ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 23


__ADS_3

Seorang pemuda tampan celingak-celinguk melalui kaca mobil nya mengamati rumah bercat putih milik keluarga Lusi. Dia putuskan untuk memarkirkan mobilnya persis di depan gerbang. Kemudian turun dan melangkah masuk. Di bukanya perlahan gerbang putih yang tak terkunci itu. Lalu mendekat menuju teras rumah yang tampak asri dikelilingi banyak tanaman dalam pot yang berjajar rapi.


“Assalammualaikum,” ucap nya agak kencang. Tapi tak ada jawaban dari dalam rumah.


“Assalammualaikum.” Kembali dia memanggil lebih kencang lagi.


Matanya tertuju pada tombol hitam yang menempel di tiang teras. Di pencetnya beberapa kali memanggil si empunya rumah.


Priska keluar dari dalam rumah seraya mencari tahu siapa yang memencet-mencet bell rumahnya tadi.


“Cari siapa?“ Tanya nya pada pria yang berdiri memunggunginya.


Pria itu berbalik badan ke arah nya. Dan seketika itu juga bola mata Priska terbelalak, raut wajahnya berubah sumringah dan tersenyum lebar.


“Mas Dio ? Haiiii...apa kabar?” Sambut nya menghamburkan diri memeluk pria tampan yang di panggil Dio itu. Tapi pria itu malah grogi dan buru-buru melepaskan pelukan Priska dari dirinya lalu mundur sedikit menjauhi Priska yang tampak kecewa menerima sikap penolakan itu.


“Eehh, kabar ku baik. Pris, aku mau ketemu Lusi, dia ada?” Tanya Dio lekas.


Priska memanyunkan bibirnya yang tebal dengan polesan lipstik orange. Dia sebal sekali mendengar Dio malah mencari Lusi, kakak tirinya yang sangat dia benci itu.


“Lusi gak ada, udah gak tinggal disini lagi,”  jawab Priska ketus.


“Ohh, tinggal dimana Lusi sekarang, Pris?” Tanya Dio lagi penasaran.


Priska tak menjawab, dia hanya memanyunkan bibirnya kesal dan menghempaskan pantatnya di kursi kayu teras nya. Pandangan Dio mengikutinya menunggu jawaban darinya.


“Lusi udah nikah sama Big Boss. Jadi dia ikut suaminya,” jawab Priska sekenanya.


Bagai tersengat ribuan lebah, Dio merasakan hatinya pedih mendengar jawaban itu.


“Bener, Pris?” Dio minta jawaban lebih pasti. Suaranya berubah lemas.


Prika mengangguk mantap sambil mendelik pada Dio yang berdiri gontai dengan bersandar pada pilar tembok.


“Dua bulan yang lalu deh kira-kira. Tepatnya aku lupa.” Lanjut Priska lagi membuat hati Dio panas membara.


“Kok dia gak nunggu aku?” Lirih suara Dio. Kecewa berat.


“Mas Dio kelamaan di Amerika, ya pasti dia malas lah nunggu. Apalagi Lusi kan gak betah lama-lama jomblo, kayak gak kenal Lusi aja.”  Sindir Priska nada suara nya sangat tak enak didengar. Penuh kebencian dan kecemburan.


“Aku kan cuma setahun disana, Pris. Masa dia gak mau nunggu?”


Priska mengangkat kedua bahunya malas, enggan menanggapi.

__ADS_1


“Dengan siapa dia nikah? Dan boleh minta nomor teleponnya atau alamatnya, Pris? Aku bener-bener pengen ketemu dia. Paling tidak ya sekedar ngucapin selamat aja atas pernikahannya.” Pinta Dio sedikit memelas.


“Aku gak tau nomor telepon ataupun alamat tepatnya. Yang pasti dia nikah dengan pengusaha besar yang kaya raya. Yaaaa, walaupun cuma dijadikan istri kesekian sih.” Nyinyir Priska lagi, mendengus penuh kebencian membayangkan wajah Lusi.


Dio membelalakkan matanya mendengar penuturan Priska barusan.


“Istri kesekian? Maksud kamu, Pris?”


“ Iya, istri kesekian. Itu om-om istrinya banyak, Mas. Orangnya udah tua, sekitar 50 tahunan gitu deh.“ Jawaban Priska sangat menyakitkan terdengar di telinga Dio.


“Kok Lusi mau sama orang itu?” lirih suara Dio. Pandangannya tertunduk ke lantai sambil berpikir jauh.


“Ya Lusi pasti mau lah, Mas. Yang penting kan tajir.“ Nyinyir Priska lagi seraya tersenyum sinis.


“Gak mungkin Lusi matre begitu. Aku kenal bagaimana sifat Lusi." Dio protes karena tak percaya pada Priska.


“Haduuuhh, Mas Dio. Perempuan mana sih yang gak ngiler di kasih duit banyak,” sambut Priska kemudian tertawa geli.


Ya itu bedanya kamu dengan Lusi, kata bathin Dio panas mendengarnya


“Ya sudah aku pulang dulu, Pris. Kalo kamu ketemu Lusi kasih tau dia ya aku datang mencari,” pamit Dio dan melangkah gontai meninggalkan Priska.


“Oke, Mas. Nomor telepon mas dio masih sama? Biar aku kasih Lusi," tanya Priska dari depan terasnya.


“Masih yang dulu, Pris,” ucap Dio kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya.


“Benarkah kamu sudah nikah, Lusi?” bisiknya lirih. Bola matanya mulai basah.


“Kenapa kamu gak nunggu aku? Aku sengaja pulang ke tanah air meninggalkan sekolahku di Amerika cuma demi kamu, tapi apa yang aku terima sekarang?"


Dio menangisi cintanya yang kandas.


*Flashback satu tahun yang lalu.


Sore itu. Dio menunggu Lusi di bangku taman kota dengan gelisah. Diliriknya jam ditangannya. Sudah hampir satu jam dia menunggu sendirian dengan perasaan harap-harap cemas. Berkali-kali diedarkan pandangannya ke sekeliling taman mencari sosok gadis yang ditunggunya itu.


Senyumnya sumringah melihat dari kejauhan Lusi setengah berlari menuju ke arahnya.


“Hai, maaf nunggu lama ya? Tadi aku antar pesanan bunga dulu untuk pelangganku,” ujar Lusi riang walaupun dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal.


“Gak papa, kok,” ucap Dio lembut.


Lusi menempati pantatnya di kursi kayu panjang menghadap taman yang penuh bunga dan pemandangan anak-anak kecil yang tengah bermain-main disana.

__ADS_1


“Lusi, ini minum dulu, kebetulan aku tadi beli jus jeruk sambil nunggu kamu.”


Lusi menerima segelas plastik jus jeruk dari tangan Dio. Lalu menyeruputnya hampir tandas. Dio memperhatikan gadis disampingnya itu dengan senyumnya yang dikulum.


“Hmm, Lusi. Ada yang mau aku omongin ke kamu.” Dio angkat bicara.


“Silahkan, ngomong aja,“ jawab Lusi enteng. Kemudian menyeruput jus jeruknya lagi.


“Sebenernya aku suka sama kamu, Lusi. Aku sayang...” Dio menggantung kalimatnya. Pemuda itu menutup matanya sebentar lalu mencoba mengatur kata-kata yang tepat. Lusi di sampingnya menatap serius wajah Dio yang tampak gugup.


“Aku pengen kamu jadi pacar aku,” lanjut Dio tanpa basa basi lagi.


Lusi tersenyum lebar. Bola matanya berbinar-binar. Sejenak dia menyelipkan rambut legam nya kebelakang telinga.


“Mau kan jadi pacar aku, Lus?“ tanya Dio lagi kali ini dengan nada suara memohon.


Lusi menatap wajah Dio lama dan kembali tersenyum sekilas


“Dio, kamu baik banget sama aku selama ini. Aku juga suka sama kamu, tapi...” Kalimat Lusi menggantung membuat Dio makin penasaran.


“Tapi aku menganggap kamu sebagai sahabat ku yang paling baik, Dio. Aku gak mau merusak hubungan pertemanan kita yang sudah lama ini," ucap Lusi pelan.


Dia yakin Dio pasti kecewa mendengarnya. Lusi tahu Dio memang naksir padanya sejak mereka sama-sama dikelas dua SMA. Tapi Lusi merasa lebih nyaman menganggap Dio sebagai sahabat karena Dio sangat perhatian dan baik padanya.


Dio menunduk lesu. Jari-jemarinya saling bertautan. Hatinya kecewa cintanya ditolak oleh gadis yang sangat dia inginkan.


“Bisakah suatu saat nanti kamu merubah perasaan kamu untuk aku, Lusi? Dan menganggap aku lebih dari sekedar sahabat?" Tanya Dio lirih menatap wajah Lusi yang polos.


Lusi mengangguk pelan dan tersenyum manis. Lalu menyentuh lengan Dio lembut.


“Kita gak pernah tau hari-hari kita ke depan seperti apa, Dio. Begitu juga dengan perasaan kita. Bisa jadi kan suatu saat nanti justru aku yang meminta kamu jadi suami aku,“ ucap Lusi tulus.


Dio mengembangkan senyumnya mendengar penuturan Lusi yang dianggapnya sebagai harapan penyejuk hatinya yang kecewa.


“Wah, kalo kamu nanti minta aku jadi suami kamu pasti saat itu juga aku bopong kamu ke penghulu.” Seru Dio dengan mimik lucu dan menggemaskan. Lusi pun tertawa menanggapi. Dio menggengam tangan Lusi erat dan Lusi pun membalas.


*A*ku akan datang padamu lagi, Lusi. Dan aku yakin kamu pasti akan menerimaku. Aku janji akan kuliah yang serius dan bekerja keras supaya aku bisa nikah sama kamu dan membahagiakanmu. Tekad Dio sungguh-sungguh dalam hatinya.


Itulah pertemuan terakhir Dio dan Lusi sebelum akhirnya Dio dikirim orangtuanya untuk ikut kakaknya ke Amerika dan kuliah mengambil jurusan arsitek di universitas terbaik di kota San Fransisco.


Tapi karena rasa cintanya yang sangat besar pada Lusi, Dio pulang ke tanah air dan ingin melanjutkan kuliahnya di Indonesia saja, supaya dia bisa setiap saat bertemu dengan Lusi.


Namun kenyataan yang Dio terima sekarang membuatnya terluka untuk kedua kalinya. Gadis yang sangat diharapkannya itu sudah menikah dengan orang lain. Dio sangat kecewa. Tapi dia bertekad harus bertemu Lusi dan mendengarnya langsung dari mulut Lusi sendiri.

__ADS_1


Visual Cast Dio



__ADS_2