ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)
BAB 52


__ADS_3

Dua slice pizza ukuran sedang lolos sudah masuk ke perut Cantika. Namun mulut kecilnya tak berenti mengunyah. Di raihnya lagi slice ketiga. Amanda yang duduk di sampingnya terbelalak melihatnya memakan makanan berkarbohidrat tinggi itu.


“Hey, Tika. Makan tuh di rem sedikit. Badanmu bisa melar nanti,“ tegur Amanda memperingati.


“Enak, Kak," sahut Cantika dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.


“Kayak gak pernah makan pizza aja. Emangnya di Aussie gak ada pizza?”


“Ada sih, Kak, tapi hari ini aku lagi mau memanjakan perutku. Aku lagi hepi.”


“Hepi kenapa?” Amanda beringsut memutar badannya menghadap Cantika.


Sesaaat Cantika meneguk air putih, lalu mengusap kedua sudut bibir dengan tissue. Amanda tak sabar menunggu jawaban Cantika, tapi yang ditunggu malah tersenyum-senyum sendiri lantaran bayangan wajah Dio yang tampan tengah mengisi memory di kepala.


“Aku ketemu cowok di kafe, Kak. Keren banget,“ ucap Cantika akhirnya.


“Terus? Kamu Kesengsem?” tembak Amanda dengan tatapan menyelidik.


Cantika mengangguk cepat sambil tersenyum lebar, “Dia cool banget kak.”


“Sempet kenalan, gak?”


“Namanya Dio, orangnya sweet banget Kak. Bayarin bill aku dan waktu mobilku mogok dia juga yang bantu betulkan mesinnya,” jawab Cantika masih membayangkan wajah manis Dio dan pertemuan mereka malam itu.


“Coba iseng-iseng kamu sapa dia lewat whatsapp atau sms. Yaaah, ajak dinner kek atau nge-lounge bareng kek. Agresif sedikit, Tika. Nanti disamber perempuan lain baru nyesel.”


Cantika terbelalak mendengarnya. Dia teringat sesuatu.


“My God! Aku lupa minta nomor handphonenya, Kak,“ sesal Cantika menepuk jidatnya sendiri.


“Aduh, kamu gimana sih? Udah ngobrol-ngobrol masa gak tukeran nomor handphone. Ya, udah gigit jari deh kamu.”


Cantika menyentak-nyentakan kakinya ke lantai seraya menepuk jidatnya lagi.


“Yaaaaaaah! Gagal deh dapat cowok baru.” Cantika dan Amanda tertawa.


Namun tawa mereka spontan terhenti melihat Lusi berjalan cepat melintas di hadapan mereka dengan wajah kusut dan sembab.


Pandangan mereka mengikuti langkah Lusi yang menapaki tangga menuju lantai dua, ke kamarnya.


Tak lama, Ferdian juga melintas di hadapan mereka dengan raut wajah yang sama. Kusut dan tampak kesal.


“Eehh.... Eehhh! Kak Ferdian.... Kak!” panggil Cantika cepat berdiri mengejar langkah Ferdian yang hendak menapaki anak tangga. Ferdian berhenti dan menoleh padanya.


“Ada apa sih, Kak? Lusi ngambek, yah?” tanya Cantika penasaran.


“Lagi PMS." Namun Ferdian menjawab sekenanya. Lalu cepat-cepat menapaki anak tangga menyusul Lusi yang sudah masuk ke dalam kamar.


Cantika terbengong bingung mendengar jawaban sang kakak yang asal itu. Amanda yang masih terduduk di sofa hanya tersenyum-senyum sendirian penuh makna.


'Pasti mereka ribut gara-gara malam tadi. Semoga mereka cepetan pisah,' harap Amanda dalam hati.


“Liat, kan Kak? Segitu sayangnya kak Ferdian sama Lusi. Sampai masa PMS-nya Lusi aja kak Ferdian tau,” beritahu Cantika pada Amanda dengan terheran-heran. Rasa kesal menyelinap di hati Amanda kala mendengar komentar Cantika itu.


“Dulu waktu pacaran sama Kak Amanda kayaknya kak Ferdian gak gitu-gitu amat ya, Kak. Dan setau aku sama pacar-pacarnya yang lain gak gitu-gitu juga deh. Hebat juga si Lusi itu bisa bikin kak Ferdian sampai kalang kabut cuma gara-gara PMS" ujar Cantika lagi dengan sewotnya. Wajahnya pun bertekuk masam.

__ADS_1


“Aku, kan bukan cewek sok manja, Cantika,“ balas Amanda dingin sambil membuang pandangan ke arah lain.


'Memang benar kata Cantika. Dulu Ferdian gak pernah segitu perhatiannya sama aku seperti perhatian Ferdian pada Lusi sekarang. Bagaimana bisa sih Ferdian yang keras itu bertekuk lutut sama anak kemarin sore itu? Jurus apa yang dipakai perempuan itu? Bahkan dulu aku pernah sampe nak3d di depan dia pun, dia sama sekali gak tergoda.' gerutu bathin Amanda dengan rasa cemburu yang panas membara di hatinya.


Ingatan Amanda kembali pada tiga tahun silam, ketika usia pacarannya dengan Ferdian baru menginjak tahun pertama.


Saat itu Amanda dan Ferdian tengah merayakan satu tahun anniversary mereka.


FlashbackOn


Di apartemen Amanda yang terkesan cozy dan temaram. Ferdian menyandarkan punggung dengan santai di belakang sofa.


Dengan perut yang terasa penuh karena baru saja selesai makan malam berdua dengan Amanda, ia sibuk mengganti-ganti channel tivi kabel 45 inch di hadapannya.


Tiba-tiba Amanda muncul dari balik pintu kamar dengan pakaian yang sangat minim dan menggoda. Lingerie three pieces berbahan Lace berwarna ungu. Rambut gelombangnya dia biarkan terurai di bahu.


Ferdian tersontak melihat wanitanya itu dengan penampilan yang membuat jantungnya berdentum kencang. Matanya terbelalak dengan bibir yang setengah menganga menatap sosok menawan di hadapannya.


Amanda mendekatinya perlahan dengan sepasang kaki jenjangnya yang tampak lurus sempurna sampai ke pangkal paha.


Pandangan Ferdian terpana melihat leher dan dada mulus Amanda yang terpampang jelas di depan mata.


Amanda mendekatkan wajahnya pada Ferdian dan mengecup bibirnya berulang-ulang. Ferdian pun membalasnya dengan lembut.


Mendapat ciuman balasan dari Ferdian yang semakin berhasrat, Amanda mendaratkan kecupan di leher dan belakang telinga pria itu penuh nafsu.


Dengan lembut dan gerakan perlahan dia melepas lapisan luar lingerienya dan membiarkan kain halus itu jatuh tak berdaya.


Tubuhnya yang kini hanya berbalut bra dan cd g-string membuat Amanda semakin tampak liar dan menggairahkan.


Ferdian memejamkan mata merasakan sensasi liar lidah Amanda di sekitar leher dan dadanya.


Ia membuka kelopak matanya perlahan dan tiba-tiba pandangannya tertuju pada jam di dinding yang menunjukan Pukul 01.00 dini hari.


Tanpa basa basi apalagi permisi, Ferdian mendorong bahu Amanda untuk menghentikan aksi liarnya.


Amanda yang mendapat perlakuan asing itu menatap Ferdian bingung namun masih berusaha mempersatukan tubuh mereka.


Akan tetapi pria itu malah mengganti posisi duduknya menyampingi Amanda, menghadap persis ke layar televisi. Kemudian diraihnya remote televisi di atas meja lalu mencari channel tivi Sky Sports.


Amanda jelas kebingungan melihat tingkah Ferdian yang tiba-tiba mengacuhkan dirinya. Bola matanya terbelalak lebar penuh tanda tanya.


“Beb, kenapa? Ayo lanjutkan," pinta Amanda lembut di telinga Ferdian.


Namun pria itu seolah tak mendengarnya. Tangannya sibuk mengutak-ngatik remote televisi untuk mengencangkan volume suara.


“Nah, ini dia. Alhamdulillah baru mulai,” serunya pada diri sendiri.


Amanda menengok ke layar televisi.


“Pertandingan bola?” pekiknya dengan mulut menganga dan melotot pada Ferdian.


“Sorry, Sayang. Aku udah lama nunggu-nunggu jadwal pertandingan Liga Inggris ini. Antara Chelsea vs Liverpool. Sorry, ya. Aku harus nonton. Aku taruhan besar sama Reynard, soalnya. Semoga aja kali ini Chelsea menang,” ucap Ferdian polos sambil menyilangkan kedua kakinya ke atas meja.


Amanda menekuk wajahnya kesal. Diraihnya lapisan luar lingerienya yang tergeletak di lantai, lalu dengan marah dia masuk ke kamar dan membanting pintunya.

__ADS_1


***Flashback off


Amanda mengerjap-ngerjapkan mata melepas ingatannya pada malam yang ‘tragis’ itu.


Dikamar Ferdian.


Lusi terdiam menunduk di ujung ranjang sambil memainkan ujung jari tangan. Ferdian memperhatikannya lekat sambil bertolak pinggang dengan sebelah tangan dan bersandar pada pintu balkon.


“Kamu janjian, kan dengan cowok tadi?” tuduh Ferdian menatap Lusi dengan geram.


Lusi tak bergeming. Diam seribu bahasa. Kepalanya terus tertunduk, enggan menoleh pada Ferdian.


“Jawab, Lusi!" bentak Ferdian. Lusi tersentak kaget. Dia menoleh sekilas pada pria itu lalu menggeleng lemah. Kemudian menunduk lagi.


“Kamu cinta ya sama dia?” tanya Ferdian lagi menurunkan tensi suaranya.


Kembali Lusi menoleh pada Ferdian dan menggeleng kepala lagi. Ferdian menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya pelan untuk meredam emosinya.


“Kenapa seharian ini handphone kamu matikan?” tanya Ferdian lagi masih dengan menatap wajah Lusi dengan tajam.


Kali ini Lusi hanya mengangkat bahu sekilas. Ferdian makin gemas melihat Lusi yang tak mau mengeluarkan suaranya sama sekali.


“Kamu marah sama aku?“ Kembali Ferdian bertanya. Tatapannya tajam pada gadis itu.


Lagi-lagi Lusi tak menjawab. Dia hanya menekuk bibir mungilnya tanpa menoleh pada Ferdian lagi.


'Udah tau aku marah, pake nanya lagi,' gerutu Lusi dalam hati


“Oke, kalo kamu gak mau bicara.“


Ferdian menatap gemas pada Lusi sembari tangannya membuka kancing kemejanya satu persatu. Kemudian di lemparkan dengan kasar ke lantai.


Lusi mendongak sekilas kemudian menunduk lagi, menghindari tatapannya dari tubuh atletis Ferdian dengan dada yang bidang dan perut datarnya.


Ferdian menghampiri Lusi perlahan. Gadis itu makin merapatkan kelopak mata. Penciumannya menangkap harum aroma perpaduan woody yang menyegarkan menyeruak dari tubuh Ferdian yang sudah berdiri tepat dihadapannya.


Ya Tuhan, please. Aku berlindung pada-Mu dari bantingan suamiku yang pencemburu ini. Lusi berdoa dalam hati.


“Aku lagi emosi berat. Mau mandi dulu. Mau ikut?” tanya Ferdian kemudian. Lusi membuka matanya lalu menggeleng cepat.


Ferdian tersenyum kecil di sudut bibir. Lalu menjauh dari hadapan Lusi menuju kamar mandi.


“Aahhh Lega! Terima kasih telah mengabulkan doaku, Ya Tuhan," ucap Lusi sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajahnya.


Tiba-tiba ingatannya tertuju pada Dio. Dalam hati penasaran bagaimana kondisi pria itu setelah kena pukulan keras suaminya tadi.


Apalagi dengan darah segar yang mengalir dari hidung mancungnya, membuat Lusi nyaris pingsan melihatnya.


Ia tak menyangka sama sekali Ferdian sanggup berbuat kasar seperti itu di hadapannya cuma lantaran cemburu buta.


Kasihan Dio.


'Kamu mencintai orang yang salah Dio, Semoga kamu baik-baik saja.' desisnya lirih.


TERIMA KASIH UNTUK PARA READER YANG BAIK HATI ATAS SUPPORT NYA BERUPA LIKE, VOTE DAN LOVE NYA.  KRITIK DAN SARAN SILAHKAN DI KOLOM KOMENT,  AUTHOR AKAN TERUS UP DATE 1-2 BAB PERHARI TAPI TETAP MENUNGGU HASIL REVIEW  DARI TIM ADMIN SEKITAR 1-3HARI UNTUK DITAYANGKAN.  THANX UNTUK ATENSINYA , SEMOGA SEHAT & BAHAGIA SELALU

__ADS_1


__ADS_2