
Di dalam mobil, Ferdian mengulum senyum sendiri mengingat semua perkataan Lusi di restoran steak tadi. Dan Lusi menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung.
Jangan-jangan ini anak abis makan gak pake minum nih, kok jadi rada-rada genit begini. Pikir Ferdian geli dalam hati.
“Kenapa senyum-senyum, Mas?” tanya Lusi penasaran.
Bukannya menjawab, Ferdian malah tertawa geli. Lusi makin heran dibuatnya.
“Iihh, kenapa sih, Mas? Ditanya kok malah ketawa?”
“Omongan kamu di restoran tadi, lucu. Emangnya bener kamu suka jadi pelampiasan aku?” selidik Ferdian melirik genit masih dengan tersenyum nakal pada Lusi.
“Ooooh, ya ampun, Mas. Jangan dimasukin ke hati ya. Aku cuma mau bikin sewot mantan Mas aja kok,” jawab Lusi santai. Dia pun ikut tertawa renyah.
“Emang kamu tau permainanku di atas ranjang luar biasa? Kamu baru di cium aja udah ngomel-ngomel. Sok tau.” goda Ferdian seraya melepas tawa nakal dan mencolek pinggang Lusi, gemas.
“Mas, aku tadi terpancing sama omongan dia. Kata-katanya gak enak didenger gitu loh.”
“Tapi terus terang aku GR sama semua omongan kamu tadi. Kok tumben cerdas?" Ferdian kembali tertawa geli.
Lusi mendelik sebal. Emang biasanya aku gak cerdas? pikirnya dalam hati.
“Mas, kalo boleh tau Mas sama dia kenapa gak jadi nikah?” tanya Lusi seraya memasang raut serius menoleh pada Ferdian.
“Hmmmm, kalo aku jadi nikah sama dia ya aku gak jadi suami kamu sekarang," jawab Ferdian sekenanya. Dan cubitan gemas Lusi mendarat dipinggangnya.
“Serius, Mas.” desak Lusi lagi.
“Gimana ya ceritanya. Sebenernya aku malas ngomongin dia lagi.“ Ferdian menghela nafasnya malas.
“Aku pergokin dia selingkuh sama cowok lain di kamar hotel tepat sehari sebelum aku dan dia menikah," jawab Ferdian kemudian. Nada suaranya terdengar tak semangat
“Ya Tuhan...” Lusi yang mendengarnya tersentak kaget. Dia menutup mulutnya yang menganga dengan jemari.
“Aku batalin pernikahan aku saat itu juga. Ngapain nikah sama pengkhianat.”
“Hmmm, aku turut prihatin. Dia cantik ya, Mas.”
“Cantik kalo gak setia untuk apa?”
Lusi mengangguk paham alasan Ferdian. Dia tak menyangka pria baik seperti Ferdian merasakan pedihnya dikhianati.
Trriiiingg... Triiingg... Triiingg....
Bunyi dering ponsel Ferdian membelah keheningan. Ferdian melirik layarnya sejenak.
__ADS_1
Cantika?
Segera digesernya tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
“Hallo Adikku Sayang, apa kabar?” Ferdian menyapa riang. Rasa rindu terdengar di nada suaranya. Dua tahun sudah dia tak bertemu dengan adiknya itu, karena Cantika tengah menyelesaikan pendidikan di Australia.
“Kabar baik. Kakak bagaimana kabarnya? Aku kangen loh," sahut suara Cantika diujung sambungan.
“Kakak juga kangen, Dek. Gimana Kuliah kamu? Lancar?”
“Lancar, Kak. Aku baru selesai ujian. Oiya, aku ada rencana pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Mau liburan.”
“Oh great. Kabarin ya, biar kakak jemput,” ucap Ferdian antusias.
“Iya pasti, Kak. Oiya udah dulu yah. Nanti aku kabarin lagi. Bye Kak.”
“Bye.” Ferdian menutup sambungan teleponnya.
Dia tersenyum pada Lusi yang sedari tadi mendengar percakapannya.
“Adikku akan pulang. Siap-siap ketemu adik ipar yah,” Beritahu Ferdian melirik Lusi.
Flashback Tiga hari yang lalu
Amanda membuka layar laptopnya. Di tujunya aplikasi Skype untuk terhubung ke seseorang di benua seberang.
“Hai, Cantika Sayang,” sapa Amanda girang dengan senyum lebarnya.
“Hai, Kak Amanda. Apa kabar?” sapa Cantika di layar juga tersenyum senang.
“Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu gimana di Aussie? Betah yah sampe gak pulang-pulang? Atau jangan-jangan udah dapet gandengan cowok bule ya?”
Cantika tertawa ringan menanggapi.
“Ah, Kak Amanda bisa aja. Kak Ferdian melarang aku pacaran sama bule, Kak.”
“Oiya, Kak Amanda masih sering ketemu sama Kak Ferdian, kan?” tanya Cantika lagi.
“Cuma beberapa kali aja sih, soalnya kakak kamu itu sibuk banget sama kerjaannya. Ditambah lagi sekarang sudah punya Istri jadi makin susah deh ketemu dia.”
“Hah? Ulangi Kak? Gak jelas suaranya.”
“Kakak kamu itu, sekarang sudah beristri. Dia sudah nikah, Cantika,” ulang Amanda lagi dengan mengeraskan suaranya agar terdengar jelas ke telinga Cantika diseberang sana.
Seketika, tampak raut wajah Cantika terperangah dan terbelalak mendengarnya.
__ADS_1
“Serius, Kak? Jangan becanda, ah.” tanya Cantika tak percaya.
“Serius. Ferdian sendiri bilang sama aku dan semua orang udah tau kok.”
“Tapi kak Ferdian gak bilang apa-apa sama aku, Kak.” ujar Cantika. Nada suaranya melemah tampak kecewa karena info yang sangat penting itu justru dia dengar dari Amanda bukan dari kakaknya sendiri.
“Dan satu lagi, istrinya itu keliatannya masih muda banget loh, mungkin seumuran kamu dan juga gak satu level dengan Ferdian. Bisa jadi kan dia mau sama Ferdian cuma karena uang. Apalagi kakak kamu itu terkenal royal
sama perempuan. Yang pastinya ada imbalan yang dia berikan untuk Ferdian juga dong, ya kan.”
Wajah Cantika tampak mengencang mendengar penuturan Mantan calon kakak iparnya itu. Dia sama sekali tak menyangka, Ferdian, kakak satu-satunya itu menyembunyikan rahasia besar darinya.
“Aku kecewa sama kak Ferdian, kenapa aku gak dikasih tau soal ini.” lirih suara Cantika.
“Ya mungkin pendapat kamu gak diperlukan, Cantika,” sindir Amanda menyungging senyum tipis.
Dalam hati Amanda bersorak lantang, karena berhasil melempar umpan hasutan. Dan lihatlah wajah Cantika kini yang mengetat geram.
“Lagian kenapa sih Kak Amanda gak jadi nikah sama Kak Ferdian? Aku masih penasaran loh sampe sekarang kenapa pernikahan kalian dibatalkan. Kak Ferdian gak pernah terus terang sama aku. Setiap aku tanya dia pasti menghindar," tanya Cantika.
Hmmm. Cantika belum tau ternyata. Begitulah sifat Ferdian yang tak mau mengumbar kesalahan orang
walaupun itu sangat melukai hatinya. Dia rela menelan dukanya sendirian, ucap bathin Amanda senang karena merasa masih ada harapan untuknya mendapatkan Ferdian kembali.
“Cuma ada sedikit salah paham, Cantika. Dan sebenarnya sudah lama aku mohon untuk kembali pada Ferdian. Tapi kayaknya kakakmu itu lebih tertarik dengan orang lain daripada aku. Ya aku sih cukup menghargai keputusannya saja. Semoga dia bahagia dengan istrinya.” Amanda berkilah licik.
“Pokoknya aku gak rela kakakku sama orang lain. Aku pengennya Kak Amanda yang jadi istrinya.”
Amanda tersenyum tipis. Hatinya serasa melayang mendengar keinginan Cantika. Dia yakin adik Ferdian ini bisa menjadi kunci pembuka hubungannya lagi dengan Ferdian, pria yang sangat diidam-idamkannya itu.
Dan ketika nanti pria itu sudah berada digenggamannya, dia bertekad tak akan melepaskannya lagi sampai kapanpun. Apalagi dia mendengar perusahaan Ferdian makin berkembang pesat dan makin terkenal, berarti makin banyak juga pundi-pundi kekayaannya.
“Jadi, kapan kamu pulang ke tanah air, Cantika?” tanya Amanda lekas mengalihkan pembicaraan.
“Secepatnya, Kak. Kebetulan sebentar lagi kuliah aku libur.”
“Baguslah. Kalo kamu pulang kabarin aku ya, biar aku jemput di bandara, oke.”
“Pasti aku kabari, Kak. Sudah dulu yah. Disini sudah tengah malam. Aku tidur dulu. Sampai ketemu.”
Sambungan Skype itu pun terputus. Menyisakan Amanda yang tersenyum puas.
Sebentar lagi aku akan merebut kembali Ferdian dan mendepak jauh-jauh perempuan bau kencur itu. Pokoknya Ferdian harus jadi milikku kembali. Cantika, pokoknya kamu harus bantu aku, bathin Amanda penuh harap.
PLEASE LIKE, VOTE, KRITIK DAN SARANNYA YA SAY....
__ADS_1
THANK YOU SO MUCH.
HAPPY READING.