
Reynard merengkuh pinggang ramping sekertaris cantiknya, Nadia, dan menarik tubuh sintal itu menempel ke tubuhnya. Nadia dengan sentuhan tangan lembutnya menangkupkan wajah Reynard mendekati wajahnya. Tatapan Nadia penuh nafsu memandang wajah tampan itu
Bibir merah Nadia mendekat dan menantang, hanya kisaran beberapa senti saja di bibir seksi Reynard yang sudah sedikit terbuka. Tak kuasa Reynard menolaknya. Lalu, dia sambut bibir sekertaris cantik itu dengan bibirnya. Dikecupnya sekilas lalu dilumatnya lembut. Nadia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, lantas membalas ******* bibir Reynard dengan penuh gairah.
Sementara, telapak tangan Reynard sibuk bergerilya meremas ‘bamper’ belakang Nadia yang terasa membulat padat. Dia begitu menyukai bagian itu, membuat gairah kelaki-lakiannya kian menggebu.
Ceklek...
Tanpa ketukan terlebih dahulu tiba-tiba pintu dibuka seseorang. Reynard dan Nadia tersentak dan spontan menghentikan kegiatan mereka.
Veronika berdiri persis di hadapan mereka seraya menggeleng-gelengkan kepala dan melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya datar dan dingin saja melihat keduanya sibuk membenahi pakaian yang tampak kusut di beberapa bagian.
Nadia sang sekertaris cantik itu bergegas meninggalkan ruangan, meninggalkan Bossnya yang tampak salah tingkah di bawah tatapan dingin Veronika.
“Bisa ketuk pintu dulu gak sih kalo mau masuk?” protes Reynard, tampangnya sedikit kesal menoleh pada Veronika.
“Bisa sewa hotel aja gak sih kalo mau begituan?” balas Veronika menyindir keras.
Terdengar decakan sebal dari bibir Reynard. "Ada apa?” tanyanya datar, lalu menempatkan diri pada kursi kerjanya.
“Aku bener-bener mau minta tolong sama kamu, Rey. Kali ini aja.” Suara Veronika melunak, lalu menempatkan duduknya persis di hadapan Reynard. Rautnya sedikit memelas. Baru kali itu Reynard melihat ekspresi Veronika seperti menghamba padanya.
“Tolong apa?”
“Tolong gantikan aku untuk meeting dengan PT Angkasa Jaya siang ini, Rey. Aku ada keperluan mendadak harus keluar kantor.”
“Ooo, gak bisa. Aku banyak kerjaan hari ini,” tolak Reynard spontan seraya menegakkan posisi duduknya. Dan menggeser laptop tepat ke hadapannya.
“Please, Rey. Meeting ini gak bisa di tunda, karena sudah terjadwalkan jauh-jauh hari.”
“Minta tolong sama yang lain aja. Aku sibuk.” Reynard masih berkeras menolak. Bola matanya fokus menatap layar laptop di hadapan dan tangannya mencatat sesuatu di buku agenda.
“Gak bisa, Rey. Harus direksi juga yang hadir karena mereka pun mengirimkan direksinya untuk meeting dengan kita.”
“Huh, menyebalkan! Apa ini bagian dari strategi kamu juga untuk mengintimidasi aku?” tanya Reynard penuh rasa curiga menatap wajah Veronika yang tampak gusar.
Veronika menggeleng kencang. “Reyhan jatuh dari ayunan di sekolahnya. Sekarang sedang di rumah sakit. Aku harus ke sana sekarang.”
“Hah? Ya Tuhan.” Reynard tersentak mendengar alasan Veronika.
Dia tatap wajah Veronika dalam-dalam untuk mencari kebohongan di sorot matanya. Tapi tampaknya tidak ada. Raut wajahnya benar-benar menunjukan gelisah tanpa kepura-puraan.
“Baiklah kalo begitu. Aku bersedia. Siapkan berkas-berkasnya biar aku pelajari dulu sebentar.” Akhirnya Reynard mengalah demi seorang Ibu yang begitu khawatir terhadap buah hatinya.
Senyum Veronika seketika mengembang di tengah raut kecemasan.
“Nanti sekertarisku yang antar berkas- berkasnya ke sini.“
Reynard hanya mengangguk dan menghela nafasnya berat.
“Baiklah kalo begitu aku permisi. Terima kasih yah, ucap Veronika seraya beranjak dari duduknya.
“Dan ... satu lagi, Rey.”
“Ada apa lagi?” tanya Reynard malas.
“Tolong bersihkan bibirmu itu sebelum menemui klien, oke?” tunjuk Veronika ke arah wajah Reynard. Lalu bergegas keluar dari ruangan, meninggalkan Reynard yang tampak keheranan dengan ucapan wanita itu barusan .
Reynard menoleh pada kaca lemari yang terdapat lapisan kaca cermin di sampingnya. Dia telisik seluruh wajahnya. Tampak bibirnya yang belepotan karena lipstik merah Nadia yang tertinggal di sana.
“Ah, assyeem Nadia! Bikin malu aja," gerutu Reynard seraya menyeka bibir dan seputaran dagunya dengan sapu tangan.
Tak lama, terdengar ketukan di pintu. Tanpa ijin dari pemilik ruangan, Diana sekertaris Veronika yang berwajah kaku tanpa senyum itu langsung masuk dan meletakkan beberapa map berisi berkas-berkas meeting ke atas meja Reynard.
“Saya diperintah Ibu Vero untuk mengantarkan semua berkas ini untuk Pak Rey," ucap Diana datar dan melirik Reynard dengan sinis.
“Terima kasih ya, Oma Cantik,“ sahut Reynard tersenyum masam dan menatap Diana dengan rasa kesal.
“Meeting dengan PT. Angkasa Jaya jam dua siang ini. Jangan sampe telat," ucap Diana lagi dan tanpa menunggu jawaban dari Reynard dia pun bergegas keluar dari ruangan itu.
Reynard hanya geleng-geleng kepala menyaksikan Diana yang ngeloyor pergi begitu saja. “Dapet dimana sih sekertaris model begitu. Heran!” gerutunya pelan.
Kemudian mulai membuka berkas-berkas di mejanya bekal meeting siang nanti dan mempelajarinya dengan seksama.
****
Malam hari, Dengan menenteng sebuah kotak besar berisi mainan mobil-mobilan tamiya lengkap beserta sirkuitnya dan satu dus coklat beraneka bentuk, Reynard berdiri tepat di hadapan pintu apartement Veronika di lantai lima belas.
__ADS_1
Di tekannya Bell di samping pintu agak lama. Namun belum juga dibuka oleh si empunya kamar.
Kembali di tekannya Bell itu lebih lama lagi. Berhasil. Pintu terbuka. Seorang wanita setengah baya berpakaian babysitter muncul dari balik pintu.
“Cari siapa, Pak?” tanya nya dengan tatapan penuh selidik.
“Reyhan.” Jawab Reynard singkat.
“Reyhan? Bapak ini siapa?”
“Temannya Reyhan.”
Wanita itu hanya membulatkan mulutnya. Namun tak berani mempersilahkan Reynard masuk.
“Siapa, mbak?” suara Veronika setengah berteriak dari dalam.
“Katanya temannya Reyhan. Tapi bapak-bapak.” Sahut wanita itu dengan menghadapkan wajahnya ke dalam. Namun matanya tak lepas menatap Reynard dengan curiga.
Sembarangan, tampang imut gini masa dibilang bapak-bapak. Gerutu Reynard dalam hati
Pintu terkuak lebar. Veronika muncul dari balik pintu. Dan tampak terkejut dengan kehadiran Reynard di muka pintu apartementnya.
“Ohh, Rey. Ada apa?”
“Hmm, aku mau jenguk Reyhan. Boleh?” jawab Reynard malu-malu seraya memperlihatkan dua buah dus besar di tangannya.
Veronika tersenyum geli, lalu mengangguk mempersilahkan Reynard masuk.
Reynard mengikuti langkah Veronika menuju ke kamar Reyhan.
“Rey, ada tamu nih mau jenguk kamu.” panggil Veronika pada Reyhan yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidurnya yang berbentuk mobil-mobilan berwarna biru.
Reynard menampakkan dirinya ke hadapan Reyhan. Seketika wajah Reyhan sumringah memperlihatkan barisan gigi-gigi kecilnya yang rapi.
“Om Rey...” serunya kegirangan seraya berdiri di atas tempat tidur dan bersiap-siap hendak melompat ke arah Reynard.
“Eeh,..jangan loncat, ntar jatuh.” Cegah Reynard segera menghampiri Reyhan.
Reynard memperhatikan benjolan sebesar jempol orang dewasa yang membiru persis di tengah kening anak itu.
“Sakit gak itu?” tunjuk Reynard pada benjolan dikepala Reyhan.
“Bagus, itu baru jagoan. Tos dulu.” ucap Reynard mengangkat telapak tangannya ke hadapan Reyhan lalu anak itu membalas menepuk nya dengan keras.
Veronika yang memperhatikan tingkah keduanya dari balik pintu hanya tersenyum geli.
“Mau minum apa, Rey.” Tanya Veronika kemudian
“Coffee please.” Reynard menjawab.
“Susu coklat.” Reyhan menjawab bersamaan.
Reynard dan Veronika saling menoleh lalu keduanya tertawa renyah.
“Untuk Om Rey kopi, untuk Reyhan susu coklat. Nanti Mommy bawain ya.” ucap Veronika akhirnya lalu berlalu dari kamar Reyhan dan menuju minibar nya untuk membuatkan pesanan mereka.
Tak lama Veronika membawakan minuman untuk keduanya dan diletakkan di meja belajar Reyhan di samping tempat tidurnya.
Reynard duduk bersama Reyhan duduk di atas tempat tidur seraya membuka kotak mainan yang di bawanya untuk bocah lucu itu. Reyhan tampak girang sekali ketika tahu isi kotak itu adalah tamiya beserta sirkuit mini nya.
“Kita Main ya Om. “ pintanya pada Reynard.
Reynard mengangguk senang, lalu mulai merangkaikan sirkuit tamiya itu di atas lantai. Reyhan memperhatikannya dengan sangat serius. Sesekali tangan kecilnya ikut membantu Reynard.
Veronika hanya tersenyum manis melihat keakraban kedua ‘Rey’ tersebut. Kemudian berlalu dari kamar anaknya meninggalkan kedua laki-laki beda usia itu menikmati waktu bermainnya.
Tak terasa, sudah lebih dari satu jam bermain bersama bocah lucu itu. Hingga Reyhan membuka mulut mungilnya lebar-lebar, matanya tampak sayu menahan kantuk nya.
“Sekarang kamu bobo ya, udah malam.” Ucap Reynard pada Reyhan yang tampaknya masih enggan menyudahi bermain dengannya.
“Bacain cerita, Om.” Pinta Reyhan seraya membaringkan kepalanya dengan manja di paha Reynard.
“Cerita apa? Putri salju? Cinderella? Atau si kancil?”
Reyhan menggeleng. “gak seru.”
“Cerita apa dong yang seru? Aaa.. James bond ya. itu pasti seru.”
__ADS_1
Reyhan mengangguk bersemangat. Lalu mulai serius memperhatikan wajah Reynard yang akan mulai bercerita.
“Eehh, udah malam, ayo bobo. “ tiba-tiba Veronika masuk ke kamar dan menghampiri Reyhan.
“Mom...Om Rey mau cerita James Bond dulu.”
“Hah? James Bond.?” Veronika membelalak pada Reynard.
Reyhan merajuk. Namun Veronika tak terima rajukan kompromi. Di baringkan tubuh mungil anak kesayangannya itu senyaman mungkin lalu di selimutinya rapat-rapat.
“Om sini aja,” pinta Reyhan pada Reynard.
“Om di ruang tamu ya, ngopi dulu, haus. Kamu bobo ya. kalo tidak bobo digigit nyamuk.” Ucap Reynard seraya mengacak-ngacak rambut bocah itu dengan gemas.
Reyhan pun mengangguk di sela kantuk nya. Lalu memejamkan kedua matanya.
Reynard mengikuti Veronika menuju ruang tamu nya dan menghenyakkan dirinya di sofa seraya menyeruput kopinya yang sudah tak hangat lagi.
“Trima kasih yah udah jenguk Reyhan dan ajak main dia. Keliatannya dia seneng banget.” Ucap Veronika seraya tersenyum manis pada Reynard. Babang tampan itupun mengangguk.
“Oiya, aku ke sini sekalian mau ngabarin ke kamu, meeting tadi berjalan lancar. PT AngkasaJaya siap kerjasama dengan kita. Semua berkas hasil meeting sudah aku serahkan sama sekertaris kamu yang antik itu.”
“Syukurlah, Terima kasih sekali lagi ya Rey. Ternyata kamu orangnya baik ya.”
“Oh iya dong, Reynard gitu loh.” Ucap Reynard sombong.
“Ngomong-ngomong kalo boleh tau, kenapa Mommy nya Reyhan cerai dengan Daddy nya Reyhan? Tanya Reynard hati-hati, takut menyinggung perasaan Veronika.
“Yaa, karena ga ada kecocokan lagi.” jawab Veronika klise.
“Ah, masa gak ada kecocokan bisa nikah. Jawaban yang lain?”
“Perselingkuhan, Daddy nya Reyhan punya affair dengan sekertarisnya yang cantik.” Jawab Veronika melirik pada Reynard.
Reynard merasa ucapan itu menyindir dirinya. “Ah, masa?” ucapnya kikuk.
“Aku gak bohong. Ternyata affair itu sudah berlangsung lama. Sejak Reyhan masih dalam kandunganku delapan bulan. Aku pergoki mereka sedang bercumbu di dalam ruangan mantan suami ku.”
“Ekhemmm... “ Reynard benar-benar merasa tertohok dengan pengakuan Veronika itu. Di seruputnya kembali kopi nya yang sudah tak enak lagi di lidahnya.
“Lalu menunggu Reyhan lahir, baru aku ajukan gugatan perceraian ku. Namun proses nya memakan waktu lama, karena dia tak mau bercerai, juga menyangkut harta gono gini dan sebagainya, akhirnya pengadilan memutuskan perceraian kami tepat setahun usia Reyhan.”
“Oh so sorry to hear that...” ucap Reynard pelan. Dalam hati menyesal juga dia menanyakan hal itu pada Veronika karena jawabannya sangat menohok dirinya.
Veronika hanya tersenyum melihat Reynard yang tampak kurang nyaman dengan cerita perceraiannya.
“Karena itu aku gak suka sekertaris yang cantik, aku lebih pilih yang pintar.”
Pantesan sekertaris mu unik begitu, ucap Reynard dalam hati.
“Kalo kamu sendiri? Kenapa belum nikah sampe sekarang?” selidik Veronika menatap lekat pada Reynard.
“Ehm, kenapa ya? Aku sendiri bingung kalo di tanya begitu. Mungkin belum ketemu jodoh.”
“Apa karena masih suka bermain-main?” tebak Veronika dengan tersenyum geli karena mengingat kejadian siang tadi di ruangan kerja Reynard.
“Gak juga. Cuma aku masih memilih-milih mana wanita yang tepat untuk aku.”
Veronika hanya mengangguk masih menyisakan senyum. Reynard tampak tak nyaman dengan senyuman Veronika itu. Sepertinya senyum itu bentuk penghakiman bagi dirinya yang menyamakan dirinya dengan mantan suaminya yang selingkuh dengan sekertarisnya.
Beda kelas dong, aku masih bujang gonta ganti wanita ya wajar, tapi kalo selingkuh sesudah nikah itu namanya kurang ajar. Pikir Reynard dalam hati.
Reynard melirik jam tangannya,“Udah malam, aku pulang ya.“ pamit Reynard kemudian beranjak dari duduk nya.
Veronika mengangguk. Lalu ikutan bangkit dari duduknya dan mengantar Reynard sampai depan pintu.
“Sekali lagi Terima kasih ya. Rey.” Ucap Veronika menahan langkah Reynard.
Babang tampan pun menoleh kembali pada Veronika, menatap wajahnya lama. Memandang senyum manisnya yang terukir di sudut bibirnya. Begitupun Veronika yang menatap mata Reynard dengan sorot mata berbinar-binar.
“Baiklah, aku permisi dulu, kalo lama-lama liat kamu bisa-bisa aku masuk lagi ke dalam.” Ucap Reynard enteng berusaha menenangkan jantungnya yang mulai berdegub kencang. Membuat Veronika tergelak menampilkan senyum lebar menawannya.
Reynard pun tersenyum sekilas. Lalu melangkah pergi dari hadapan Veronika yang masih memandang punggung nya hingga menghilang masuk ke dalam kamar lift.
SI BABANG TAMVAN MULAI GEREGETAN, GAESSS
YUK AH LIKE, VOTE, LOVE, FAVORITE, KRITIK DAN SARANNYA YAH...
__ADS_1
HAPPY READING....LOPH YU FULL