
" Apa sih pak!" Bu Lastri merasa tersinggung karena pak Hasan memelototi nya.
Pak Hasan mengkode Bu Lastri agar tidak ikut campur urusan orang.
" Tidak apa-apa pak, kami sedang mencari seseorang" seorang pria mengeluarkan handphone nya dan menyerahkan pada pak Hasan. " Apa bapak sempat melihat wanita ini?"
Pak Hasan sudah menduga siapa yang dicari pria-pria yang berada didepannya. Namun pak Hasan berusaha bersikap biasa saja.
" Sepertinya tidak pernah...!" pak Hasan memberikan handphone itu kembali ke pria asing didepannya.
" Siapa sih pak,ibu pengen lihat...!" Bu Lastri mendekati pak Hasan,namun secepat kilat pak Hasan mendorong Bu Lastri menjauhi pria asing tersebut.
" Ibuk pulang gih, bapak laper...! Jangan lupa masak yang banyak, bapak ingin makan banyak hari ini" pak Hasan mendorong Bu Lastri semakin menjauhi warung. " Cepat pulang, nanti aku ceritakan kalau aku sudah sampai rumah" pak Hasan berkata dengan sangat lirih.
Bu Lastri terlihat kebingungan. Namun sebagai istri yang baik Bu Lastri tetap menuruti keinginan pak Hasan. Akhirnya Bu Lastri pun pulang
" Maaf mas, istri saya suka kepo dengan urusan orang" Pak Hasan kembali ke warungnya dan bersikap senormal mungkin.
Para pria asing tersebut tidak kunjung pergi dari warung pak Hasan. Pak Hasan semakin gelisah karena mereka tidak kunjung pergi dari warungnya. Tetangga pak Hasan tiba-tiba ikut nimbrung di warung pak Hasan.
" Kopi satu pak...!" Dengan santainya tetangga pak Hasan itu duduk diantara pria asing tersebut.
Ketika pak Hasan sedang menyiapkan kopi yang dipesan,tidak sengaja kopinya tumpah. Saking gugup dan bingungnya mengontrol sikap pak Hasan agar terlihat biasa.
" Hati-hati pak...!"
Tetangga pak Hasan mengambil gorengan yang sudah terhidang di hadapannya. Dengan santainya ia ngobrol dengan pria-pria asing disampingnya. Pak Hasan menyiapkan kopi baru untuk tetangganya tersebut.
" Pak Hasan,kata istriku dirumah mu ada suara bayi ya?"
Pak Hasan sedikit terkejut dengan pertanyaan tetangganya itu.
" Eh itu...,anu... anak ku pulang"
" Anak mu kan sedang merantau di Jakarta. Apa sudah pulang?"
" Belum...itu...anu... keponakanku"
Pria asing didepan pak Hasan melihat pak Hasan dengan tatapan curiga.
" Anak apa keponakan?" tetangga pak Hasan semakin mencecar pak Hasan.
" keponakan tapi sudah aku anggap anak"
" ooh begitu... kenapa nggak lahiran di rumah sakit aja?"
" itu... soalnya nggak ada biaya. Kehamilannya sulit,jadi harus dioperasi. Jadi sama istriku dibantu" pak Hasan mencoba mengarang cerita.
"ooh gitu...! ati-ati kalau ketahuan bidan desa Bu Lastri bisa dilaporin lagi,hehe" tetangga ak hasan nampak cengengesan mengejek pak Hasan.
__ADS_1
" Awas saja kalau kamu cerita,tak hajar kamu!" Pak Hasan melempar segepok koran bekas.
" Aduh....! ampun pak! hahaha" tetangga pak Hasan tertawa terbahak-bahak.
Salah seorang pria asing didepan pak Hasan mengkode teman-temannya. Mereka serentak berdiri.
" Ya sudah kalau gitu pak, semuanya berapa?"
" Kopinya 5, gorengannya 10, jadi total semuanya 30 ribu mas!"
Pria asing tersebut menyerahkan selembar uang seratus ribuan.
" Ambil saja kembalinya pak!" Pria itu memberikan sebuah kartu nama pada pak Hasan. " hubungi saya jika bapak bertemu wanita itu. Bapak akan mendapatkan hadiah besar dari bos saya,jika bapak bisa menemukan wanita itu" Pria itu pergi bersama teman-temannya.
Pak Hasan menatap nama di sebuah kartu nama yang ia terima.
Namanya Erik, ada hubungan apa Safia dengan bosnya Erik?
" Sopo pak? ( siapa pak?)
Pak Hasan segera menyembunyikan kartu nama yang diterima disakunya.
" Dadi wong Iki rausah ikut campur urusan wong!" ( jadi orang jangan ikut campur dalam urusan orang) pak Hasan berkata dengan ketusnya pada tetangganya.
" Ojo nesu-nesu pak,engko gelis tuwek!" ( Jangan marah-marah pak, nanti cepat tua!) pria itu semakin meledek pak Hasan.
Pak Hasan melempar sebuah koran yang sudah ia tekuk ke arah tetangganya.
" Ngomong aneh-aneh tak....!" pak Hasan mengacungkan bogem pada tetangganya.
" iya...! iya...!" Tetangga pak Hasan segera menghabiskan sisa minumnya dan mengambil uang dalam sakunya. " Ini pak...!" Uang itu diletakkan tepat di samping gelasnya.
" Yaa Gusti,lindungi cucu hamba!"
💗💗💗💗
Rumah sakit PHC Surabaya
" Halo Tante... aku sudah dirumah sakit PHC bersama Hermawan" Antony menghela nafasnya berat. " ok Tante,Tony tunggu...!" Antony mematikan ponselnya.
Hermawan sedang diperiksa dokter. Antony menunggu diruang tunggu VVIP. Lama menunggu akhirnya nyonya Sanjaya bersama nyonya Veronika datang. Dari kejauhan nampak nyonya Sanjaya sangat gelisah.
" Ton....apa yang terjadi pada Hermawan?" nyonya Sanjaya langsung mencecar Antony.
"Maafkan Antony Tante,ini semua salah Antony..." Antony menunduk dan terlihat menangis.
Nyonya Sanjaya mulai menitikkan air mata. " Apa yang kau lakukan pada anak ku,hah?!" nyonya Sanjaya mulai berteriak.
" Maafkan aku Tante...!" Antony berlutut sambil menangis dan memohon.
__ADS_1
" Mbak yu...sudah,jangan membuat keributan dirumah sakit" nyonya Vero mencoba menenangkan kakaknya.
" Aku sudah bilang kan, Jangan sakiti anak ku! Aku sudah memberikan mantuku padamu,kenapa kau masih menyakiti anak ku?" tubuh nyonya Sanjaya tiba-tiba lemas.
" Tante...maafkan tony" Antony memeluk kaki nyonya Sanjaya sambil menangis.
Nyonya Sanjaya merasa tubuhnya lemas bagai tak ber tulang. Nyonya Veronika memapahnya kekursi agar nyonya Sanjaya dapat beristirahat.
Ternyata di sisi lain nyonya Sanjaya mencoba berkomunikasi dengan Antony dan menyerahkan Safia menantunya agar Antony tidak melukai Hermawan. Namun kesepakatan tinggal lah kesepakatan. Hati nyonya Sanjaya seperti hancur melihat tubuh Antony terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
Hanya Isak tangis yang tersisa diruangan inap Hermawan. Hermawan tidak kunjung sadar. Antony semakin gelisah. Penyesalan demi penyesalan menggelayuti fikirannya. Antony benar-benar merasa manusia terjahat dan terhina didunia. Dia telah menyia-nyiakan sahabat yang begitu baik.
Antony duduk di sudut ruangan,sedangkan nyonya Sanjaya masih menangis disisi ranjang Hermawan. Nyonya Veronika pulang untuk menemani Fanesa dirumah. Hati nyonya Sanjaya sangat hancur melihat tubuh putranya babak belur. Luka dimana-mana,hingga membuat bibir seorang ibu tidak lagi sanggup berucap.
Malam pun tiba, nyonya Sanjaya masih setia disamping Hermawan, begitupun Antony. Antony menyuruh nyonya Sanjaya untuk beristirahat, namun tidak di hiraukan sama sekali oleh nyonya Sanjaya. Ia ingin ketika putranya tersadar, orang pertama yang dilihat putranya adalah ibunya.
Perlahan jari Hermawan bergerak, matanya sedikit terbuka namun terpejam kembali. Nyonya Sanjaya merasakan gerakan jari Hermawan pun kaget.
" Ton....dokter ton...! Awan ton....!" nyonya Sanjaya spontan berteriak.
Antony yang sempat tertidur di sofa tunggu, langsung mencari keberadaan dokter. Tidak lama kemudian dokter pun tiba diruangan Hermawan. Dokter langsung memeriksa keadaan Hermawan.
" Bagaimana keadaan anak saya dok?"
Dokter melepas stetoskop yang bertengger di telinga nya. Sejenak ia memperhatikan jam yang melingkar ditangannya.
" Keadaan tuan Hermawan sudah lebih baik, tuan Hermawan mampu melewati masa tersulit nya. Tinggal kita tunggu perkembangan berikutnya. Saya harap, tuan Hermawan jangan diberikan kabar-kabar yang mengejutkan. Itu akan memperburuk kondisinya"
" Iya dok,baiklah...!"
" Untuk sementara jangan ajak tuan Hermawan bicara dulu sampai kesadarannya benar-benar pulih"
" Iya dok,baik...!"
" Kalau begitu saya permisi dulu!"
" Silahkan dok, terimakasih!"
Antony mendekati Hermawan,namun nyonya Sanjaya mendorongnya menjauhi ranjang Hermawan.
" Aku tidak ingin kau membuat kondisi anak ku semakin memburuk!"
" Tapi tante.....!"
" Cukup sudah kau menyakiti anak ku!"
💓💓💓💓💓💓💓💓
***Alhamdulillah guys, disela-sela kesibukan nemenin anak belajar online,msh aku sempetin buat nulis, terimakasih yang masih setia dengan karya aku. jangan lupa tinggalkan jejak mu dikolom komentar,dan like+vote\=💗
__ADS_1
i love you all 😘 😍***