INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
18 Kaum Sosialita


__ADS_3

" Sosialita?"


" Iya tentu,lusa aku ada arisan sosialita. Kau harus ikut,aku akan mengenalkan mu pada teman-teman ku"


" Baik ma" Safia benar-benar tak bisa membantah semua keinginan mertuanya itu. Sebenarnya menjadi istri seorang kaya raya seperti Hermawan bukanlah mimpinya. Tapi takdir harus berkata lain.


Hari semakin larut, Hermawan stengah jam lalu menelfon Safia untuk pulang larut malam. Jadi Safia tak perlu menunggunya. Setelah menemani Fanesa belajar Safia mulai merasakan kantuk. Akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas kasur nan empuk. Matanya mulai terpejam, bunga tidur mulai menghiasi tidurnya.


Seorang anak kecil nan lucu menghampirinya, senyumnya sangat menggemaskan. Anak kecil itu berlari menjauhi Safia, sesekali menoleh sambil tersenyum. Safia mengikuti anak itu. Sesaat Safia kehilangan anak kecil itu. Safia merasa berada disebuah taman nan indah, disisi taman terdapat sebuah sungai bersih tapi cukup deras airnya.


Safia masih berkeliling mencari keberadaan anak kecil itu. Hatinya mulai cemas, tiba-tiba tatapannya beralih ke tepian sungai. Anak kecil itu bermain ditepian sungai.


" Jangan disitu... disitu bahaya adik kecil..." Teriak Safia sambil menghampiri anak kecil itu. Anak kecil itu sempat menoleh ke arah Safia sambil tersenyum. Safia semakin mempercepat langkahnya. Anak kecil itu semakin memasukkan kakinya kedalam air dan....


" Aaaaaaaaaarrrggghh....." Safia terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran membasahi tubuhnya. " Mimpi itu nyata sekali, astagfirullah...! Siapa anak kecil itu?" Safia menoleh kesisi ranjang, suaminya belum berada di sampingnya. Ia menoleh jam yang berada di dinding. " Udah jam 2 dini hari,kenapa mas Hermawan kok belum pulang juga ya?"


Tenggorokan nya terasa kering mencekat, Safia beranjak dari tempat tidur nya. Ia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Safia masih berdiri menghadap kitchen set sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba tubuhnya merasakan kehangatan. Ia mulai tersentak.


" Astagfirullah mas....!" Hermawan terkekeh melihat istrinya kaget. Pelukan Hermawan yang tiba-tiba awalnya memang membuat Safia kaget,namun beberapa detik kemudian membuat hatinya mulai tenang. Hermawan mulai menciumi pundak dan leher Safia.


" Mas kenapa pulang selarut ini?"


" Aku keluar kota sayang,ada sedikit masalah disana. Tapi kau tak perlu khawatir,aku sudang menyelesaikan semuanya" Hermawan masih memeluk Safia. Safia membalikkan badannya.


" Apa mas sudah makan?" Safia meraup wajah Hermawan. Hermawan tersenyum bahagia karena istrinya begitu perhatian padanya.


" Belum..."


" Ingin kubuatkan sesuatu?" Hermawan menggeleng. " Aku ingin kamu sayang" Hermawan menyapu wajah Safia lembut dengan ujung telunjuk nya. Safia spontan merinding dibuatnya.


" Kenapa kau tidak tidur sayang? ini sudah larut malam. Apa kau menungguku?!" Hermawan meraih tangan Safia dan menciumi nya.

__ADS_1


" Aku tadi sudah tidur mas,aku terbangun karena bermimpi" Safia menunduk, wajahnya berubah sedih.


Hermawan meraih dagu Safia dan mendongakkan ke arahnya. " kenapa kau sedih sayang? Kau bermimpi tentang apa?" Safia langsung memeluk Hermawan. " Aku bermimpi bertemu seorang anak kecil disebuah taman,tapi anak itu bermain ditepian sungai...." Safia mulai terisak.


" Lalu..?"


" Lalu anak itu hanyut terbawa arus sungai itu" Safia semakin mengeratkan pelukannya. " Dengarkan aku sayang, percayalah itu hanya sebuah bunga tidur" Hermawan mengelus punggung Safia lembut.


" Tapi aku tak bisa menyelamatkan nya mas, Padahal aku berada di dekatnya" Tangis Safia semakin menjadi-jadi.


" Sayang sudahlah, itu hanya mimpi... jangan berfikir yang bukan-bukan. Bisa jadi mimpi itu karena kau kelelahan dan terlalu banyak fikiran"


Tangis Safia mulai sedikit mereda. " Apa itu benar-benar cuma bunga tidur mas?" Safia menatap suaminya lekat. "Tentu sayang..."


" Mas... bolehkan aku belajar menyetir?"


" Tentu sayang... Apapun untuk mu" Hermawan mencium kening Safia. " Kata dokter aku nggak boleh terlalu capek,supaya cepat terjadi pembuahan..."


" Tapi bagaimana dengan Fanesa? Dia begitu menyukai masakanku mas...."


" Kan masih ada bibik yang bisa memasakkan nya" Sebenarnya sangat berat meninggalkan kebiasaan memasaknya. Namun ia harus mematuhi perintah suaminya.


" Aku lelah,maukah kau menemaniku beristirahat dikamar? Aku rindu aroma tubuhmu..." Bisik Hermawan. Hembusan nafas hangat Hermawan menyapu leher Safia. Bulu kuduk Safia berdiri secara serentak. Safia menggigit bibir bawahnya.


Hermawan semakin tak sabar melihat reaksi Safia. " Kau juga nggak sabaran ya sayang?" Safia menunduk, wajahnya berubah memerah. Hermawan tersenyum puas melihat reaksi istrinya. Hermawan menggendong tubuh istrinya bak bridal style.


Ketika sudah sampai dikamar, Hermawan menurunkan tubuh Safia dengan begitu hati-hati. Hermawan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Kini dada atletis Hermawan sudah tak tertutupi benang sehelai pun. Tubuh Safia mulai menegang ketika Hermawan mulai mengunci tubuhnya dibawah tubuh Hermawan.


" Lakukan sesuatu supaya suasananya semakin panas" goda Hermawan. Safia tidak melakukan apapun,namun nafasnya mulai berat,detak jantungnya mulai memburu. " Apa kau gugup?" Safia hanya mengangguk pelan. Hermawan semakin tak sabar melihat reaksi istrinya.


Hermawan mulai membisikkan kata cinta ditelinga Safia,ia mencengkram bantal dengan kuatnya. Hermawan terkekeh melihat reaksi istrinya. Kini Hermawan melancarkan aksinya dengan memberikan sentuhan-sentuhan maut. Ciuman-ciuman memabukkan,hingga akhirnya ia melesakkan tubuh kedalam rongga kenikmatan. Keduanya menggerang nikmat tiada tara.

__ADS_1


Kini yang tersisa hanyalah peluh diantara tubuh mereka berdua. Hermawan merasakan candu dengan tubuh istrinya di setiap incinya. Benar-benar luar biasa. Ia merasakan seperti muda kembali. ' Ternyata seperti ini ya rasanya menikah dengan daun muda' gumamnya dalam hati.


Hermawan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Ia memeluk tubuh istrinya dengan kuat,seakan tak mau kehilangan untuk kedua kalinya.


Sayup-sayup adzan subuh mulai terdengar di telinga Safia. Tubuhnya seakan berat untuk digerakkan. Seakan ada yang menindihnya.


" Mas,udah subuh... mandi yuk!" Safia mengelus pipi Hermawan lembut.


" Aku masih ngantuk sayang" Hermawan mengeratkan pelukannya.


" Tidurnya dilanjutkan nanti habis sholat"


" Tapi aku maunya mandi berdua"


" Iya...ayo cepat mas,aku kebelet...!" Safia segera melepaskan dari pelukan suaminya dan berlari menuju kamar mandi. Hermawan tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia pun segera menyusul ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian keduanya keluar dari kamar mandi dengan menggenakan handuk kimono. Rambut basah Safia dililit dengan handuk. Sedangkan Hermawan membiarkan begitu saja rambut basahnya.


" Mas,kita sholat nya jamaah ya..." Hermawan hanya mengangguk sambil tersenyum. Hermawan merasa kebahagiaan nya melebihi angan-angan nya. Setelah selesai sholat berjamaah Safia mencium tangan suaminya.


" Mas, setelah aku belajar mengemudi... Mama akan mengajakku jalan-jalan" ucap Safia sambil memainkan ujung mukenanya.


" Ooh ya, jalan-jalan kemana?"


" Kata mama kesalon sama ke mall,mama mau belikan aku baju-baju mahal sama tas-tas mahal. Mama ingin aku bergabung dengan ibu-ibu sosialita" kini wajah Safia nampak kurang senang.


" Lalu..?"


🌺🌺🌺🌺🌺


Alhamdulillah kebut terus yaa say.... terimakasih atas support nya selama ini. Maaf g bisa balas komentar satu persatu. Karena aku harus segera menyelesaikan karya aku ini. karena ada beberapa judul baru yang menghantuiku. see you....

__ADS_1


Love you all.....πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸŒΊπŸŒΊ


__ADS_2