INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
32 Tenanglah


__ADS_3

"Mau coba milikku sayang?" Hermawan menyodorkan piring miliknya ke Safia. Namun Safia menggeleng sambil tersenyum. Hermawan merasa gemas dengan istrinya lalu ia menyendok kan makanan nya dan menyodorkan ke mulut Safia.


Awalnya Safia menggeleng tidak mau, akhirnya terpaksa Safia membuka mulutnya. Hermawan mencium pipi Safia gemas.


" Mas,jangan berlebihan...! ini ditempat umum,aku malu...!" bisik Safia.


Hermawan malah melancarkan ciuman yang bertubi-tubi di pipi Safia. Safia menunduk malu. Hermawan terkekeh puas karena sukses mengerjai istrinya.


Disisi lain pandangan Karin tak lepas dari semua perlakuan Hermawan pada Safia. Dadanya sakit,ia tak pernah diperlakukan seperti itu oleh Hermawan. Tangannya mengepal keras, ingin sekali tangannya mencabik-cabik tubuh Safia. Ingin sekali ia melenyapkan Safia dengan tangannya.


" Pah,nanti mama tidur dirumah kita ya" Fanesa mulai angkat bicara.


" Jangan sayang,mama nggak enak sama Safia. Nggak sepatutnya mama masih tinggal serumah dengan papamu" Sanggah Karin. Fanesa nampak bingung dengan kata-kata mamanya.


Gimana sih mama,bukannya mama pengen Deket sama papa lagi? kenapa mama menolak tinggal sama papa? Aneh.... batin Fanesa.


" Tinggallah sesukamu Rin, lagian dirumah ada Fanesa. Jadi kamu bisa dekat dengan Fanesa kapanpun kamu mau. Walaupun kita berpisah,aku harap hubungan kita tetap baik. Demi Fanesa....." Kata-kata Hermawan bagaikan air dipasang pasir. Karin merasa ada kesempatan untuk mendekati mantan suaminya lagi.


" Baiklah mas,kalau kamu mengijinkan" kata Karin sambil tersenyum. Karin mengambil tisu dan mencoba mengusap sisa makanan dibibir Hermawan. Tangan Hermawan reflek menggenggam tangan Karin. Karin tersipu malu dengan sikap Hermawan.


" Maaf Rin,aku bisa membersihkannya sendiri" Hermawan melepaskan tangan Karin dan mengambil tisu baru untuk mengusap bibirnya.


Melihat suaminya diperhatikan mantan istrinya secara berlebihan,Safia merasa sakit. Dadanya sesak, ada rasa tak terima dalam dirinya karena suaminya diperhatikan orang lain.


Hermawan melihat mata Safia memerah,ia sadar akan sesuatu. Pandangan Hermawan beralih ke arah Karin yang begitu bahagia.


Apa aku salah? Apakah sikapku manyakiti Safia? Aku baik pada Karin hanya untuk kebaikan Fanesa. Nggak lebih....! Batin Hermawan.


" Sayang...apa kamu baik-baik saja?" kata Hermawan lirih. Safia hanya mengangguk dan menunduk. Safia mengusap air mata yang mulai merembes di sudut matanya.


" Pa...aku udah selesai,pulang yuk...!" rengek Fanesa.


" Yuk sayang," Hermawan menggandeng tangan Safia. Sedangkan Fanesa mengandeng tangan Karin. Mereka berjalan beriringan ke parkiran. Sesampainya didekat mobil Karin langsung menyerobot untuk duduk di bangku depan dekat kemudi. Dan Safia akhirnya mengalah duduk dibangku belakang bersama Fanesa.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hermawan merasa canggung duduk berdekatan dengan Karin. Sesekali matanya melirik sepion untuk melihat wajah Safia. Namun Safia nampak acuh melihat luar jendela. Sedangkan Fanesa memejamkan matanya sambil mendengarkan musik melalui earphone.


Sesekali Karin mengajak Hermawan ngobrol, dan Hermawan membalas obrolan itu seperlunya. Hermawan merasa tak enak hati dengan Safia.


Sesampainya dirumah Hermawan, Safia langsung masuk kedalam rumah tanpa menunggu suaminya. Disusul Fanesa yang setia menggandeng Karin. Hermawan berjalan paling belakang.

__ADS_1


" Heiii kariin...." Tiba-tiba bibik Vero datang sambil merentangkan tangannya.


" Hai bik,apa kabar...?" Akhirnya Karin dan bibik Veronika berpelukkan.


" Baik,kamu tambah cantik saja Rin..." puji bibik Vero.


" Aah bibik bisa aja" Karin tersipu malu.


" ayoo duduklah,malam ini kamu nginep disini kan?" bibik Vero mempersilahkan Karin duduk di sofa.


" Ma,aku tunggu di kamarku ya...!" kata Fanesa memotong pembicaraan.


" Iya sayang..." Karin mengangguk sambil tersenyum.


" Kamu banyak berubah ya Rin"


" Ini semua demi Fanesa bik. Oh ya...,mana Hermawan kok nggak kelihatan. Tadi kayaknya dia disini..." Karin clingak-clinguk mencari keberadaan Hermawan.


" Biasalah,paling juga dikamar nya..."


" Aku susul mas Hermawan dulu ya bik..." Karin langsung pergi meninggalkan bibik Vero di ruang keluarga sendiri.


Dikamar Hermawan....


Ceklek...


" Sayang....kamu dimana?" Hermawan mencari keberadaan Safia. Hermawan meraih gagang pintu kamar mandi,namun terkunci dari dalam.


Oh,mungkin dia sedang pipis. batin Hermawan.


Hermawan melepas kaosnya hingga memperlihatkan tubuh atletisnya. Ia melepas celana nya hingga meninggalkan celana boxer. Hermawan duduk ditepi ranjang sambil memainkan handphone nya.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka,dan Karin menyembul dari balik pintu dan langsung masuk begitu saja. Hermawan tak menyadari kehadiran Karin karena sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba Safia keluar dari kamar mandi. Safia sangat terkejut melihat suaminya berada di satu ruangan dengan wanita lain.


" Mas....! Apa yang kalian lakukan?" Teriak Safia.


Mendengar teriakan Safia Hermawan dan Karin terlonjak kaget. Hermawan begitu terkejut melihat Karin berada di kamarnya.


" Karin, ngapain kamu disini?" bentak Hermawan. Karin tersentak. Ia gugup harus berkata apa.

__ADS_1


" A...a..aku...ma...mau ambil baju ganti" Karin langsung membuka lemari mencoba mencari bajunya namun nihil.


Sial,baju siapa ini? aku nggak pernah punya baju seperti ini. batin Karin gugup.


" bajumu sudah aku pindahin dikamar tamu. Kemarin bibik sudah masukin dalam koper" bentak Hermawan lagi.


" i....iya" jawab Karin gugup.


" Ngapain kamu masih disini?"


" A....anu" Karin meremas bajunya sendiri. ia sangat gugup,tak pernah ia menyangka Hermawan akan semarah ini.


" Pergi....!!" teriak Hermawan.


Karin pergi meninggalkan kamar Hermawan dengan wajah ketakutan. Mata Hermawan beralih ke arah Safia. Hermawan melihat Safia menangis namun tak bersuara. Hermawan langsung menghampirinya.


" Sayang,kamu nggak papa?" Hermawan memeluk tubuh Safia yang menangis sesenggukan. Tubuh safia gemetar. Tangannya panas dingin.


" Aku nggak bisa liat kamu sama cewek lain mas..." kata Safia lirih.


" Maafkan aku sayang,aku nggak tau kalau tiba-tiba Karin sudah ada dikamar. Maafkan aku...." Hermawan mencoba menenangkan istrinya. Ia tau kondisi istrinya belum pulih dari traumatik waktu lalu. Ya, traumatik karena percobaan pembunuhan yang dilakukan Martin. Safia sampai saat ini belum bisa mendengar teriakan,melihat benda seperti pisau dan melihat darah.


" Maafkan aku,tenanglah.... aku nggak akan teriak-teriak lagi didepan kamu sayang. Besok kita atur jadwal terapi kamu" Hermawan menuntun Safia untuk duduk di ranjang.


Hermawan pergi kedapur untuk mengambilkan Safia air putih. Ketika melintasi meja makan ia berpapasan dengan Karin.


" Mas her...maafkan aku. Bukan maksud ku untuk bersikap lancang seperti tadi" karin berusaha menjelaskan pada Hermawan.


Hermawan mengambil sebuah botol berisi air putih dari dalam kulkas.


" Kau benar-benar lancang Karin! Kau tau, gara-gara ulahmu tadi Safia ketakutan...!" kata Hermawan penuh penekanan.


" Aku kan nggak ngapa-ngapain mas" bantah Karin.


" Semua ini gara-gara adikmu! Dia coba bunuh Safia,bahkan ia sempat melakukan kekerasan pada Safia. Dan kau tau,itu sangat meninggalkan trauma yang mendapat untuknya" Hermawan meninggalkan Karin yang berdiri mematung disamping meja makan.


*oh,jadi begitu... aku bisa memanfaatkan kesempatan ini. batin Karin sambil tersenyum.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ

__ADS_1


Thank you all๐Ÿ˜˜*


__ADS_2