
Dengan tenang Ferdian dan Lusi duduk berdampingan menunggu di ruang makan. Di hadapan sudah terhampar hidangan lengkap di atas meja.
Cantika menapaki anak tangga satu persatu menghampiri mereka. Wajahnya pun sudah tampak lebih segar karena baru saja membersihkan diri.
Gadis itu menghenyakkan diri di kursi persis berhadapan dengan Lusi. Sekilas ia tersenyum pada Lusi tapi masih menunjukan sikap sinisnya.
Dalam diam bertiga menikmati hidangan makan malam itu dengan suasana hambar. Sikap canggung dan kaku begitu kental terasa.
Terlebih lagi dengan Lusi yang merasa tak nyaman melihat raut wajah Cantika yang begitu dingin dan datar padanya.
“Kak Lusi, kuliahnya ambil jurusan apa?“ Cantika membuka percakapan.
“Ohh, ekonomi jurusan manajemen,” jawab Lusi singkat berusaha tersenyum walaupun terlihat gugup.
“Bagus, sama dengan aku. Ngomong-ngomong usia Kak Lusi berapa sih? Kayaknya masih muda banget ya?”
“Aku dua puluh satu tahun.”
“Ooo, berarti lebih muda satu tahun dari aku. Aku dua puluh dua tahun,” ujar Cantika kemudian.
Lusi mengangguk dengan senyum dipaksakan.
“Kak Ferdian sudah berubah haluankah? Jadi suka sama yang muda-muda? Kakak jadi kayak pedho.pil, tau gak?” sindir Cantika, membuat Ferdian tersedak mendengarnya.
Ferdian menoleh pada Cantika setelah meminum segelas air putihnya. Nada bicara Cantika terasa sangat menusuk di telinga Lusi.
Sejujurnya ia tersinggung dengan kata-kata Cantika Itu. Namun ia bisa apa? Ia hanya melirik Ferdian di sebelahnya
“Emang kenapa? Gak boleh nikah sama gadis 21 tahun? Usianya sudah memenuhi syarat untuk menikah," tukas Ferdian terdengar tak suka.
“Yaaaa. Boleh-boleh aja sih yang menjalani, kan Kakak. Cuma aku agak heran aja untuk selera Kakak kali ini.” Cantika melirik sinis Lusi yang menunduk, memainkan alat makannya.
Ferdian mengetahui kegusaran Lusi di sebelahnya. Ia paham apa yang gadis itu rasakan sekarang. Tak nyaman, sama seperti yang ia rasakan.
“Bagaimana kuliah kamu? Kapan lulus?” Ferdian mengalihkan pembicaraan. Mencoba untuk menghalau suasana tak nyaman di antara mereka.
“Semoga tahun depan, Kak. Doain aja. Aku juga pengen cepat lulus supaya bisa ikut bantu Kakak urus perusahaan kita.”
“Aamiinn. Iya betul. Kakak memang butuh kamu di perusahaan kita.”
“Ehmm, kalo Lusi gimana? Setelah lulus apa juga ikutan kelola perusahaan kita, Kak?" Kembali, Cantika beralih pada Lusi yang masih bungkam di seberangnya.
Ferdian menoleh pada Lusi. “Ya, terserah dengan Lusi mau bagaimana. Aku sih oke aja kalo Lusi mau.”
__ADS_1
“Tapi kalau istri ikut campur urusan pekerjaan suami aku rasa kurang etis di mata para pegawai, Kak. Jangan sampai manajemen bingung karena ada dua pengambil keputusan nanti.” Jawaban pedas Cantika sangat menohok bathin Lusi.
“Maaf, aku sendiri belum mikir ke arah sana, Cantika. Aku fokus untuk selesaikan kuliah dulu,” jawab Lusi berusaha sopan, walaupun hatinya sangat tersinggung dengan perkataan Cantika yang begitu menyembilu.
“O iya, betul juga. Tapi aku salut sama kamu, Lusi. Bisa yah sudah menikah tapi fokus dengan kuliah. Kalau aku jadi kamu mungkin aku akan lebih pilih selesaikan kuliah dulu daripada nikah muda. Nikmati dululah masa muda kita. Kalau sudah nikah begini kan repot. Pikiran jadi bercabang antara kuliah atau urusan rumah tangga. Untung aja kamu nikah sama kak Ferdian, orangnya sangat pengertian. Coba kalau dengan cowok lain belum tentu kamu bisa bebas kuliah begini. Apalagi di kampus itu, kan cowoknya keren-keren. Aduuuhh! Kalau ada yang naksir kamu gimana tuh?” ucap Cantika panjang lebar hanya untuk mengganggu suasana hati Lusi.
'Pengertian? Pengertian apa? Huh! Baru diantar pulang sama sahabatku sendiri aja marahnya luar biasa sampai-sampai aku nyaris diperkosa dia,' gerutu bathin Lusi kesal.
“Maaf. Aku duluan ya, Cantika. Mau ke kamar dulu ngerjain tugas kuliah,” pamit Lusi segera. Ia sudah tak tahan mendengar ocehan Cantika yang selalu menyindirnya.
Dengan cepat ia melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Ferdian yang menatap Cantika dengan tatapan tajam.
“Kamu apa-apaan sih, Cantika?“ omel Ferdian pada adiknya yang dengan santainya mengupas apel tanpa mempedulikan sang kakak ipar yang tersinggung atas ucapannya.
“Kenapa, Kak? Emang ada yang salah dengan omongan aku?” tanya cantika ringan merasa tak bersalah.
“Banyak. Apa sih maksud kamu ngomong gitu tadi?”
“Idiiih! Kak Ferdian kok sensitif sih? Aku, kan bicara apa adanya sesuai pendapat aku aja."
“Ya, jangan yang itulah ngomongnya. Kayak gak ada topik lain aja!” protes Ferdian.
Cantika mengerucutkan bibirnya karena tak suka mendapat omelan dari kakaknya.
Ferdian mengalihkan pandangan. Tak tahu bagaimana menguraikan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Cantika. Karena suatu alasan yang belum saatnya ia kemukakan. Kini ia hanya terdiam.
“Apa karena ada sesuatu yang harus kakak pertanggungjawabkan sama dia?” selidik Cantika.
“Maksud kamu?” Ferdian menoleh.
“Yaaa ... itu tuh! Hamil,” jawab Cantika seraya memegang perutnya.
Ferdian terperangah dengan apa yang dikatakan Cantika. Ia membelalakan mata pada adiknya itu. Sekali lagi ia harus memutar otak untuk menjawab pertanyaan yang sulit itu. Lalu menggeleng.
“Karena cinta....“ jawab Ferdian sambil membuang pandangan ke arah lain.
Cantika sontak tertawa geli mendengarnya. Ia tahu kakaknya itu tengah berbohong padanya.
“Come on, Kak. Don’t lie to me.”
“Yaa, terserah kamu mau percaya atau gak.”
Cantika mengangguk-angguk menatap Ferdian dengan segudang tanda tanya di benaknya.
__ADS_1
“Apa Lusi cuma sekedar pelarian aja karena kakak gagal nikah dengan Kak Amanda?”
Ferdian mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis pada adiknya itu. Lalu menggeleng mantap.
“Amanda cuma sekedar masa laluku. Gak penting!" ucap Ferdian ketus seraya bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan Cantika yang masih menyimpan rasa penasaran tentang pernikahan kakaknya dengan Lusi.
Ferdian membuka pintu kamar. Tampak Lusi sedang berbaring tertelungkup sambil membaca buku di atas tempat tidur.
Melihat Ferdian yang masuk gadis itu langsung bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur.
“Mas, udah mau tidur? Biar aku tidur di sofa itu aja,” tunjuk Lusi pada sofa di samping meja kerja.
Ferdian hanya menggeleng sambil tersenyum lembut pada Lusi. Lalu menempatkan diri duduk di samping Lusi yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos hitam.
“Maafkan sikap adikku tadi, ya. Aku tau kamu tersinggung,” ucap Ferdian pelan.
“Oohh, gak pa-pa, Mas. Aku maklum kok. Itu karena aku dan Cantika belum saling mengenal," jawab Lusi bijak sambil tersenyum manis pada Ferdian.
“Aku harap kalian berdua punya cukup waktu untuk saling kenal. Dia anak yang baik kok.“
“Iya, Mas.”
Lusi mengangguk sejenak. Kemudian beranjak mengambil bantal dan guling lalu menuju sofa.
Ferdian mengernyitkan dahinya melihat Lusi yang meletakkan bantal dan guling di atas sofa putih itu dan merebahkan tubuh diatasnya.
“Kamu tidur di sini aja. biar aku yang di sofa," cegah Ferdian.
Namun tak digubris oleh Lusi. Gadis itu malah membenamkan kepala ke bantal lalu memejamkan mata sambil memeluk guling.
Ferdian geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Tapi ia membiarkan saja. Lalu ia rebahkan tubuhnya telentang di atas ranjang. Matanya tak dapat terpejam, hanya melamun menatap langit-langit kamar yang temaram. Benaknya terus berputar memikirkan semua hal yang tengah dihadapinya.
Malam sudah semakin larut. Tapi kantuk pun belum juga ia rasakan. Ia menoleh pada Lusi yang terbaring meringkuk di sofa tanpa selimut.
Perlahan ia mendekat. Ditatapnya dalam- dalam wajah Lusi yang tampak damai tenggelam ke alam mimpi. Disentuhnya jemari gadis itu dengan lembut dan mengusapnya perlahan.
'Aku belum tau apa aku jatuh cinta sama kamu. Tapi yang pasti sejak ada kamu disini, aku merasa nyaman dan hidupku jadi lebih berarti,' bisik hati Ferdian.
Hati-hati, ia membopong tubuh Lusi. Gadis itu menggeliat walaupun masih terlelap begitu dalam. Direbahkannya tubuh gadisnya itu ke atas ranjang. Lalu diselimutinya sampai menutup bahu dan membiarkan gadis itu melanjutkan mimpi indahnya.
Gantian ia yang merebahkan tubuh di atas sofa. Ia tenggelamkan kepala ke bantal dan memejamkan mata, berusaha menggapai alam mimpinya dengan segera.
Visual Cast : Cantika
__ADS_1