
Harum embun pagi menyeruak kekamar inap Safia. Hari ini ia begitu bahagia. Hari ini, Safia sudah boleh pulang. Keadaan nya semakin hari semakin membaik. Tidak terasa sudah sepekan Safia menginap di rumah sakit. Hermawan sudah mengemasi baju Safia sejak kemarin malam.
" Sayang...cepat buka mukenanya,akan kulipat dan kumasukkan tas baju kotor"
" Tapi aku masih nyaman pakai mukena ini mas .... Diluar pasti masih dingin"
" Ayolah sayang,ini sudah pagi.... Sebentar lagi juga panas kena sinar matahari"
" Kayaknya nggak akan nongol,awannya terlihat gelap mas" Safia memperhatikan awan yang berwarna abu-abu gelap. " Pasti sebentar lagi hujan lagi"
Cup...
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi Safia.
" Mas...." Safia mencoba meraih pinggang Hermawan untuk Safia cubit. Namun Hermawan menghindar dengan cepat. " Awas ya kamu mas...!"
" Habisnya kamu gemesin sih...."
Safia hanya tersenyum memandang suaminya mengemasi pakaiannya.
" Lihat saja,aku akan mengajakmu olahraga malam setiap hari"
" Dih...ogah,aku tidur saja dikamar Fanesa"
" Eiittthh....! Berani ya kamu nolak aku....!" Hermawan mendekati Safia lalu memeluknya. Namun tangannya menjelajahi tubuh Safia untuk dikelitik.
" Maaaaasss......geli" Safia berteriak sambil bergeliat karena kegelian. " Maasss ampuuun....!"
Ceklek....
" Permisi...uups!" kedua perawat yang berada diambang pintu menutup mulutnya dengan tangan masing-masing. " Maaf kami menganggu" Kedua perawat itu nampak tersenyum malu melihat kemesraan Safia dan Hermawan.
" Silahkan sus,periksa istri saya yang nakal ini..."
" Iih...apaan sih mas,mas itu yang nakal..." Safia mengerucutkan bibirnya.
Hermawan tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Entah mengapa walaupun usia yang selisih jauh dengan istrinya. Ia merasa sangat bahagia hidup bersama istrinya saat ini. Ya... karena kini rasa cinta Hermawan kepada Safia begitu besar. Rasa cinta yang berawal dari rasa simpati tumbuh menjadi benih-benih cinta. Dari benih-benih itu lah rasa cinta itu makin tumbuh subur dan makin besar.
"Sudah tuan...istri anda sudah kami periksa tekanan darah nya dan kami sudah melepas selang infus nyonya. Sebentar lagi dokter akan kesini untuk melihat kondisi nyonya Safia"
" Terimakasih sus..."
Ceklek....
" Maaf permisi..." seorang dokter wanita muncul dari balik pintu. " Saya ingin memeriksa kondisi nyonya Safia"
" Silahkan dok..."
Dokter itu mulai menempelkan stetoskop nya ke dada Safia. Tangannya dengan lembut memijat perut Safia. " Apa ada keluhan nyonya?"
" Sejauh ini nggak ada dok,cuma kadang kram tapi cuma sebentar-sebentar"
" Kondisin bayi bagus nyonya,kepala bayi sudah dibawah. Saya pastikan nyonya bisa lahiran normal. Namun,nyonya harus tetap periksa secara berkala di dokter kandungan. Supaya jika ada permasalahan dalam kandungan nyonya bisa segera diatasi"
" Iya dok terimakasih..."
__ADS_1
" Maaf tuan,nyonya Safia harus banyak istirahat. Karena kandungan nyonya sangat lemah,usahakan minum vitamin dan susu hamilnya harus rutin ya..."
" Iya dok,saya nggak akan biarkan istri saya berkeliaran kemanapun lagi"
Dokter itupun tersenyum." Baik tuan,saya undur diri dulu... silahkan menyelesaikan administrasi nya dikasir. Sehat terus ya nyonya..." Dokter wanita itu melambaikan tangannya dan menghilang dari balik pintu.
" Sayang,aku kekasir dulu... kamu tunggu disini ya..."
Safia hanya mengangguk.
Setelah Hermawan pergi Safia melihat diatas nakas tergeletak handphone nya.
Sepertinya ada yang baru saja mengirimkan pesan.
Safia melihat layar handphone nya sempat menyala dan mati kembali. Ia meraih handphone nya dan mengusap layar.
Nomor baru,nomor siapa?
Safia penasaran akhirnya ia membuka isi pesan tersebut.
*Selamat pagi Safia, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah pulang dari rumah sakit?
Antony*
Deg....
Darimana mas Antony tau nomor ku? Aku balas nggak ya...?
Sejenak Safia berfikir keras. Ia takut suaminya marah karena menanggapi pesan dari Antony. Tapi dia merasa nggak enak karena Antony lah yang menyelamatkan nya kemarin.
Aduh,gimana nih....?
Maaf mas Antony,bukan maksudku kurang ajar.... Aku begini karena ada hati yang harus ku jaga.
Ceklek....
Safia terjingkat hingga handphone nya jatuh kelantai. Hermawan tiba-tiba menyembul dari balik pintu.
"Astaga sayang.... kenapa kamu menjatuhkan handphone kamu?" Hermawan segera mengambil handphone Safia yang terjatuh.
Tubuh Safia langsung lemas. " Sumpah mas,aku kaget banget kamu tiba-tiba muncul dari balik pintu"
" Aah...sayang, biasanya juga nggak kaget" Hermawan mengusap-usap rambut Safia. " Pakai kerudung mu sayang,kita pulang! Sebentar lagi ada suster yang membawa kursi roda kesini"
Safia segera memakai kerudungnya.
" Ingat ya... mulai sekarang hanya aku dan kamu saja yang boleh melihat aurat kamu. Jaga itu untuk ku ya ....!"
Safia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Ceklek....
Seorang perawat muncul dari balik pintu sambil mendorong sebuah kursi roda.
" Mari nyonya Safia saya antar keparkiran..."
__ADS_1
" Ayo sayang...." Hermawan dengan sigap menggendong Safia dan mendudukkan nya diatas kursi roda. " Sebentar ya sus.." Hermawan mengambil handphone di saku celananya. Ia mengusap layar handphone nya dan seperti menghubungi seseorang. " pak,tolong tunggu saya di lobby rumah sakit" Hermawan kembali meletakkan handphone nya di saku celananya.
" Siapa mas...?"
" Sopir sayang...,ayo sus...! Biar saya yang bawa tas dan perlengkapan istri saya"
" Baik tuan... Mari nyonya...!" Perawat itu mendorong kursi roda menuju lobby.
Rasa bahagia membuncah dihati Safia. Karena ia akan segera pulang dan menikmati rebahan dikasur empuk istana Hermawan. Ya,istana... Menurut Safia rumah Hermawan mirip dengan istana dibanding rumahnya dulu yang reot dan tak layak huni.
πΉπΉπΉπΉ
Dirumah Antony...
" Sia*an....."
Prank..... Sebuah handphone keluaran terbaru terlempar ke dinding dan hancur berkeping-keping.
" Beraninya dia memblokir nomor telepon ku..." Tangan Antony mengepal kuat. Bahkan uratnya terlihat jelas karena kemarahannya. Nafasnya begitu memburu.
Antony berdiri dan menghampiri sebuah lemari yang berisi anggur pilihan. Ia menuangkan sebuah botol anggur ke gelas bening. Segera ia teguk sampai habis. Ia mencoba menuangkan isi botol tersebut ke gelasnya,namun isi botol tersebut telah habis. Antony semakin murka. Ia membanting botol itu kelantai hingga pecah dan berserakan.
Ceklek....
Pintu pun terbuka, seorang wanita berlari menghampiri Antony.
" Sayang,apa yang terjadi padamu?"
Antony tidak menjawab. Matanya merah memancarkan kemarahan yang luar biasa. Nafasnya masih memburu,tangannya masih mengepal kuat.
" Ayo kita kekamar, istirahatlah...! seperti kamu terlalu lelah..." wanita itu menuntun Antony kekamarnya.
" Lepaskan aku Susi,aku bisa berjalan sendiri" Antony menepis tangan Susi perlahan. Dengan langkah gontai ia mulai meninggalkan ruang kerja Antony.
" Nyonya...,ada yang bisa saya bantu?" Seorang bawahan Antony menghampiri Susi.
" Apa saja yang mas Antony kerjakan hari ini?"
" Tuan membatalkan beberapa meeting hari ini nyonya. Tuan tidak pergi kekantor sama sekali"
" Apa?"
" Saya rasa,ini masih ada hubungannya dengan istri tuan Hermawan"
" Maksud mu?"
" Akhir-akhir ini tuan menyuruh saya untuk mengirimkan hadiah-hadiah mewah ke rumah tuan Hermawan"
" Apa istri Hermawan menanggapi semua perlakuan Antony?"
" Tidak sama sekali nyonya. Bahkan tuan Antony menyuruh saya untuk mencari tahu apa saja yang dikerjakan istri tuan Hermawan"
Susi tersenyum miris. Hatinya terasa perih,ia benar-benar tak menyangka suami begitu berlebihan untuk mendekati istri Hermawan.
" Panggil pelayan untuk membersihkan tempat ini. saya mau ke salon dulu"
__ADS_1
" Baik nyonya"
πΊπΊπΊπΊ