
Antony hanya pasrah karena nyonya Sanjaya tidak mengijinkannya mendekati Hermawan. Antony hanya bisa menunggu saat yang tepat untuk minta maaf pada Hermawan.
Malam pun berganti pagi, kesadaran Hermawan mulai pulih sepenuhnya. Nyonya Sanjaya setia menemani disamping Hermawan. Sedangkan Antony hanya bisa berdiri dikejauhan. Antony hanya bisa memastikan kalau keadaan Hermawan baik-baik saja.
Dokter sudah memeriksa keadaan Hermawan, Hermawan diperbolehkan pulang setelah menjalani serangkaian pemeriksaan terakhir. Antony juga mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf pada Hermawan.
Hari berganti minggu, Sudah seminggu Hermawan menginap di rumah sakit. Hari ini Hermawan sudah diperbolehkan pulang. Antony sengaja datang untuk mengantar Hermawan pulang. Ia juga akan minta maaf pada Hermawan.
Antony meminta waktu pada nyonya Sanjaya agar bisa bicara dengan Hermawan. Akhirnya nyonya Sanjaya mengijinkan Antony untuk bicara pada Hermawan.
" Awan...." Antony mendekati ranjang Hermawan.
Hermawan yang duduk bersandar pada sandaran ranjang, melihat Antony mendekatinya. Hermawan langsung memalingkan muka.
" Mau apa kau?,"
" Aku.... ingin minta maaf, aku salah karena tidak mempercayaimu..."
" Kembalikan istri juga anak ku, baru aku memaafkan mu!"
" Anak buah ku sedang mencarinya"
" Mencari? Apa maksud mu?" Hermawan menatap Antony tajam.
" Malam sebelum kau datang membawa polisi, Safia kabur dari villa ku..."
" Apa?" Hermawan nampak terkejut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
" Iya, dia kabur dini hari sewaktu kami sedang terlelap tidur" Antony menunduk.
" Kenapa kau tidak bisa menjaga istriku dengan baik? Kau tidak lihat? Dia sedang hamil besar, dia pernah merasakan trauma psikologis karena percobaan pembunuhan! Apa kau tau itu?" Hermawan berkata dengan penuh penekanan.
" Aku tidak tau awan....!"
Hermawan menangis sambil menutupi wajahnya. Nyonya Sanjaya mendekati putranya lalu mengelus bahunya, mencoba untuk menenangkannya.
" Awan...sekali lagi aku minta maaf!"
" Maaf saja tidak cukup! Cari istriku sampai dapat, baru aku memaafkan mu!" Hermawan berteriak sekuat tenaganya.
" Baiklah, aku akan mencari nya sampai ketemu. Aku pergi dulu!" Antony pergi meninggalkan ruangan Hermawan. Wajahnya masih menunduk, ia bingung harus mencari Safia kemana lagi. Anak buahnya sudah mencari hingga menelusuri hutan, namun tidak juga ketemu.
Antony beberapa kali mengusap wajahnya. Ia berjalan menyusuri lorong tanpa melihat jalan. Fikirannya kacau, ia tidak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba ia tersadar karena menabrak seorang wanita. Dengan sigap Antony memeluk wanita itu agar tidak terjatuh ke lantai.
" Susi...?!" Antony terkejut melihat siapa wanita yang ia tabrak.
Susi meronta-ronta ingin dilepaskan dari pelukan Antony. Akhirnya Antony melepaskan pelukannya.
" Apa yang kau lakukan disini Susi? Apa kau sakit?" Antony memegangi tangan Susi, lalu memperhatikan semua tubuh Susi dari ujung ke ujung.
__ADS_1
Susi menepis tangan Antony. " Aku tidak sakit!"
" Lalu kenapa kau kesini?" Antony memperhatikan ujung lorong yang sudah dilewati Susi. Ada beberapa poli berjajar disana.
Susi gugup harus berkata apa pada Antony.
" Mungkin, untuk beberapa bulan kedepan... perceraian kita harus diundur" Susi meremas roknya karena gugup.
" Perceraian? apa maksudmu?"
" Ya, perceraian...!"
" Aku nggak ngerti, aku benar-benar nggak ngerti maksud kamu!"
" Kamu nggak lagi amnesia kan? Kau sudah menalak ku, Antony!"
" Lalu kenapa kau mengundur perceraian kita? Apa kau ingin rujuk dengan ku?" Antony tersenyum menggoda.
" Kau gila! Aku tidak akan mau rujuk dengan mu!" Susi kesal lalu berjalan meninggalkan Antony.
Antony menarik tangan Susi. " Jawab aku! Kenapa kau mengundur perceraian kita?"
" Aku....aku...!" Susi melepaskan tangan Antony lalu berjalan cepat menghindari Antony.
" Susi...!" Antony berlari mengejar Susi, dengan gerakan cepat Antony menarik tangan Susi dan mendorongnya ke sudut ruangan.
" A-apa yang kamu lakukan padaku?" Susi semakin gugup dengan perlakuan Antony.
" Aku hamil...!"
" Apa?" Antony terkejut mendengar perkataan Susi. " Apa yang kau katakan itu benar Susi?"
Susi mengambil beberapa kertas pemeriksaannya dan melemparnya kedada Antony.
" Baca dan perhatikan dengan baik apa isinya! "
Antony mulai membaca lembar demi lembar hasil pemeriksaan medis Susi. Diantara kertas itu ada hasil USG janin Susi. Janin itu masih kecil mungil, bentuknya masih seperti butiran kacang merah.
Susi merampas kembali kertas-kertas yang berada ditangan Antony.
" Susi, apa kau benary hamil anak kita?"
" Anak kita? bukan! dia anakku! Hanya milik ku!" Susi pergi meninggalkan Antony yang masih berdiri mematung.
" Susi....tunggu!" Antony berlari mengejar Susi. " Susi,aku mohon beri aku kesempatan ke 2"
Susi terus berjalan ke basement rumah sakit tanpa menghiraukan Antony. Sedang kan Antony terus mengejar dan membujuk Susi agar mau rujuk dengan nya. Merasa risih dengan sikap Antony, Susi pun berhenti melangkah.
" Cukup!" Susi mengatur nafasnya kembali. " Apa masih kurang untuk mu? Kamu sudah memiliki wanita yang sedang hamil besar, dan anaknya laki-laki. Bukankah kau hanya menginginkan anak laki-laki? Asal kau tau apapun jenis kelamin janin yang ada di rahim ku, dia milik ku! Hanya milikku! Aku tidak akan memberimu kesempatan, karena aku tau... jika bayiku tidak seperti keinginan mu, kau akan menghempaskan ku lagi seperti sampah!" Susi mendorong Antony hingga tersungkur dilantai. Lalu ia langsung masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Antony tidak sanggup mengejar mobil Susi. Tapi Antony tau kemana Susi pergi. Antony masuk kedalam mobilnya. Ia mengambil handphone yang ada disakunya dan menghubungi seseorang.
📞 Antony : kau dimana?
📞 🧒. : masih dimalang boss
📞 Antony : apa kau sudah menemukan Safia?
📞 🧒. : Belum bos, tapi saya curiga dengan salah satu warga sini bos.
📞 Antony : cepat selidiki, dan dapatkan Safia secepatnya!
📞 🧒. : Baik bos...!
Antony mematikan ponselnya, ia melajukan mobilnya ke rumah mewahnya.
💓💓💓💓💓
Malang, Coban Amprong
" Nduk... sudah sebulan kamu disini. Apa kamu nggak ingin pulang?"
" Bener nduk, kasihan suamimu pasti bingung mencarimu"
Safia menghela nafasnya berat. " Sebenarnya ingin pulang, tapi..."
" Tapi apa nduk?" Bu Lastri menggenggam tangan Safia.
" Saya nggak punya uang...!" Safia menunduk.
Bu Lastri menatap pak Hasan sedih. " Pak...!"
" Bapak sebenarnya juga tidak punya banyak uang nduk, tapi bapak ingin membantu mu!"
" Nduk..., ibu sama bapak akan jualan lebih keras lagi, biar uangnya bisa bantu kamu pulang ya!"
" Buk...." Safia merasa tidak tega dengan pak Hasan dan Bu Lastri. Keluarga pak Hasan bukan keluarga berada,mereka berjualan diwarung untuk makan sehari-hari. Rasanya sangat keterlaluan jika Safia semakin membebani mereka. " Biar fia bantu jadi buruh cuci Bu!"
" Tidak, kamu tidak boleh kerja kasar seperti itu! Apa kata suamimu nanti jika tau istrinya harus jadi buruh cuci!" Pak Hasan langsung menolak usul Safia.
" Nduk...kamu jangan khawatir, biar bapak dan ibuk yang cari solusi" Bu Lastri mencoba menenangkan Safia.
" Terimakasih Bu, fia hutang budi dengan bapak dan ibu"
" Sudahlah nduk, tidak ada hutang budi. Ibuk dan bapak seneng kamu dan Juna disini. Kalian adalah obat rindu kami pada anak cucu kami"
Safia memeluk Bu Lastri. Mereka menangis bersama sambil mengenang orang-orang yang mereka sayangi.
💓💓💓💓
__ADS_1
***akhirnya demi kalian semua disela-sela kesibukan mengurus si baby yg makin gede dan makin RIWEH ngurusnya😍 kelar jg episode ini....
terimakasih atas kunjungan kalian semua...! I Love You all 😘***