
Sesampainya di rumah besar Hermawan,Safia segera berganti pakaian dan berkeliling rumah. Hermawan sendiri sibuk diruang kerjanya. Safia nampak takjub dengan desain dapur minimalis tapi nampak mewah.
' Aku pasti seneng banget bisa masak disini setiap hari' gumam Safia sambil tersenyum sendiri.
Rasanya tangan Safia gatal sekali ingin segera memasak didapur mewah ini. Tanpa sungkan Safia langsung membuka lemari es,mencari bahan-bahan yang bisa ia masak.
" Sayang kamu sedang apa?"
Tiba-tiba Hermawan sudah berdiri dibelakang Safia. Lalu Hermawan langsung memeluk Safia dari belakang. Safia nampak gugup dengan melakuan Hermawan.
" Pengen masak sesuatu mas...eh," Safia sedikit kaget ketika Hermawan mulai menciumi lehernya. Seperti merinding-merinding gimana....gtu.
" Masaklah sesukamu sayang..."
" Eh mas,tolong jangan seperti itu...malu dengan bibik"
" Ok,aku tak akan melakukannya disini" Hermawan mulai melepaskan pelukannya dan mundur menjauhi Safia. Pandangan Hermawan tetap fokus pada istrinya. Safia terlihat berbeda dari biasanya. Biasanya memakai celana jeans dengan atasan kemeja. Kini Safia memakai baju terusan selutut. Betisnya terlihat putih mulus tanpa noda koreng sedikitpun.
Hermawan menelan ludahnya kasar,ia tak sabar ingin menerkam istri barunya hidup-hidup.
" Mas... aku buatin es lemon sama roti bakar. Yaa... cuma ini yang ada di kulkas" Safia menghampiri Hermawan dimeja makan.
" Apa ini hitam-hitam seperti kotoran?"
" Hehe...mas bisa aja,itu selasih mas. Bagus buat meredakan panas dalam"
" Coba dulu ya....sluuuuuurrpp,aaahh...."
" Bagaimana? Apa kurang manis?"
" Ini seger banget,kamu pinter ya masak beginian...?"
" Mulai sekarang aku akan mulai memperhatikan semua yang mas konsumsi. Dari tingkat gizi,dan kebersihan..."
" Lakukan apa yang kau suka..."
" Besok temani aku belanja bahan-bahan dapur ya mas"
" Iya sayang... kemanapun kau mau pergi,aku akan ada untukmu" Keduanya saling melempar senyum bahagia.
' Begini ya bahagianya ketika diperhatikan istri...' Batin Hermawan.
Hermawan menghabiskan roti bakar dan es lemon. Hermawan menatap Safia heran. Apa yang difikirkan Safia? Safia menikmati roti bakarnya. Namun sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
" Sayang,apa yang kau pikirkan?"
" Aku lupa membawa baju ganti mas,baju ini aja asal aku ambil dari lemari mas. Aku nggak enak pakai baju mamanya Fanesa tanpa ijin"
" Haha ....sayang,itu bukan baju Karin. Baju Karin yang lama sudah aku packing dan aku kirim ke rumah Karin. Itu baju sengaja aku siapkan untuk kamu"
" Makasih banyak mas,lalu baju lamaku dirumah bagaimana?"
__ADS_1
" Biarkan saja,biar Wulan yang pakai. Aku suka kau pakai baju seperti ini,walau sederhana tapi terlihat modis"
" Apa pakaian ku selama ini terlihat kuno ya?"
" Hahaha....bukan kuno,tapi kurang modis aja. Masak kemana-mana pakai celana jeans?"
" Hehe... kalau beli baju beginian sayang mas,kalo bisa beli baju yg bisa buat kerja sekalian. Nanti uangnya bisa buat kebutuhan lainnya"
" Sayang,kemarin aku sudah kasih kamu ATM dengan limit lumayan. Kenapa sama sekali belum kamu pakai?"
" Aku nggak enak sama mas,lagian aku nggak terlalu suka belanja-belanja barang nggak penting"
" Haha.... sayang,kalau gtu caranya gimana hartaku bisa berkurang? Aku kerja untuk kamu dan Fanesa. Semua untuk kalian berdua,jadi jangan pernah sungkan untuk memakai fasilitas yang sudah aku kasih"
" Tapi mas, sebaiknya kita mengeluarkan uang seperlunya saja. Jangan berlebihan, orang-orang disekitar kita masih banyak yang kekurangan"
" Sayang,kau sungguh dermawan. Aku harap kau selamanya seperti ini dan tidak pernah berubah ya" Hermawan meraih tangan Safia dan menggenggam nya erat.
" Mas,ingatkan aku kalau aku mulai berubah..."
" Tentu sayang... Safia,aku mau bertanya sesuatu padamu"
" Apa mas?"
" Apa alasan kamu mau datang kepernikahan kita? padahal sebelumnya kamu ingin pernikahan kita dibatalkan saja? Aku sempat frustasi dan hampir gila karena kamu nggak datang..."
" Maafkan aku mas,aku ngerasa kurang pantas untuk mendampingi mu mas. Aku cuma lulusan SMA,dan keluarga ku miskin. Sedangkan keluarga mas adalah keluarga terpandang di sini" Safia tertunduk sedih.
" Tapi... kalau aku tidak datang,aku jadi orang yang paling egois disini. Aku adalah wanita bodoh yang menolak pria sempurna seperti mu mas"
" Aku tidak sempurna fia, buktinya mantan istri ku dulu tega berselingkuh dibelakang ku. Artinya....dia merasa ada yang kurang dengan diriku"
" Mas,maukah kau menerima ku apa adanya?"
" Tentu fia,kita sama-sama memperbaiki diri. Tegur aku jika aku melakukan kesalahan"
" Aku juga ya mas..."
Keduanya saling berpandangan. Safia sedikit gugup karena duduk berdekatan dengan Hermawan. Hermawan menciumi tangan safia. Hermawan mulai mencondongkan badannya ke arah Safia. Kini hembusan nafas Hermawan mulai menyapu wajah Safia. Safia mulai memejamkan matanya dan....cup. Kedua bibir mereka saling bertemu. Safia sedikit kaku membalas kecupan Hermawan. Dari kecupan hingga berubah menjadi lum*tan. Tiba-tiba....
*Klunthing.....*
Keduanya terjingkat kaget, ternyata garpu yang berada di hadapan Safia terjatuh kelantai. Hermawan tersenyum, Safia tertunduk malu. Keduanya menunduk mengambil garpu itu bersamaan dan....
*duukk....*
" Aawww....." pekik keduanya bersamaan.
Kening Hermawan dan Safia tak sengaja berbenturan. Reflek Hermawan mengelus kening Safia.
" Apa ini sakit?"
__ADS_1
" Nggak mas...cuma sedikit pusing aja"
Hermawan langsung mencium kening Safia yang sakit. " Bagaimana? apa masih sakit?"
Safia tersenyum dan menggeleng pelan.
" Maaf tuan, persiapan makan malam di hotel sudah siap" Tiba-tiba saja seorang pria datang tak diundang menghampiri meja makan.
" Ok, pergilah..." perintah Hermawan sambil mengibaskan tangannya.
" Mas,aku mandi dan bersiap-siap dulu ya..."
" Ok sayangku,dandan yang cantik ya! Buat semua orang terpesona melihat kecantikan mu" Safia hanya membalas ucapan Hermawan dengan senyuman.
***
Dihotel Grand Surya kini sudah dihias dengan berbagai bunga nan cantik. Mulai dari lobi hingga tempat jamuan makan malam. Safia nampak takjub dengan hiasan bunga yang indah. Hermawan dengan setia menggandeng istri barunya itu.
" Hay her, selamat ya..." Seorang wanita paruh baya tiba-tiba menghampiri keduanya dan memeluk Hermawan.
" Terimakasih bibik"
" Pintar sekali kamu,baru pisah langsung dapat perawan ting-ting lagi" bisik wanita itu kepada Hermawan. Hermawan hanya membalasnya dengan senyuman.
" Her,hay....." seorang pria stengah tua melambaikan tangannya ke arah Hermawan.
" Om aji, akhirnya om datang juga.." Hermawan menghampiri pria itu dan meninggalkan Safia sendiri.
" Gila kamu, pernikahan mu yang pertama aja aku nggak sempat datang sekarang udah nikah lagi aja"
" Hahaha.....om bisa aja"
" Apa yang pertama udah nggak enak? Makanya kamu cari yang lain lagi,hah?!"
" Iya om,ih....om tau aja"
" Hahaha......" kini hanya terdengar tawa dari keduanya.
Safia sedikit tersentak ketika ada seseorang menarik lengannya kearah pojok hotel.
" Mama....!" Dengan sedikit berbisik mama Hermawan memperingatkan Safia. " Ingat ya,jaga sikap kamu! Jangan bersikap kampungan didepan tamu undangan. Disini semuanya ibu-ibu sosialita. Dan sebagian rekan bisnis Hermawan"
" B-baik ma..." Safia nampak gugup sekali mendengar kata-kata ibu mertuanya itu.
" Ayo...! Ingat,kau jangan jauh-jauh dari ku atau Hermawan!"
" Baik ma.."
ππππ
Haduuhhh....aku ikut gugup deh kalo jadi tamu undangan. Paling g bisa banget aku liat orang pake baju bagus nan mahal,pasti mupeng.... hahaha curcol dikit yeeeiii.... yuuk dukung terus dengan cara like,komen n voteπππ
__ADS_1