
Pagi hari pukul 8 pagi akhirnya dengan perlahan Safia mulai membuka matanya. Ia memperhatikan kesekeliling kamar. Ia nampak asing dengan kondisi kamar yang ia tempati sekarang.
Dimana aku? batinnya dalam hati
Ia berusaha untuk bangun,namun badannya tak kuasa karena masih terlalu lemah. Tangan kanannya terasa kesemutan lalu ia menoleh ke kanan ada seorang pria yang tertidur disampingnya. Pria itu menutup sebagian wajahnya. Sehingga Safia tidak mengetahui kalau pria itu suaminya. Safia mencoba membangunkan pria tersebut namun ia tak tega.
Apakah dia mas Hermawan? gumam Safia dalam hati.
Tak terasa buliran bening meluncur bebas dipipinya. Serpihan ingatan kembali menyadarkannya. Hermawan pria yang sangat ia cintai kemarin telah mengusirnya. Hatinya masih terasa sakit, Safia memalingkan wajahnya. Ia belum sanggup bertemu dengan suaminya.
Bahkan sempat terfikir olehnya ingin bunuh diri saja. Karena tak ingin menjadi beban hidup orang-orang yang ia cintai.
Sebaiknya aku pergi,aku nggak mau bertemu dengan mas Hermawan lagi. Hatiku masih terlalu sakit... batin Safia semakin sedih.
Safia menarik tangan kanannya secara perlahan agar tak membangunkan pria yang berada disamping bed pasien miliknya. Ia melepaskan selang infus secara paksa. Safia meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangan kirinya.
Dengan lemah ia mulai menurunkan kakinya kelantai. Kepalanya terasa berputar-putar,tangannya berusaha mencari pegangan agar tubuhnya tidak terjatuh. Dengan tertatih-tatih ia mulai melangkah meninggalkan bed pasien nya.
Merasa ada gerakan disampingnya, Hermawan mulai membuka matanya. Ia kaget melihat Safia yang berjalan tertatih-tatih meninggalkan tempat tidurnya.
" Fia...kau mau kemana?" Hermawan dengan sigap memeluk tubuh Safia yang hampir terhuyung jatuh karena tak seimbang.
" Lepaskan aku mas...aku mau pergi saja" Safia berusaha melepaskan pelukan Hermawan.
" Fia,apa yang kau lakukan...! Jangan pergi...! Maafkan aku...! Aku sudah tau kau tak bersalah...!" Hermawan masih memeluk Safia dengan erat. Namun Safia masih berusaha berontak.
" Aku bukan istri yang baik untuk mas,lebih baik aku pergi...! Aku nggak mau jadi beban mas...!" Safia mulai menangis tak kuasa menahan sakit hatinya.
" Kau bukan beban untuk ku sayang... Jangan pergi...! Aku nggak sanggup hidup tanpamu...!" Hermawan membenamkan wajahnya di bahu Safia.
__ADS_1
Safia merasakan kepalanya semakin sakit,tak lama kemudian ia mulai tak sadarkan diri lagi. Hermawan segera membopong tubuh istrinya dan membaringkan diatas tempat tidur. Ia segera menghubungi pihak dokter agar segera memeriksa keadaan istrinya.
Tak lama berselang seorang dokter datang dengan dua orang perawat.
" Apa yang terjadi tuan?" Tanya seorang dokter pada Hermawan.
" Istri saya mencoba pergi dari rumah sakit ini dok" Hermawan nampak gugup menjelaskan apa yang terjadi.
" Sus,pasang kembali selang infus nyonya safia." perintah dokter itu pada perawat yang membantunya. Dokter mulai memeriksa keadaan Safia. Wajah sang dokter berubah serius.
" Maaf tuan,kondisi nyonya sedang tidak baik-baik saja. Ia sedang mengalami stres berat. Dan kandungannya masih terlalu lemah,ini semua bisa mempengaruhi kehamilannya" Dokter mulai menjelaskan keadaan Safia.
" Istri saya benar-benar hamil dok?!" Hermawan nampak terkejut dengan penjelasan dokter.
" Iya,kehamilan nyonya baru memasuki Minggu ke 6. Tentu di trimester pertama kehamilan nyonya sangatlah rawan. Sebaiknya nyonya dihindarkan dari hal-hal yang membuatnya bersedih atau berfikir terlalu berat"
Hermawan nampak bingung mendengar penjelasan pak dokter tersebut. Ia bingung harus berbuat apa. Karena penyebab Safia seperti ini adalah dirinya.
Hermawan terduduk lemas disofa. Matanya nanar menatap tubuh istrinya yang tergolek lemas diatas tempat tidur.
Nyonya Sanjaya datang menghampiri putranya tersebut. " Apa yang terjadi her?"
" Safia stres berat karena aku ma... Dokter bilang kalau begini terus bisa berdampak buruk pada kehamilannya..." Hermawan mulai menitikkan air matanya. Ia merasa kecewa dengan perbuatannya sendiri.
" Sudahlah,semua sudah terjadi...! biarkan Safia beristirahat. Untuk sementara waktu biarkan mama yang menjaganya. Kau pulanglah, istirahatlah!" Perintah nyonya Sanjaya a.
"Tapi ma... aku ingin menjaganya. Aku ingin menebus semua kesalahanku..."
Nyonya Sanjaya menepuk bahu Hermawan. " istirahatlah,mama akan membujuk Safia agar mau memaafkan mu..,"
__ADS_1
Hermawan masih kekeh tak mau meninggalkan istrinya. Nyonya Sanjaya merasa kasihan melihat putra semata wayangnya itu. Apalagi setelah sadarkan diri Safia tak mau merespon Hermawan sama sekali.
Bahkan Safia selalu memalingkan wajahnya jika Hermawan berada didekatnya. Merasa tak tega dengan nasib putranya,nyonya Sanjaya membujuk Safia agar memaafkan putranya tersebut. Namun sepertinya Safia masih enggan berbaikan dengan suaminya tersebut.
Seminggu kemudian kondisi Safia sudah mulai membaik. Ia ingin segera pulang kerumahnya karena merasa tidak nyaman di rumah sakit.
" Ma...antar aku pulang kekediri ya ma"
" Sayang... apa kamu lupa dokter berkata apa? kamu nggak boleh terlalu lelah. Perjalanan Surabaya Kediri pasti akan melelahkan untukmu. Jadi kita pulang ke Citraland saja ya" nyonya Sanjaya mencoba membujuk Safia.
Akhirnya Safia menuruti keinginan mama mertuanya itu. Sebenarnya,dalam hati yang terdalam ia masih enggan bertemu dengan suaminya itu. Entah mengapa ia merasa sangat membenci suaminya itu.
Keesokan harinya Safia sudah diperbolehkan pulang. Betapa bahagianya ia bisa meninggalkan rumah sakit yang sangat membosankan itu.
Hermawan tak kalah bahagianya karena bisa mengajak istrinya pulang kerumah. " Ayo sayang,aku akan membantumu turun dari tempat tidur"
" Nggak...! jauh-jauh dari ku mas,aku muak melihatmu....!" Safia menepis tangan Hermawan yang ingin membantunya.
" Sayang....jangan seperti ini padaku" Hermawan merasa sedih karena sikap istrinya masih saja ingin menjauhinya.
" Pergi,jangan dekati aku...! Kalau tidak aku akan pulang kekediri...!" Safia masih kekeh tak mau dibantu suaminya.
" Tapi sayang...." Hermawan mulai merajuk.
" Sudah-sudah...kalian ini seperti anak kecil saja. Pergilah her.... kamu bisa membawa barang-barang Safia ke mobil. Biar mama yang membantunya" Nyonya Sanjaya mencoba menengahi pertikaian mereka berdua.
Hermawan akhirnya membawa barang-barang milik Safia ke mobil. Disusul nyonya Sanjaya yang mendorong kursi roda yang diduduki Safia.
Dalam perjalanan nyonya Sanjaya mengajak Safia bersenda gurau. Terdengar gelak tawa memenuhi mobil Hermawan. Safia nampak bahagia dan mengacuhkan suaminya yang sedang menyetir.
__ADS_1
Hermawan berharap ini semua tidak berlangsung lama. Dirinya merasa tersiksa jika berjauhan dengan istrinya Safia.
πΊπΊπΊ