
Pyaaarr.....
Antony melempar gelas kosong yang tadi berisi wine. " Aku nggak akan membiarkan kamu bahagia Hermawan....!"
" Sayang.... apa yang terjadi padamu?" tiba-tiba seorang wanita menghampiri Antony.
" Susi...." Antony berkata lirih.
Susi menghampiri Antony dan memeriksa apakah ditubuh Antony ada yang terluka. " Apa ada yang terluka sayang?"
" Susi.... hentikan! Aku tidak apa-apa...." Antony menghentikan Susi. sejenak tatapan mereka saling beradu.
" Susi...jangan terlalu khawatir dengan ku,aku bisa menjaga diriku sendiri" Antony berkata dengan lembut. Ia menyelipkan anak rambut Susi ke belakang telinga.
" Aku tau kau tidak sedang baik-baik saja. sebaiknya aku akan menyiapkan air hangat untuk mu berendam" Susi mulai beranjak dari tempatnya berdiri namun tangannya digenggam dengan erat oleh Antony.
" Aku nggak perlu berendam. Yang ku butuhkan hanya dirimu, Susi" Antony merengkuh tubuh Susi. Ia membenamkan wajahnya di bahu Susi.
" Aku akan selalu ada untukmu Antony..." Susi mengeratkan pelukannya. " Apa kau masih belum bisa melupakan adikku? Apa dia begitu berarti untuk mu?"
" Susi....kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja Susan tak akan tergantikan..." Antony meraup wajah Susi. Tatapannya begitu intens menatap setiap inci wajah Susi. " Susi,kenapa kau menangis...?"
" Aku sedih kau tak bisa melupakannya. Padahal...." Kata-kata Susi terputus karena telunjuk Antony menyentuh bibir Susi.
" Kenapa kau berfikir seperti itu? Kau dan Susan orang yang berbeda. Walaupun kalian kakak beradik,tapi dalam hatiku kalian adalah segalanya bagiku" Antony mengecup mata Susi secara bergantian.
Susi pun memejamkan mata menghayati setiap kecupan Antony. " Antony.... berhentilah menganggu kehidupan Hermawan. Mari kita memulai kehidupan baru kita" Susi mengenggam kedua tangan Antony lalu meletakkannya di dadanya.
Antony melepaskan tangan Susi dan berbalik memunggungi tubuh Susi. " Apa kau dengan begitu saja melupakan kejadian itu? Hermawan telah mengambil kebahagiaan ku,juga anak ku...!" Antony mengepalkan tangannya.
Susi memeluk tubuh Antony dari belakang. " Bukan Hermawan yang mengambilnya,tapi Tuhan... Tuhan tau apa yang terbaik untuk Susan. jangan seperti ini Antony... Aku sedih melihatmu seperti ini"
" Kalau kau sedih,bantu aku menyelesaikan semua ini. Lalu kita bisa hidup bahagia tanpa beban" Antony membalikkan tubuhnya menghadap Susi kembali.
Bibir Susi begitu berat menjawab semua ide Antony. Namun ia begitu mencintai Antony melebihi dirinya sendiri. Akhirnya ia mengangguk lemah menyetujui ide gila Antony.
__ADS_1
" Kau memang yang terbaik...." Antony tersenyum puas. Tangannya mulai menggerayangi tubuh Susi. Kecupan demi kecupan iya layangkan pada wajah Susi.
Susi tidak menolak perlakuan Antony padanya. Bahkan ia membalas kecupan dan pelukan Antony dengan penuh gairah.
Merasa perlakuannya pada Susi mendapatkan balasan, Antony menuntun Susi masuk kedalam sebuah kamar yang berada di dalam ruang kerjanya.
Susi pun mengikuti Antony dan mereka pun bergelut dengan penuh keringat untuk memuaskan hasrat demi kepuasan batin mereka.
๐น๐น๐น
Di Pakuwon mall
Nyonya Sanjaya berusaha mendapatkan bukti yang bisa membuat menantunya kembali bersama Hermawan putranya. Segala usaha bahkan ia rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Dua jam sudah dengan bersusah payah membujuk pihak mall untuk menyerahkan rekaman cctv setempat. Akhirnya nyonya sanjaya berserta adiknya Veronika tidak pulang dengan sia-sia. Mereka segera pulang menemui Hermawan dan menyerahkan rekaman cctv tersebut.
Pukul 23.00 nyonya Sanjaya,Fanesa beserta bibik Veronika tiba di rumah Hermawan. Mereka langsung masuk dan mencari keberadaan Hermawan.
" Nes... Oma akan menemui papa mu, kau tidurlah...! Oma akan berusaha agar mama fia bisa kembali kerumah ini" bujuk nyonya Sanjaya pada cucu tersayang nya.
" tentu sayang, sekarang istirahat lah... ini sudah terlalu larut malam. Tidak baik anak kecil begadang hingga larut malam" rayu nyonya Sanjaya kembali.
" Baiklah Oma..." akhirnya Fanesa menuruti keinginan Omanya untuk beristirahat dikamarnya.
Tak lama kemudian bibik Veronika menuruni tangga menghampiri nyonya Sanjaya yang duduk di sofa ruang keluarga. " Mbak.... Hermawan ada di ruang kerjanya. Ayo kita kesana..,..!"
" Baiklah...!" nyonya Sanjaya beranjak dari tempat duduknya dan pergi menemui Hermawan diruang kerjanya.
Tok...tok...tok....
" Ya...." kata Hermawan singkat.
Tanpa dipersilahkan nyonya Sanjaya langsung nyelonong masuk kedalam ruang kerja putranya.
Hermawan menatap malas atas kedatangan ibu dan bibiknya itu. " Ada apa lagi ma....bik?"
__ADS_1
Nyonya Sanjaya melempar sebuah flashdisk ke hadapan Hermawan. "Bukalah rekaman cctv yang berada di flashdisk itu. Kau akan tau apa yang sebenarnya terjadi" kata nyonya Sanjaya dengan angkuh.
Hermawan menatap flashdisk itu dengan ragu. Ia masih tak bergeming menatap flashdisk yang tergeletak diatas meja tepatnya dihadapannya itu.
" Her,tunggu apa lagi....!" imbuh bibik Veronika.
Akhirnya Hermawan mengambil flashdisk itu dan menancapkan nya di laptop nya. Adegan demi adegan dalam video itu ia perhatikan. Hingga matanya mulai terbelalak ketika melihat sebuah adegan Safia hampir terjatuh karena lantai yang terlalu licin. Seorang pria tak dikenal tiba-tiba merangkul tubuh Safia agar tidak terjatuh.
Hermawan menjambak kepalanya frustasi. Ternyata ia telah salah paham kepada istrinya itu. Tangannya langsung menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar dari ruang kerjanya.
" Mbak...ayo kita ikut...!" ajak bibik Veronika pada nyonya Sanjaya.
" Nggak usah Ver, sebaiknya kita beristirahat sambil menanti kabar berikutnya" kata nyonya Sanjaya santai.
" Baiklah mbak... ayo kita kekamar" bibik Veronika dan nyonya Sanjaya pergi kekamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
Dalam mobil Hermawan merasa kacau. Ia tak menyangka akan melakukan hal yang sangat gila. Mengusir wanita yang benar-benar ia cintai. " Fia....maafkan aku !" Hermawan mengutuk dirinya sendiri yang telah bersikap kasar pada Safia. Terlebih kondisi mental Safia yang pernah terpuruk karena percobaan pembunuhan.
" Fiaaaaa......!" Teriak Hermawan dalam mobilnya. " Kemana aku harus mencarimu? Aku benar-benar pria bodoh yang nggak bisa menggunakan akal sehat ku!" teriak Hermawan sambil memukul-mukul setir mobilnya.
Hermawan mengelilingi komplek perumahannya berkali-kali lalu menyusuri jalan menuju terminal. Ia berlari memasuki kawasan terminal Bungurasih. Setiap bertemu orang ia tunjukkan foto Safia. Setiap orang yang ia temui menggeleng seakan tak pernah bertemu dengan istrinya itu.
Tak putus asa Hermawan masuk kedalam bis jurusan kediri satu persatu. Namun tetap saja hasilnya nihil. Akhirnya ia kembali ke mobilnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tiba-tiba terlintas difikirkan nya " Stasiun..." Ia langsung memacu mobilnya menuju stasiun.
Setibanya di stasiun ia kembali ke mobilnya dengan kecewa. Baru saja kereta jurusan Kediri telah berangkat. Hermawan merasa hancur,ia sendiri yang telah menghancurkan rumah tangga nya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya di trotoar.
Bahkan penampilan nya terlihat awut-awutan tidak karu-karuan. Mereka yang berlalu-lalang di depan Hermawan hanya bisa memandang dengan rasa kasihan. Mereka tak berani bertanya keadaan Hermawan saat ini.
" Fiaaa........!"
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Alhamdulillah akhirnya dengan susah payah author menyelesaikan bab ini๐ค
kira-kira Safia dimana ya?๐ค
__ADS_1
Bantu author berfikir dengan cara klik ๐ ,klik ๐,dan berikan komentar membangun buat author yaa๐ terimakasih๐๐๐๐