
Setelah puas berkeliling komplek akhirnya Hermawan dan Safia kembali kerumahnya. Safia sangat lelah,bahkan ia melewatkan jam makan siangnya untuk tidur. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa mudah lelah.
Hermawan sendiri sibuk dengan setumpuk pekerjaan nya. Sekarang Hermawan mengerjakan pekerjaannya dirumah saja. Ada beberapa karyawan silih berganti kerumahnya untuk mengantarkan laporan-laporan penting perusahaan.
Fanesa merasa bosan setelah melakukan 2 jam sekolah online nya. Ia menghampiri papanya diruang kerja. " pa... Fanes bosen. Jalan-jalan ke mall yuk..."
" Papa sibuk sayang,mungkin larut malam papa baru menyelesaikan pekerjaan papa" jawab Hermawan sambil membolak-balik kertas-kertas laporan nya.
" Lalu aku gimana pa?" Fanesa merajuk.
" Kan ada mama Karin ..." balas Hermawan enteng.
" Males aah,mama tuh sibuk dengan dirinya sendiri"
" Tapi mama Safia sedang istirahat dikamar,coba deh kamu lihat. Tapi nggak boleh maksa ya..." Hermawan mengelus punggung Fanesa.
" iya deh pa,aku ke kamar mama fia dulu" Fanesa beranjak meninggalkan ruang kerja Hermawan.
Setelah sampai didepan kamar papanya,Fanesa langsung membuka pintu kamar. Fanesa menghampiri Safia yang tertidur diranjangnya. Ia menggoyang-goyang kan tubuh Safia pelan. " ma...bangun... nesa pengen jalan-jalan ke mall"
Safia mulai mengerjapkan matanya. " jam berapa ini sayang? mama lelah banget..." Safia mencoba bangun dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
" Jam 3 sore...ayo ma,aku pengen makan roti b*y ma. Atau sekedar beli cemilan...ayo ma..." rengek Fanesa pada Safia.
" Mama mau mandi dulu ya,sholat ashar terus kita pergi. Jangan lupa papa kasih tau ya..." tutur Safia lembut.
" papa sibuk ma,mama aja yang nyetir ma... please....! Aku nggak suka disopirin sopir papa! sopir papa lemes ma..." celetuk Fanesa.
Safia terdiam sejenak. Sejak kejadian percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Martin beberapa bulan lalu Safia sudah tak pernah lagi mencoba untuk menyetir kembali. Traumatik nya sangat mengganggunya. Namun setelah ia rutin melakukan hipnoterapi ketakutannya sedikit mereda.
" ma....kok diem" kata Fanesa sambil memanyunkan bibirnya. " Jangan bilang mama nggak mau!"
" Baiklah,mama mandi dulu... kamu mandi sama sholat juga ya...! jangan lupa izin papa dulu" Safia mencoba membujuk Fanesa agar tidak merajuk.
" Siap boss....!! serahkan semuanya padaku boss!!" kelakar Fanesa seraya memberi hormat. Fanesa pun beranjak pergi meninggalkan Safia di kamar sendiri. Dengan samar akhir nya senyum Safia terukir di sudut bibirnya.
__ADS_1
Sebenarnya dia anak baik.... batin Safia.
Safia beranjak dari kasur empuk nya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
πΉπΉπΉπΉ
Diruang kerja Hermawan
" Pa.... " Fanesa berlari lalu memeluk papanya.
" Ada apa? kenapa anak gadis papa jadi sebahagia ini?" tanya Hermawan penasaran.
" Pah, nanti aku keluar sama mama tapi mama nyetir sendiri ya...! nesa nggak mau pake sopir....!" Fanesa mulai memainkan kerah baju papanya.
" Kenapa begitu? kasihan mama nanti kecapekan...!"
" Enggak pa,mama bilang nggak papa....." bujuk Fanesa lagi.
" Pasti kamu maksa mama ya...?" Hermawan menatap putrinya serius.
" Apa?" Hermawan menatap Fanesa tidak percaya. Putri kecilnya kini mulai mengancamnya.
" Aku akan ikut mama ke Bandung...! Biarin aja papa disini sendiri sama mama. Aku yakin papa nggak akan bisa hidup tanpa aku kan?" kata Fanesa percaya diri. Ia melipat kedua tangannya didada. Tubuhnya berpaling membelakangi Hermawan.
" Apa...?" Hermawan sangat terkejut dengan apa yang diucapkan putrinya tersebut. Hermawan berdiri dan membalikkan tubuh Fanesa menghadap tubuhnya. " Apa putri papa tega meninggalkan papa sendirian,hah?"
Fanesa mencebikkan bibirnya lalu memeluk papanya erat. " Aku sayang banget sama papa,aku nggak bisa hidup berjauhan dengan papa..." mata Fanesa mulai berkaca-kaca.
" Sayang....kamu nggak akan meninggalkan papa kan?" Hermawan meraup wajah Fanesa. Rasa sayang yang luar biasa. wajah cantik Fanesa selalu bisa membuat Hermawan bangkit dari keterpurukannya." Papa sayang banget sama kamu nak...kamu segalanya buat papa"
Hermawan dan Fanesa menyatukan kedua dahi mereka. Hembusan nafas menyapu wajah satu sama lain. Akhirnya bulir-bulir bening meluncur di pipi mulus Fanesa.
" Papa jangan pernah minta aku tinggal sama mama karin ya..." kata Fanesa sambil terisak-isak.
" Iya sayang..." Hermawan kembali memeluk tubuh Fanesa erat.
__ADS_1
Dipintu nampak Safia yang sedang berdiri mematung. Matanya berkaca-kaca terharu dengan pemandangan didepannya. Hermawan menjentikkan jarinya memberi kode agar Safia mendekat. Setelah safia mulai mendekat Hermawan menarik tangan Safia hingga tubuhnya ikut berdekatan dengan tubuh Fanesa dan Hermawan.
Akhirnya ketiga manusia itu saling berpelukan dengan haru. Setelah puas berpelukan Fanesa berpamitan untuk berganti pakaian.
Hermawan menuntun istrinya untuk duduk disofa bersamanya. " katakan padaku mau kemana kau berpakaian secantik ini?" Hermawan mendekatkan hidungnya ke pipi Safia.
Safia menggigit bibir bawahnya.
" Eehmmm.....maass...!!"
" Kau cantik sekali sayang..." bisik Hermawan ditelinga Safia.
Safia bergidik geli. " Mas hentikan....!" Safia mulai tidak bisa mengontrol nafasnya.
" Hahaha...... salah sendiri kau menggodaku" Hermawan tertawa puas karena berhasil menggoda istrinya.
" Mas....!" Safia memukuli dada Hermawan dengan kesal.
" Hahaha....." Hermawan masih tertawa lepas.
Tiba-tiba Fanesa muncul dibalik pintu. " Mah ayo...!" Fanesa menghampiri Hermawan dan safia.
" Sayang apa kau yakin akan menyetir sendiri?" Hermawan menatap Safia dalam.
" iya..." jawab Safia singkat sambil mengangguk.
" Baiklah, berhati-hati lah. Jangan ngebut-ngebut ya..." Hermawan mengecup kening Safia lalu Fanesa secara bergantian.
Fanesa menggandeng tangan Safia keluar dari ruang kerja Hermawan.
Hermawan mengambil ponsel di atas meja kerjanya. Hermawan meletakkan ponsel itu ditelinga nya. Sepertinya ia sedang menghubungi seseorang.
" Halo.... dengarkan aku. Ikuti dan awasi anak juga istriku. Kalau ada orang yang mencurigakan, segera aman kan istri berserta anak ku" Hermawan meletakkan handphone nya di atas meja kembali.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1