
“Oke Om Wisnu, terima kasih banyak atas bantuannya. Jadi apalagi berkas yang dibutuhkan?”
Ferdian menjabat tangan Pak wisnu, seorang Dekan Fakultas ekonomi sebuah kampus dimana Lusi akan kuliah disana.
“Ini semua ya, Fer. Tolong dilengkapi, menyusul juga boleh," jawab Pak Wisnu sambil menyodorkan sebuah catatan pada Ferdian.
“Yang terpenting Lusiana sudah terdaftar di kampus ini di jurusan manajemen. Untuk jadwalnya nanti staf Om yang akan hubungi Ferdian supaya lebih detil, oke,” tambah Pak Wisnu lagi sambil melirik Lusi yang duduk di samping Ferdian.
"Siap, Om wisnu. Kalo begitu kami permisi dulu.Terima kasih sekali lagi. Salam untuk Tante Sinta,” Ferdian berdiri mengangguk hormat pada Pak Wisnu.
Beliau adalah salah satu teman baik Almarhum ayah Ferdian yang sudah sangat mengenal dirinya sejak lama.
“Baik Fer, nanti Om sampaikan sama Tantemu ya. Dia juga beberapa kali tanya keadaan kamu semenjak kamu batal....” Pak Wisnu sungkan melanjutkan kalimatnya.
Pria setengah baya itu takut Ferdian akan tersinggung nantinya.
Namun Ferdian tahu betul kelanjutan kalimat Pak Wisnu. Batal Menikah maksudnya.
“Baiklah kalo begitu. Permisi, Om.” Pamit Ferdian kemudian keluar dari ruangan Pak Wisnu.
Lusi mengangguk hormat pada Pak Wisnu yang di balas dengan seringai dan kerlingan genit dari laki-laki setengah baya itu.
Lusi bergidik lalu melangkah cepat sambil menarik belakang jas Ferdian.
Siang ini suasana pelataran kampus tampak begitu ramai. Ferdian dan Lusi berjalan melewati kerumunan mahasiswi yang tengah berkumpul di teras kampus.
Seperti dibawah komando, mereka serentak langsung menoleh ke arah Ferdian dengan sorot mata genit dan senyum menggoda. Mereka terpana dengan sosok tinggi Ferdian yang tampil cool dan menawan.
Apalagi dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung tegaknya, makin mendebarkan hati para wanita yang menoleh ke arahnya.
Namun Ferdian tetap melangkah santai sembari menggandeng tangan Lusi yang sedikit salah tingkah melintasi kerumunan itu.
“Lusi, ini berkas-berkas kamu. Simpan baik-baik.” Ferdian menyerahkan map plastik biru pada Lusi.
“Baik, Mas.” Lusi menerima map itu lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Ehmm, Lusi. Kayaknya gak keburu ya kalo aku antar kamu pulang soalnya aku ada meeting jam 1 ini. Kamu pulang di antar supir kantor aja ya,” ucap Ferdian melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul dua belas lewat lima belas menit.
“Gak usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri. Aku pake taksi online aja,” jawab Lusi enteng.
“Oooh Jangan, takut nanti ada apa-apa,” larang Ferdian. Nada suaranya terdengar cemas.
“Ga apa-apa, Mas. Tenang aja. Aman kok.“ ucap Lusi menenangkan.
“Yakin yah?“ tanya Ferdian lagi setengah ragu.
Lusi mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu mengetikkan sesuatu di aplikasi taksi online pada layar gawainya.
“Aku tunggu sampe taksi online-nya datang,” ucap Ferdian lagi masih dengan rasa was-was di hati.
Selang 5 menit sebuah mobil SUV hitam datang dan sang driver membuka kaca pintunya.
__ADS_1
“Ini taksi online-nya sudah datang Mas, aku pulang, yah.“ Lusi meraih tangan Ferdian dan mengecup punggung tangannya dengan hormat.
Ferdian membalasnya dengan mengelus kepala Lusi dengan lembut.
“Sampe rumah telpon aku ya, jangan lupa!” seru Ferdian.
Lusi mengacungkan jempolnya pada Ferdian sambil tersenyum ceria. Kemudian memasuki mobil jemputannya.
Tak lama SUV itu pun berlalu dari hadapan Ferdian menembus padatnya jalanan ibukota.
Di malam harinya.
Ferdian tengah terpekur pada layar laptopnya dengan serius. Sesekali keningnya berkerut tanda dia sedang berpikir sesuatu hal.
Tok...Tok...Tok...
Suara ketukan di pintu ruang kerjanya. Reynard muncul dari balik pintu dengan wajah semringah. Seperti biasa.
“Haiii, suami orang...” sapa Reynard menggoda Ferdian.
Ferdian menoleh sekilas pada Reynard yang langsung nyelonong masuk tanpa di suruh. Dia menghempaskan diri di atas sofa di samping meja kerja Ferdian.
Dilonggarkannya dasi biru yang masih bergantung di leher. Lalu membuka satu kancing paling atas kemejanya.
“Kau sudah makan malam, Rey?" tanya Ferdian tanpa melepaskan perhatian pada layar laptopnya.
“Sudah, tadi di kafe bareng teman,” jawab Reynard santai.
Kini Ferdian beralih fokus pada Reynard. Ditutupnya layar laptop dengan perlahan.
Reynard mengangguk kemudian menegakkan punggungnya yang terasa pegal.
“Ada kabar bagus, Bro,” seru Reynard dengan bola matanya berbinar-binar.
“Dua anak cabang perusahaan Bramanto tumbang,” lanjutnya lagi penuh antusias.
Ferdian spontan berdiri dan ikut duduk di sofa berhadapan dengan Reynard.
“Really?“ tanya Ferdian ikut antusias mendengarnya.
“Tadi pagi aku dapat kabar langsung dari mulut Bramanto sendiri. Cabang perusahaannya di Surabaya dan Kalimantan ditutup dan aku yang di tugaskan mengurus prosedur penutupan kedua cabang itu.”
“Yes, bagus, Rey,” ucap Ferdian senang.
“Nah, aku dengar cabang yang di Medan pun sudah mulai goyang. Banyak korupsi disana. Sekarang semua data keuangannya sedang di periksa tim audit,” lanjut Reynard lagi.
Ferdian berpikir sejenak. Tangannya menyentuh bibirnya, kedua alisnya saling bertautan. Satu ide tiba-tiba mengalir ke saraf otaknya.
“Rey, gimana kalo kita akuisisi perusahaan Bramanto yang masih sehat, aku yakin dengan keadaan collapse begini dia pasti lagi butuh biaya yang sangat besar,“ usul Ferdian kemudian.
Sejenak Reynard terdiam. Benaknya berpikir, mencerna perkataan sahabatnya barusan. Kemudian mengangguk-angguk menyetujui usulan Ferdian yang di anggapnya itu ide yang sangat tepat.
__ADS_1
“Bisa banget. Aku sudah pegang semua data internal perusahaannya. Jadi aku tau tinggal beberapa cabang saja yang masih dianggap sehat. Teknisnya nanti kita rencanakan lebih matang lagi,” seru Reynard.
“Coba kau atur, Rey. Berapa dana yang kita butuhkan. Kau harus tekan harganya seminimal mungkin. Buat dia menyerah dengan harga yang kita tawarkan. Dan ingat, kau harus jaga jangan sampai ada perusahaan lain menikung kita,” ucap Ferdian antusias dan bersemangat.
"Dan kalo aku berhasil ambil alih perusahaannya, aku akan bikin perusahaan itu babak belur, biar dia hancur sekalian." Tekad Ferdian dengan nada suara gemas.
“Tenang, Bro, Aku pasti usahakan yang terbaik untuk kau," ujar Reynard mantap.
Terbayang sosok angkuh Bramanto di benak Ferdian. Kebenciannya makin membara setiap kali nama orang itu di sebut.
Dendamnya atas kematian kedua orang tua terkasih benar-benar tak dapat dibendungnya lagi.
Tujuannya hanya satu. Menyaksikan pembunuh kedua orang tuanya itu hancur ditangannya.
“Oiya, apa kabarnya Lusi?” tanya Reynard mengalihkan topik pembicaraan.
“Baik, dia sudah mulai kuliah senin depan di kampus dekat kantor aku,” jawab Ferdian ringan.
Nada suaranya mulai terdengar lebih santai dan tenang.
“Oiya? Bagus kalo begitu. Tapi hati-hati Bro, bisa-bisa istri kau itu di gaet cowok kampus, loh.” seloroh Reynard lalu melepas tawanya ke udara, sengaja membuat panas hati sahabatnya.
“Berarti mau cari mati tuh cowok,” ucap Ferdian serius walaupun dengan senyum yang hanya tersungging tipis.
“Cemburu kau ya? Sudah mulai jatuh cinta rupanya abang kita satu ini," goda Reynard lalu tertawa keras.
Ferdian hanya tersenyum kecut mendengar celotehan Reynard.
“Ahh, gak lah. Buat apa cemburu. Hubungan aku dengan Lusi hanya sementara. Aku cuma ingin melindungi dia aja. Bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan dia sesuai dengan yang tertulis di dalam perjanjian itu. Gak lebih, Rey. Kau tau kan aku susah untuk jatuh cinta pada seseorang.”
“Jatuh cinta juga ga papa, Bro. Lusi cantik, baik, dan penurut pula. Cocoklah dengan kau yang keras kepala ini. Dan yang pasti daun muda gitu, loh" ujar Reynard enteng masih terkekeh menggoda Ferdian.
Ferdian hanya tertawa kecil menanggapinya, lalu seketika menggeleng lemah dan menekuk bibirnya ke dalam.
“Entahlah, Rey. Untuk saat ini aku belum bisa merasakan jatuh cinta lagi sama orang lain, termasuk pada Lusi. Biarlah aku menjalani hubungan ini sampai semua urusanku dan urusan dia selesai. Setelah itu aku dan dia akan menjalani hidup masing-masing,” ucap Ferdian lirih.
Kata-kata yang sejujurnya namun disertai perasaan asing yang menyelimuti hati Ferdian ketika mengucapkannya. Ferdian pun tak tahu apa namanya, yang pasti rasa nyaman selalu dia rasakan ketika Lusi bersamanya.
Dibalik pintu ruang kerja itu, sosok Lusi terpaku menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menghela nafasnya berat.
Bola matanya mulai berkaca-kaca mendengar ungkapan perasaan yang di ucapkan Ferdian tentangnya.
Sejenak dia rapatkan kelopak matanya merasakan kedua maniknya yang terasa menghangat karena air mata.
'Aku gak boleh terbawa perasaan. Mas Ferdian benar, hubungan ini hanya sementara. Dia tak mungkin jatuh cinta sama aku. Aku harus tau diri. Aku dan dia ibarat bumi dan langit. Jangan mimpi terlalu tinggi, Lusi. Nanti ketika bangun sakitnya minta ampun,' ucap bathin Lusi lirih.
Lusi melangkahkan kakinya gontai menuju kamarnya. Dia tak mau lagi mendengar lebih jauh apa yang dibicarakan Ferdian dan Reynard tentang dirinya.
Baginya sudah cukup mengetahui apa yang di rasakan pria itu terhadap dirinya, saat ini.
PLEASE LIKE, VOTE, 5 RATE, COMMENT NYA YA DEAR READERS.
__ADS_1