
Ditemani semilir angin dingin dan suara binatang malam, Lusi merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang langsung berhadapan dengan kolam renang.
Pandangannya lurus ke atas menatap langit yang gelap gulita. Malam yang cerah dengan kerlipan bintang kecil tampak bertaburan di atas sana.
Dia pejamkan mata sejenak dan merasakan semilir angin yang gemulai membelai wajahnya.
Langkah Ferdian perlahan menghampiri tempatnya. Pandangannya terhenti pada sosok Lusi yang kini mengenakan celana tidur sebatas paha dan kaos putih, tengah berselonjor santai di atas kursi.
Tak dipungkiri, Ferdian menikmati pemandangan cantik di depan matanya. Saat gadis itu terpejam dengan bibir mungilnya terkatup rapat, membuat senyum manis melengkung di wajahnya.
“Lusi...." panggilnya pelan.
Gadis itu membuka kelopak mata. Di dapatinya sosok tegap Ferdian berdiri tepat di sampingnya. Sontak dia beranjak dari rebahan dan duduk merapatkan kaki.
Tubuh gadis itu bergeser saat Ferdian menghenyakan diri tepat di sampingnya.
“Ini buat kamu.” Ferdian menjulurkan sebuah kotak pada Lusi.
“Apa ini?” tanya Lusi seraya menyambut kotak itu.
“Buka aja,“ suruh Ferdian dengan suara lembut.
Lusi membuka kotak bersegel itu dengan hati-hati.
Lalu bola matanya berbinar cerah saat mendapati benda pipih di dalamnya. “Handphone?” serunya semringah
“Ini untuk aku, Om?“ tanya Lusi lagi menatap Ferdian seolah tak percaya.
Pria itu pun mengangguk sambil tersenyum lebar melihat Lusi yang tampak kegirangan menimang-nimang benda itu.
“Kamu pasti butuh, kan? Makanya aku beliin. Aplikasinya sudah terinstal semua, cuma kontaknya aja yang masih kosong. Itu kamu sendiri yang masukin, ya. Dan aku minta sama kamu yang boleh kamu tambahkan kontaknya hanya orang-orang yang bisa kamu percaya, selain itu jangan. Berbahaya nanti untuk kamu,” ujar Ferdian lugas.
“Iya Om, aku ngerti. Aku pun gak punya banyak teman. Paling cuma Bu Dahlia satu-satunya orang yang aku percaya,” jawab Lusi ringan.
“Dan satu lagi, Lusi..."
“Apa, Om?"
“Jangan panggil aku Om, oke? Sekarang kan aku udah jadi suami kamu. Panggil yang mesra, dong. Abang atau mas gitu,” pinta Ferdian membuat Lusi tersenyum geli, lalu mengangguk setuju.
“Mas aja ya, Om... eh, maaf, Mas,” ucap Lusi kikuk. Ferdian ikut tersenyum geli menampilkan deretan giginya yang rapi.
“Ehmmm, Lusi, kalo boleh tau, apa kamu punya pacar? Maksud aku sebelum kita ketemu,” tanya Ferdian tiba-tiba.
Dia berpikir tak mungkin gadis secantik Lusi tidak punya pacar atau hubungan special.
Apalagi di usianya yang tergolong sangat belia. Dimana semestinya gadis itu sedang menikmati indahnya masa muda. Punya seseorang yang istimewa atau semacamnya.
Lusi menoleh pada Ferdian di sampingnya. Wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya, hingga napas Ferdian yang hangat dan beraroma mint menyegarkan menyergap indera penciuman. Tak salah jika kegugupan seketika menyerang dirinya.
“Aku gak pernah pacaran, Mas. Dilarang sama almarhum ayah," jawab Lusi seraya menunduk mengenang wajah mendiang ayahnya yang teduh.
“Baguslah kalo begitu. Almarhum ayah kamu sangat protektif ya?"
Lusi mengangguk dan tersenyum kecil.
__ADS_1
“Terus, kenapa kamu gak kuliah? Malah kerja di kios bunga? Padahal ayahmu punya perusahaan sendiri dan lumayan besar?” selidik Ferdian sangat ingin tahu.
“Aku sempat kuliah satu semester, Mas. Di fakultas ekonomi jurusan manajemen, tapi sejak ayah sakit-sakitan dan semua urusan keuangan ditangani Ibu tiriku, aku gak melanjutkan. Ibu tiriku gak mau membiayai kuliah aku, bahkan untuk kebutuhanku sehari-hari aja dia gak mau kasih. Makanya aku kerja di kios Bu Dahlia.
"Dan selama bisnis ayah di pegang sama Ibu tiriku aku sama sekali gak dikasih akses untuk ke perusahaan ayah, jadi aku gak tau sama sekali," cerita Lusi dengan suara lirih dan terdengar serak, sepertinya sedang menahan kepiluan yang nyaris merebak.
Kembali gadis itu mendongak lalu di tatapnya wajah Ferdian.
Pria itu tampak menawan malam ini, ditambah dengan aroma tubuhnya yang menguarkan keharuman khas parfum pria yang maskulin.
Aroma itulah yang sangat dia sukai sejak pertama kali dia bertemu Ferdian di kios Bu Dahlia.
“Kamu mau kuliah lagi?“ tanya Ferdian sambil menatap wajah Lusi lekat.
“Sebenernya aku mau kuliah lagi, tapi nanti kalo aku sudah punya uang,” jawab Lusi polos seraya tersenyum kecil.
“Ngapain tunggu nanti? Kalo kamu mau lanjutin kuliah, aku akan biayain kamu. Silahkan kamu pilih fakultas yang kamu minati. Besok langsung daftar aja,“ ujar Ferdian semangat.
Bola mata Lusi pun berbinar-binar. Benaknya kini dinaungi rasa antara tak percaya dan juga senang.
Ini cowok bener-bener baik banget, bathin nya.
“Beneran, Mas?“ tanya Lusi untuk meyakinkan dirinya.
Ferdian pun mengangguk mantap.
“Di dekat kantorku ada kampus yang bagus. Kamu bisa kuliah di sana, jadi kita bisa pulang pergi bareng.”
"Aaiiiih! Senangnya aku bisa kuliah lagi!" Spontan Lusi berseru girang.
Saking senangnya, tanpa sadar Lusi melingkarkan kedua lengannya pada bahu Ferdian dan menempelkan wajahnya ke dada pria itu.
Ferdian tak menolak sama sekali. Justru dirinya serasa melayang mendapat pelukan hangat dari gadis cantik yang baru dinikahinya itu.
“Gak usah kamu ganti, Lusi. Kamu, kan istri aku sekarang, berarti semua kebutuhan kamu adalah tanggung jawab aku, dong. Masa sama suami sendiri pake itung-itungan,” ucap Ferdian ikut senang.
Spontan Lusi melepaskan tangannya dari bahu Ferdian. Gadis itu salah tingkah dan gugup karena menyadari tingkahnya yang dirasa lepas kendali.
Ferdian menatap lekat wajah Lusi. Lalu perlahan jarinya mendongakkan wajah sang gadis yang tertunduk malu, kemudian menghadapkan wajahnya lebih dekat lagi.
Tampak Lusi membelalakan bola matanya lucu, membuat wajah imutnya semakin tampak menggemaskan.
"Kamu belum pernah pacaran, kan?" Ferdian berdesis tepat di depan wajahnya.
Lusi tak sanggup menjawab karena terbius oleh pesona Ferdian yang terpampang jelas di depan mata.
Yang sanggup dia lakukan hanya mengangguk pelan seraya mengerjapkan kelopak mata lentiknya.
"Berarti belum pernah ciuman?" tanya Ferdian lagi. Tapi yang sebenarnya itu adalah kesimpulannya sendiri.
Kali ini Lusi menggeleng, masih dengan mata terbelalak menatap Ferdian.
Sejauh ini gadis itu belum mengerti maksud pertanyaan Ferdian tadi.
"Mau coba?" tawar Ferdian disertai seringai nakal di wajahnya.
__ADS_1
"Coba apa?" Justru Lusi balik bertanya lugu dengan menautkan kedua alisnya.
"Ciuman.... " desis Ferdian kian pelan. Meskipun demikian, Lusi masih bisa mendengar.
Antara ragu tapi juga mau, Lusi mengangguk malu-malu.
Memperoleh 'lampu hijau' dari Lusi, Ferdian tersenyum kecil. Tentu saja dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata.
Pria itu mengangkat dua tangannya, menangkup wajah Lusi untuk kian mendekat.
Perlahan dia memiringkan kepala sedikit, mendekatkan bibirnya pada bibir mungil yang menggemaskan itu, lalu mengecupnya tanpa permisi.
Mata Lusi terpejam rapat saat dia rasakan bibir Ferdian mengecup lembut bibirnya, bahkan cukup lama.
Jantungnya pun berdegup kencang. Dia tak tau harus berbuat apa. Gadis itu hanya diam dan merasakan bibirnya kini di kullum dengan sangat lembut oleh Ferdian.
Perlahan dan sangat lembut, Ferdian menikmati bibir mungil yang tengah dia sesap berkali-kali itu.
Hingga tak mampu menahan tangannya yang mulai bergerak pelan, merambah ke atas paha Lusi yang terpampang di hadapan.
Kemudian merangkak lagi ke arah pinggang, lalu ditariknya tubuh Lusi merapat padanya tanpa sedikitpun melepaskan ciumannya.
Ferdian merasakan gairahnya yang sudah menggila saat dia tahu ada sesuatu di balik celananya yang mulai menegang kencang.
Tangan kanannya perlahan mulai naik ke dada Lusi dan menjamah benda yang bertengger di balik t-shirt putih itu dengan lembut.
Sontak, Lusi pun tersadar saat merasakan dadanya ada yang meremas. Lantas dia menarik bibirnya dari bibir Ferdian.
Pria itu pun menghentikan aksi tangannya demi melihat Lusi yang seketika terperangah, kaget menatapnya.
“Ada apa? Kamu gak suka?” tanya Ferdian seraya memindahkan tangannya ke samping wajah Lusi dan menyelipkan anak rambut yang menjuntai ke balik telinga Lusi.
“Ehhm... maaf, Mas. Aku gak bisa, kita gak boleh kayak gini," jawab Lusi gugup dan salah tingkah.
“Kenapa gak boleh? Kita kan udah jadi suami istri, Lusi.” Lembut suara Ferdian seraya menatap lekat pada wajah Lusi. Nafsunya masih menggelora, namun berusaha keras diredamnya.
“Tapi, kan cuma sementara aja, Mas.” sanggah Lusi kemudian.
Mendengar jawaban itu, Ferdian langsung melepaskan rengkuhannya dari tubuh Lusi dan membetulkan posisi duduknya.
Ferdian mengangguk pelan. “Iya, kamu betul. Maaf, aku khilaf," ucap Ferdian pelan.
Lusi hanya mengangguk lalu tertunduk lagi. Dia usap bibirnya dengan ibu jari. Keduanya pun terdiam menutupi kegugupan yang menyerang.
Ferdian menggigit bibirnya pelan. Masih dia rasakan bibirnya berdenyut lembut karena ciuman barusan.
'Gadis ini sangat menggemaskan ternyata. Bikin aku lupa diri. Kalo begini terus bisa jebol benteng pertahananku nanti.' Pikir Ferdian dalam hati.
'Baru pertama kali ini aku dicium cowok, ternyata enak juga. Apalagi dicium cowok ganteng kayak dia ini. Melayang rasanya. Tapi aku gak boleh terbawa perasaan. Ingat Lusi, pernikahan ini cuma di atas kertas. Dia sudah sangat baik
padaku untuk membantu, jangan dirusak dengan perasaan yang lebih jauh lagi.' bathin Lusi menggebu.
Keduanya kini tertunduk dalam diam yang entah kapan akan mereka akhiri. Pasangan ini hanya berkutat dengan debaran hati masing-masing. Dan berusaha keras meredam hasrat alami yang baru saja terjadi.
PLEASE LIKE, VOTE, 5 BINTANG, KOMENT NYA YAH.... HAPPY READING
__ADS_1