INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
37 Jodoh yang hanya sampai disini saja


__ADS_3

" Mas,jangan memaksakan kehendak. Rundingkan semuanya dengan kepala dingin. Cari titik tengahnya" Tiba-tiba Safia mencoba menenangkan Hermawan.


" Kau benar sayang...,Fanesa sayang,apa kau mau ikut bersama mama mu? Papa janji,papa akan menjengukmu sebulan sekali kalau papa tidak sibuk" Hermawan meraup wajah Fanesa. Tanpa menjawab sepatah katapun Fanesa hanya menggeleng dan menangis. Hermawan pun memeluk Fanesa erat. " Kau sudah lihat kan karin, Fanesa lebih memilih tinggal bersama ku"


" Baiklah, walau berat aku harus pergi tanpa Fanesa. Aku titip Fanesa,jaga dia baik-baik. Seminggu lagi aku akan pergi" Karin berdiri dari duduknya dan pergi ke kamar tamu dimana dia tidur sekarang. Karin semakin menangis terisak-isak. Ia tak sanggup jujur pada Hermawan kalau Fanesa bukanlah anak kandungnya. Namun ia juga tak mau menyakiti Fanesa yang amat sangat mencintai Hermawan sebagai ayahnya.


" Rin..." Tiba-tiba muncullah bibik Vero dari balik pintu kamar Karin. Karin menghapus air matanya dan menoleh ke arah bibik Vero.


" Iya bik..." jawab Karin singkat.


" Apa kau baik-baik saja?" bibik Vero mendekati Karin.Karin hanya mengangguk lemah. " Kenapa kau tiba-tiba ingin pindah ke Bandung? Bukankah kau tak punya saudara disana?" Bibik Vero duduk di sebelah Karin.


" Aku ingin menikah lagi dengan pria yang mencintai ku bik,di mengajak ku menetap disana " Karin kembali menangis.


Bibik Vero memeluk Karin erat. " Apa kau tidak ingin kembali bersama Hermawan?"


" Untuk apa aku mengharapkan pria yang sekarang sudah tak mencintaiku lagi bik....hiks,hiks,hiks" Karin semakin terisak diperlukan bibik Vero.


" Sabarlah sayang,bibik selalu menyayangimu walau perlakuan Hermawan tak pernah baik padamu" bibik Vero mengelus punggung Karin.


" Makasih bik,aku yang salah... Aku yang menghancurkan kebahagiaan kami. Akulah yang menghianati cinta kami. Tak salah jika Hermawan sekarang sangat membenciku" Karin menunduk sambil menangis.


Bibik Vero melepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Karin. " Baiklah,mungkin ini sudah menjadi suratan takdir. Baik kamu dan Hermawan mungkin jodohnya memang hanya sampai disini saja. Jangan bersedih lagi,toh sekarang ada pria yang sangat mencintaimu melebihi cinta Hermawan. Siapa pria itu? Ceritakan pada bibik"


" Pria itu bernama Alex bik,dia nggak sekaya Hermawan. Tapi aku melihat ketulusan nya padaku. Aku sudah lama mengenalnya,tapi aku nggak tau kalau sebenarnya dia sudah menyimpan perasaan sejak lama padaku. Bahkan dia mau menerima kondisiku yang seperti ini...hiks,hiks,hiks" Karin kembali menangis.

__ADS_1


" Sudah-sudah jangan banyak nangis...! Kau terlihat jelek kalau menangis" Bibik Vero mengusap air mata Karin. " Besok kita jalan-jalan ke salon, nongkrong ke mall. Bibik temani kamu ya, itung-itung sebagai perpisahan kita sebagai bibik dan ponakan"


" Terimakasih banyak bi, hanya bibik yang dari dulu baik padaku" kata Karin dengan mata berkaca-kaca.


" Tidurlah, supaya besok badanmu lebih segar lagi" Bibik Vero beranjak dari ranjang Karin dan pergi meninggalkan karin. Ketika diambang pintu bibik Vero berbalik dan melambaikan tangannya sambil mengerucutkan bibirnya seraya mencium dari kejauhan. Karin membalasnya dengan senyuman.


🌹🌹🌹🌹


Dikamar Hermawan....


Safia nampak sibuk mengeluarkan semua isi tas jinjingnya. Ia sibuk mencari sesuatu namun tidak menemukannya. Hermawan yang awalnya duduk disofa sambil memangku laptop memperhatikan Safia dengan intens.


" Apa yang kau cari sayang?" Hermawan meletakkan laptopnya di meja lalu menghampiri Safia.


" Aku mencari minyak angin berbentuk roll on mas" Safia nampak kesal karena tidak menemukan minyak anginnya.


" Please mas,jangan menggodaku! Aku sedang mode kesal nih. Punggung ku pegal-pegal,aku ingin mengolesi nya dengan minyak itu" Safia membuka laci dan mengeluarkan semua isi laci.


Mata Hermawan terpaku pada sebuah kartu nama. Ia mengambilnya dengan geram." Sayang... dari mana kau dapat kartu nama ini?" Hermawan meremas kartu nama itu dan melemparnya ke tong sampah.


" Ooh... itu,dari pria yang menabrak ku kemarin di mall. Aku mengabaikannya tapi dia mencoba mencegahku..." kata-kata Safia terpotong karena melihat wajah Hermawan berubah merah menyala seperti ingin memakan Safia hidup-hidup." Kenapa mas marah?" tanya Safia lirih.


" Jangan pernah berhubungan lagi dengan pria itu...!" kata-kata Hermawan setengah berteriak.


Wajah Safia memucat, tubuhnya mendadak kaku. " Aaa.....aku nggak pernah berhubungan dengannya....hiks,hiks,hiks. Aku hanya nggak sengaja bertemu dengannya....hiks,hiks,hiks" Safia berkata dengan terbata-bata. Air matanya mulai mengalir begitu deras.

__ADS_1


Hermawan baru tersadar dengan reaksi Safia. Ia lupa kalau Safia masih mengikuti pengobatan terapi psikologi atas trauma yang dideritanya. Dokter melarang nya untuk berkata kasar ataupun berbuat kasar pada Safia. Ketika Hermawan mendekati Safia tiba-tiba tubuh Safia terhuyung hampir jatuh kelantai. Untung saja Hermawan dengan cepat segera menangkap tubuh Safia. Hermawan segera menggendong dan merebahkan tubuh Safia di ranjangnya.


Hermawan menelfon dokter pribadinya untuk segera datang kerumahnya. Setelah menunggu 15menit dokter pun tiba dan segera memeriksa keadaan Safia.


" Bagaimana ****?" tanya Hermawan cemas.


" Apa yang terjadi pada nyonya Her?" Tanya dokter Diki balik. Dokter Dicky adalah teman baik Hermawan sewaktu SMA.


" Aku tak sengaja membentaknya tadi" kata Hermawan tertunduk lesu.


" Aku sudah mempelajari rekam medisnya sewaktu di rumah sakit. Kau jangan ceroboh her, kalau kau menekan istrimu terus dia bisa gila. Tidak semua orang memiliki mental yang kuat" dokter Dicky memberi penjelasan.


" Lakukan apa saja agar istriku cepat sembuh,aku tidak ingin jika dia sampai gila. Aku sangat mencintai nya sick.... Atau hipnotis saja dia seperti dirumah sakit waktu itu..." Hermawan begitu sedih dan sangat menyesal.


" Aku tidak bisa melakukannya disini her,sudahlah...! tunggu dia sadar dan lihat apa reaksinya padamu. Kalau dia masih ketakutan maka kau cepat hubungi aku. Ingat, berusahalah bersikap baik padanya" dokter Dicky menepuk-nepuk pundak Hermawan.


" Terimakasih ****...." Hermawan mengantarkan dokter Dicky sampai depan rumahnya. Lalu Hermawan kembali kekamarnya. Namun ketika akan menaiki tangga Fanesa memanggil Hermawan.


" Pa...apa yang terjadi pada mama fia?" Fanesa menghampiri papanya.


" Nggak papa nes,mama hanya kecapekan saja" Hermawan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Ditempat yang berbeda dibalik pintu kamar tamu Karin mendengarkan apa yang dibicarakan dokter Dicky dan Hermawan tadi. Tidak sengaja sewaktu Karin mau ke dapur mengambil air minum ia berpapasan dengan Hermawan dan dokter Dicky.


Karin terus mendengarkan apa yang dibicarakan dokter Dicky,dari terapi yang dijalani Safia hingga perlakuan yang harus diterapkan pada Safia.

__ADS_1


Ternyata... Apa yang dilakukan adik ku berdampak besar pada Safia. Bahkan hingga kini Safia harus menjalani terapi psikologi agar mental nya tidak terganggu. Kasihan wanita itu... Batin Karin dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2