
Malang - Coban Amprong
Pukul 11 malam pak Hasan baru saja pulang. Wajahnya nampak kusut dan lelah. Bu Lastri semakin kesal karena pak Hasan hanya diam saja. Sedangkan Safia belum juga tidur karena memikirkan kejadian tadi sore. Kehadiran Antony yang tiba-tiba membuat Safia benar-benar ketakutan.
" Pak...! Ojo meneng ae, Jane kan ndi ae mau kok gak muleh-muleh?" ( Pak....! Jangan diam saja, darimana saja tadi kok tidak pulang-pulang?" Bu Lastri terus saja mengomel sejak kedatangan pak Hasan.
Pak Hasan meneguk air dari kendi hingga habis.
" Fia, Ndang turu...! Sesuk isuk Supri rene ngeterne awakmu muleh ketemu bojomu neng Suroboyo"( Fia, cepat tidur...! besok pagi Supri datang kesini mengantarmu pulang untuk bertemu suamimu disurabaya)
Safia sempat terkejut dengan perkataan pak Hasan.
" Maksud mu piye pak? Supri ngeterne fia numpak opo? Ojo ngawur! Opo arep numpak trek?" ( Maksud kamu bagaimana pak? Supri mau mengantarkan fia naik apa? Jangan ngawur! Apa mau naik truk?) Bu Lastri semakin nyolot.
" Gak usah kakean omong buk! Opo ibuk pengen fia kecekel wong lanang sore mau? Sakno Arjuno buk...!" ( Nggak usah banyak bicara buk! apa ibuk ingin Safia ditangkap laki-laki tadi sore? Kasihan Arjuna buk...!)
" Opo Supri kenek dipercoyo pak? Ibuk e ae gendeng ngono...!" ( Apa Supri bisa dipercaya pak? ibunya saja gila seperti itu...!)
" Sak ora-orane cah kui gak klejingan koyo cah lanang-lanang liyane" ( Setidaknya anak itu tidak kurang ajar seperti anak laki-laki yang lain) pak Hasan mengambil sarungnya untuk bersiap tidur.
Pak Hasan tidur di atas dipan yang terbuat dari bambu beralaskan tikar tipis . Sedangkan Bu Lastri tidur seranjang dengan Safia beralaskan kasur spon tipis.
" Ndang turu nduk, pak Hasan mesti koyo ngono! senengane mutusi masalah karepe dewe!" ( Cepat tidur nak, pak Hasan selalu saja begitu! Sukanya memutuskan masalah sesuka hatinya!)
Safia hanya bisa mengikuti kemauan pak Hasan. Ada sedikit kelegaan karena ia akan segera pulang dan bertemu suaminya. Rasanya benar-benar tidak sabar berganti pagi. Akhirnya Safia pun mulai terlelap dalam tidurnya. Begitupun Bu Lastri dan pak Hasan.
Esok pun tiba, pak Hasan sudah bangun sebelum Safia dan Bu Lastri bangun. Pak Hasan memandangi wajah Arjuna kecil yang sedang terlelap dalam tidurnya. Ia benar-benar sedih karena ini hari terakhir nya bisa melihat wajah lucu bayi tampan itu.
Sayup-sayup adzan subuh berkumandang, pak Hasan segera pergi kekamar mandi untuk mandi dan menunaikan ibadah sholat subuh. Disusul Bu Lastri dan Safia. Bu Lastri mempersiapkan sarapan pagi untuk Safia dan pak Hasan, dibantu Safia.
Baby Arjuna sebenarnya sudah ikut terbangun. Namun ia hanya mengoceh dengan sangat lucunya. Pak Hasan tidak ingin membelah kayu dengan kapak seperti biasanya. Pak Hasan menghabiskan waktunya bersama baby Arjuna.
" Tak gintang....gintang.....! Ganteng ku....! seng pinter ya nak...! Dadi anak Sholeh....! pinter.....! Aku ne pinter lo kek, ganteng pisan! Ojo lali karo kakek ya le...!" Pak Hasan bicara dengan baby Arjuna sambil berurai air mata.
__ADS_1
" Pak...!" Bu Lastri menyentuh pundak pak Hasan.
" Berat rasanya harus berpisah dengan cucuku buk...!" pak Hasan mengusap air mata yang jatuh dipipinya.
" Juna bukan milik kita pak...!" Bu Lastri ikut terhanyut dalam kesedihan pak Hasan.
" Aku takut kalo Juna seperti Arjuna kita buk, pergi dan tidak pernah kembali..."
" Yang penting Arjuna kita sudah bahagia disana pak...! Makanya dia sudah tidak ingat kita...!" Bu Lastri ikut menangis ketika mengenang putranya yang bernama Arjuna.
Putra Bu Lastri dan pak Hasan pergi merantau ke Jakarta. Hingga kini, Arjuna tidak kunjung pulang. Sudah 5 tahun lamanya Arjuna tidak memberi kabar orang tuanya. Sempat terfikir oleh pak Hasan untuk menyusul putranya tersebut. Namun, harus menyusul kemana? Pak Hasan benar-benar tidak tahu kemana alamat yang harus dituju.
" Assalamualaikum....!!"
" Waallaikum salam....! Supri, masuk pri....!" Pak Hasan terkaget karena kedatangan Supri.
" Ayo sarapan dulu pri...!" Ajak Bu Lastri sambil menggendong baby Arjuna.
" Iya...!"
" Pri... awakmu engko langsung nyang Suroboyo opo mampir pare?" ( pri...kamu nanti langsung pergi kesurabaya atau mampir dulu kepare?)
" Nggeh mampir, mundut dagangan sayur riyin teng pare" ( iya mampir, mengambil dagangan sayur di pare)
" Temen jogonen fia loh ya pri...!" ( tolong jaga fia ya pri...!)
" nggeh...!"
Tidak banyak pembicaraan yang terjadi pada mereka. Pak Hasan dan Bu Lastri masih merasa sedih jika harus berpisah dengan Safia dan baby Arjuna. Begitupun dengan Supri, Supri adalah pria dengan pembawaan santun dan tidak banyak bicara.
Setelah selesai makan, Safia akhirnya berpamitan pada Bu Lastri dan pak Hasan. Bu Lastri tidak kuasa menahan tangisnya. Bu lastri memeluk Safia erat, seakan tidak ingin Safia pergi. Dua bulan sudah Safia tinggal bersama Bu Lastri dan pak Hasan. Mereka sudah menganggap Safia seperti anak sendiri.
Begitupun Safia, kehangatan yang diberikan Bu Lastri dan pak Hasan membuatnya seakan seperti tinggal bersama bapak dan ibuk di Kediri. Sebenarnya Safia merasa nyaman, namun ia ingin sekali kembali kerumah suaminya.
__ADS_1
" Buk, westo culno...!" ( buk, sudah lepaskan...!) Pak Hasan menarik tubuh Bu Lastri agar melepas pelukannya bersama Safia.
" Pak....!" Bu Lastri balik memeluk pak Hasan sambil menangis.
" Nduk... budalo...!" (nak, berangkatlah...!) pak Hasan memberi kode dengan tangannya agar Safia segera pergi meninggalkan mereka.
Sambil menangis, Safia pergi meninggalkan pak Hasan dan Bu Lastri yang sedang menangis sambil berpelukan. Supri sudah membukakan pintu truk nya agar Safia segera naik ke dalam truk. Truk yang dikemudikan Supri sedikit tinggi, sehingga membuat Safia kesulitan untuk naik. Namun dengan sigap Supri membantu Safia agar mudah naik.
Supri langsung mengemudikan truk itu meninggalkan kediaman pak Hasan. Dalam perjalanan, Supri dan Safia hanya diam dengan fikiran masing-masing. Sedangkan baby Arjuna terlelap dalam tidurnya setelah minum ASI.
πππππ
Surabaya
Pukul 8 pagi Antony bergegas pergi kerumah Hermawan. Ia berniat mengajak Hermawan untuk menjemput Safia. Fanesa sengaja ditinggal dirumah agar bisa konsentrasi belajar. Antony memang tidak ingin Fanesa terlibat dengan permasalahannya.
Setibanya dirumah Hermawan, Antony langsung masuk dan mencari keberadaan Hermawan. Asisten rumah tangga Hermawan mengatakan bahwa Hermawan sedang berasa di kamar nyonya Sanjaya.
Tok,tok,tok...!
" Permisi...!"
" Ya...!" Hermawan menoleh ke arah pintu kamar. " ngapain kamu kesini?"
" Aku ingin mengajakmu menjemput Safia"
" Sandiwara apa lagi yang kau lakukan?" bentak nyonya Sanjaya.
" Aku tidak sedang bersandiwara tante...!"
" Bohong...! kau ingin menjebak dan menyakiti anak ku lagi kan?!"
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
***Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari luarnya saja, karena yang terlihat manis diluar... belum tentu manis dalamnya......asseeeekkk....!πππ
enjooyyy n love you all π***