
Vika yang duduk di samping Ferdian tampak serius mengetikkan point-point penting hasil meeting mereka kali ini dengan direktur sebuah perusahaan komunikasi asal Swedia di sebuah lounge hotel berbintang lima.
“Alright, Mr. Nicholas, Hopefully we can work well together,” ucap Ferdian seraya menjabat tangan koleganya itu dengan santun.
“Yes I hope so. Your company has a good reputation. I believe we can.”
“Ohh, Thank you for your trust. Sir.“
“Alright, see you at the next meeting, Good afternoon, Mr. Ferdian.”
“Good afternoon, Mr. Nicholas.”
Ferdian berdiri mengiringi kepergian kolega bersama asistennya itu keluar dari lounge hotel. Ia melirik jam di pergelangan tangan sesaat. Sudah jam dua lewat lima belas menit. Sudah lima belas menit terlambat menjemput Lusi.
Tiiing....Tiiing...Tiiiing...
Ponsel Ferdian berbunyi. Tampak nama kontak Pak Hermansyah di layar. Segera Ia menggeser tanda terima panggilan.
“Ya, Pak Hermansyah?” jawabnya tenang.
“Pak Ferdian, saya baru saja mendapat kabar dari kantor polisi. Bu Merry dibebaskan hari ini dengan jaminan penangguhan penahanan.“
“APA ?!!” Ferdian tersentak kaget.
“Yang memberi jaminan bernama Berlan Sousa. Dia Pengacara dari Bapak Bramanto.”
“Brengsek!!!” hardik Ferdian. Vika yang duduk di sampingnya ikutan tersentak mendengar Bossnya menghardik.
Karena selama ia bekerja dengan Ferdian belum pernah sekalipun ia mendengar pria itu berkata kasar dengan penuh kemarahan seperti itu.
“Pak Hermansyah, tolong diurus segera. Saya gak mau dia bebas begitu aja.”
“Baik, Pak Ferdian.”
Dengan wajah menegang menahan emosi, Ferdian meremas ponselnya kesal.
Lusi. Spontan ia ingat sudah terlambat untuk menjemput Lusi. Segera ia menghubungi nomor Lusi dan terdengar nada sambung dari seberang.
“Halo, Mas?” panggil suara Lusi dari seberang.
“Lusi, kamu pulang dijemput supir kantor, ya. Aku kayaknya gak keburu sampe kampus kamu. Posisiku sekarang jauh dari sana.”
“Iya ga pa-pa, Mas. Aku tunggu supir Mas di lobi ya.”
“Oke. Jangan jauh-jauh dari situ, ya.“
“Baik, Mas.”
Ferdian mengakhiri sambungan teleponnya.
“Vika, cepat kamu hubungi salah satu supir kantor untuk jemput istriku di kampusnya sekarang juga,” perintah Ferdian beralih pada Vika. Sekertaris itu pun mengangguk cepat dan membuka layar ponsel untuk melaksanakan perintah sang atasan.
“Supir kantor sudah on the way untuk jemput Ibu, eh, maksud saya Mbak Lusi, Pak,“ lapor Vika gugup.
“Oke. Kita balik ke kantor sekarang,” perintah Ferdian kemudian.
Ferdian beranjak lalu melangkah cepat keluar dari Lounge itu diikuti Vika yang tergopoh-gopoh menyusul langkahnya.
***
__ADS_1
Setengah berlari Pak Dirman membukakan pintu gerbang lebar-lebar mempersilahkan mobil Ferdian untuk memasuki halaman rumahnya yang luas dan terkesan asri.
Ferdian turun dari mobil dengan penat dan stress yang melanda tubuh dan otaknya.
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Energi dan daya pikirnya terkikis untuk urusan pekerjaaan yang tak ada habisnya yang harus ia tangani.
Ditambah lagi dengan kabar yang mengecewakan yang ia terima dari pengacaranya mengenai penangguhan penahanan Bu Merry.
“Lusi sudah pulang, Pak?” tanya Ferdian pada Pak Dirman yang berjalan di belakangnya menuju pintu.
“Sudah, Boss. Tadi diantar sama supir kantor.”
“Oke, saya istirahat dulu. Tolong jangan ada yang ganggu ya,“ kata Ferdian dengan suara melemah.
“Baik, Boss.“ Pak Dirman mengangguk patuh.
Langkah Ferdian gontai memasuki kamarnya yang tertata rapi dan harum. Ia edarkan pandangan ke setiap sudut ruangan itu, berharap menemukan Lusi di sana. Tapi sosok gadis itu tak tampak olehnya.
“Lusi?” panggilnya sambil menghenyakkan pantatnya di sofa. Sejenak ia terpejam seraya menyandarkan kepala yang terasa berat.
Tak ada sahutan dari Lusi.
“Lusi....?” panggilnya lebih kencang lagi. Kali ini mengangkat kembali kepalanya. Tetap tak terdengar sahutan dari Lusi.
Ferdian meraih gagang interphone yang tergantung di samping sofa. Ditekannya tombol angka satu untuk menghubungi langsung ke kamar Mbak Ira.
“Ya, Boss?” Suara Mbak Ira terdengar.
“Ada Lusi di bawah, Mbak?”
“Gak ada, Boss.“
“Gak ada juga Boss.”
Ferdian meletakkan gagang interphonenya. Lekas ia keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah menuju dapur dan kolam renang.
Ia berkeliling sesaat dan berharap menemukan sosok Lusi, tapi tetap tak tampak juga.
Hatinya mulai gusar dan gelisah. Ia melangkah lagi menuju taman samping yang ditumbuhi bunga-bunga indah. Ia berpikir mungkin Lusi ada di sana. Tapi ternyata tak ada juga.
“Kemana sih tu anak?” Nada suaranya mulai kesal.
“Mbaaak! Pak Dirmaaaan!” teriak Ferdian memanggil kedua asisten rumah tangganya.
Mereka tampak tergopoh-gopoh menghampiri Ferdian yang berdiri dengan berkacak pinggang di taman belakang.
“Ada yang liat Lusi?” tanyanya gusar menatap tajam pada kedua asistennya itu.
“Tadi ada, Boss. Pulang kuliah langsung naik ke kamar,“ jawab Pak Dirman.
“Di kamar gak ada,“ bantah Ferdian.
“Mbak Ira liat?”
“Mbak Ira gak liat, Boss.“
“Coba cari ke semua area rumah ini,“ suruh Ferdian cepat.
Tanpa menunggu perintah lagi, Pak Dirman dan Mbak Ira berpencar berkeliling menjelajahi setiap sudut di rumah yang luas itu.
__ADS_1
Ferdian mencoba menghubungi ponsel Lusi, tapi tak ada jawaban. Dia semakin gusar, terlebih mengingat situasi saat ini yang belum aman untuk Lusi karena bebasnya Bu Merry dari tahanan kepolisian.
Ia masuk kembali ke dalam rumah. Dan mencari di sekeliling ruangan di lantai satu. Tetap saja tak ada sosok Lusi di semua ruangan itu.
Mbak Ira dan Pak Dirman kembali ke ruang keluarga dengan raut wajah yang tampak bingung.
“Gimana?” tanya Ferdian penasaran.
Keduanya kompak menggelengkan kepala.
“Aaahhh! Kemana sih itu anak?” Nada suara Ferdian meninggi. Lalu bergegas menapaki anak tangga menuju lantai dua.
Dibukanya pintu kamar Cantika. Kemudian menuju kamar tamu. Tak juga ada Lusi di kedua kamar itu. Lalu ia masuk kembali ke kamarnya dan memeriksa setiap ruangan termasuk kamar mandi, tetap tak ada.
Pikirannya mulai tak menentu membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
Tiba-tiba ia teringat ada satu ruangan lagi di lantai tiga. Ia berpikir mungkin Lusi ada di sana walaupun tak yakin, karena ruangan itu jarang sekali di kunjungi.
Bergegas Ia naik menapaki anak tangga yang berada di pojok lorong lantai dua.
Tiba di depan ruangan itu, pintunya dalam keadaan terbuka. Sejenak Ferdian berhenti di depan pintu. Ia agak ragu memasukinya.
Sudah lama sekali dia tak pernah ke ruangan itu. Karena setiap kali ia masuk ke sana, ia selalu menangis karena teringat pada almarhum papa yang sangat ia cinta.
Ruangan itu semacam perpustakaan tempat almarhum papa menyimpan koleksi buku-bukunya. Semasa hidupnya almarhum sering menghabiskan waktu di ruangan itu dengan membaca buku-buku kegemarannya.
Perlahan Ferdian melangkah masuk. Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruangan yang minim pencahayaan itu. Ia menekan saklar lampu yang menempel di dinding samping pintu. Lalu seketika ruangan itu terang benderang.
Dan benar saja. Tampak Lusi tengah terbaring di atas sofa yang terletak di sudut ruangan.
“Astaga, Lusi....” gumam Ferdian gemas.
Ia menghampiri tubuh Lusi yang tak bergeming dengan satu tangannya menjuntai kebawah. Ferdian mengangkat buku yang menutupi wajahnya. Tampaklah mata Lusi yang terpejam dan gadis itu terlelap sangat pulas.
Ferdian menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perasaan lega karena telah menemukan gadis itu.
“Lusi, bangun....” Ferdian menepuk-nepuk pipi Lusi pelan.
Kelopak mata berbulu lentik Itu terbuka dan memicing karena cahaya yang terang menyilaukan penglihatannya.
Setelah matanya terbuka lebar, Lusi mendapati Ferdian yang berdiri berkacak pinggang di sampingnya dengan raut wajah gemas seolah-olah akan menelan dirinya.
“Mas?” Spontan Lusi bangkit dan terduduk di sofa panjang itu. Ia mengucek-ngucek kelopak matanya yang masih terasa berat.
“Kamu ngapain tidur disini? Emang kamarku sudah gak nyaman?“ seru Ferdian kesal.
“Aku tadi iseng ke sini baca buku, gak sengaja ketiduran, Mas,“ jawab Lusi setelah menguap panjang.
“Bikin panik orang aja. Ayo keluar! Tidur di kamar,” perintah Ferdian tak sabar.
“Gendooong....” pinta Lusi manja seraya menjulurkan kedua tangan ke hadapan Ferdian.
“Males, ah! Berat. Ayo cepat keluar!" Ferdian menarik tangan Lusi untuk keluar dari ruang baca itu.
Hati Ferdian kini mulai tenang. Gelisahnya hilang. Gadis tersayangnya sudah ia temukan, walaupun kesal dan gemasnya masih menggenang di wajahnya yang tampan menawan.
Please Like, vote, kritik Dan saran yang membangun silahkan di kolom Komentar yah.
Terima kasih.
__ADS_1