INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
92 Pasar induk Osowilangun Surabaya


__ADS_3

Pasar induk Osowilangun Surabaya


Safia semakin cemas,karena sudah malam tetapi Supri tidak juga mengantarkan nya pulang. Diliriknya jam di dasboard truk sudah pukul 10 malam. Untung nya baby Arjuna sangat pintar. Selama perjalanan ia tidak pernah rewel ataupun menyulitkan Safia ibunya.


Safia memutuskan untuk keluar dari truk, beberapa orang nampak mondar-mandir di sekitarnya sambil memperhatikan nya. Safia bingung harus mencari Supri dimana. Terlihat dua orang pria sedang membongkar sayur muatan truk Supri.


" Nggolek i bojone ta?," ( mencari suaminya ya?) sapa seorang pria dibelakang Safia.


Safia bingung harus menjawab apa, Karena Supri memang bukan suaminya. " Eh, anu...!"


" Sampeyan bojone Supri opo....?" ( kamu istrinya Supri atau...?) pria itu tampak cengengesan menggoda Safia.


" Hahaha...santai wae lah mbak...! gak usah tegang...!" goda seorang lagi.


" Pinter e Supri golek cewek...! ayu tenan...."


Salah seorang dari tiga pria mendekati Safia dan mencoba menyentuh tangan Safia. Namun Safia terus saja mundur agar tidak tersentuh.


" Gak usah kemayu...!" pria itu terus mendekati Safia.


" Woiii....!" Teriak Supri dari belakang.


"Weeehhh... gendakane teko!" ( weeehh.... kekasihnya datang!)


Supri mendekati Safia dan menyuruh Safia kembali masuk ke bangku samping sopir.


" Jok macem-macem kon karo mbak ku yo!" ( jangan macam-macam kamu dengan kakak perempuan ku ya!)


" Mbak opo mbak...? Suuuiiittt......suuuiiittt"


Tanpa menghiraukan mereka, Supri langsung masuk kedalam truk nya.


" Mbak, maafin Supri....! "


" Pri...? apa masih lama kita disini? aku takut...!" Safia nampak ketakutan sambil memeluk baby Arjuna.


" Sebentar lagi ya mbak, kurang dikit bongkar sayur nya...!" Supri menyerahkan nasi bungkus dan minuman botol pada Safia. " Mbak makam dulu, sejak siang mbak nggak mau makan!"


" Tapi aku nggak lapar...!"


" Mbak, aku janji...! setelah mbak makan, aku akan antar mbak pulang..."


Akhirnya Safia mau makan. Supri kembali mengawasi orang-orang yang membongkar sayurannya. Ketika Safia membelakangi jendela truk, Hermawan melintasi truk Supri. Tidak lama kemudian minuman botol yang diberikan Supri tidak sengaja terjatuh. Dan Safia menunduk untuk mengambilnya.


Di saat itu lah Hermawan memperhatikan truk Supri. Belum lama memperhatikan truk Supri, Antony datang lalu mengajak Hermawan menyusuri lorong pasar disisi lain. Safia kembali melanjutkan makannya.


Sepuluh menit kemudian Supri masuk kedalam truk nya dan melajukan truknya meninggalkan pasar.


" Mbak, dimana tempat tinggal mbak?"


" Perumahan Citraland blok D"


Supri nampak terkejut mendengar ucapan Safia.


" itu kan perumahan elit mbak?"


Safia tersenyum samar. " Pria yang menculik ku justru lebih kaya dari suamiku...!"


" Kenapa mbak lebih memilih kembali dengan suami mbak?"


" Karena aku mencintai nya, buat ku...harta bukan jaminan kebahagiaan"


" Tapi kalo buat orang sepertiku, harta adalah segalanya mbak"


Safia menatap Supri dalam. " Maksud kamu?"

__ADS_1


" Aku ingin mengajak ibuku berobat mbak"


" ibu kamu sakit apa?"


" Ibuku mengalami gangguan jiwa sejak mengandung aku mbak"


" Lho? bapak kamu?"


" Ibuk dulu berhubungan dengan bapak, ibu nggak ngerti kalo bapak sudah punya istri. Bapak nggak mau bertanggung jawab dengan kehamilan ibuk"


" Lalu kamu?"


" Bu Lastri membantu ibuku melahirkan ku, sejak kecil aku dirawat Bu Lastri dan pak Hasan"


" Apa pak Hasan tidak punya keturunan?"


" Punya, namanya mas Arjuno"


" Kemana mas Arjuno pergi?"


" Mas Arjuno merantau ke Jakarta, sudah 5 tahun mas juno nggak ada kabar"


Safia tersadar kenapa pak Hasan menginginkan anaknya diberi nama Arjuna. Karena pak Hasan teringat putra semata wayangnya yang lama tidak ada kabar.


Tanpa terasa truk Supri sudah sampai di depan gerbang perumahan Citraland.


" Mbak, maaf...! aku hanya bisa mengantar mbak hanya sampai sini"


" Terimakasih Supri, sampaikan salam ku pada bapak dan ibuk".


" baik mbak...!"


Safia membuka pintu truk.


" Sekali lagi, terimakasih...!"


" Sama-sama mbak...!"


Safia melambaikan tangannya. Supri melajukan mobilnya meninggalkan Safia. Safia menghampiri penjaga keamanan di pos gerbang perumahannya.


" Permisi pak...!"


" Iya, mau cari siapa ya?"


" Bolehkah saya minta tolong?"


" Tolong apa ya?"


" Bisakah antarkan saya ke blok D no 21a?"


" Tapi saya sedang jaga...!"


Terdengar sebuah motor melintas dibelakang Safia.


" Mbak fia....!" teriak seorang wanita dibelakang Safia. Safia pun menoleh ke arah sumber suara.


" Ini mbak fia kan? Mbak Safia istri tuan Hermawan?" wanita itu mendekati safia dan mematikan motornya.


Safia memperhatikan wanita tersebut. Safia teringat kalau wanita tersebut adalah asisten rumah tangga baru Hermawan suaminya.


" Iya...! bisa antar aku pulang?"


" Tentu...!" Wanita itu melihat bayi yang sedang digendong Safia. Lalu ia melepas jaket hoodie yang ia pakai. Mbak udaranya dingin, pakai ini untuk selimut bos kecil" wanita itu melilitkan jaketnya ke tubuh baby Arjuna.


" Ayo mbak naik....!" Wanita itu sudah bersiap diatas motornya.

__ADS_1


Safia naik di belakang wanita tersebut. Wanita tersebut memacu motornya dengan kecepatan sedang.


" Kamu dari mana?"


" Hehehe....anu, habis ketemuan sama do'i" wanita itu tampak tersenyum malu.


" Jangan keluar terlalu malam, itu tidak baik buat kamu...!"


" Iya mbak...! ehmm........mbak...!"


" iya..."


" nyonya sakit, kalau nyonya tau mbak pulang....pasti nyonya seneng banget!"


" Mama sakit? mama sakit apa?" Safia nampak cemas mendengar kabar mama mertuanya.


" Nggak tau, nyonya nggak mau makan. Sejak non Fanesa dibawa pergi tuan Antony, nyonya hanya mengurung diri dikamar"


Pasti kebenaran atas orang tua Fanesa sudah terungkap. Pasti mas Hermawan sakit hati sekali....


" Kalau mas Hermawan gimana?"


" Kalau tuan Hermawan banyak diam"


Tanpa terasa motor sudah berada di depan gerbang rumah Hermawan. Wanita itu membunyikan klakson motornya.


Tin...tin...


Tidak lama kemudian gerbang pagar dibuka. Penjaga rumah Hermawan terkejut melihat Safia yang sedang menggendong bayi.


" Nyonya....!"


Safia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


" Silahkan masuk nyonya...!"


Halaman rumah Hermawan sangat luas, jadi Safia memilih dibonceng motor oleh asisten rumah tangga nya. Setelah sampai didepan rumah, Safia berhenti sejenak melihat sekeliling rumah. Tanpa terasa air matanya menetes.


Alhamdulillah bisa pulang kerumah ini lagi...!


Safia memencet bel pintu rumah. Wanita yang bersama Safia naik motor tadi membawa motornya ke belakang rumah. Asisten rumah tangga Hermawan sengaja ditempatkan di rumah bagian belakang.


Ceklek...


" Nyonya fia...!" seorang ibu-ibu setengah baya membukakan pintu.


Safia tersenyum.


" Nyonya....! nyonya fia pulang nyonya....!" teriak si ibu sambil menggandeng Safia masuk kedalam rumah. " Nyah.....bangun nyah...!" teriaknya lagi dengan bahagianya.


Seisi rumah langsung keluar melihat siapa yang datang. Sambil tertatih-tatih nyonya Sanjaya menghampiri menantunya.


" Fia....!" Nyonya Sanjaya bahagia sekaligus terharu melihat Safia pulang dengan selamat. " Ini cucu mama?" nyonya Sanjaya memperhatikan bayi yang sedang digendong Safia.


" iya ma..." Safia ikut sedih melihat nyonya Sanjaya menangis.


" Cucu ku...! kamu benar-benar cucuku...!" nyonya Sanjaya menangis sambil memeluk dan mencium cucunya.


Nyonya Veronika memeluk Safia. " Tante kangen kamu fia...!"


" Fia juga Tante...!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Happy reading....😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2