INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
78 Heru Purnomo


__ADS_3

Safia benar-benar menjaga jaraknya dengan Antony. Safia takut kalau ada setan yang akan menggodanya agar meninggalkan suaminya demi Antony. Memang, selain kaya raya Antony juga memiliki paras tampan. Diusianya yang semakin matang, ketampanan nya semakin terlihat nyata.


Tidak dipungkiri,kadang Safia merasa terlena karena hadiah mewah yang diberikan Antony. Bahkan perhatian Antony kadang membuatnya lupa kalau Safia masih memiliki suami Hermawan.


" Astagfirullah..... astagfirullah.... astagfirullah... maafkan hamba mu ini Yaa Allah"


Pagi ini, pukul 9 Safia masih belum keluar dari kamarnya. Safia masih berdzikir setelah melakukan sholat Dhuha. Ia benar-benar tidak sanggup berlama-lama tinggal divilla Antony. Safia benar-benar takut terbuai dengan godaan setan. Tidak bisa dipungkiri ketika perutnya semakin membesar, ingin sekali rasanya ia diperhatikan dan disayang oleh seorang pria.


Tok...tok...tok...


Terdengar sebuah ketukan dari balik pintu kamar Safia.


" iya..."


" Fia,sarapan dulu! Sejak pagi kamu belum sarapan"


" Iya mas terimakasih sudah mengingatkan"


Safia melepas mukenanya,dan melipatnya rapi. Safia merasa semakin kesulitan bergerak dan bernafas. Perutnya kini terasa semakin besar. Bahkan kakinya mulai membengkak. Tentu saja hal itu membuat Safia sedikit kesusahan ketika berjalan.


Ceklek....


Bu Meri masuk sambil membawa nampan berisi makanan lengkap dengan sayur dan lauk.


" Permisi nyonya"


" Kenapa makanan nya dibawa kesini?"


" Tuan khawatir nyonya masih marah dan tidak mau makan dimeja makan bersama tuan"


Safia menghembuskan nafasnya kasar.


" Taruh nampannya kembali ke meja makan. Saya mau makan di meja makan"


Safia berjalan mengikuti Bu Meri ke ruang makan. Safia melihat Antony masuk kedalam ruang kerjanya.


Safia menikmati sarapannya ditemani Bu Meri. Antony menyuruh Bu Meri selalu ada disamping Safia. Itu membuat Safia sulit mencari celah untuk kabur.


" Ini vitamin untuk nyonya"


Bu Meri menyerahkan sebuah obat pada Safia. Safia mengamati obat tersebut. Safia mengingat obat apa saja yang diberikan Bu Meri padanya.


Ada yang aneh,kenapa tidak ada obat berwarna putih? Obat itu selalu bu meri berikan ketika malam hari. Dan rasanya aku seperti tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Astagfirullah....!


Wajah Safia berubah seketika. Bu Meri menatap Safia heran.


" Nyonya kenapa?"


" ah,tidak ada apa-apa" Safia mencoba bersikap seperti biasa.


Safia memakan salad buah yang diberikan Bu Meri dengan lahap.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Di rumah Hermawan

__ADS_1


Setelah dua hari menginap di rumah sakit akhirnya Hermawan diperbolehkan pulang.


" Her,ingat jangan nekat lagi...!"


" Iya ma"


" Mama mau kekantor polisi"


" Aku ikut ma...!"


" Istirahatlah, biarkan mama yang mengurus semuanya"


Hermawan kembali menuruti kemauan mamanya kali ini. Namun ia bertekad jika esok masih tidak ada pergerakan,ia akan pergi sendiri menjemput istrinya. Bagaimana pun caranya, walau harus bertaruh nyawa sekalipun.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Diruang kerja Antony


Antony sibuk mengecek laporan perusahaannya. Ia juga sempat rapat melalui virtual. Hingga sore tiba Antony tak juga keluar dari ruang kerjanya.


Tok....tok...tok....


" Masuk"


Bu Meri masuk sambil membawa nampan berisi makanan kecil dan secangkir teh. Antony heran karena merasa tidak minta dibawakan makanan atau minuman.


" Aku tidak minta dibawakan makanan dan minuman!"


" Nyonya Safia yang menyuruh saya tuan, ini wedang jahe merah tuan. Tuan sejak siang tidak keluar ruangan dan sama sekali tidak makan. Nyonya takut tuan sakit"


Antony tersenyum bahagia, kini Safia mulai memperhatikannya. Antony segera meminum wedang jahe merah dan memakan camilan yang dibawakan Bu Meri. Sedangkan Bu Meri kembali menemani Safia.


" Masuk...."


" Tuan... saya membawa kabar tentang tuan Heru Purnomo"


" katakan...!"


" Tuan Heru Purnomo adalah pemilik kebun terbesar di kota ini. Dia memiliki hubungan dengan banyak wanita, salah satunya adalah nona Vita"


Antony mengepalkan tangannya. Wajahnya berubah marah.


" Tapi saya tidak tahu sejauh apa hubungan mereka tuan. Keluarga tuan Heru cukup terpandang dikota ini. Jadi jika tuan Heru melakukan skandal, maka keluarganya akan turun tangan untuk mengatasi masalah tersebut"


" Kapan aku bisa bertemu dengannya?"


" Tuan Heru Purnomo sedang berlibur diluar negri bersama anak dan istrinya. Mereka akan pulang dua sampai tiga hari lagi"


" Jemput dia di bandara kalau sudah sampai di Indonesia"


" Baik tuan, saya permisi dulu"


" Tunggu, apa ada kabar dari Hermawan?"


" Tuan Hermawan baru saja pulang dari rumah sakit"

__ADS_1


Antony tersenyum mengejek.


" Dasar anak manja,begitu saja masuk rumah sakit!"


" Bagaimana kalau nyonya Sanjaya membawa polisi untuk menggerebek kita tuan?"


" apa mereka menghubungi polisi?"


" Nyonya Sanjaya sempat mendatangi kantor polisi tuan"


" Cepat carikan tempat lain untuk tinggal Safia. Ingat, carikan tempat yang jauh dari pemukiman warga"


" Baik tuan,saya permisi" Pria itu pergi dari ruang kerja Antony.


Antony melanjutkan pekerjaannya. Antony menyempatkan diri untuk melihat rekaman cctv rumahnya untuk melihat keadaan Safia. Antony melihat Safia sedang asyik menonton film di ruang keluarga.


Antony merasa tenang,dan melanjutkan lagi pekerjaan nya. Antony mulai meregangkan otot tubuhnya, karena kelelahan kantuk mulai menyelimuti dirinya. Dan akhirnya dia tidur di sofa didalam ruang kerjanya.


Diruang keluarga Safia mengajak Bu Meri untuk tidur dikamarnya. Sudah beberapa hari ini Bu Meri selalu menemaninya tidur. Salah satu alasan nya adalah agar Antony tidak masuk begitu saja kekamarnya saat dia tertidur.


" Bu Meri, mana vitamin yang harus ku minum Bu?"


" Ooh iya, sebentar nyonya" Bu Meri mengambil sebuah kotak obat dan menyerahkan tiga butir obat pada Safia.


" Kenapa tiga butir obat? Tadi pagi cuma dua?"


" eh iya, anu nyonya... yang satu agar nyonya nyenyak tidurnya"


" Ooh begitu..."


" Saya kekamar mandi dulu nyonya" Bu Meri pergi ke kamar mandi.


Disaat itulah Safia mengambil sebuah minum dilaci nakasnya. ia meminumnya sedikit minumannya dan memasukkan isi capsul putih itu ke dalam minumannya. Safia segera meminum dua butir obat yang tersisa. Safia menyakini kalau satu butir vitamin dan satu butir lagi penambah darah.


Bu Meri keluar dari kamar mandi. Bu Meri merapikan baju tidurnya dan meletakkan baju seragam pelayan nya di keranjang baju kotor Safia.


" Bu,tolong buang minuman ini. Saya sudah kenyang,saya rasa sudah tidak sanggup menghabiskan minuman ini lagi"


Bu meri menerima minuman dari Safia.


" Nyonya,bolehkan saya minum? sayang sekali kalau dibuang. ini masih banyak sekali"


" Boleh sih,apa Bu Meri tidak jijik?"


" Tidak nyonya,nyonya kan orangnya sangat menjaga kebersihan" Bu Meri langsung meneguk minumannya sampai habis.


Bu Meri membuang minumannya ke tong sampah dan segera berbaring disamping Safia. Safia tersenyum puas,dan Safia akhirnya ikut memejamkan matanya.


Pukul 2 dini hari Safia terbangun dari tidurnya. Ia mengamati Bu Meri masih terlelap dalam tidurnya. Safia bangun dan berjalan mengendap-endap. Safia mengambil baju seragam Bu Meri di keranjang baju kotor dan memakainya. Tidak lupa Safia memakai jaket sweater yang biasa Bu Meri pakai. Safia juga mengenakan masker wajah untuk menutupi wajahnya.


Safia keluar dari kamarnya menuju dapur. Tak lupa ia membawa tas belanja yang biasa dibawa Bu Meri untuk belanja. Safia juga mengambil beberapa kunci yang tergantung di dinding dan berjalan cepat ke halaman belakang dapur.


" Hei....kamu!"


🌺🌺🌺🌺❀️❀️❀️❀️🌺🌺🌺

__ADS_1


Jangan lupa like nya❀️


i love you all 😘


__ADS_2