
" Hahahaha.....apa kau tidak ingin tahu?"
Hermawan mundur dua langkah. " Apa maksudmu?"
" Itu aku..." Dengan penuh percaya diri Antony berjalan mendekati Hermawan. " Dan apa kau tau siapa ayah biologis Fanesa?"
" Fanesa anakku...! aku ayah biologisnya!" Hermawanberkata dengan berapi-api.
" Apa kau sudah tes DNA?" Antony kembali tersenyum bangga.
" Tidak....itu tidak mungkin! apa itu kau?" Hermawan semakin mundur dan menggelengkan kepalanya.
" Ya, itu aku! Fanesa anak kandungku! hahahaha...." Antony tertawa lepas.
Dengan cepat Hermawan menyerang Antony. Hermawan mendorong Antony hingga tersungkur dilantai dan menghantam wajahnya dengan tangannya. Antony tidak berdaya berada di bawah tubuh Hermawan. Anak buah Antony segera memisahkan Hermawan dengan Antony.
Hermawan diseret menjauhi Antony. Antony kembali mendekati Hermawan dan memukulnya tepat di rahangnya.
" Anggap saja aku memberikan anak ku padamu, dan akan ku ambil anakmu! Kita impaskan...!"
" Tidak.......! Aku tidak mau...!" Hermawan berusaha melepaskan diri dari anak buah Antony, namun tidak bisa.
" Bereskan dia,dan buang disemak-semak!"
" Baik boss...!" Anak buah Antony menyeret Hermawan keluar dari villa Antony. Kemudian anak buah Antony memukuli Hermawan secara membabi buta hingga Hermawan tidak sadarkan diri. Setelah tidak sadarkan diri, tubuh Hermawan dibuang di semak-semak tidak jauh dari villa Antony.
Antony dan asistennya sedang mengobati luka Antony.
" Bos,anak buah kita akan segera sampai di villa"
" Apa mereka membawa Heru?"
" Iya bos, mereka berhasil menculik heru bos"
" Baiklah...! kita tunggu saja kedatangannya!"
Antony mengambil gelas berisi alkohol dan menenggaknya sampai habis. Dibelakang Antony, asistennya memijit punggung Antony dengan luwesnya.
πΊπΊπΊ
Disemak-semak Hermawan mencoba menggerakkan tubuhnya,namun begitu berat dan sulit. Bahkan matanya sulit sekali terbuka. Hermawan ingin bangkit dan menyelamatkan istrinya. Namun apalah daya,malah ia yang terkapar disemak-semak tidak berdaya.
Ditengah-tengah ketidak sadaran nya ia merasa sedang bermimpi. ada seorang wanita yang berdiri sambil menggendong bayi dihadapannya. Hermawan merasa wanita itu adalah Safia. Wanita itu sedang menangis melihat Hermawan tergeletak. Didalam mimpinya Hermawan merasa tidak dapat membantu istrinya. Perlahan Safia pergi menjauh dan pergi meninggalkannya.
πΊπΊπΊ
Dirumah Hermawan.
Tengah malam nyonya Sanjaya terbangun. Ia merasakan haus yang luar biasa. Ia melihat gelas diatas nakas sudah kosong. Akhirnya ia turun kedapur berniat mengambil air di kulkas. Sebelum kedapur ia memastikan bahwa putranya telah istirahat dengan baik dikamarnya.
__ADS_1
Ketika nyonya Sanjaya membuka kamar Hermawan,begitu terkejutnya ia tidak menemukan anaknya tidur dikamarnya. Tanpa sengaja nyonya Sanjaya menjatuhkan gelasnya kelantai.
pyaaarr....
Nyonya Sanjaya berlari menuju garasi mobil. Mengecek apakah mobil Hermawan masih terparkir disana. Namun begitu terkejutnya ia tidak melihat mobil putranya. Nyonya Sanjaya kembali kekamarnya untuk mengambil handphone nya untuk menghubungi putranya. Nomor telepon putranya tidak bisa dihubungi.
Nyonya Sanjaya berfikir untuk menghubungi Antony. Satu panggilan,dua panggilan,tiga panggilan. Antony tak kunjung menjawab panggilannya. Nyonya Sanjaya mengirimkan pesan WhatsApp ke Antony agar Antony tidak menyakiti putranya. Nyonya Sanjaya mondar-mandir menunggu balasan pesan singkatnya. jangan kan dibalas,dibaca pun tidak oleh Antony. Nyonya Sanjaya menangis,ia sangat takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada putranya.
" Kamu dimana her....."
tangisan nyonya Sanjaya terdengar hingga kamar nyonya Veronika. Nyonya Veronika bangun dan pergi kekamar kakak perempuan nya.
" Mbak yu....ada apa kok nangis malem-malem?"
" Hermawan ver.... Hermawan...."
" Hermawan kenapa mbak...?"
" Hermawan nekat mencari istrinya kerumah Antony...."
" Anak itu..." nyonya Veronika memeluk tubuh kakak perempuannya yang menangis. " Sudah mbak sudah...besok kita cari Hermawan bersama-sama"
" Aku nggak tenang ver... gimana kalau terjadi sesuatu padanya"
" Sabar mbak, kita pasrah sama Tuhan saja....!"
" Gimana aku bisa sabar, kemarin saja Hermawan sudah babak belur dihajar anak buah Antony. Gimana sekarang... apalagi kemarin Antony terlihat begitu marah pada Hermawan"
Nyonya sanjaya terus saja menangis tanpa henti hingga dini hari. Nyonya Sanjaya sangat takut kehilangan putra semata wayangnya.
πΊπΊπΊπΊ
Villa Antony
Pukul 2 dini hari Antony bersiap menyambut kedatangan Heru Purnomo di villanya. Anak buah Antony sempat membius Heru,agar tidak diketahui Heru dimana ia akan dibawa. Setelah sampai di villa Antony, Heru di ikat di pohon depan villa Antony.
Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, akhir nya Antony berinisiatif untuk menyiram Heru dengan air dingin satu ember agar segera tersadar.
Akhirnya Heru pun tersadar, ia sempat menggelengkan kepalanya yang sedikit pusing.
Antony mendekati Heru dan mencengkeram rahang Heru dengan kuat.
" Ada hubungan apa kau dengan Vita?"
Menyadari bahwa ia sedang diculik,Heru tidak menjawab pertanyaan Antony. Heru hanya diam dan memperhatikan siapa yang mengajaknya bicara.
" Apa kau bisu,hah?!" Dengan kesal Antony langsung memukul wajah Heru hingga keluar darah dari ujung bibirnya.
" Apa urusanmu dengan Vita?" Heru balik bertanya.
__ADS_1
" Aku tunangan Vita . Aku ingin sekali membunuhmu!" Antony mencekik leher Heru dengan kuat.
"Uhuuuk....uhuuuukkk..." Heru kesulitan bernafas hingga terbatuk-batuk.
Anak buah Antony langsung menarik tubuh Antony agar tidak membunuh Heru.
Heru tersenyum mengejek. " Jika kau sampai membunuhku, keluargaku tidak akan tinggal diam"
" Apa kau pikir kau akan semudah itu mati?!" Antony semakin emosi.
" Apa maumu? kau ingin uang? katakan berapa mau mu?!" Heru mencoba mengejek Antony.
" Berani sekali kau! Jangan sekali-kali menyuapiku dengan uang kotor mu! Aku tidak ingin uang mu,tapi aku ingin nyawamu...!" Antony mengambil pisau dari balik punggungnya.
" Apa yang akan kau lakukan?" Heru terlihat ketakutan.
" Bukankah kau barusan menantang ku? Aku ingin bermain-main dengan mu..." Antony semakin mendekat dan mengacungkan pisau yang ia pegang.
" A-apa mau mu?" Heru semakin gugup.
" Aku mau nyawa diganti dengan nyawa...!" Antony mulai meletakkan pisaunya dileher Heru.
" Nya..nya..nyawa siapa?" Heru mulai tergagap karena ketakutan.
" Tentu saja nyawa Vita...!" Antony menekan pisaunya keleher Heru.
" A....a...aku tidak membunuhnya!"
" Lalu?" bentak Antony.
" A-aku hanya menyuruhnya mengugurkan kandungannya,bukan bunuh diri!"
Antony terkejut mendengar pengakuan Heru. Antony dengan spontan mengayunkan pisau kedada Heru,hingga meninggalkan goresan namun sedikit mengeluarkan darah.
" Aaaaaaaaaarrrggghh.....!" Heru berteriak sekuat tenaga sambil memejamkan mata. Ia mulai merasakan perih yang luar biasa didadanya.
Emosi Antony sudah memuncak. Antony benar-benar ingin menancapkan pisau itu kedada Heru. Namun segera dicegah oleh anak buahnya.
" Bos....jangan boss....!!"
" Siapa ayah dari bayi yang dikandung Vita...!!"
Heru hanya diam dengan mata terpejam. Ia benar-benar pasrah kalau Antony benar-benar akan membunuhnya.
" Katakan padaku siapa....!!" bentak Antony.
" I....i...." Heru tidak sanggup berkata-kata karena ia ketakutan.
" Siapa?! Katakan! Apa itu kau?!"
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Semangat πͺ jangan lupa vote,like dan tinggalkan jejak mu di kolom komentar ya....β€οΈ