INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
42 Berjalan tak tentu arah


__ADS_3

" Hentikan bik...! Biarkan dia pergi...!" Teriak Hermawan dari lantai 2. Hermawan menuruni anak tangga dan menghampiri Safia dan bibik Vero.


Hati Safia semakin sakit,bukannya menahannya pergi Hermawan justru tak mau berlama-lama melihat nya. Air mata Safia terasa hangat membasahi pipinya. Safia segera melangkah pergi meninggalkan Hermawan dan bibik Veronika. Ia tak sanggup melihat wajah suaminya lagi. Hatinya begitu perih dan sakit sekali.


" Her,kenapa kamu melakukan ini pada fia? ini sudah malam. Apa kau benar-benar tak punya hati her?" Bibik Veronika pergi kekamarnya meninggalkan Hermawan yang berdiri mematung.


" Kenapa aku benar-benar tidak bisa merasakan apapun? apa hatiku benar-benar mati karena terlalu sering dikhianati?" Hermawan berkata dengan lirih.


Sebenarnya dalam hati kecil Hermawan merasa tak tega mengusir Safia. Ia begitu mencintai istrinya itu,namun rasa cemburunya yang luar biasa itu mengalahkan akal sehatnya. Dibenaknya diselimuti kabut emosi. Ia bahkan tak bisa berfikir jernih sekalipun.


Menurut Hermawan tak ada maaf bagi seorang penghianat. Walaupun Hermawan begitu mencintai Safia. Akan tetapi egonya terlalu besar untuk maafkan Safia. Sungguh malang nasib Safia.


🌹🌹🌹


Dipinggir jalan...


Lebih tepatnya di trotoar,Safia berjalan dengan langkah tak tentu arah. Tatapannya kosong,airmatanya tak henti-hentinya membasahi pipinya. Badannya begitu lemas karena seharian perutnya hanya terisi beberapa potong buah saja.


Walaupun perutnya kosong namun ia tak merasa lapar sekalipun. Hatinya yang begitu hancur mengalahkan rasa laparnya. Safia duduk di kursi yang terletak di pinggir trotoar. Kakinya begitu letih,ia sudah tak sanggup untuk berjalan lagi.


" Mas.... kenapa kamu nggak ngijinin aku kasih penjelasan? Aku bukan wanita serendah itu,bisa dengan mudah dekat dengan semua pria. Apa kamu tau mas... aku tak pernah sekalipun pacaran dengan seorang pria. Kamu jahat mas.....!!" Safia mangusap air mata yang membasahi pipinya.


Matanya terasa begitu perih,hatinya sangat terluka. Safia teringat akan sesuatu,ia membuka tas nya. Ia mengambil sebuah benda panjang dan pipih. Safia menggenggam benda itu dengan erat. Air matanya mulai meluncur bebas kembali di pipinya.


Benda itu adalah tespek bergaris merah dua. Awalnya Safia ingin memberi kejutan Hermawan kalau ia sedang hamil. Namun ternyata ia yang diberi kejutan oleh suaminya. Ia diusir dengan begitu kejam. Safia membuang benda itu kesemak-semak. Ia mengambil ponselnya dan mematikannya.


" ibuk....bapak,maafkan fia ya..., fia belum bisa menjadi anak yang berbakti pada kalian. Fia nggak bisa menjadi istri yang baik buat mas Hermawan. Fia nggak sanggup pulang pak...buk....,fia nggak mau bikin bapak ibuk sedih. Fia sakit....." Suara Safia nampak bergetar menahan tangisnya. Namun tetap saja air matanya meluncur bebas.


Jalanan yang Safia lewati agak sepi. Tidak banyak mobil yang berlalu-lalang di jalan itu. Jalanan itu masih didalam kawasan perumahan yang dihuni Hermawan. Rumah Hermawan terletak di salah satu komplek perumahan mewah Citraland Surabaya. Luasnya saja hampir 10 hektar. Mana mungkin Safia dengan mudah keluar dari kawasan itu hanya dengan berjalan kaki.


Safia berdiri,ia ingin melanjutkan langkahnya kembali. Matanya yg pedih kini mulai kabur. Kepala nya mulai berdenyut-denyut. Safia mulai tak bisa memperhatikan jalan yang ia lalui dan diarah berlawanan melintas sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Cekiiitttt......


Braaakkk....


🌹🌹🌹


Pyaaarrr.....


Sebuah cangkir berisi kopi tiba-tiba terjatuh dari genggaman Hermawan. Perasaannya mulai tidak enak.


" Her....kamu nggak papa nak...?" Bibik Vero menghampiri keponakannya itu.


Hermawan nampak bengong melihat tumbahan kopi di lantai. Iya seperti tidak sadar dengan apa yang baru saja terjadi. "Nggak papa bik..." Hermawan masih saja diam mematung.


" Buk....tolong bersihkan pecahan beling ini..." teriak bibik Vero memanggil asisten rumah tangga. Asisten rumah tangga itu akhirnya datang dan segera membersihkan pecahan beling itu. " Her,tenangkan dirimu..." Bibik Vero menuntun Hermawan menjauh dari pecahan beling itu.


Bibik Vero masih sibuk memainkan ponselnya. Ia sibuk menghubungi Safia. Namun ponsel Safia telah dinon-aktifkan oleh pemiliknya. Tak putus asa bibik Veronika mencobanya terus dan terus.


Pukul 20:30 wib mama Hermawan tiba dikediaman Hermawan. Ia langsung masuk kerumah Hermawan.


Hermawan berdiri " Wanita itu sudah aku usir ma" jawab Hermawan enteng.


Plaakk....


Sebuah tamparan mendarat di pipi Hermawan. Mama Sanjaya menampar putra kesayangannya itu. " Apa kau sudah tidak waras hah? Dimana akal sehatmu?"


Mata Hermawan merah,ia tak terima dengan perlakuan mamanya. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Hermawan menunjukkan sebuah foto wanita dipeluk seorang pria. " Mama lihat kelakuan wanita mur*han itu? Apa pantas dia aku pertahankan?"


" Kenapa kau tidak menyelidiki nya terlebih dahulu? Kenapa kau begitu bod*h her? Emosimu sudah membutakan akal sehatmu...! Nyebut...her,nyebuut....!" mama Sanjaya menepuk-nepuk dadanya.


" Oma....." Fanesa berlari menghampiri nyonya Sanjaya dan memeluknya sambil menangis.

__ADS_1


" Oma,mama fia nggak salah.... Bawa mama fia kembali kerumah Oma...." Fanesa menangis dengan terisak-isak.


" Katakan pada Oma,dimana kejadian itu terjadi nesa?" Mama Sanjaya meraup wajah Fanesa dengan lembut.


" Di Pakuwon mall Oma..." jawab Fanesa sambil terisak.


" Ayo kita kesana nesa," Mama Sanjaya menggandeng tangan Fanesa pergi meninggalkan Hermawan.


" Mbak yu....aku ikut...!" teriak bibik Vero sambil berjalan cepat mengikuti langkah mama Sanjaya.


" Apa lagi yang perlu diselidiki ma... semua wanita sama saja. Semuanya berengs*k...!" Hermawan tersenyum kecut. Ia pergi menuju ruang kerjanya. Kepalanya mulai berat,ia mulai menyalakan korek api dan menyulut rokoknya. " ssttttttt.......hah....." Hermawan menghisap lalu menghembuskan asap rokok nya melalui mulut nya.


" Kenapa semua wanita sama,hah? Apa aku nggak pantas bahagia? kenapa aku nggak bisa seperti yang lain? Merasakan bahagia dengan keluarga nya...?" Mata Hermawan memerah dan tak terasa air matanya menetes.


Satu batang,dua batang,tiga,empat..... Hermawan hampir menghabiskan 1bungkus rokoknya. Ia masih menangis meratapi nasibnya.


🌹🌹🌹


" Boss....bom kita sudah meledak" Kata seorang pria pada bosnya.


" Bagus...! Ikuti wanita itu terus,dan lihat pergerakan Hermawan. Jika ia bergerak mencari wanita itu,kita harus bergerak cepat menyembunyikan wanita itu. Biarkan Hermawan menderita secara perlahan...." Pria itu tersenyum licik.


" Baik boss,saya akan memberi tahu anda jika ada pergerakan"


" Pergilah..." seorang pria yang disebut bos itu melambaikan tangannya memberi kode agar anak buahnya itu keluar dari ruangannya.


" permisi boss...!" pria bawahan itu pergi meninggalkan boss nya.


" Hemmmttt....," Pria itu memutar kursinya. Pria itu adalah Antony Suherman. " Hahaha.... tak kan kubiarkan kau hidup bahagia Hermawan...!" Antony mengambil sebuah gelas berisi wine lalu meneguknya hingga habis. " Jika semua itu masih saja tak membuat mu sedih,aku akan merebut semua kebahagiaan mu her...! Seperti apa yang kau lakukan padaku..!"


Pyaaarrr...

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


Alhamdulillah... terimakasih sayangku semua.semoga semuanya sehat selalu.... aamiin 🀲🏻


__ADS_2