langkahnya. Dia ragu dan takut jika benar dirinya akan di bawa orang asing keluar negeri.


Tiba-tiba dari depan pintu pesawat yang terbuka, sosok Ferdian muncul dan menuruni anak tangga perlahan. Lalu berdiri di atas hamparan karpet merah di bawah tangga.


Lusi tersentak kaget. Tak percaya pada penglihatannya.


Ia mendekat. Dan benar saja. Ferdian dengan mengenakan baju casual putih dilapisi jaket trucker biru dan celana jeans berdiri dengan senyum termanisnya menyambut Lusi.


“Hai, Nyonya Ferdian. Apa kabar?” sambut Ferdian mengulurkan tangan.

__ADS_1


Dengan hati bimbang dan wajah terperangah, Lusi mengulurkan tangan juga pada Ferdian.


“Lapor, Boss. Saya sudah mengantarkan Nona, eh, Nyonya ini dengan selamat.” Laki-laki tadi menghampiri Ferdian.


“Kamu gak macam-macam, kan sama istri saya?“ tanya Ferdian menoleh padanya.


“Gak, Boss. Cuma diikat aja, soalnya sadis, Boss. Property saya bisa rusak kalo nyonya gak diikat," ucap laki-laki itu lagi.


"Awas ya kalo tangan istriku lecet, aku tuntut kamu!"


"Dijamin gak lecet, Boss. Sumpah, saya gak berani." Laki-laki itu mengangkat dua jari di samping kepala.


“Oke, Johan. Terima kasih. Kalian silakan kembalikan mobil ke kantor saya. Dan ketemu dengan Vika, sekertaris saya. Dia yang akan urus pembayaran untuk kalian.”


“Siap, Boss. Laksanakan. Happy Honeymoon. Selamat berbulan madu,” ucap Johan sambil menunduk patuh kemudian berlalu dari hadapan Ferdian.


Ferdian beralih pada Lusi yang masih terbengong-bengong menatap pesawat jet pribadi yang gagah di hadapannya.


“Ayo, masuk. Kita akan segera berangkat.” Ferdian menarik tangan Lusi mempersilakan untuk naik terlebih dahulu.


Lusi pun menuruti dan masuk ke dalam pesawat itu, disusul oleh Ferdian di belakangnya.


Tak lama seorang pramugari menarik tangga pesawat dan menutup pintunya rapat.


Lusi menatap ke sekeliling interior pesawat itu. Tampak begitu mewah. Hanya terdapat beberapa baris tempat duduk berbentuk sofa kulit yang saling berhadapan, dibatasi dengan meja kecil diantaranya.


Ferdian mempersilakan Lusi duduk. Gadis itu menurut. Matanya tak lepas memandangi seluruh isi dalam pesawat itu.


“Lusiiiii....”


Tiba-tiba Cantika muncul dari balik pintu kecil yang terdapat di bagian depan. Lusi terperanjat lagi


“Haiiii Lusiiii....”


Tiba-tiba Dio menyusul di belakang Cantika dengan senyum lebarnya.


“Haiii Istri orang....”


Keterkejutannya belum juga usai saat melihat Reynard yang juga muncul dari balik pintu itu.


Lusi tak dapat berkata-kata karena saking terperangahnya melihat mereka semua yang kini berkerumun mengitarinya.


“Mas?” panggil Lusi pada Ferdian dengan tatapan bingung.


“Kita berangkat honey moon, Sayang," ucap Ferdian lembut seraya berjongkok di depan Lusi dan menggenggam jemarinya.


"Yeeaay! We are going to Lombok,” seru Cantika senang.


“Lombok?” tanya Lusi keheranan. Ferdian mengangguk.


“Tapi kan, Mas mau nikah sama....” Ucapan Lusi menggantung.


“Gak ada pernikahan sama perempuan itu. Aku nikah cuma sekali, cuma sama kamu. Dan sekarang kita berangkat bulan madu. Ok,“ tegas Ferdian lalu mengecup punggung tangan Lusi.


“Mr. Pilot, Let’s go! Udah gak sabar nih!” seru Reynard lalu menempati kursinya dengan nyaman.


Dio yang berdiri di hadapan Lusi tersenyum lebar sambil merangkul bahu Cantika disampingnya.


“Udah waktunya kamu happy, Lusi. Nikmatin, ya,” ucap Dio menepuk lembut bahu Lusi.


“Selamat berbulan madu, kita gak bakal ganggu, deh. Paling Cuma ngintip, hehehe....” kekeh Cantika seraya mengusap dan merangkul bahu Lusi dan Ferdian bersamaan.


Lusi yang belum selesai dengan keterkejutannya hanya tersenyum menanggapi gurauan mereka.


Seorang pilot dan satu orang pramugari menyambut mereka dengan memberikan beberapa pengarahan dan menyampaikan kota tujuan serta waktu tempuh selama perjalanan.


Ferdian memasangkan seatbelt ke pinggang Lusi, lalu menempatkan diri persis di hadapan Lusi.


Sejurus kemudian, pesawat jet pribadi yang disewa Ferdian itu pun bergerak dan take off menuju pulau Lombok. Destinasi bulan madu bagi pasangan Ferdian dan Lusi.


Maaf UP nya lama. hari ini Author ada kesibukan pribadi. Mohon mangap Yak.


Please Like, Vote, 5Rate, kritik & sarannya. Nuhun

__ADS_1


Kira-kira beginilah Visual jet pribadi untuk bulan madu Ferdian-Lusi.



__ADS_2