
Tatapan mereka berbenturan di depan ruang makan. Lusi dan Cantika. Lusi menyungging senyuman, namun Cantika hanya mendengkus dan membuang muka seolah tak sudi bersitatap muka dengan Lusi.
Dengan mengenakan celana jeans dan sweater pink, Cantika melenggang angkuh dihadapan Lusi. Menyambar kunci mobil di atas meja, lalu melangkah keluar menuju sedan merahnya.
Lusi hanya geleng-geleng kepala melihat sikap adik iparnya yang mulai tampak jelas memusuhinya.
Dia duduk di depan kolam renang sambil menikmati susu coklat hangatnya di malam ini.
Tiba-tiba dia teringat pada Dio. Dia lihat di layar ponsel, sudah belasan kali terdapat nama Dio di daftar missed call-nya hari ini.
Akhir-akhir ini memang Dio sangat intens mendekatinya. Terlebih sejak Dio tahu bahwa pernikahan Lusi dan Ferdian adalah cuma sebatas 'hitam di atas putih'. Karena itulah Dio masih sangat berharap Lusi menjadi miliknya.
Flashback on beberapa hari lalu.
Dio mendatangi Lusi yang duduk terpekur sendiri, tengah serius membaca makalah kuliahnya. Gadis itu sama sekali tak menyadari kedatangan Dio yang tiba-tiba sudah duduk di hadapannya.
“Hey, Lusi. Serius amat,” tegur Dio sambil tersenyum lebar padanya.
“Ohh, Dio. Aku kira Nikita atau Ashanti,“ balas Lusi seraya menutup makalahnya.
“Aku liat mereka sudah pulang. Kamu kenapa belum pulang? Apa gak dijemput?” tanya Dio, padahal dalam hati Dio berharap Lusi tak dijemput agar dia bisa mengantar Lusi pulang.
“Belum, Dio. Suamiku masih ada meeting. Aku disuruh tunggu disini dulu,” jawab Lusi dengan ciri khas suaranya yang lembut.
“Boleh aku tanya sesuatu, Lusi?” ijin Dio sambil memperhatikan wajah Lusi. Dia takut apa yang akan ditanyakannya akan menyinggung perasaan Lusi.
“Tanya apa, Dio?”
“Hmmm, apa rasanya menjalani kawin kontrak itu, Lusi?” tanya Dio pelan dan hati-hati.
Lusi mendongak menatap Dio. Lalu tersenyum sekilas. Dio merasa tenang, karena tampaknya Lusi tak tersinggung dengan pertanyaan itu.
“Aku susah menjawabnya, Dio. Yang pasti selama menjalaninya suamiku selalu memperlakukan aku dengan baik. Dan aku sangat hormat padanya," jawab Lusi lirih.
“Apa mungkin suami kamu jatuh cinta sama kamu?” Ada guratan cemas dan gundah di raut wajah Dio saat mempertanyakan hal itu. Dia sangat takut jika Lusi menjawab 'ya'.
Tapi Lusi menggeleng lemah. “Aku gak tau Dio, dengan trauma masa lalu suamiku yang gagal menikah, aku rasa sulit untuknya jatuh cinta lagi. Apalagi mantan tunangannya itu wanita yang sangat sempurna dari segi fisik.
Cantik, berpendidikan dan kaya raya. Kalo dibanding dengan aku jauh sekali Dio. Jadi rasanya tak mungkin suamiku jatuh cinta sama aku.”
“Kamu jangan merendah begitu Lusi. Apakah mantannya itu yang pernah kita lihat di restoran tempo hari bersama suamimu?” tanya Dio penasaran. Dan Lusi hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Hmmm. Oo dia. Kalo aku jadi suamimu aku pasti lebih pilih kamu dibanding wanita itu,” ucap Dio tersenyum lebar.
Lusi tertawa ringan. Dio suka sekali melihat Lusi tertawa. Gadis itu sangat manis saat sedang menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih.
“Kamu tau, Lusi? Aku gak pernah berhenti mencintai kamu. Aku akan terus menunggu kamu punya perasaan yang sama," ucap Dio pelan seraya memandang lembut wajah Lusi dengan tatapan penuh harap.
Lusi menunduk tak berani menatap wajah Dio. Lusi takut Dio akan kecewa menunggunya selama ini.
Aku perempuan yang punya banyak masalah, Dio. Aku gak mau kamu kecewa. Kamu terlalu baik untuk aku. Ucap Lusi dalam bathinnya.
Flashback off.
Lantunan lagu Erick Clapton berjudul Tears in Heaven terdengar sangat sendu dibawakan oleh seorang penyanyi kafe di atas mini stage.
Di iringi musik acoustik yang sangat apik membuat suasana kafe yang terkenal di kalangan kelas atas itu makin syahdu terasa.
Cantika menempatkan duduknya di kursi tinggi persis berhadapan dengan seorang bartender. Dua gelas Cocktail Margarita sudah lolos masuk ke kerongkongannya. Kali ini dia menunggu untuk gelas ketiga.
Bartender kembali meletakkan gelas berisi minuman beralkohol kadar rendah itu dihadapannya.
Cantika terpekur menunduk sambil memutar-mutar gelasnya. Pikirannya terus tertuju pada kakaknya, Ferdian. Hatinya masih sangat jengkel mengingat kejadian tadi pagi.
__ADS_1
Kakak satu-satunya yang sangat dia banggakan selama ini sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
Sejak kematian kedua orang tuanya hanya Ferdianlah yang menjadi tempat sandaran hidupnya.
Ferdian yang selalu memanjakannya, selalu mengabulkan apapun keinginannya dan selalu melindunginya, kini serasa jauh darinya. Dia sedih, kesal dan kecewa.
Terlebih lagi terhadap Lusi yang dia anggap menjadi orang yang punya andil besar membuat pribadi Ferdian berubah total.
“Mama...Papa....” Suara Cantika lirih. Air matanya bergulir sebutir dipipi. Rasa rindu yang menggila pada mendiang kedua orang tuanya tiba-tiba menyergap hatinya.
Terbayang di benaknya, wajah anggun mamanya dan wajah teduh papanya. Terlebih senyum mamanya yang selalu menghias dibibir. Juga papanya yang sangat bijaksana, tak pernah sekalipun bersuara keras padanya.
Kini kedua orang terkasihnya itu sudah beristirahat dengan tenang di alam surga. Hanya foto-foto di dinding dan kenangan manis yang sedikit mengobati rasa rindunya.
“Mama... Papa.... Aku kangen... hiks.. hiks... hiks...” Cantika merengek dengan suara tertahan. Namun tak mampu membendung lagi air matanya yang kini semakin deras membasahi kedua pipi.
Pemuda tampan yang duduk disamping Cantika menoleh ke arahnya lantaran mendengar suara tangisnya yang tiba-tiba pecah.
Pria itu memperhatikan wajah Cantika yang tertunduk dengan bahu yang terguncang-guncang menahan isaknya.
Tiba-tiba sehelai sapu tangan terjulur ke hadapannya. Cantika menoleh ke arah pemiliknya yang duduk persis disamping kanannya.
Dio menatap datar pada Cantika dengan tangan yang masih terjulur memegang sapu tangan biru.
Cantika malu-malu menerima sapu tangan dari Dio. Lalu dia pakai utk menghapus air matanya yang tergenang di pelupuk mata.
“Terima kasih,” ucap Cantika seraya mengembalikan sapu tangannya pada Dio.
“Pegang aja sama kamu, mungkin kamu mau nangis lagi untuk ronde kedua,” ujar Dio berseloroh. Cantika tertawa kecil disela isaknya yang masih tersisa.
“Emangnya pertandingan tinju?” balas Cantika dengan suara yang serak selesai menangis.
“Perempuan gak baik nangis sendirian di tempat seperti ini. Bahaya,” ucap Dio lagi seraya menenggak minuman cola-nya.
“Tenangin pikiran kok disini. Harusnya di rumah ibadah sana.”
“Memangnya kenapa kalo disini, aku suka kok suasananya.” Cantika protes.
“Sering kesini?” tanya Dio sambil menghadapkan duduknya pada Cantika.
“Gak juga, baru beberapa kali aja. Kalo kamu? Sering kesini?” Cantika balik bertanya.
“Gak juga, baru beberapa kali juga. Cuma untuk tenangin pikiran aja.” Jawaban Dio membuat Cantika tertawa lebar. Dio pun ikut tertawa, namun kecil.
“Kamu tukang fotokopi ya? Jawabannya copy paste punya aku tuh,” seru Cantika disela tawanya.
“Aku bukan tukang fotokopi. Aku Dio. Kamu...?” Dio mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Cantika.
“Cantika,” jawab Cantika membalas menjabat tangan Dio.
“Senang kenalan sama kamu,“ ucap Dio sopan.
“Sama, aku juga. Makasih yah udah bikin aku ketawa. Dan makasih juga sapu tangannya,” ucap Cantika menunjuk sapu tangan yang masih digenggamnya.
Triiinggg.....Triiiinggg....Trriiinggg....
Tiba-tiba suara ponsel Cantika yang tergeletak di atas meja bar bersuara. Dilayarnya tertera tulisan ‘Kakak’.
Waduh, gawat nih kalo kak Ferdian tau aku ke kafe ini, bisa habis aku di omelin. Bathin Cantika gusar.
“Maaf Dio, aku terima telepon dulu diluar.” Ijin Cantika dan dijawab dengan anggukan Dio.
Lalu bergegas Cantika membawa ponselnya keluar untuk menghindari alunan suara musik yang masih terdengar dari dalam kafe.
__ADS_1
“Iya, Kak?” jawab Cantika lekas.
“Kamu dimana?” Suara Ferdian terdengar gusar.
“Di... di ... oooh di toko buku, Kak,” jawab Cantika berdusta.
“Mana ada toko buku yang buka sampe jam sebelas malam begini. Kamu pulang sekarang!” bentak Ferdian kemudian.
“Ii ... iya, Kak. Ini aku pulang sekarang.” Cantika gugup karena jelas telah berbohong. Lantas dia matikan sambungan teleponnya. Dan bergegas kembali ke dalam kafe untuk berpamitan pada kenalan barunya, bernama Dio.
“Loh, mana tuh cowok?“ Cantika celingak celinguk mencari keberadaan Dio. Cowok itu tak lagi berada di kursinya.
“Mas, cowok yang tadi duduk disini kemana?” tanya Cantika pada Bartender di depannya.
“Sudah keluar, Kak.“
“Ooo, oke. Aku minta Bill, mau bayar.“
“Sudah diclosing sama mas yang tadi,“ jawab Bartender lagi.
“Hah? Sudah dibayarin? Duuuh, tuh cowok baik bener deh,” ujar Cantika, lalu ngeloyor pergi segera keluar dari kafe itu menuju pelataran parkir.
Dia membuka pintu mobil segera. Dan langsung menghidupkan mesinnya, namun ternyata tak mau menyala.
Berkali-kali dia starter tetap juga tak terdengar tanda-tanda mesin itu menyala. Tentu saja dia mulai panik. Terlebih lagi melihat di area parkiran itu, tak ada satupun orang yang melintas.
Keringat dingin tiba-tiba mengucur di keningnya.
“Kenapa mobilnya? Mogok?” Tiba-tiba wajah tampan Dio muncul di samping pintu mobil.
“Aaaakk....!” Cantika menjerit terperanjat.
“Ya ampun, Dio... Maaf aku panik,” ucap Cantika kemudian keluar dari mobilnya.
“Coba aku cek.” Dio masuk ke dalam mobil lalu mencoba menstarternya beberapa kali tapi tetap juga tak mau menyala.
Dio keluar dari mobil lalu membuka kap mesin didepannya. Dia teliti bagian-bagian kabel yang malang melintang di dalam mesin itu. Entah apa yang dia kutak-katik itu.
Cantika memperhatikan wajah Dio yang tampak serius di sampingnya.
Ganteng juga nih cowok, pikirnya dalam hati.
“Coba di starter," suruh Dio kemudian.
Cantika menurut lalu masuk ke dalam mobil dan menstarternya kembali. Mesin mobil tiba-tiba menyala. Cantika tersenyum lega. Dio menutup kembali kap mesin mobil lalu menghampiri Cantika.
“Waahh, terima kasih banyak, kamu udah nolong aku tiga kali malam ini," ucap Cantika girang.
“Tiga kali?” tanya Dio heran.
“Iya. Pertama, kamu udah bikin aku ketawa. Kedua, kamu bayarin bill aku. Ketiga, kamu benerin mobil aku.”
Dio hanya tersenyum manis menanggapi.
“Ya sudah. Kamu pulang sana. Sudah malam. Drive safe, oke,” ucap Dio sopan.
“Oke, you too. Thanx ya.” Cantika tersenyum sambil melambai pada Dio lalu melajukan mobilnya cepat karena dia tahu Ferdian pasti sedang menunggunya di teras depan rumah, dengan muka yang sangat horor dan siap menjewer telinganya.
visual Cast : Dio
visual cast : Cantika
__ADS_1