ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 12


__ADS_3

Suara dentingan dari kamar lift terdengar dan tak lama pintunya terbuka lebar. Tampak sosok Reynard keluar dari sana karena tujuannya sudah sampai di lantai dua puluh.


Lalu pria itu melangkah ringan mendekati meja receptionis yang terletak tak seberapa jauh dari pintu lift itu.


Kedua wanita bermake-up tebal, penghuni meja resepsionis seketika serentak berdiri menyambut pria menawan itu. Senyum manis pun kompak merekah dari bibir keduanya. Entah memang prosedur kerja atau memang tebar pesona.


“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa Intan, resepsionis berkacamata.


“Siang, saya mau ketemu Pak Ferdian,” jawab Reynard kemudian.


“Apa sudah ada janji sebelumnya, Pak?”


Reynard sejenak menghela nafas malas. “Tolong bilang aja sama boss kamu itu, Reynard yang cari,” jawab Reynard sedikit jengkel meladeni kedua receptionis yang sok formil itu. Walaupun memang seperti itu prosedur yang harus mereka jalani ketika ada tamu yang ingin bertemu dengan pimpinan.


'Sejak kapan aku harus bikin janji dulu untuk ketemu sahabatku sendiri.' pikirnya kesal.


“Tapi, Pak....” sergah reseptionis yang bernama Dewi.


“Halo, Reynard.... “ Tiba-tiba suara seorang wanita memanggilnya dari belakang. Reynard pun menoleh.


Vika, sekertaris Ferdian yang sudah cukup lama dikenalnya tersenyum lebar menyambutnya.


“Vika, apa kabar? Makin cantik aja.” Reynard menghambur merangkul bahu Vika tanpa sungkan lalu menyosor kedua pipi Vika, cipika cipiki ramah pada wanita berpenampilan modis itu.


Vika pun membalas perlakuan Reynard dengan sama akrabnya.


“Kabarku baik, Rey. Tumben ke sini?” tanya Vika.


“Iya mau ketemu Bossmu. Ada?”


Vika mengangguk yakin. “Ada kok, baru selesai meeting. Langsung aja ke ruangannya, Rey. Apa mau aku antar?” Vika menawarkan diri dengan sopan.


“Gak usah, jangan repot-repot, aku bisa sendiri,” balas Reynard langsung.


“Oke lah kalo begitu. Silahkan, Rey.”


“Thanx ya, Vik. Oiya. Salam untuk suami dan anak-anakmu.”


Vika hanya mengangguk seraya tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya pada Reynard.


Tiba di depan sebuah ruangan, Reynard langsung saja membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. Lalu melangkah ringan masuk ke dalamnya.


Ruangan kerja itu cukup luas dengan dinding berwarna aquamarine yang terkesan hangat. Ditengahnya terdapat satu set sofa kulit berwarna putih dan di hadapannya terdapat meja kaca persegi.


Dua hiasan dinding berupa karya lukisan abstrak bertengger di dua sisi yang saling bersebrangan.


Satu kata untuk suasana ruangan itu. Cozy. Hangat seperti si empunya. Ferdian Adiwijaya.


“Selamat siang, Bossque,“ panggil Reynard ringan dan santai.


Ferdian yang tengah serius berkutat pada layar laptopnya mendongak dan menoleh sebentar pada asal suara. Seolah hanya angin lalu saja, Ferdian melanjutkan kembali kegiatannya.


Tanpa disuruh, Reynard menghenyakan diri pada kursi kulit di hadapan Ferdian.

__ADS_1


“Sibuk, Bro?” tanyanya lagi karena melihat Ferdian begitu khusuk menatap layar laptopnya.


“Gak terlalu, cuma lagi ngecek laporan keuangan aja,” jawab Ferdian sekedarnya lalu menutup layar laptopnya dan merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.


Gerakan Ferdian terhenti saat tangan Reynard terjulur bersama sebuah amplop coklat besar ke hadapannya.


“Apa ini?” tanya Ferdian setelah menerimanya dan membuka tali pengancing amplop itu.


“Itu semua laporan dari informan kita. Tentang Lusi, gadis yang tinggal di rumah kamu itu.”


Ferdian langsung mengeluarkan berkas-berkas dari dalam amplop coklat itu lalu membacanya satu per satu.


“Ternyata Lusi adalah anak dari seorang pengusaha ekspedisi, Bro. Dia sudah yatim piatu, ayahnya baru saja meninggal beberapa minggu lalu dan terpaksa dia tinggal dengan ibu dan adik tirinya.


Dan semua cerita Lusi ternyata benar, bahwa dia 'di jual' oleh ibu tirinya pada Bramanto dengan nilai yang sangat mahal. Orang kita dapat info itu dari salah satu rekan ibu tirinya Lusi yang menjadi makelar antara Bramanto dan Ibu Merry, ibu tirinya. Dan disitu juga terlampir foto-foto Ibu Merry yang diambil dari jarak jauh." Reynard memaparkan dengan raut serius.


Ferdian mengamati dalam-dalam foto-foto bergambar Ibu Merry, ibu tiri Lusi, yang diambil dari beberapa sudut berbeda. Sesekali dia tampak menggeleng dan menghela nafas berat.


“Dan informan kita bilang, banyak yang mencari keberadaan Lusi. Termasuk Ibu yang punya kios bunga tempat Lusi bekerja. Dia khawatir sekali sampai-sampai bikin pengumuman orang hilang di media sosial.” Lanjut Reynard lagi.


Ferdian manggut-manggut paham mendengar informasi dari sahabatnya itu.


“Ini informasi yang sangat bagus, Bro,” seru Ferdian kemudian.


“Diketahui, almarhum ayah Lusi punya hutang yang lumayan besar di beberapa bank. Dan almarhum menjaminkan semua aset-asetnya termasuk rumah. Bisa jadi ibu tirinya Lusi itu menjual Lusi pada Bramanto untuk melunasi hutang mereka di bank dan berniat menguasai aset-aset almarhum ayah Lusi yang seharusnya menjadi hak Lusi sebagai anak kandung.“


“Betul sekali, aku yakin begitu. Benar-benar keterlaluan jahat ibu tirinya itu. Tega sekali,“ balas Ferdian seraya menggeleng-geleng kepala, kemudian menatap wajah sahabatnya dengan raut serius.


“Eeehmm, Bro.... Aku ada usul sebenarnya, dan aku rasa yang terbaik untuk saat ini.” Nada suara Reynard mulai terdengar lebih serius lagi.


“Apa itu?” tanya Ferdian makin penasaran, karena biasanya Reynard to the point bicara padanya jika ada sesuatu yang dirasa penting.


Sejenak Reynard menatap dalam-dalam wajah Ferdian sebelum mengungkapkan apa yang menjadi usulannya.


“Bagaimana kalo kau nikahi Gadis itu. Lusi.” 


Sontak, kalimat Reynard membuat Ferdian terbelalak dan ternganga mendengarnya. Dia mencari mimik canda pada raut wajah sahabatnya itu. Tapi sepertinya dia gagal menemukannya.


Wajah tampan Reynard tetap dengan ekspresi serius dan sama sekali tak menampakkan tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda.


“Ah, sudah gila kau. Mana mungkin aku nikahi dia, belum ada dua minggu aku kenal dia, Rey," protes Ferdian spontan. Dia merasa usulan Reynard itu sangat tidak masuk akal dan terlalu mengada-ada.


“Begini, Bro. Kau dan gadis itu berhadapan dengan musuh yang sama. Bramanto. Kau tau, kan siapa Bramanto? Orang licik dan sadis yang punya kekuasaan dan harta yang banyak untuk menghancurkan lawannya. Untuk menghadapi orang seperti itu kita juga harus punya cara yang sama liciknya, Bro. Kita harus serang dia dari berbagai arah. Termasuk memanfaatkan kasus Lusi.”


Ferdian memperhatikan lebih dalam lagi raut wajah Reynard. Dan berusaha mencerna kalimat per kalimat yang Reynard tuturkan.


“Ya, tapi kenapa harus menikahi dia, Rey? Apa gak ada jalan lain?” protes Ferdian lagi di sertai decakan sebal karena tak habis pikir dengan apa yang diusulkan sahabatnya itu.


“Aku udah nyangka kau pasti akan bereaksi seperti ini. Kau ingat kata pepatah, sekali tepuk dua lalat mati, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Dengan kau menikahi Lusi, kau bisa memanfaatkan kasusnya untuk melawan Bramanto dan kau juga punya kuasa yang sah secara hukum untuk bertindak melindungi gadis itu.


Dan sebagai imbalan untuk Lusi kau bantu dia untuk mengambil kembali perusahaan dan aset-aset almarhum ayahnya yang sekarang dikuasai ibu tirinya itu. Bagaimana?“ Reynard menjelaskannya dengan sangat gamblang dan terang, juga hati-hati.


Karena Reynard mendapati Ferdian yang seketika tampak gugup dilingkupi kebingungan yang penuh arti.

__ADS_1


Terbukti jarinya memutar-mutar pena di hadapannya dengan bola mata bergerak-gerak menatap lurus ke arah Reynard, tanda dia sedang berpikir keras atas apa yang dia dengar dari lisan sahabatnya.


Sejujurnya, ada rasa ragu menggerayangi pikirannya. Dia sama sekali tak menyangka solusi yang ditawarkan Reynard lumayan menyita kerja otaknya.


Dan Reynard pun paham ada kebimbangan yang sangat dalam di diri Ferdian saat ini. Terlebih jika bicara pernikahan dihadapan sahabatnya ini. Dia tahu 'Pernikahan' adalah satu kata yang sangat sensitif di telinga Ferdian


“Tenang, Bro. Jangan stress gitu dong.” Reynard menepuk lengan Ferdian untuk mencairkan suasana batin Ferdian.


“Pernikahan ini pakai perjanjian pra nikah. Aku akan atur apa saja isi perjanjiannya. Kita targetkan saja masalah kalian selesai dalam lima atau enam bulan. Tujuan kita: dendammu terbalas, Lusi aman dan semua aset almarhum ayah Lusi kembali lagi padanya. Setelah semua urusan itu selesai, kalian mau pisah baik-baik ya silahkan.”


Ferdian makin tenggelam dengan dilemanya. Disatu sisi dia mengakui ide Reynard itu memang tepat, namun disisi lain jalan untuk mewujudkannya itu terlalu berlebihan dengan menikahi gadis yang belum lama dikenalnya itu.


Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sama sekali seraya menghela nafasnya yang tiba-tiba tercekat.


“Menikah? Dengan gadis itu? Bahkan dia seumuran Cantika, adikku. My God, bagaimana mungkin aku melakukannya. Yaaa walaupun aku akui dia anak yang baik dan menggemaskan sih,” suara bathin Ferdian mengusik keraguannya.


Terlebih lagi selama dua tahun ini Ferdian sangat anti bicara tentang pernikahan. Bahkan dia merasa tak punya keberanian lagi untuk merajut hubungan pernikahan dengan seorang wanita. Karena dirinya masih menyimpan trauma dan hatinya masih terluka.


Dua tahun yang lalu, di sebuah kamar hotel dia memergoki Amanda, calon istrinya tengah bergumul panas di atas sebuah ranjang dengan seorang laki-laki.


Padahal, keesokan harinya adalah hari dimana dia akan mengucapkan ijab kabul di depan penghulu untuk mengikat Amanda dalam sebuah pernikahan.


Sejak saat itu hatinya hancur, kepercayaannya terhadap wanita pun luntur dan dia berusaha melupakan semua hal yang berhubungan dengan pernikahan.


Walaupun Amanda berkali-kali memohon maaf padanya dengan berbagai cara, tapi tetap saja tak mampu menyembuhkan luka hati yang sangat perih dia rasakan.


Reynard menepuk lengan Ferdian yang masih termangu menatap ujung meja. Dia tahu pikiran sahabatnya itu sedang galau tak menentu.


Di satu sisi dia ingin melindungi Lusi dari musuh yang sama dengannya yaitu Bramanto. Di sisi yang lain dia sama sekali tak punya hak dan kuasa apapun untuk berbuat jauh demi memberikan keamanan pada gadis itu.


“Aku cabut dulu, Bro. Kau coba pertimbangkan lagi saran aku tadi. Ini demi kebaikan kau juga. Karena sejak kau membawa gadis itu ke rumahmu, sejak itu pula kau terlibat di dalam urusannya. Terlebih lagi musuh yang kita hadapi ini bukan sembarangan, Bro. Manusia kejam bernama Bramanto itu sanggup melakukan apa saja, termasuk menghilangkan nyawa orang,” tutur Reynard seraya bangkit dari duduknya dan bersiap melangkahkan kaki keluar ruangan.


Ferdian pun ikut beranjak dari duduknya. “Rey, thanx atas infonya. Dan usulan kamu tadi akan aku pertimbangkan. Keep contact, oke, Bro?“ ucap Ferdian dengan nada suara datar namun melemah.


“Oke," sahut Reynard mengacungkan jempolnya pada Ferdian. Kemudian melangkah keluar dari ruangan kerja sahabatnya itu.


Ferdian menghela nafasnya berat. Benaknya pun kembali berpikir keras mencerna usulan Reynard tadi.


Terbayang wajah manis Lusi di dalam pikirannya. Seketika terbit rasa iba pada gadis itu.


Sudah yatim piatu, haknya dirampas oleh ibu tirinya dan kini keselamatan jiwanya pun terancam. Lengkap sudah penderitaannya.


Ferdian mengingat kembali peristiwa malam itu, dimana Lusi dengan wajah ketakutan menggedor-gedor pintu mobilnya memohon diselamatkan dari kejaran para pengawal Bramanto.


Betapa kepanikan hebat tergambar jelas di wajah gadis lugu itu. Luka-luka di sekujur tubuh dan wajahnya membuat hati Ferdian teriris pilu membayangkan rasa sakitnya.


Benar kata Reynard, sejak malam itu mau tak mau dirinya ikut terlibat dengan masalah yang kini dihadapi Lusi.


MINTA JEMPOLNYA DOONGG SAAYYY...


LIKE, VOTE, 5 BINTANG, KRITIK DAN SARAN NYA DI KOLOM KOMENTAR YAH.


HAPPY READING.

__ADS_1


__ADS_2