ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 56


__ADS_3

Coffee latte kesukaanya kali ini terasa begitu hambar, mungkin karena terpengaruh dengan suasana hatinya saat ini.


Ferdian meneguknya hanya sedikit, lalu dia letakkan kembali di atas meja. Di wajahnya masih tampak gurat kegelisahan. Pikirannya masih tak menentu mengingat apa yang terjadi siang tadi.


Walaupun laporannya sudah masuk ke kepolisian, namun dia belum merasa tenang sebelum Bu Merry tertangkap.


Reynard yang duduk disampingnya hanya geleng-geleng kepala ikut prihatin dengan masalah yang dihadapi sahabatnya itu. 


Dia teguk kopi hitamnya sesaat, lalu membaringkan tubuh di kursi panjang sambil menikmati hembusan angin malam di depan kolam renang.


“Kau harus tenang, Bro. Laporan kau sudah masuk. Polisi pasti akan segera memproses,“ ucap Reynard berusaha menenangkan Ferdian.


“Iya, semoga besok sudah ada kabar baik. Aku kasihan melihat keadaan Lusi. Begitu menderita hidupnya.”


“Yang terpenting kau harus terus dampingi dia. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Kita sudah melewati setengah jalan dari misi kita. Dengan tertangkapnya Bu Merry nanti, aku harap dia akan menyeret nama Bramanto juga karena ini masih ada hubungannya dengan penyekapan Lusi di rumahnya dulu," tutur Reynard dengan mengecilkan volume suaranya. Dia tak ingin ada orang lain yang mendengar.


“Iya, kau betul, Rey. Semoga Polisi bertindak cepat. Aku ingin mereka itu segera ditangkap.”


“Inilah tujuannya kau ikuti saranku untuk menikahi Lusi. Kau gunakan kasusnya sebagai tambahan ‘senjata’ lagi untuk melawan Bramanto dari segala sisi.“


Ferdian menatap Reynard dan mengangguk setuju.


“Oiya, bagaimana soal proses akusisi perusahaan Bramanto?" tanya Ferdian lekas.


“Nah, aku minta sedikit waktu untuk prosedurnya. Sebentar lagi 55% saham perusahaan Bramanto akan jadi milikmu, Bro. Dia setuju dengan Investor bayangan yang kau kirim untuk penawaran itu. Perusahaannya benar-benar sedang krisis sekarang.”


“Bagaimana dengan perusahaan induknya yang sekarang kau pimpin?”


“Itu aku hadiahkan untuk kau nanti. Aku pertahankan supaya tetap stabil. Aku ingin dia tetap percaya sepenuhnya sama aku, Bro.”


“Cerdas kau, Rey. Aku bangga sama kau,” puji Ferdian untuk sahabat setia nya itu.


“Yaaa, aku banyak berhutang budi pada keluargamu, terutama pada Almarhum papamu yang selalu membantu aku dan keluargaku. Tanpa papa dan mamamu mungkin sekarang aku tak akan seperti ini. Dendammu pada Bramanto sama besar dengan dendamku padanya. Karena aku sudah menganggap kedua orang tuamu adalah orangtuaku juga," ucap Reynard lirih seraya menyentuh lembut lengan Ferdian.


Ferdian menoleh ke arah lengannya yang kini ditumpangi jemari Reynard.


“Iiish, apaan sih ini pegang-pegang. Jijik!”  Ferdian spontan menepis tangan Reynard dari lengannya.


Reynard tersadar. “Oiya, sorry Bro, kelamaan jomblo jadi kangen belaian wanita," ucap Reynard spontan. Ferdian tertawa renyah mendengarnya.


“Makanya jangan keenakan berpetualang. Perempuan baik-baik jadi takut ngeliat kau gonta ganti pacar terus.”


“Yaaa, namanya juga proses pencarian, boleh dong diaudisi dulu satu persatu,” sergah Reynard enteng.


“Macam ajang pencarian bakat aja kau!” seru Ferdian sebal membuat Reynard tertawa.


Reynard bangkit dan menggeliat, meluruskan pinggangnya yang terasa pegal, lalu melirik arloji ditangannya.


“Udah jam dua belas, Bro. Aku pulang, ya,“ pamit Reynard kemudian beranjak dari duduknya.


“Mr. Cinderella takut berubah jadi upik abu ya? Nginap ajalah disini, Rey."


Reynard tertawa lagi. “Gak ah, ntar kau khilaf masuk ke kamarku. Aku takut terjadi sesuatu yang enak-enak."


"Sinting! Aku cowok normal!" seru Ferdian bergidik jijik, lalu ikut tergelak.


“Aku pulang dulu. Salam untuk Lusi,” pamit Reynard setelah derai tawa mereka mereda.


“Oke, Rey. Hati-hati di jalan," ucap Ferdian.


“Baik, Sayangku,” goda Reynard gemulai melirik pada Ferdian.

__ADS_1


“Idiih, najis!” balas Ferdian dengan ekspresi jijik. Dan tawa mereka pun kembali berderai ringan.


Ferdian mengantar Reynard sampai ke teras depan. Lalu kembali ke kamarnya untuk melihat kondisi Lusi yang belum dia tengok sejak pulang dari kantor polisi tadi.


Dikamar, dia menatap wajah Lusi yang tertidur pulas. Dia merebahkan tubuhnya di samping Lusi, namun matanya tak bisa terpejam. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar dengan lengan yang menopang di atas keningnya.


Hari ini hari yang sangat menegangkan untuknya. Penat, amarah dan dendam berbaur mengaduk-aduk pikiran. Dia mencoba terpejam dan berusaha menemukan kantuknya. Tapi tetap tak bisa.


“Hiikss...Hikkkss...Ampuuunn, tolong....Tolooong!” Tiba-tiba Lusi menjerit dan bangkit terduduk dengan mata yang masih terpejam rapat. Dia mengigau.


Ferdian terperanjat, spontan bangun dari rebahannya, lalu mengguncang-guncang pelan bahu Lusi.


“Lusi? Lusi?“ panggilnya pelan di telinga Lusi.


Lusi tak juga membuka mata. Keringat dingin mengucur deras dari kening dan lehernya. Nafasnya tersengal-sengal seperti sedang dikejar-kejar sesuatu.


Kepalanya terjatuh lemah di bahu Ferdian, bersamaan dengan deru nafasnya yang mulai mereda.


Ferdian memeluknya erat dan membelai rambut Lusi dengan penuh kasih. Dia merasakan detak jantung Lusi berdegub begitu kencang. Diusapnya lembut punggung Lusi untuk menenangkannya.


Lusi tampak nyaman berada di pelukannya. Degup jantungnya juga sudah mulai mereda teratur.


Perlahan Ferdian kembali merebahkan tubuh Lusi, lalu merapikan rambut yang menutupi wajah pucatnya. Dia pun ikut merebahkan diri di samping Lusi.


Tangannya menggenggam erat jemari Lusi yang terasa dingin. Kantuk pun mulai melanda, kelopak matanya yang terasa berat tak dapat ditahannya lagi. Dan dia pun terlelap dalam tidurnya.


****


Malam semakin larut, berangsur-angsur menuju pagi. Jam digital di samping tempat tidur menunjukan pukul enam lewat lima puluh menit.


Tanpa sadar sepasang suami istri itu tidur saling berpelukan. Keduanya tampak terlelap pulas.


Sepuluh menit berlalu, alarm jam digital berbunyi tepat di pukul tujuh. Ferdian tersentak kaget karena deringannya begitu memekik di telinga.


Dia  mencoba mengembalikan tidurnya lagi, tapi sudah tak bisa. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela memaksanya untuk membuka mata.


Dia menoleh ke samping kiri dan mendapati wajah Lusi yang begitu dekat dengan wajahnya. Hingga dia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu yang hangat menerpa pipinya.


Bibir mungil itu pun masih terkatup rapat dan mata berbulu lentik itu juga masih terpejam.


Tak tahan, dikecupnya sekilas bibir menggemaskan itu. Namun pemiliknya tidak bereaksi. Gadis itu masih terbuai lelap di alam mimpi.


Perlahan dia menggeser tangan Lusi yang melingkar di atas dadanya agar dia dapat bangkit dari rebahannya.


Sejenak dia duduk di bibir ranjang. Lalu mengangkat kedua tangan untuk sekedar meluruskan pinggang dan punggung yang terasa menegang. Kemudian dia paksakan kakinya melangkah pelan menuju kamar mandi.


Di meja makan. Ferdian mendapati Cantika bersama Amanda tengah menikmati sarapan. Tampak Amanda masih mengenakan celana pendek dan baju tangtop hitam yang cukup terbuka. Berarti malam tadi dia menginap di rumah ini.


Ferdian berdecak kesal dan jelas enggan bergabung di meja makan. Dia mengarahkan langkahnya masuk ke dapur dan duduk di kursi minibar menghadapi Mbak Ira yang tengah sibuk meracik kopi untuknya.


“Ehh, selamat pagi, Boss,” salam Mbak Ira hormat dengan wajah semringahnya.


“Ini kopinya. Silahkan. Mbak bikinin yang paling enak untuk Boss," ucap Mbak Ira ceria.


Ferdian hanya mengangguk dan menggeser cangkir kopinya tepat di hadapannya.


Tiba-tiba dari belakang Cantika memeluk pundaknya dengan manja. Ferdian hanya menoleh sekilas.


“Kak, kata Mbak Ira Lusi sakit?” tanya Cantika kemudian. Ferdian tak menjawab, dia hanya mengangguk satu kali.


“Kata Mbak Ira tangannya diperban gitu, terus wajahnya memar. Apa yang terjadi sama Lusi, Kak?” tanya Cantika lagi penasaran, lalu menempati duduknya di sebelah Ferdian.

__ADS_1


“Gak ada apa-apa, cuma jatuh,” jawab Ferdian berdusta. Dia tak mau adiknya itu tahu terlalu jauh. Belum saatnya dia mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


“Pulang jam berapa kamu semalam?” tanya Ferdian mengalihkan rasa penasaran adiknya itu mengenai apa yang terjadi pada Lusi.


“Hmm, jam satu, Kak.”


“Dengar ya, Cantika. Aku gak suka kamu bawa Amanda nginap disini. Gak pantes!” Omel Ferdian menoleh kesal pada Cantika.


“Iiihh, Kakak. Jangan begitu, Ah! Dia masih cinta loh sama Kakak. Pengen balikan lagi, katanya.“


“Aku gak mau balikan. Aku gak suka dan Aku udah punya Istri, Cantika. Kamu mikir gak gimana perasaan Lusi tiap hari liat Amanda dirumah ini.”


“Tapi Lusi kayaknya gak marah tuh ada Amanda disini. Dia cuek aja, Kak," bantah Cantika seenaknya.


“Lusi cuek bukan berarti gak marah. Kamu, kan juga perempuan. Gimana seandainya kamu di posisi Lusi saat ini, apa yang kamu rasakan?”


Cantika hanya terdiam memainkan ujung jarinya. Bibirnya mengerucut sebal menanggapi omongan kakaknya itu.


Triiing....Triiing....Triiiing....


Telepon genggam Ferdian berbunyi di saku celananya. Dia lihat kontak dengan nama Pak Hermansyah memanggilnya.


“Halo, Pak Hermansyah?" Sapa Ferdian lekas.


“Pak Ferdian, barusan saya dapat info dari pihak kepolisian. Pagi ini mereka menjemput Bu Merry, ternyata Bu Merry sudah kabur. Dia tak ada di rumahnya,“ beritahu Pak Hermansyah cepat.


“Apa?!” Ferdian spontan bangkit dari duduknya lalu menjauh dari Cantika menuju sisi seberang kolam renang.


“Kok bisa, Pak?” tanyanya lagi dengan nada suara meninggi.


“Kemungkinan dia kabur tadi malam. Putrinya juga tidak tahu Bu Merry pergi kemana. Menurut pengakuannya, Bu Merry sudah tiga hari ini tidak pulang.“


“Ah, anaknya itu pembohong juga!“


“Pihak kepolisian akan terus mencari keberadaan Bu Merry. Pasti akan saya pantau terus perkembangannya.”


“Oke, Pak Hermansyah. Saya ingin kabar baik secepatnya."


“Baik, Pak Ferdian.”


Ferdian menutup sambungan teleponnya. Wajahnya menegang lantaran menerima berita buruk pagi ini.


“Kurang ajar! Aku cari kau sampe ke lubang manapun!” desis Ferdian gemas membayangkan sosok Bu Merry.


Lekas dia mencari kontak Reynard pada layar ponselnya, lalu menghubungi pria itu.


“Halo?” Suara Reynard terdengar berat menyahut dari seberang.


“Rey, Bu Merry kabur. Polisi pagi ini ke rumahnya, dia sudah pergi,” beritahu Ferdian dengan suara pelan.


“Hah? Serius?“


“Iya, coba kau hubungi Johan. Minta nomor telepon Bu Merry, aku akan coba lacak keberadaannya.”


“Oke, Bro. Laksanakan.”


Ferdian menutup sambungan teleponnya. Dia mengumpat dalam hati penuh amarah.


Dari ruang makan Cantika dan Amanda kompak berdiri memperhatikan tingkah Ferdian yang tampak gelisah di seberang kolam renang.


Ferdian tahu itu, lalu membalikkan badan enggan bertatap muka dengan mereka.

__ADS_1


** Haay Reader. Maaf baru Up lagi. Please like, love dan vote jika kalian suka. Kritik dan saran nya untuk author, silahkan di koment yah. Trima kasih **


__ADS_2