
Lima hari pasca kepulangannya ke rumah. Di rasa tubuhnya mulai kembali sehat seperti semula. Tenaganya mulai terkumpul sempurna. Dan daya pikirnya pun sudah pulih seperti sedia kala. Ferdian memutuskan untuk mencari keberadaan istrinya.
Dia sudah tak tahan lagi memendam rindu yang sangat membara. Tanpa dibantu obat dokter tiap malam matanya tak dapat terpejam karena memikirkan belahan jiwa yang kini entah berada dimana.
Ferdian melangkah menuju meja makan dengan penuh percaya diri. Dia merasa kondisi tubuhnya sudah fit maksimal.
“Mbak, coffee please,“ panggil Ferdian setengah berteriak.
Mbak Ira yang sudah siap dengan secangkir coffee latte kesukaan Boss kesayangannya itu keluar dari dapur dengan senyum lebar ciri khasnya.
“Ooow, ganteng nyaaa....” Tiba-tiba mata Mbak Ira terbelalak melihat penampilan Ferdian dihadapannya.
Ferdian dengan mengenakan T-shirt putih dan jaket trucker hijau army dipadu dengan Jeans hitam, tampak berbeda dari biasanya. Lebih segar dan terkesan muda.
Ferdian menautkan kedua alisnya melihat ekspresi Mbak Ira yang lucu dan mengenaskan itu.
“Kenapa? Gak pernah liat orang ganteng?” tanya Ferdian santai lalu menggeser kursi nya dan duduk menunggu kopi di tangan Mbak Ira yang masih membelalakan mata seperti tersihir oleh penampilan Ferdian kali ini.
“Eheeemm...“ Ferdian berdehem melotot pada Mbak Ira dan melirik cangkir kopi yang masih dia pegang.
“Eh iya, maaf Boss. Hehehe! Jadi terpesona liat Boss.” Mbak Ira tersadar lalu menyorongkan secangkir kopi itu di hadapan Ferdian.
“Cantika sudah bangun, Mbak?” tanya Ferdian setelah menyeruput kopinya beberapa saat.
“Belum, Boss. Apa perlu dibangunkan? Untuk temenin Boss sarapan.”
“Gak usah, Mbak, Biarkan saja.”
Ferdian melirik bangku di sampingnya. Biasanya ada Lusi yang menemaninya sarapan. Kini gadis manis itu tak ada di sana.
Dia seruput kembali kopinya beberapa teguk. Lalu beranjak dari kursi makan dan melangkah keluar menghampiri mobil built up terbaru miliknya yang kemarin diantar dari showroom. Tentu saja hitam menjadi warna favoritnya.
Pak Dirman yang baru selesai menyiram tanaman, bergegas menghampiri dan mengangguk hormat pada Ferdian.
“Boss gak ngantor?” tanya Pak Dirman sedikit terpukau dengan penampilan Ferdian tanpa pakaian formal.
“Gak, Pak. Saya jalan dulu. Tolong buka gerbangnya,” perintah Ferdian singkat lalu segera memasuki mobilnya.
Sejurus kemudian mobil built-up keluaran Eropa itu pun meluncur ke jalan raya dengan anggunnya.
Diliriknya sesaat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Waktu yang tepat menuju kampus Lusi. Dia berharap bisa menemukan gadis itu di sana.
Tiga puluh menit berselang, mobil itupun memasuki pelataran parkir kampus. Lalu perlahan mencari lokasi yang tepat untuk menempatkan kendaraannya.
Setelah mendapatkan tempat parkirnya. Ferdian mematut diri sejenak pada kaca spion mobilnya. Ditelitinya tampilan diri, apa sudah oke atau belum. Dia tidak ingin terlihat tak menarik seandainya bertemu dengan Lusi nanti.
Ferdian tersenyum sesaat mengingat Lusi sering menyebutnya ‘ganteng’. Bukan karena GR, tapi karena cara penyampaian Lusi yang terkesan lucu baginya.
'Ya Tuhan, Lusi. Kamu tuh benar-benar bikin aku senewen, tau!' desah bathin Ferdian.
Dia keluar dari mobil lalu bergegas melangkah memasuki lobi kampus yang tampak sudah mulai ramai dengan para mahasiswa yang baru tiba.
Dia putuskan langsung menuju ke kantin kampus, dimana biasanya para mahasiswa berkumpul sambil menunggu jadwal kuliah.
Suasana kantin mahasiswa itu terlihat sangat ramai. Sepertinya sulit meneliti satu persatu mahasiswa yang ada di situ.
Ferdian mengedarkan pandangan, menyisir sekeliling tempat itu. Bola matanya bergerak-gerak mencari-cari sosok Lusi. Tapi tak juga dia temukan.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok Nikita dan Ashanti yang tengah berjalan melintasi pintu kantin di sisi lain. Serta merta dia menghampiri.
“Hai, selamat pagi," sapa Ferdian tersenyum ramah.
Kedua gadis itu terbelalak melihat Ferdian yang tampak berbeda. Mereka terkesima dengan tampilannya yang terkesan lebih muda bahkan disangka sebaya dengan mereka.
__ADS_1
“Ya Tuhan, Lusi. Bagi-bagi kek ilmu cara dapetin laki kayak gini. Pantesan Lusi semangat terus tiap hari. Dopping-nya menggiurkan begini,” ucap Ashanti spontan tanpa malu dengan eskpresi menggoda.
Nikita yang juga menganga menatap Ferdian langsung tersadar, lalu menutup mulutnya cepat seraya menyikut pinggang Ashanti yang terlihat mengedip-ngedipkan mata pada Ferdian.
“Maaf, Mas. Kelakuannya memang menjijikan begini kalo obatnya habis,” ucap Nikita sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ferdian tertawa renyah menanggapi ucapan Nikita.
“Oh iya, kalian liat Lusi?” tanya Ferdian setelah menyelesaikan tawanya.
Kedua gadis itu saling pandang. Merasa heran dengan pertanyaan dari suami Lusi ini.
“Lusi sudah hampir dua minggu ini gak kuliah, Mas,” jawab Nikita kemudian.
Ferdian tersentak mendengarnya.
“Loh, memangnya Mas gak tau? Kan, Mas suaminya,” tunjuk Ashanti terheran.
“Hmm, ya ada sesuatu sih. Tapi panjang kalo diceritakan.”
“Kalian bertengkar, ya? terus Lusi kabur dari rumah, gitu?" tebak Ashanti sok tahu.
Ferdian tersenyum kembali. Lalu menggeleng, enggan menjawab pertanyaan itu.
“Kira-kira kalian tau gak Lusi kemana?”
Giliran keduanya menggeleng dan saling menoleh.
“Ehhh, itu Dio. Mungkin dia tau Lusi kemana. Dia sahabatnya Lusi, Mas. Itu orangnya!” seru Nikita seraya menunjuk sosok Dio yang sedang melangkah cepat keluar lobi.
Ferdian mengikuti arah telunjuk Nikita. “Hah? Cowok itu ternyata kuliah disini juga? Sial4an!” umpat Ferdian spontan dengan raut wajah berubah geram.
“Baiklah, coba aku tanya dia. Terima kasih, yah,” ucap Ferdian buru-buru, tanpa menunggu jawaban dari kedua gadis yang masih di liputi rasa bingung itu. Lalu setengah berlari dia berusaha mengejar Dio yang melangkah menuju parkiran dan memasuki mobilnya.
Dio tak terkejar lagi. Ferdian putuskan untuk segera menuju mobilnya dan bergegas masuk lalu menyusul mobil Dio yang sudah merasuk ke jalan raya yang tampak padat merayap.
Dio merasakan ada yang mengikutinya. Lalu melirik ke kaca spion di atas kepala. Mengamati siapa sosok dibalik kemudi mobil hitam built up keluaran terbaru dibelakangnya itu. Dia lepaskan kacamata hitamnya agar lebih memperjelas penglihatan.
'Hah? Seperti suaminya Lusi?' tebaknya dalam hati.
Mobil Ferdian semakin mendekat. Hanya terpisah satu mobil di antaranya. Dio perhatikan lagi pria di balik kemudi mobil yang mengikutinya.
Kini tampak jelas olehnya wajah Ferdian. Walaupun memakai kaca mata hitam tapi Dio tahu persis itu suami Lusi yang sedang membuntutinya.
'Sudah sembuh ternyata. Pasti dia mencari Lusi. Ah, nanti dulu, Boss! Aku mau senang-senang dulu sama Lusi. Enak aja kau!' ucap Dio dalam hati seraya tersenyum sinis.
Dia memacu mobilnya lebih kencang lagi untuk melarikan diri dari kejaran Ferdian. Dan dengan gesit menyalip diantara deretan mobil di depan untuk mengelabui penglihatan Ferdian. Sehingga berhasil meninggalkan Ferdian jauh di belakang.
Ferdian melihat mobil Dio melaju cepat. Membuat hatinya serasa panas bergejolak.
“Mau main-main sama aku ini orang! Okelah kalo begitu,” umpat Ferdian kesal.
Tanpa pikir lagi Ferdian menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi dan memacu mobil barunya itu untuk mengejar Dio.
Senyuman tersungging kecil di sudut bibir ketika mobil Dio berada tepat di depannya. Dia terus mengekori Dio yang berbelok memasuki sebuah komplek perumahan mewah dan melambatkan laju kendaraan, kemudian memasuki sebuah pekarangan rumah yang tampak sangat asri.
Ferdian yang masih membuntuti Dio ikut melambatkan laju mobilnya.
“Pasti dia sembunyikan Lusi dirumah ini,” tebak Ferdian seraya memarkirkan mobilnya tepat di muka gerbang rumah itu.
Bergegas dia keluar dari mobil sebelum pintu itu ditutup oleh security yang berjaga di sana.
“Permisi, saya mau ketemu pemilik rumah ini,” ucap Ferdian pada pria berseragam hitam itu.
“Mas ini siapa, ya?” selidik penjaga keamanan rumah itu.
__ADS_1
“Saya Ferdian, temannya laki-laki yang barusan masuk.”
“Ooo, Mas Dio. Sebentar ya....”
“Ada apa?! Ngapain ke sini?” Tiba- tiba Dio keluar dari dalam rumah dan menghampiri Ferdian yang masih berdiri di depan gerbang.
Ferdian mendekat, sorot matanya tajam menatap Dio.
“Aku cari Lusi. Dia sama kamu, kan?” serang Ferdian dengan nada suara datar dan dingin.
Dio menautkan kedua alisnya.
“Lusi? Kamu, kan suaminya, kenapa tanya aku?”
“Jangan main-main ya. Panggil Lusi cepat!” Ferdian sudah tak kuasa menahan geram melihat Dio yang masih santai menanggapinya.
“Lusi gak ada disini. Aku gak tau dimana dia.”
Ferdian mendorong bahu Dio kasar. Dio pun membalas. Tinju Ferdian sudah terangkat di udara nyaris mendarat di wajah Dio.
“Eeehhh, jangan Mas! Tenang...Tenang....” Security itu menahan lengan Ferdian yang menegang. Dio melangkah menjauh sambil melempar cengiran, meledek Ferdian.
“Panggil Lusi cepat! Kurang ajar! Berani-beraninya kau bawa istri orang!” hardik Ferdian penuh kemarahan.
“Kau itu punya telinga gak sih?! Lusi gak ada di sini. Ini rumah aku, silahkan kau cek aja sendiri,” ucap Dio masih dengan lagak cueknya.
Ferdian menarik lengannya dengan kasar dari pegangan security tadi. Lalu bergegas menuju ke dalam rumah. Dio si empunya rumah hanya mengikuti langkahnya dari belakang.
“Lusi?!” panggil Ferdian setengah berteriak di dalam rumah Dio. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu.
“Lusi?!” panggilnya sekali lagi.
Tiba-tiba seorang wanita setengah baya muncul dari balik pintu kamar. Dengan wajah penuh kebingungan wanita itu menghampiri Ferdian.
“Dio, ada apa ini? Ini siapa?” tanya wanita itu pada Dio yang berdiri di belakang Ferdian.
“Kawan aku, Ma. Dia lagi cari istrinya," jawab Dio datar.
“Ibu, maaf. Apa disini ada istri saya, namanya Lusi. Saya yakin anak ibu ini bawa dia ke sini,” tanya Ferdian menurunkan nada suaranya pada mama Dio.
Mama Dio sejenak menoleh pada Dio yang hanya tersenyum samar di belakang punggung Ferdian.
“Lusi? Lusiana, maksud kamu?” tanya mama Dio pada Ferdian.
“Iya betul, Ibu tau kan? Pasti dia ada disini. Bisa panggilkan, Bu?” pinta Ferdian penuh harap.
“Saya kenal Lusiana. Dia itu teman baik Dio dari sekolah dulu. Tapi dia gak ada disini, Mas. Sudah lama sekali ga pernah main lagi ke sini," jawab mama Dio dengan nada suara cukup tenang namun menyiratkan kebingungan.
Ferdian menghela nafasnya kesal sembari menatap wajah mama Dio sejenak.
“Ibu yakin Lusi gak ada disini?” tanya Ferdian gusar.
“Yakin sekali, Mas. Kalo dia ada disini pasti sudah saya panggil dari tadi.”
Ferdian menatap Dio dengan pandangan yang sangat marah dan geram. Namun Dio hanya tersenyum kecil dan pasang wajah datar seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Oke, kalo ternyata kau sembunyikan istriku, kuhajar kau!” ancam Ferdian sebelum keluar dari rumah Dio.
Ferdian membanting pintu mobilnya dengan kencang. Dia begitu resah tidak menemukan Lusi di rumah Dio.
Tapi dia tak putus harapan dan bertekad akan terus mencari keberadaan sang istri untuk segera membawanya pulang kembali.
Ferdian Adiwijaya.... Gemesshhh aku tuhhh maasss
__ADS_1