
Dio menghampiri Lusi yang tengah berkutat dengan bukunya di meja kantin sendirian. Di depannya terdapat sekotak susu coklat dan penganan manis. Dio tersenyum kecil, kebiasaan Lusi dengan susu coklatnya sejak dia mengenalnya di bangku SMA hingga sekarang.
“Hai Lusi.” Sapa Dio. Yang disapa hanya mengangguk sambil tersenyum.
Tanpa meminta ijin Dio langsung menduduki kursi di seberang Lusi. Dipandangi gadis manis di hadapannya itu lekat-lekat.
“Lusi, boleh aku tanya sesuatu?”
Lusi mendongak lalu mengangguk.
“Siapa laki-laki yang setiap hari antar jemput kamu ke kampus ini?”
Lusi tak langsung menjawab. Diam sejenak mencari kata-kata yang tepat. Bagaimananpun dia harus jujur pada Dio, sahabatnya yang sangat baik dan penuh perhatian padanya. Mungkin ini saatnya.
“Hmm, Dio. Dia itu lah suami aku,” Jawab Lusi akhirnya.
Dio memundurkan punggungnya pada sandaran kursi. Menarik nafas nya berat dan menghelanya juga tersendat-sendat. Ada perasaan nyeri menusuk di hati nya. Tapi dia ingat apa yang dikatakan Priska tempo hari bahwa pria yang dinikahi Lusi sudah tua dan banyak istrinya.
“Priska pernah bilang sama aku bahwa suami kamu sudah tua dan kamu adalah istri ke sekian,” beritahu Dio seraya mengerutkan keningnya penasaran.
Kali ini Lusi yang memundurkan punggungnya. Ada perasaan lega dalam hatinya mengetahui bahwa Priska dan ibu tirinya sama sekali tidak mengetahui keadaannya sekarang.
“Aku akan cerita semua sama kamu, Dio. Tolong dengar baik-baik ya supaya kamu tidak salah paham.“
Dio mengangguk semangat. Karena itulah yang selama ini dia tunggu-tunggu. Pengakuan jujur langsung dari mulut Lusi.
Lusi mulai menceritakan semua peristiwa yang menimpanya dengan detil. Semuanya tak ada yang dia tutup-tutupi. Tampak raut wajah Dio yang mengeras dan menegang menahan amarah.
Dio tak menyangka malang benar nasib sahabat yang dia cintai itu. Sesekali Lusi menghapus buliran air mata yang hampir menetes di pipinya. Dio memperhatikan itu. Dalam hati nya, ingin sekali dirinyalah seseorang yang menghapus air mata Lusi dan menyudahi penderitaannya selama ini.
“Jadi kalian hanya menikah sementara? Dengan perjanjian, begitu?” Tanya Dio serius.
__ADS_1
Lusi mengangguk pelan.
“Ya, ternyata kami berdua punya musuh yang sama, Dio. Dan dia harus punya legalitas yang sah secara hukum untuk melindungi aku. Bagaimanapun juga dia sudah terlibat ketika dia menyelamatkan aku dengan membawa ke rumahnya. Tapi Begitu urusan ku selesai dan urusannya juga selesai kami berpisah secara baik-baik. Begitu perjanjiannya.”
Dio kembali menghela nafasnya berat. Dia menggeleng-geleng kepalanya. Dia tak menyangka ternyata persoalan yang tengah di hadapi Lusi sangat berat. Menyangkut keselamatan jiwanya. Yang Dio sesalkan ketika Lusi menghadapi penderitaan itu dia tak ada di sampingnya karena sedang menimba ilmu di negeri orang. Dan kini Lusi sudah punya seseorang yang menjaganya. Tapi bukan dia.
“Lusi, boleh tau perasaan kamu terhadap suami kamu bagaimana? Apa kamu cinta sama dia?” Dio bertanya lirih.
Lusi menatap wajah Dio. Bingung untuk menjawabnya. Apakah dia mencintai Ferdian, suaminya? Yang pasti apa yang dia rasakan sekarang perasaan bersyukur dan terima kasih yang tak terhingga pada Ferdian yang sangat baik dan rela melindungi dirinya sampai saat ini.
“Entahlah, Dio. Yang pasti untuk saat ini aku memang sangat berharap padanya. Terlebih lagi suamiku akan membantu aku untuk mengambil kembali semua aset peninggalan Almarhum ayah yang di kuasai oleh ibu tiriku. Termasuk perusahaan ekspedisi yang dibangun susah payah oleh kedua orangtua ku dulu.”
“Berat betul penderitaan kamu, Lusi. Aku jadi merasa bersalah." ucap Dio seraya menunduk sedih.
“Kenapa?“
“Karena aku tidak ada disisi kamu untuk menjaga kamu disaat kamu butuh perlindungan," ucap Dio penuh penyesalan.
“Tak apa-apa, Dio. Melihat kamu sekarang sehat dan makin dewasa aku udah bahagia sekali. Aku pikir kita gak akan pernah ketemu lagi karena kamu akan tinggal di Amerika, mungkin juga menikah dengan orang sana,” ucap Lusi disertai tawa ringannya. Dio pun ikut tersenyum.
Tak mungkinlah aku menikah sama orang bule, Lusi. Mereka bukan selera aku. Aku pengennya sama kamu, ucap bathin Dio.
“Aku gak betah di sana, Lusi. Lagipula aku juga berencana akan urus perusahaan property papa disini. Kasihan papa ku kena stroke. Perusahaannya sekarang cuma dijalankan oleh manajer-manajernya saja."
“Hah? Papa kamu stroke? Sejak kapan?“
“Iya, Lusi. Sejak 5 bulan lalu. Karena itu juga salah satu alasan ku kembali ke tanah air.”
“Aku ikut prihatin ya, Dio. Semoga papa kamu cepat sembuh.“
Dio mengangguk sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
“Tapi boleh aku minta tolong sesuatu sama kamu, Dio?”
“Apa itu, Lusi?"
“Tolong rahasia kan apa yang aku ceritakan tadi ya. Jangan cerita sama siapapun. Aku takut sampai ke telinga Ibu tiriku atau Priska.” Pinta Lusi.
“Tenang saja, Lusi. Aku akan simpan rahasia ini baik-baik demi keselamatan kamu.”
Dio menyentuh punggung tangan Lusi, dan membelainya lembut. Dio sangat paham perasaan ketakutan Lusi. Apalagi dia tahu sendiri bagaimana jahatnya sikap ibu tirinya dan adik tirinya itu pada Lusi. Dia membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi jika kedua orang yang kejam itu mengetahui keberadaan dan keadaan Lusi sekarang.
“Haiiiii....” Tiba-tiba muncul Nikita dan Ashanti dari belakang Lusi. Senyum mereka merekah. Terlebih Nikita yang berbinar-binar menatap wajah dio yang fresh dengan alis tebal nya.
Dio dan Lusi salah tingkah dibuat mereka. Terlebih lagi mereka sempat melihat tangan Dio yang memegang tangan Lusi.
“Hai, Dio. Apa kabar? Makin ganteng aja.” Sapa Nikita genit.
Dio hanya tersenyum dikulum mendengar pujian Nikita.
“Hei Lusi, kamu kenapa gak masuk kelas?” tanya Ashanti kemudian
“Kan gak ada dosen, Shan. Jadi mending aku di sini aja. Daripada denger ocehan Reno terus yang selalu nguntit aku,” jawab Lusi di sambut tawa Ashanti dan Nikita.
“Reno naksir kamu kali, Lus. Makanya dia pepet kamu mulu hehehe...” Ucap Nikita menggoda Lusi.
Lusi mengangkat kedua bahunya. Bibirnya manyun menanggapi ucapan Nikita.
Dio tersenyum melirik Lusi. Gadis itu memang tak berubah. Mudah membuat orang suka padanya. Pribadi nya yang baik dan dan tutur katanya yang lemah lembut selaras sekali dengan wajahnya yang membuat orang tak bosan memandangnya. Itulah kenapa Dio tak pernah berhenti mencintainya sampai detik ini, walaupun Lusi hanya bisa menerimanya sebagai seorang sahabat.
Papa dan mamanya pun sangat menyukai Lusi. Beberapa kali papa mamanya berniat ingin mengadopsi Lusi karena pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana penderitaan fisik yang di alaminya semenjak ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya. Namun Lusi selalu menolak karena tak mau berpisah dari ayahnya yang sudah sakit-sakitan. Bagi Lusi sakit fisik dan tekanan bathin karena perlakuan ibu tiri dan adik tirinya tak begitu dia gubris yang penting bisa menemani dan mengurus ayahnya sampai akhir hayat.
***BANTU LIKE, VOTE AND COMMENTS YA READER YANG BAIK. AUTHOR JADI TAMBAH SEMANGAT NIH**
__ADS_1