
" Sayang bisakah kita mulai sekarang?
" Apanya yang dimulai mas?" Tanya Safia gugup.
" Tentu tidur...hahaha Apa yang sedang kau fikirkan sayang?"
Safia tertunduk malu, pipinya mulai merona. Hermawan menggandeng Safia mengajaknya duduk ditepi ranjang. Tangan Hermawan merapikan rambut Safia ke belakang telinga. Tangan Hermawan mulai mengelus pipi,dagu dan turun ke leher. Nafas Safia kini mulai tak beraturan.
Hermawan mendekati telinga Safia dan berbisik " Berjanjilah padaku kau akan setia selamanya mendampingi ku sayang". Safia mulai memejamkan matanya. " Iya mas,aku berjanji..!"
Hermawan mulai menciumi telinga Safia. Sekarang turun ke leher,dan pundak. Badan Safia mulai bergidik. Hermawan mulai mengecup kening Safia,hidung,pipi dan bibir. Berawal dari kecupan,******n,dan kini berubah menjadi lilitan liar. Kini gerakan keduanya semakin liar saja.
Tak menunggu lama Hermawan mulai melakukan hal yang sangat dinantikan. Mulai dari rintihan,Isak tangis,dan kini yang terdengar lenguhan kenikmatan. Keduanya menikmati malam ini dengan begitu indah.
Setelah keduanya merasakan kepuasan masing-masing, akhirnya Safia tertidur.
Hermawan menyelimuti tubuh polos istrinya. Ia begitu bangga mendapatkan istri yang bisa menjaga kehormatannya.
" Sayang, terimakasih kau telah menjaga mahkota mu selama ini. Aku tak menyangka dulu aku tak mendapatkan ini dari Karin"
Ya, Hermawan sempat kecewa mengetahui Karin yang sudah tak perawan dimalam pertama mereka. Hermawan dengan Karin menikah karena perjodohan. Dan akhirnya berakhir dengan penghianatan Karin.
Tak lama setelah merenungi masa lalunya bersama Karin, Hermawan pun tertidur.
****
" Mas....mas,sudah subuh mas. Bangun mas!"
Hermawan mulai mengerjapkan matanya.
Safia tersenyum melihat suaminya mulai membuka matanya. Hidung Hermawan mulai mencium harum bunga mawar dari tubuh istrinya.
" Sayang,apa barusan kau mandi kembang?"
" Tidak mas,aku mandi menggunakan sabun cair yang ada dikamar mandi"
" Tapi baunya harum sekali..." Hermawan mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Safia. " Mas her.... hentikan! Ayo cepat mandi ini sudah subuh..."
" Iya sayang,berikan aku morning kiss dulu"
Sebenarnya Safia masih malu untuk melakukan itu. Namun, setelah menyadari statusnya kini Safia harus terbiasa
*cup....
Setelah melakukan kecupan singkat nya Safia segera pergi menjauh dari suaminya. Takut terjadi hal-hal yang tadi malam terulang lagi. Safia memakai mukena dan mengambil sajadah.
Safia mulai sholat subuh dengan khusu' dan khidmat.
Setelah selesai mandi Hermawan sudah tidak mendapati istrinya dikamar. Hermawan pun melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
Setelah selesai menghadap Robb Nya, Hermawan pergi ke ruang kerjanya. Menyelesaikan pekerjaan yang kemarin sempat tertunda. Sedangkan Safia sedang asik memasak didapur.
****
" Sayang,mana Fanesa? Jam segini kok belum turun juga!" Hermawan nampak gelisah.
" Mungkin masih berkemas mas,aku lihat tadi dia sudah mandi" balas Safia sambil menyiapkan sarapan pagi.
Hermawan nampak takjub melihat istrinya begitu cekatan menyiapkan sarapan pagi.
" Apakah kau yang memasak semua ini?"
" Nggak mas,bibik ikut membantu..."
Hermawan merasa beruntung menikahi Safia. Dulu sewaktu menikah dengan Karin tak pernah mendapatkan perhatian seperti ini.
" Pagi pa...." ucap Fanesa tiba-tiba hadir dengan muka ditekuk.
" Pagi sayang,apa tidurmu kurang nyenyak malam ini? kenapa muka kamu nampak kurang tidur?"
" Jelas lah pa,aku takut sekali tadi malam"
" Lhoh ada apa? siapa yang berani membuatmu takut sayang?" Hermawan nampak memicingkan matanya.
" Gimana g takut pa, pas udah ngantuk-ngantuknya tiba-tiba Fanesa denger ada kuntilanak nangis pa?"
" Kuntilanak?" Hermawan mulai membelalakkan matanya. " Hahahaha.... mana ada kuntilanak dirumah kita sayang,.." Hermawan tak kuasa menahan tawanya. Ia sadar siapa kuntilanak yang dimaksud Fanesa itu. Sesekali Hermawan melirik Safia yang mulai memerah pipinya karena malu.
" Makanya sayang,jangan tidur terlalu malam" Hermawan mengelus rambut Fanesa.
" Waahh.... makanannya banyak banget,tumben bik!" pekik Fanesa kegirangan.
" Bukan saya yang masak non,tapi nyonya muda..."
" Masak...!" balas Fanesa ketus.
Melihat tingkah Fanesa, Safia hanya tersenyum samar. Fikiran Fanesa mulai berkecamuk. ' Sepertinya mengambil hati Fanesa sangat sulit' Gumam Safia.
Kini yang terdengar dimeja makan hanyalah dentingan sendok beradu dengan piring. Fanesa makan sarapannya dengan begitu lahapnya. Begitupun Hermawan, sesekali menatap Safia dengan senyuman menggoda.
" Pa.... Fanesa udah selesai" Fanesa mulai beranjak dari kursinya.
" Fanesa ini bekal makan siang kamu sayang,alangkah baiknya kamu makan makanan rumah. Jangan jajan sembarangan!"
Safia menyerahkan kotak makan dan sebuah botol berisi jus.
" Hemmmttt..." Fanesa menerima kotak makan dan botol masih dengan muka masamnya.
" Yang sopan dong dengan mama Safia,ayo pamitan dulu dengan mama !" Perintah Hermawan kepada Fanesa.
__ADS_1
Fanesa hanya melengos dan pergi meninggalkan Safia yang berdiri mematung seraya mengulurkan tangannya. Safia sedikit kecewa Fanesa tak mau menyalaminya. Namun Hermawan segera menyambut tangan Safia dan mencium tangannya.
" Maafkan anakku ya sayang..."
" Nggak papa mas, mungkin Fanesa belum bisa menerima kehadiran ku" Safia nampak sedih. Hermawan segera menarik pinggang Safia lalu....
* Cup....
Sebuah kecupan mendarat sempurna dibibir Safia.
" Jangan sedih lagi ya,I Love You..." kini kening dan hidung mereka saling beradu.
" Love you too mas..."
" Pa.....! Ayo cepat! Nanti Fanesa terlambat...!" Teriak Fanesa.
Hermawan dan Safia pun tersenyum bersamaan. Akhirnya Hermawan pamitan untuk berangkat kekantor. Safia pun melambaikan tangannya.
' Begini ya rasanya menikah...' Gumam Safia sambil tersenyum.
Untuk mengisi waktunya Fanesa berjalan mengelilingi taman belakang rumah Hermawan. Safia tak henti-hentinya takjub dengan rumah Hermawan. Dari perabot, arsitektur,semuanya. Kalau dibandingkan dengan rumahnya yang dulu jelas nampak sekali perbedaannya.
" Hay..." Seorang wanita cantik datang menghampiri Safia. Safia nampak keheranan melihat wanita yang ia lihat. 'Siapa wanita ini? Dari dandanannya seperti ibu-ibu sosialita"
" Apa kau istri baru Hermawan?" Ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.
" I_iya..." Jawab Safia gugup.
" Kenalkan namaku Sonia... Kau ternyata masih polos ya,ku kira mas Hermawan menikahi wanita yang sudah berpengalaman,hahaha"
'Siapasih wanita ini? Darimana datangnya? Baru kenal sok akrab banget' Batin Safia.
" Maaf,mungkin kau sedikit aneh denganku ya. Aku sudah lama mengenal mas Hermawan. Eh,siapa namamu?"
" Safia...."
" ooh ok,Safia... kamu harus membiasakan diri kalau aku sering datang kerumahmu. Aku baru saja pulang dari Singapura"
Safia masih saja diam seribu bahasa. Sesekali hanya bisa diam memperhatikan Sonia bicara.
' Apakah wanita ini saudara mas Hermawan? tapi kenapa mas Hermawan tidak mengenakan ku pada nya?'
" Hey...Are you okey?" Sonia mulai menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Safia. Sonia merasa aneh ketika Safia tidak merespon ucapannya sama sekali.
" Eh,iya..." jawab Safia singkat.
" Maaf aku tak bisa hadir di acara pernikahan kalian. Aku harap kalian bisa bahagia bersama"
" Terimakasih.."
__ADS_1
" By the way, sejak kapan kalian kenal?"