
" Lalu?"
" Aku minder mas... rasanya aku nggak pantes deh gabung dengan mereka"Hermawan mengerutkan dahinya.
" Bukan kah bergabung dengan ibu-ibu sosialita itu impian semua wanita?"
" Iya mas,tapi aku juga tau diri lah mas. Latar belakang ku seperti apa? Jauh sekali dari angan-angan ku untuk menikah dengan orang kaya seperti mu mas. Aku benar-benar minder kali ini" Safia nampak tertunduk sedih.
" Sayang, dengarkan aku.... Dimata Allah kita sama,namun Allah memberikan kemudahan untuk ku secara materi. Akan tetapi belum tentu amal ku lebih banyak darimu. Mama mengajakmu bergabung dengan ibu-ibu sosialita sebenarnya agar kau bisa bersosialisasi dengan dunia luar. Agar kau punya wawasan luas. Banyak kok kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Tak hanya sekedar pamer harta,tapi ada beberapa kegiatan sosial seperti baksos,santunan dan lainnya. Mereka sebenarnya bukan berniat pamer,namun mereka menghargai kerja keras mereka dengan cara membeli barang-barang yang mereka inginkan. Jadi sekarang kamu faham kan maksudku?"
Safia mengangguk pelan." Aku akan ikut mama kemanapun mama mengajakku" Hermawan mengelus kepala Safia.
" Nah,begitu dong.... itu namanya istri idaman"
Kedua tertawa dan saling berpandangan.
" Sayang,temani aku tidur lagi... aku masih ngantuk sekali" Safia mengangguk.
Safia merapikan mukena yang dipakai dan juga sajadahnya. " Kemarilah sayang..." ucap Hermawan sambil menepuk-nepuk kasur disisinya. Safia menghampiri suaminya dan tidur disisi suaminya. Hermawan langsung memeluk erat tubuh Safia. " Mas,jangan terlalu erat... aku sudah bernafas"
Hermawan tersenyum, kini ia mulai merenggang kan pelukannya. Hermawan mulai memejamkan mata,begitupun Safia.
Hari semakin pagi, burung-burung mulai bernyanyi silih berganti. Ayam jantan mulai bersenandung merdu. Panas mentari mulai menerobos melalui celah jendela kamar Hermawan. Hermawan mengusap wajahnya berkali-kali. Ketika ia mulai membuka mata,tatapannya terpaku dengan jam mini diatas laci.
" Cepat sekali jam sepuluh pagi sih !" keluh Hermawan. Ia merasa baru beberapa jam memejamkan mata. Badannya terasa sakit dan nyeri. Mungkin karena terlalu sibuk bekerja dan kurang istirahat. Hermawan beranjak dari tempat tidur nya dan segera mandi.
Setelah selesai mandi ia segera turun kebawah untuk mencari keberadaan istrinya. Ketika masih menuruni tangga, tatapannya terpaku dengan seseorang yang duduk santai di meja makan.
" Mama disini...?"
Nyonya Sanjaya menoleh. " Sudah sejak pagi mama disini. Bahkan mama menggantikan tugasmu mengantar Fanesa ke sekolah" Nyonya Sanjaya menyeruput secangkir kopi sambil membaca koran.
" Safia mana ma?" Hermawan nampak menoleh kesana kemari mencari keberadaan istrinya.
" Belajar nyetir... Biar nanti bisa nganter jemput Fanesa sekolah" Hermawan duduk di kursi tepat disisi ibunya duduk.
" Mama maksa Safia untuk berkumpul dengan teman-teman sosialita mama?" Hermawan menatap nyonya Sanjaya serius.
__ADS_1
" Aku hanya ingin Safia bisa diterima dikalangan manapun. Mama akan mengajarinya berpenampilan selayaknya seorang istri pengusaha. Mama juga akan mengajarinya bagaimana caranya bersikap ketika berdekatan dengan ibu-ibu pejabat. Mama hanya ingin Safia terlihat elegan dan istimewa"
" Ma,aku hanya ingin Safia tampil apa adanya. Aku ingin istri yang sederhana dan ada disetiap kubutuhkan. Aku tak ingin istri yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri"
" Aku akan membatasi kegiatannya. Setidaknya berilah waktu dua hari dalam seminggu untuk berkumpul dengan kami kaum sosialita dan bersenang-senang disalon"
" Terserah mama saja..." Hermawan mulai putus asa untuk berdebat dengan mamanya.
Tak lama setelah perdebatan terjadi,datanglah dua orang pegawai Hermawan.
" Maaf pak Hermawan,kami membawa beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani" Seorang pegawai memberikan berkas itu ke hadapan Hermawan.
" Her,kenapa kau tak bekerja dari rumah saja. Sehingga kau bisa banyak waktu dengan Safia"
" Masih belum bisa ma,tapi hari ini aku ingin istirahat dirumah"
" Cepatlah punya anak lagi,kalau bisa laki. Agar kelak bisa meneruskan usaha mu"
" Ini masih program ma..." Hermawan menyerahkan berkas itu kembali ke tangan para pegawainya.
" Kami undur diri dulu pak Hermawan dan nyonya Sanjaya, terimakasih" Hermawan mengangguk dan kedua pegawai nya pergi meninggalkan meja makan.
" Walaikum salam, bagaimana pak... Apakah Safia sudah mahir menyetir?" Nyonya Sanjaya menatap seorang pria itu tajam.
" Nyonya.... nona Safia cepat sekali menguasai apa yang saya ajarkan. Tinggal dua kali pertemuan untuk pemantapan dan pengurusan surat ijin mengemudi"
" Bagus,bapak bisa pergi..."
" Saya permisi dulu nyonya,nona,dan tuan Hermawan" Hermawan dan ibunya membalas dengan sekali anggukan.
Safia duduk bersebelahan dengan Hermawan. Ia meraih gelas dan menuangkan air ke dalam gelas itu.
" Safia, bersiaplah...! Setelah ini mama akan mengajakmu kesalon dan berbelanja"
" Ma... biarkan Safia dirumah,kasihan dia capek..." Hermawan mengelus kepala Safia. Pipi Safia merona merah mendapat perlakuan Hermawan yang begitu manis.
" Pantas saja Fanesa selalu marah dengan sikapmu. Kau terlalu berlebihan dengan istrimu" Ucap nyonya Sanjaya sinis.
__ADS_1
" Kalau saja Safia bisa aku laminating,itu akan aku lakukan agar orang lain tak bisa menyentuhnya" Hermawan tersenyum bangga dengan ucapannya sendiri.
" Hemmmttt.... dasar micin!" Ledek Nyonya Sanjaya.
" Kok micin ma?"
" Ituloh... Seperti yang dikatakan Fanesa cin-cin..."
" Bucin ma...hehe" Safia tertawa dengan tingkah ibu mertuanya.
" Terserah... Ayo fia,kita berangkat...!"
" Safia nggak ganti baju dulu ma?" Hermawan mencoba mengulur waktu.
" Kamu mau apa? Mencoba mengulur waktu? Enak saja...! Hari ini Safia milik ku...!" Nyonya Sanjaya menarik Safia paksa. Hermawan merasa sedih, sekarang tak hanya dirinya yang ingin selalu berdekatan dengan istrinya. Mamanya,bahkan Fanesa sekarang mulai akrab dengan Safia.
Nyonya Sanjaya mengajak Safia pergi ke Surabaya untuk berbelanja. Itu tanpa sepengetahuan Hermawan. Walaupun begitu Hermawan tak akan pernah bisa menolak permintaan ibunya. Obsesi ibunya mengubah istrinya menjadi wanita sosialita yang elegan benar-benar diluar akal sehatnya. Kini Hermawan hanya tersenyum-senyum sendiri mengingat penolakan ibu Sanjaya terhadap Safia.
Hermawan menghabiskan waktunya di ruang kerjanya. Ia mulai memantau pekerjaan para pegawainya melalui smartphone nya. Sesekali ia mengecek index saham hari ini. Menurutnya,menikah dengan Safia merupakan sebuah keberuntungan tersendiri. Semenjak menikah dengan Safia, usahanya mulai berkembang lebih pesat lagi. Masalah diperusahaannya dengan mudah ia pecahkan.
Hari semakin larut, Hermawan mulai gelisah. Istri dan ibunya tak kunjung pulang juga. Ia melirik jam dinding. " Sudah pukul 10 malam"
Hermawan mondar-mandir diteras rumahnya. Sesekali ia menoleh ke arah gerbang untuk memastikan ada mobil yang memasuki pekarangan rumahnya. Sesekali ia mencoba menghubungi istri dan ibunya,namun hasilnya nihil. Handphone Safia mati dan ibunya tak pernah mengangkat telepon nya.
" Pa,tante Safia mana?" Tiba-tiba kepala Fanesa menyembul dari balik pintu.
" Papa nggak tau sayang, tadi siang pergi sama Oma sampai sekarang belum pulang"
" Ooh... Fanesa tidur dulu ya pa"
" Iya sayang,mimpi indah ya..." Hermawan menghampiri putrinya lalu mengecup keningnya. Fanesa pergi meninggalkan Hermawan sendirian di teras.
Fikiran Hermawan berlarian entah kemana. Ia benar-benar khawatir dengan ibu dan istrinya.
Setelah satu jam lama menunggu akhirnya mobil nyonya Sanjaya tiba di depan gerbang. Seorang security berlarian untuk membuka pintu gerbang yang kokoh dan tinggi.
Hermawan terpaku melihat penampilan seorang wanita yang keluar dari mobil sedan ibunya itu.
__ADS_1
" Her,ngapain lihat nya sampai gitu banget..!"
πΊπΊπΊπΊπΊ