ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 73


__ADS_3

Dengan senyum yang enggan menyingkir, Ferdian membukakan pintu sisi kiri mobil untuk Lusi. Gadis itu pun menempatkan diri setelah membalas senyuman hangat itu.


Setelah memastikan Lusi nyaman Di kursinya, ia pun memutar muka mobil untuk kemudian menempatkan diri di belakang kemudi.


Untuk ke sekian kali, bahkan tak terhitung lagi, ia menatap wajah jelita sang istri di sebelah kiri. Lalu meraih jemari itu dan mengecupnya lembut.


Diperlakukan seromantis itu, membuat Lusi serasa tak berpijak lagi di bumi, seakan dirinya kini melayang tinggi.


“Pengin cepet-cepet pulang. Sudah gak sabar,” ujar Ferdian dengan lirikan menggoda.


“Gak sabar kenapa, Mas?” Lusi tak mengerti.


“Bikin dedek....” jawab Ferdian dengan ekspresi menggemaskan.


Tawa Lusi pun berderai, walau dengan rona wajah tersipu malu.


Begitu pun Ferdian yang terkekeh ringan. Dan tampak begitu antusias ingin segera pulang.


Satu hasrat di hatinya kini, secepatnya sampai di rumah dan membopong tubuh Lusi ke kamarnya. Dan ingin menghabiskan malam ini dengan memanjakan gadis itu di atas ranjang. Sesuatu yang sudah sangat lama ia nanti-nantikan.


Mobil mewah itu pun keluar dari pelataran parkir restorant mewah Itu, lalu meluncur anggun setelah membaur di jalan raya.


Ferdian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat malam kian larut. Jalanan pun tampak lengang dan sepi. Sudah pukul 00.15 saat ia melirik jam digital di dashboard mobil.


Lusi menyandarkan punggungnya ke belakang saat penat di sekujur tubuh terasa mulai menganggu. Sesekali ia melirik ke arah Ferdian yang tampak berkonsentrasi dengan kemudi.


Tiba-tiba ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu, dimana Ferdian menolongnya dari kejaran tiga pengawal Bramanto. Itu adalah saat yang sangat mengerikan bagi Lusi, yang sampai detik ini pun tak sanggup ia lupakan.


“Kamu ngantuk?” tanya Ferdian melirik Lusi yang hanya diam memaku pandangan ke depan.


Gadis Itu mendesah sejenak, mencoba mengusir kenangan kelam dari ingatan.


"Gak, Mas. Aku jadi ingat saat dulu pertama kali kita ketemu. Mas menolong aku dari kejaran orang-orang jahat itu, persis di jam-jam seperti sekarang ini.”


Ferdian menoleh sesaat, lalu menghadap lagi ke arah depan. “Jangan diingat lagi, Sayang. Nanti kamu bisa trauma.” Kemudian meraih jemari Lusi dan meremasnya lembut.


“Terima kasih, Mas. Kalo gak ada Mas saat itu, entah apa jadinya aku sekarang ini.” Suara Lusi terdengar lirih.


“Ya, mungkin saat itu aku memang digerakkan Tuhan untuk lewat jalan itu dan bertemu dengan kamu. Padahal sebelum-sebelumnya aku sama sekali gak pernah lewat situ.”


Lusi mengangguk. 'Ya Benar, Mas. Tuhan masih melindungi aku lewat tanganmu.' bathin Lusi.


“Udah ya, jangan diinget lagi. Yang penting sekarang kamu aman bersama aku. Dan akan jadi ibu dari anak-anakku nanti," ucap Ferdian dengan kalimat yang begitu menenangkan.


Lusi menoleh lagi dengan kedua alis bertautan. “Kamu mau kita segera punya anak, Mas?”


“Ya iyalah, pengen banget,“ jawab Ferdian mantap.


Mendengar jawaban penuh percaya diri Itu, Lusi pun menyunggingkan senyum manis dan membiarkan jemarinya berada dalam genggaman pria di sampingnya.


Ferdian memperhatikan dari kaca spion di bagian atas dan di samping kanan dengan rasa heran dan penasaran saat sebuah mobil di belakang menyorotkan lampu jauh langsung ke arahnya.

__ADS_1


Sorot lampu itu sangat menyilaukan dan menggangu konsentrasinya mengemudi.


Ditengoknya lagi mobil di belakangnya itu yang kembali menyorotkan lampu jauh tepat ke arahnya.


Ferdian mengarahkan mobilnya ke jalur kiri, membuka jalan untuk mobil itu supaya melewatinya.


Tapi ternyata tidak juga. Mobil itu justru mengikutinya mengambil jalur kiri. Masih dengan lampu jauh yang menyorot ke arahnya.


“Ada apa, Mas?” Lusi ikut menoleh ke belakang. Tampak mobil itu terus mengedimkan lampu jauh dan melaju dengan kecepatan yang sama.


“Gak tau nih, mau apa itu mobil,” jawab Ferdian setengah kesal.


Ia terus memacu mobilnya dengan menambah kecepatan untuk menjauh dari mobil di belakang. Namun mobil itu ikut juga memacu kecepatan untuk menyusul mobil Ferdian.


Sekali lagi mobil di belakangnya itu mengedim berkali-kali. Membuat konsentrasi Ferdian Benar-benar terganggu.


Ia kini mulai merasakan ada sesuatu yang tak beres dari pengendara mobil dibelakangnya itu.


Ia menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam untuk terus menghindar. Tapi mobil di belakangnya juga ikut menyeimbangi kecepatan. Posisi mobil itu kini nyaris merapat ekor mobil Ferdian.


“Mas ...?” Kecemasan semakin tampak di wajah Lusi, ketika ia melihat gelagat kurang baik dari mobil di belakang mereka yang terus mengikuti.


Dengan rasa gusar dan penasaran, Ferdian menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam lagi. Mobil di belakang pun ikut menyamakan kecepatan. Dan kini sudah menyejajari mobilnya.


Ferdian menengok ke arah kanan. Sebuah mobil Suv hitam dengan dua orang laki-laki mengenakan topi dan jaket hitam di dalamnya juga menengok ke arahnya.


Ia pacu lagi mobilnya dengan menambah kecepatan untuk menghindari mobil suv hitam tersebut yang terus berusaha menempel mobilnya dari arah samping kanan.


Tiba di jalanan yang agak menyempit dan menikung tajam. Ferdian sedikit kehilangan kendali. Moment itu dimanfaatkan oleh mobil SUV hitam itu untuk menyodok mobil Ferdian dari belakang.


Ferdian semakin tersudut. Mobil itu terus mendorong kencang mobilnya. Sepertinya Ia tak punya celah untuk dapat menghindar lagi.


Mobil Suv hitam itu mundur beberapa meter, lalu memacu lagi kecepatannya hingga menabrak mobil Ferdian dengan hantaman yang sangat keras. 


Ferdian benar-benar kehilangan kendali kemudi. Mobilnya dengan cepat mengarah pada sebuah danau yang berada di sisi kiri jalan.


Tubuh Ferdian dan Lusi yang berada di dalam mobil itu pun terguncang hebat dan kepala mereka beberapa kali menghantam langit- langit mobil.


Mobil Mercedes-Benz hitam itu pun meluncur kencang merasuk ke dalam danau. Tak terelakkan lagi, kepala Ferdian menghantam keras kemudi, lalu seketika itu juga ia tak sadarkan diri.


“Maaaaasss!!! teriak Lusi menarik tangan Ferdian. Namun terhalang oleh seat belt yang masih mengikat tubuhnya.


Di dalam air yang sudah memenuhi ruang dalam mobil, Lusi yang masih dalam keadaan sadar berusaha keras meloloskan diri dari seatbelt yang mengikat tubuhnya.


Dan berhasil!


Dengan nafas yang tersisa dia memberi oksigennya untuk Ferdian yang sudah terpejam dengan gelembung udara yang keluar dari mulutnya.


Lusi terus berusaha menarik tubuh Ferdian dengan sisa energinya. Sekuat tenaga ia menarik seatbelt yang melingkar di tubuh suaminya itu. Walau begitu susahnya, namun akhirnya ia berhasil juga.


Dalam kepanikan ia harus berpikir cepat agar dirinya dan Ferdian bisa segera keluar dari dalam mobil yang sudah tergenang air.

__ADS_1


Ditendangnya kuat-kuat kaca mobil bagian depan yang sudah retak di seluruh permukaannya. Namun tak berhasil.


Tak menyerah, ia terus mencoba lagi dengan menendang kaca pintu di sebelahnya dengan sekuat tenaga.


Yes, berhasil!


Kaca pintu itu pun lepas dan menjadi celah untuk mengeluarkan dirinya dan tubuh Ferdian.


Dengan melawan kuatnya tekanan air di dasar danau itu, Lusi menarik tubuh Ferdian keluar melalui jendela yang berhasil ia buka.


Dengan susah payah akhirnya Lusi berhasil mengeluarkan tubuhnya dan juga tubuh Ferdian dari dalam mobil. Lalu mengait lengan Ferdian dengan lengannya menuju permukaan danau yang sangat gelap.


Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu memberikannya pada Ferdian melalui mulut.


Dengan sekuat tenaga Lusi berenang menuju daratan pinggir danau bersama tubuh Ferdian yang dia rangkul dengan susah payah.


Akhirnya berhasil.


Hati-hati Lusi membaringkan tubuh Ferdian di dataran tanah yang berumput. Lalu memberi nafas buatan untuknya.


Beberapa kali ia menepuk-nepuk pipi Ferdian namun pria itu tetap tak sadarkan diri. Darah segar mengalir di bagian samping kepalanya, membuat Lusi begitu panik dan ketakutan.


Dengan tubuh lunglai dan lemah Lusi berdiri dan mencoba mencari bantuan Di jalanan.


“Toloooong!!!” teriaknya dengan suara yang lemah. Ia menengok kiri dan kanan sekitarnya, namun tak ada juga orang yang lewat di sana.


“Tolooong!!!" teriaknya sekali lagi. Kini air matanya sudah berderai deras.


Dia menuju jalanan beraspal di depan danau berharap menemukan orang yang lewat.


Tiba-tiba tampak olehnya sorotan lampu mobil yang mendekat ke arahnya.


Secepatnya dia menghadang mobil itu dan bergegas menghampirinya saat mobil itu berhenti tepat di depannya.


Seorang laki-laki setengah baya bersama wanita berusia sama tampak bingung dan keheranan mendapati Lusi yang kuyup mengetuk-ngetuk kaca mobil mereka.


“Pak, tolong pak. Suami saya di danau. Kami kecelakaan,” mohon Lusi panik.


“Ooohh, dimana?” Walaupun tampak ragu, tapi laki-laki itu bergegas turun dari mobil dan mengikuti langkah Lusi menuju tempat Lusi membaringkan tubuh Ferdian.


“Ya Tuhan.... Ayo cepat, kita bawa ke rumah sakit,” ajak laki-laki itu panik melihat Ferdian yang sudah berlumuran darah di bagian kepala.


Laki-laki berkacamata itu membantu Lusi memapah tubuh Ferdian lekas menuju ke mobilnya.


Lusi membaringkan kepala Ferdian di pangkuannya dengan perlahan dan hati-hati. Air matanya sudah menetes dan semakin deras berderai.


Tak mungkin ia pungkiri, ia sangat takut kehilangan Ferdian saat ini.


Laki-laki di balik kemudi itu pun sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kenyamanan Lusi yang tengah memangku kepala Ferdian.


Kemudian dengan cepat dia memacu mobilnya menuju rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan nyawa pria yang terkulai tanpa daya di kursi belakang.

__ADS_1


__ADS_2