ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
SIDE STORY/ EXTRA PART 1


__ADS_3

Dalam dan penuh cinta, Ferdian mengecup kening Lusi yang tertidur pulas di dadanya. Jemarinya merambah berputar-putar di punggung mulus Lusi, membuat istrinya itu menggeliat merasakan geli, walaupun kelopak matanya masih dalam keadaan terpejam.


Sekilas dia tersenyum, mengulang aksi nakal jemarinya di punggung Lusi. Kali ini lebih lama dan merambah lebih ke bawah menyentuh bokong Lusi yang menggembul padat.


Lusi terbangun dan membuka kelopak matanya dengan malas.


“Mas, geli, ah! Aku ngantuk banget, nih!” Sejenak kepalanya mendongak pada Ferdian lalu kembali diletakkan ke dada bidang suaminya.


“Cape ya, layanin aku semalam?” tanya Ferdian lembut, mengecup ujung hidung Lusi yang dekat di bibirnya. Lusi hanya mengangguk tanpa membuka kelopak mata.


Ferdian kembali tersenyum mengingat bagaimana Lusi melayani dirinya tadi malam dengan begitu bergairah mempraktekan berbagai gaya bercinta.


Baru satu bulan sejak benteng daranya di runtuhkan Ferdian, permainan Lusi sudah semakin lihai untuk melayani kebutuhan hasrat suaminya.


'Good wife, belajar dengan cepat. Semoga aja bisa segera hamil.' harap Ferdian dalam hati.


Tok...Tok...Tok...!


Pintu kamarnya di ketuk dari luar.


Perlahan Ferdian memindahkan kepala Lusi pada bantal dan menyelimuti tubuh polosnya hingga sebatas leher. Kemudian mengenakan celana tidurnya lalu menuju pintu.


“Ada apa, Mbak?” tanya Ferdian ketika pintu terbuka. Mbak Ira yang tersenyum lebar mengintip-ngintip ke dalam kamar. Dengan badan tegapnya, Ferdian menghalangi pandangan Mbak Ira.


“Para penata rias sudah datang, Boss. Mereka lagi nunggu di bawah.”


“Hah? Masih pagi begini mereka sudah datang?” Suara Ferdian dipelankan, takut membangunkan Lusi yang masih terlelap.


“Sekarang sudah jam sepuluh, acaranya kan jam satu. Nanti Boss sama Non Lusi telat,“ beritahu Mbak Ira sambil nyengir kuda.


Dia sangat paham bossnya bersama istrinya itu kelelahan karena bekerja keras tiap malam ‘banting-membanting’ sampai lupa waktu.


“Ya sudah, suruh tunggu dulu."


“Baik, Boss.”


Ferdian menutup kembali pintu kamarnya dengan malas. Lalu menuju ke ranjangnya kembali.


“Sayang, bangun yuk," panggil Ferdian di telinga Lusi sambil menyibak selimut dari tubuh Lusi dan menggosok-gosokkan punggung Lusi dengan ujung jemarinya.


“Jangan sekarang, Mas. Nanti aja mainnya. Aku ngantuk,” gumam Lusi membuat Ferdian tersenyum geli.


“Aku belum minta main sekarang. Aku nyuruh kamu bangun. Penata rias kamu sudah datang.”


“Aaa? Penata rias?” Lusi keheranan.


“Kamu gak inget hari ini pesta pernikahan kita?”


“Aaaak? Oiya. Ya ampun, maaf aku lupa, Mas.” Spontan Lusi membalikkan badan menghadap Ferdian yang duduk di samping tubuhnya yang polos.


Dengan gerakan cepat dia menarik selimut, menutupi bagian dada untuk menghindari tatapan nakal suaminya.


“Mandi berdua, yuk.” Ferdian menarik tangan Lusi yang tampak masih malas beranjak dari rebahan. Lusi cuma tersenyum menanggapi ajakan suaminya.


“Gak, ah! Nanti malah main di kamar mandi. Kasian tamuku sudah nunggu kelamaan,” tolak Lusi halus seraya mengelus-elus paha Ferdian di sampingnya.

__ADS_1


“Yaaaah, kasih aku satu ronde lagi boleh lah. Yuk.” Ferdian setengah memaksa menarik tangan Lusi.


“Jangan sekarang. Ntar malam aja, ya, Mas ganteng,” tolak Lusi seraya beranjak dari tidurnya dan mencari piyama. Lalu dengan cepat membungkus tubuhnya dan langsung menuju kamar mandi di bawah tatapan liar suaminya.


“Nanti malam akan aku hajar kamu tiga ronde. Rasain!" gumam Ferdian mengancam.


****


Aula pertemuan di lantai tiga gedung perkantoran milik Ferdian kini tampak sangat cantik.


Bernuansa serba putih, Aula itu disulap menjadi tempat berlangsungnya acara pesta pernikahan Ferdian dan Lusi.


Berbagai buket bunga cantik bertebaran di setiap sudut dan beberapa lagi di tengah ruangan.


Aneka makanan dan hidangan mewah yang dipesan dari sebuah hotel bintang lima, tampak berjajar rapi di beberapa sudut ruangan.


Ferdian sengaja mengadakan pesta kecil bertujuan hanya sebagai pengumuman untuk keluarga besar dan kerabatnya, untuk kolega-kolega bisnisnya, dan untuk para karyawannya bahwa dirinya sudah menikah.


Yang diundang pun tak terlalu banyak, hanya beberapa kolega pentingnya, karyawan-karyawannya di level manajamen, anak-anak dari beberapa panti asuhan dan beberapa wartawan dari media bisnis dan infotainment.


Waktu sudah hampir jam satu siang. Aula itu pun sudah dipadati oleh para tamu undangan yang menunggu kedatangan raja dan ratu sehari, Ferdian dan Lusi.


Para tamu membayangkan sepasang pengantin itu akan berjalan menyusuri karpet merah menuju panggung.


Ternyata tidak.


Ferdian dan Lusi justru masuk seperti tamu undangan yang lain, tanpa iring-iringan atau pendamping di kiri kanan mereka.


Hanya Reynard dan Dio yang berjalan di belakang mereka mengenakan setelan jas serba hitam.


Ferdian dengan mengenakan setelan jas putih tulang dengan dasi merah maroon tampak mesra menggandeng tangan Lusi yang mengenakan longdress cantik berbahan silk dan warnanya senada dengan setelan suaminya.


Rambutnya disanggul model twist dengan aksen mutiara di atasnya. Menampilkan lehernya yang putih jenjang sempurna.


Acara pesta itu pun berlangsung. Suasananya sangat meriah dan terkesan elegant.


Dentingan pianist dan suara merdu penyanyi solo yang melantunkan lagu –lagu romantis mengiringi para tamu undangan mencicipi aneka makanan yang terhidang.


Tampak Ferdian dan Lusi berjalan perlahan menyapa para tamu undangan. Ferdian memperkenalkan Lusi kepada semua kolega bisnisnya yang hadir dan juga kepada para karyawannya yang belum mengenal istrinya.


Ferdian tahu selama ini yang terdengar hanya desas-desus dan gosip hangat tentang dirinya yang menikah secara diam-diam dengan gadis yang jauh lebih muda darinya.


Reynard dan Dio pun ikut menikmati suasana pesta itu. Keduanya tampak semakin akrab sejak Ferdian merestui Dio untuk berhubungan dekat dengan adiknya.


Kemana Cantika?


Cantika kembali ke Australia untuk menyelesaikan kuliahnya yang tinggal beberapa semester lagi.


Tiba saatnya sesi foto-foto dan tanya jawab dengan para wartawan di sebuah ruangan yang sudah dipersiapkan khusus untuk itu.


Ferdian dan Lusi duduk berdampingan di tempat yang disediakan. Bersama Dio yang duduk di samping Ferdian dan Reynard di samping Lusi.


Semua kamera tersorot pada mereka. Wartawan tampak antusias melontarkan berbagai pertanyaan dan Ferdian menjawab lugas dengan bahasa yang akrab dan santun di dengar.


Sehingga wartawan pun tak sungkan untuk melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi padanya.

__ADS_1


Ferdian memang patut diperhitungkan di dalam lingkungan dunia usaha di negara ini. Sudah beberapa kali namanya tercatat sebagai pengusaha muda yang mendapat penghargaan dari lembaga-lembaga dunia usaha di Indonesia.


****


Di kota surabaya. Di dalam kamarnya yang sepi, Amanda menyaksikan acara infotainment yang menayangkan pernikahan seorang pengusaha muda, Ferdian Adiwijaya.


Tampak olehnya pria yang dulu dia idam-idamkan itu mempertontonkan kemesraannya dengan sang istri, Lusi, yang tampil sangat anggun dan cantik.


Dengan wajah pilu dia menatap layar televisi seraya mengusap-usap perutnya. Tanpa terasa air matanya bergulir dari sudut mata. Hatinya rasa teriris-iris menyaksikan Ferdian memandang mesra pada Lusi yang sedang diwawancarai seorang wartawan.


'Harusnya aku yang disana, milikimu dan bukan dia. Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia.' lirih bathin Amanda.


Kini di kota Surabaya ini, dia tinggal di rumah kakek dan neneknya. Seorang diri meratapi nasib buruknya yang hamil tanpa ada yang sudi bertanggung jawab.


Bersembunyi di kota ini untuk menutupi aibnya. Dan yang paling utama, untuk menghindari panggilan polisi yang tengah mencarinya karena kasus penyalahgunaan obat bius terhadap Ferdian.


****


Priska tampak sumringah menatap layar televisi. Sosok Lusi yang sangat anggun tengah diwawancarai seorang wartawan infotainment yang menyangka Lusi seorang artis. Namun dengan rendah hatinya Lusi menyatakan bukan, dan tak tertarik menjadi artis.


Menurutnya lebih menyenangkan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga saja. Membuat Ferdian yang berada di sampingnya tampak tersenyum mesra menatapnya.


“Bu, itu kakak tiri aku, Bu!” panggil Priska pada Bu Tantri yang sedang sibuk berlalu lalang memindahkan tanaman potnya dari taman belakang ke teras samping rumah.


Bu Tantri sejenak berhenti di depan layar televisi dan berdiri di samping Priska.


“Ya Tuhan! Anak itu?” Bu Tantri terperangah, skop kecil di tangannya sampai terjatuh ke lantai.


Walaupun sekarang wajah Lusi sedikit lebih dewasa dan juga semakin cantik, tapi wajah itu masih terpatri kuat di dalam ingatannya.


Gadis cantik yang berhasil dia bantu keluar dari sekapan Bramanto di rumahnya yang lama. Karena hanya gadis itu satu-satunya yang berhasil lepas dari jeratan kejahatan Almarhum suaminya.


“Lusi, aku kangen.” Priska mulai tersedu.


Bu Tantri merangkul bahu Priska dan mengusapnya lembut.


“Bu, aku mau ketemu dia. Aku ada hutang maaf dari almarhum mama dan aku.“


Bu Tantri mengangguk pelan. Bola matanya terbelalak kembali ketika melihat sosok Reynard yang duduk persis di samping Lusi.


“Reynard? Ya Tuhan. Iya, itu Reynard.” serunya.


“Ada hubungan apa Reynard dengan gadis itu?” tanya Bu Tantri pelan pada dirinya sendiri.


Priska masih menangis menatap layar kaca. Kepalanya dia sandarkan ke bahu Bu Tantri.


Sejak Priska sembuh dari trauma, Bu Tantri membawanya untuk tinggal bersama. Dia tinggalkan rumah kenangannya bersama Bramanto dan pindah ke rumah peninggalan orang tuanya yang saat ini mereka tempati.


Kini mereka hidup berdua saja di rumah itu. Bu Tantri sangat menyayangi Priska seperti anaknya sendiri. Begitupun Priska yang mulai menganggap Bu Tantri seperti Ibu kandungnya


Hayyyy Readers... Jangan unfolow dulu yah


mau tau siapa pasangan bang Reynard?


Yuk kepo in terus side story nya.

__ADS_1


Tetap ditunggu Like, Vote, Favorite dan 5 rate nya ya.


__ADS_2