ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 72


__ADS_3

Dua orang resepsionis menyambut Ferdian dan Lusi yang baru saja menapaki kaki di depan pintu masuk sebuah restoran super mewah bertaraf Internasional.


Dengan sangat ramah dan santun mereka mengantarkan pasangan tersebut ke meja yang sudah direservasi sebelumnya oleh Vika.


Lusi yang tampak sangat anggun, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mewah yang terbentang di hadapannya.


Lampu-lampu kristal yang cantik bergelantungan di beberapa sisi memberikan sinar terang nan teduh ke seluruh ruangan.


Diiringi alunan musik syahdu dari seorang pianist yang dengan piawainya melantunkan lagu-lagu klasik yang terdengar sangat menenangkan siapapun yang ada di ruangan itu.


Tamu-tamu yang datang ke restorant itu pun jelas bukan dari kalangan biasa. Terlihat dari penampilan mereka yang rapi dan elegant, sudah pasti mereka berasal dari golongan berstrata sosial tinggi.


Terlebih lagi peraturan di restorant mewah tersebut memang mewajibkan tamu mengenakan pakaian formil. Gaun untuk wanitanya --dan Jas bagi laki-laki.


Lusi berjalan mengiringi langkah Ferdian yang tampak sangat gagah menawan di sampingnya.


Sementara Ferdian, dengan penuh kebanggaan menggenggam erat jemari Lusi.


Ada rasa cemburu mencubit hatinya kala mendapati beberapa pasang mata laki-laki menatap Lusi dengan tatapan kagum, bahkan tak segan melemparkan senyum nakal ke arah gadisnya itu.


Bagaimana tidak, Lusi terlihat bagaikan ratu sejagat malam ini. Dengan kecantikannya yang mempesona mampu membius mata laki-laki yang menatapnya.


Dua orang Resepsionis tadi menghentikan langkahnya tepat di hadapan sebuah meja berbentuk bulat yang terletak di samping jendela besar.


Dua orang pelayan laki-laki sudah menanti di sana, berdiri menyambut dan menggeser kursi untuk ditempati oleh Ferdian dan Lusi.


Keduanya pun menghenyakkan diri dengan gerakan perlahan.


Lusi tampak sedikit gugup dan salah tingkah duduk di hadapan Ferdian yang tak lepas memandang kagum pada dirinya.


Mengetahui kegugupan Itu, Ferdian meremas jemari Lusi dengan lembut untuk menenangkan.


Sesekali dia memainkan cincin pernikahan yang dikenakan di jari manis gadis itu.


“Kenapa sih liat-liat?” protes Lusi berbisik seraya mengullum senyum malu.


“Gak boleh ya liatin istri sendiri?” Ferdian justru balik bertanya dengan menyungging senyum termanisnya.


“Ge Er aku jadinya,” ucap Lusi polos. Membuat Ferdian tertawa renyah.


Seorang pelayan membuka dua buah buku menu lalu diserahkan ke hadapan keduanya dengan sopan. “Permisi. Silahkan, Tuan, Nona,” ucapnya santun.


Lusi terlihat bingung ketika membaca nama-nama hidangan yang tertulis di buku menu tersebut. Yang hampir kesemuanya menggunakan bahasa Perancis dan Inggris.


Terlebih lagi, dia tak mengerti sama sekali mengenai menu masakan kelas mewah.


“Mas, aku gak ngerti. Samain sama Mas aja deh,” bisik Lusi, menyorongkan wajahnya ke hadapan Ferdian.


Ferdian tersenyum geli mendengarnya. Ia sangat mengerti apa yang menjadi kegundahan Lusi saat ini.


“Saya pesan menu yang paling special di sini dan pastikan yang halal,” pinta Ferdian pada pelayan laki-laki yang berdiri tegak di belakangnya.


“Baik, Tuan, Nona. Mohon Ditunggu,” ucap pelayan itu seraya menunduk hormat, kemudian berlalu.


Lusi meneguk Mocktail Lemonade yang tersaji di hadapannya. Minuman yang menyegarkan itu disajikan sebagai Welcome Drink bagi tamu sambil menunggu pesanan hidangan mereka datang.


“Gimana? Nyaman bajunya?” tanya Ferdian saat memperhatikan Lusi yang masih tampak rikuh dengan pakaiannya.

__ADS_1


Sesekali tangannya mengangkat bagian kerahnya yang berdada rendah untuk menutupi belahan dada yang sedikit menyembul nakal.


Lusi hanya mengangguk pelan dan tersenyum pada Ferdian.


“Cuma grogi aja sih, Mas. Seumur-umur baru kali ini aku masuk ke restorant mewah seperti ini. Rasanya kayak masuk istana," tutur Lusi jujur.


“Jangan grogi, santai aja. Kamu perfect kok malam ini,” puji Ferdian menenangkan hati Lusi.


Gadis itu hanya tersenyum kaku lalu meneguk minumannya kembali untuk sekedar meredakan kegugupannya.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Pelayan menata hidangan di atas meja dengan teratur rapi.


“Silahkan, Tuan, Nona. Permisi,” ucap pelayan itu lagi, lalu pergi dari hadapan mereka.


Lusi yang masih tampak bingung, memperhatikan satu per satu hidangan yang terhampar di atas meja.


Entah menu apa yang dianggap special di restorant ini. Tapi tampaknya yang terhidang adalah daging lobster segar dan sangat lembut lengkap dengan sayuran dan saus bergelombang di atasnya.


Keduanya pun mulai menyantap hidangan mereka. Bola mata Lusi yang bulat tak lepas mengamati cara makan Ferdian yang santai dan begitu menikmati.


Sementara dia, untuk menggunakan alat makannya saja tampak kepayahan.


Ferdian tersenyum geli melihatnya. Antara kasihan dan lucu melihat Lusi hanya menelan ludah menatapnya makan.


“Buka mulutnya.” Ferdian menyorongkan sesendok daging segar lobster yang sangat lembut kedepan bibir Lusi. Gadis itu pun menurut seperti anak kecil yang sedang disuapi makan oleh ibunya.


Ferdian bergantian menyuapi dirinya sendiri lalu menyuapi Lusi. Begitu seterusnya sampai hidangan mereka tandas.


Tampak beberapa pasang mata di sekitarnya menoleh pada mereka, ada yang melirik kagum dan ada juga yang mendelik iri pada kemesraan yang mereka tampilkan. Tapi keduanya tak peduli.


Ferdian mendekatkan duduknya berdampingan di sebelah Lusi hingga bahu mereka pun saling bersentuhan.


Gadis itu menatapnya tak mengerti. Ia mengangkat jemari, lalu menyentuh pipi bekas kecupan sang suami.


“Aku lupa ini hari ulang tahun aku.” gumamnya, lalu tersenyum kecil.


Ferdian mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang berwarna merah berbahan beludru dari balik saku jasnya. Dibukanya kotak itu tepat di hadapan Lusi.


Seketika bola mata Lusi berbinar-binar melihat benda yang berada di dalamnya. Seuntai gelang emas putih bertaburan berlian yang sangat cantik dan mewah.


“Semoga kamu suka. Aku bingung mau kasih apa. Mau kasih cinta takut kamu menolak," canda Ferdian seraya menarik lengan Lusi perlahan, lalu memasangkan gelang cantik itu di pergelangan tangannya.


Lusi memandangi benda yang berkilauan Itu dengan wajah semringah. Dia tak menyangka Ferdian begitu memanjakan dirinya dengan barang berharga seperti itu.


“Terima kasih, Mas. Aku suka. Harusnya Mas gak perlu repot-repot gini ngajak aku makan malam disini. Cukup makan malam di rumah aku juga udah senang.”


“Aku pengen romantis-romantisan sama kamu. Kayak di film-film drama gitu.”


Lusi tersenyum dengan bola mata yang masih berbinar menatap gelang bertabur berlian yang kini melingkar cantik di pergelangan tangannya.


Ferdian menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.


'Ini momentnya aku harus jujur tentang perasaanku pada Lusi,' niatnya dalam hati.


“Lusi, aku mau jujur sama kamu,” ujarnya seraya menatap wajah Lusi dengan tatapan hangat.


“Kenapa, Mas?” tanya Lusi santai, matanya tetap tertuju pada gelang cantik ditangannya.

__ADS_1


“Aku ... jatuh cinta ... sama kamu,” lanjut Ferdian sedikit terbata-bata.


“Ehmm, ya terus?" Nada suara Lusi datar saja. Perhatiannya masih berkutat pada gelang pemberian Ferdian itu.


Ferdian mendelik bingung. “Kok, terus?” Ia tak menyangka reaksi gadis itu biasa saja. Seakan tak peduli dengan perasaan hati yang baru saja ia ungkapkan dengan susah payah.


“Lusi, kamu dengar gak omongan aku?“ omel Ferdian tak sabar, namun dengan suara ia pelankan.


Seketika Lusi langsung menoleh pada Ferdian. Matanya terbelalak karena tersentak dengan panggilan itu.


“Aku cinta sama kamu. Lussiiiii! My God ....” Ferdian menggeram kesal seraya berbisik di depan telinga Lusi.


'Ini anak, bikin rusak suasana aja. Pengen romantis jadi gagal total. Aku gigit telingamu baru tau rasa kau!' erang Ferdian dalam hatinya, gemas.


“Aku udah tau kok, Mas,“ ucap Lusi dengan santainya sambil menjepit lembut dagu Ferdian.


Ferdian semakin bingung dibuatnya. Benar-benar rusak moment romantisnya malam ini.


Dia berharap Lusi terkejut dan terharu, lalu memeluknya sambil membisikan ‘I Love you too’, seperti di film-film drama percintaan di televisi Itu.


Namun apa yang ia harapkan jauh dari kenyataan. Rencananya ambyar!


“Kamu udah tau aku cinta sama kamu? Tau dari mana?”


“Dari Bang Reynard. Dia bilang Mas Ferdian jatuh cinta sama aku.” jawab Lusi polos.


“Errrghhh, Reynard! Merusak moment aku aja,” geram Ferdian membayangkan wajah konyol Reynard saat ini.


“Jangan marah sama Bang Rey, Mas. Justru aku senang tau duluan. Soalnya aku sudah lama jatuh cinta sama kamu, Mas Ferdian.”


Deghh....


Jantung Ferdian berdegub hebat mendengar pengakuan Lusi. Senyuman kembali mengembang dari bibir tipisnya yang sempat bertekuk karena kesal.


“Serius? Kamu sudah lama jatuh cinta sama aku?” tanya Ferdian tak percaya, seraya menatap lembut wajah Lusi dengan sinar mata yang berkilau bahagia.


“Serius. Karena Mas baik banget sama aku, selalu melindungi aku, menjaga aku setiap saat. Aku sangat nyaman dekat dengan Mas. Makanya aku cemburu berat liat Mas peluk-pelukan sama mantan pacar mas itu,” tutur Lusi, lalu mengerucutkan bibir ketika mengucapkan kalimat terakhir.


Ferdian tersenyum lebar mendengar kejujuran Lusi yang ia tahu memang datang dari hati.


Diraihnya jemari Lusi, lalu dikecupnya dengan lembut dan lama. Kemudian merengkuh bahu Lusi ke dalam pelukan


“Jadi istriku selamanya ya, Lusiku Sayang,” bisiknya di telinga Lusi.


“Soal perjanjian kita gimana, Mas?” Lusi mendongak menjangkau pandangan.


“Pulang dari sini suratnya kita robek sama-sama, yah.”


Lusi mengangguk dan membalas rengkuhan Ferdian yang semakin erat di tubuhnya.


“Setelah masalah kita selesai aku ingin pergi bulan madu sama kamu. Terserah kamu mau kemana, pasti aku turutin,” tawar Ferdian setelah melepas rengkuhannya dan menatap mata Lusi yang makin berbinar cerah.


“Kemana aja Mas bawa aku, pasti aku ikut.“


Senyum Ferdian kembali merekah. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Lusi dan mengecupnya lembut. Tak ia pedulikan lagi orang-orang sekitar yang sedari tadi melirik ke arah mereka.


Ternyata moment romantis yang sejak lama ia nantikan, akhirnya benar-benar terwujud sesuai dengan yang ia harapkan.

__ADS_1


****Gassskeuunn Yookk.... Please Like, Vote, 5 Ratenya, dan kritik sarannya silahkan di kolom komentar. ****


__ADS_2